Aku tidak melihat tanda-tanda penyakit di tubuh Ibu saat pulang ke rumah untuk pertama kalinya sejak kutinggalkan empat belas tahun lalu. Kerut di wajahnya tentu saja bertambah banyak tetapi Ibu masihlah seperti Ibu yang dulu, yang lincah, aktif, cerewet. Ibu masihlah Ibu yang dulu, yang juga melepasku dalam diam tanpa ada upaya menahan.
”Di mana Anto?” Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini lagi, keberadaan abangku itulah yang kupertanyakan.
”Anto masih berlayar, Nduk. Jadwalnya cuti masih enam bulan lagi.”
”Sayang sekali dia tidak bisa lihat aku menikah.”
Tak peduli kau masih tinggal serumah dengan orang tuamu ataukah terpisah jarak ribuan kilometer. Pertanyaan ’kapan menikah’ akan terus menjadi momok yang menghantui. Setelah menikah, lingkungan tetap tidak akan puas denganmu. Pertanyaan berubah menjadi, ’kapan punya anak?’, ’kapan tambah anak?’ kapan mati? Seolah-olah rumus hidup bahagia untuk perempuan adalah yang seperti itu. Jika kurang satu saja formula, maka di jidatmu akan timbul cap ’perawan tua’, ’perempuan tak laku’, ’aib keluarga’ dan label-label ngenes lainnya.
Untuk alasan-alasan di ataslah aku kembali ke rumah ini. Ibu bilang di telepon bahwa dirinya sakit. Batu empedu akut. Mungkin usianya tak lama lagi. Sebelum ia dipanggil Tuhan, ia sangat ingin melihat aku menikah. Anaknya hanya dua, aku dan Anto. Dari cerita Ibu aku tahu bahwa Anto sudah sukses jadi clening service di kapal pesiar luar negeri dengan gaji yang lebih dari cukup untuk membiayai istri dan anak-anak. Mereka tinggal tak jauh dari rumah Ibu. Rumah warisan tepatnya. Karena warisan, rumah ini penuh sesak dengan tujuh orang kakak beradik Ibu, para ipar dan belasan ponakan yang juga merasa berhak atas satu-satunya aset peninggalan Kakek. Sudah sejak dulu seperti itu. Rumah ini selalu ramai, penuh, sesak, kumuh. Pilihan Anto untuk pindah rumah adalah jalan yang paling masuk akal.
Untuk alasan-alasan di atas itulah kuajak si Buncit ke kampung berjumpa Ibu dan Ayah. Tanpa bi bu ba, tanggal pernikahan kami direncanakan. Kubilang kami tidak ingin pesta yang meriah. Dompet laki-laki itu sudah cukup terkuras karena membiayaiku mengambil strata dua di kampus swasta ternama. Perempuan harus berpendidikan tinggi agar dapat mengajarkan generasi berikutnya tentang bagaimana bertahan hidup. Syukur-syukur bisa turut andil mengubah rumus hidup bahagia yang sebagian besar gagal membuat bahagia pelakunya.
”Selamatan saja. Biar nanti dokumen negara kami urus sekembali ke ibu kota.”
”Ya, sudah kalau memang itu keinginan kalian.” Tampaknya Ibu hanya bisa pasrah. Daripada aku berubah pikiran dan malah jadi aib keluarga. Menikah di pengujung kepala dua adalah anomali bagi perempuan di kampung ini.
”Anti, kamu nggak bilang kita akan menikah?” Budiman, aku lebih suka memanggilnya si Buncit, tampak panik. Mungkin ia merasa dijebak sebab aku tidak bilang sama sekali tujuan kami pulang kampung di libur cuti bersama kali ini.
Ia menarik tanganku masuk ke dalam mobil mewahnya yang mengundang decak kagum bocah-bocah kampung telanjang penuh lumpur. Nyaris tidak pernah ada mobil masuk di kampung ini. Kalau mereka mengenal jenis-jenis merek mobil dan tahu harganya, mungkin mereka juga bisa kena serangan jantung hanya demi mendengar jumlah nol yang berderet pada nominalnya.
”Sudah, tenang saja, Mas.” Aku tersenyum menggoda. Sebelum si Buncit kembali protes, kusumpal duluan mulutnya dengan kecupan yang selama ini membuatnya candu. ”Kalau kamu mau kita tidur sekamar malam ini di rumah keluargaku, kamu harus nurut.”
Budiman terengah-engah setelah meladeni kecupanku. ”Ya, tentu saja aku mau tidur sama kamu. Tapi, menikah …?”
”Udahlah. Kamu tenang saja!” Aku mengibaskan jemari yang dihiasi nail art paling mahal dari salon kecantikan langgananku.
Singkat cerita Budiman setuju, selain karena dia tidak punya pilihan, dia juga tidak kuat tidur terpisah dariku. Sudah begitu sejak tujuh tahun yang lalu. Sudah begitu sejak pertama kali kami berjumpa di bar dekat rumah kos kumuhku. Sudah begitu sejak aku masih bekerja sebagai pelayan bar dan dia masih jadi wakil salah satu pejabat penting perusahaan minyak negara. Sekarang ia sudah naik pangkat menjadi pejabat pentingnya.
Aku tersenyum ketika mendengar Budiman mengucapkan ijab kabul pernikahan kami dengan fasih. Begitu para tamu undangan yang terdiri dari penghuni rumah dan tetangga kiri kanan meneriakkan ’sah’ dengan penuh antusias, kusambar tangan gempal si Buncit dan meletakkannya di keningku, membawanya ke bibirku, mengecupnya lama, sedikit menggigitnya untuk menggoda. Ia terkekeh.
Selamatan saja. Biar nanti dokumen negara kami urus sekembali ke ibu kota.
Ibu membagi kue-kue kepada para tamu dengan cekatan dan penuh energi. Tawa di wajahnya tidak pernah pudar. Tidak ada tanda-tanda penyakit batu empedu akut di tubuhnya. Sementara dari tempatku duduk, aku bisa menangkap paras itu. Paras menjijikkan laki-laki tua yang bibirnya legam dan keringatnya bau amis. Suami dari salah satu adik perempuan Ibu yang di masa lalu sering mengendap dan menggerayangi tubuhku.
Laki-laki itu menatapku tajam. Aku balas menatapnya. Ia tidak membuang muka, mungkin tergiur dengan tubuhku yang lekukannya semakin dalam. Aku menggeser tubuhku mendekat pada si Buncit, menyentuh pipinya dan sedikit memaksa agar ia menatapku. Kening si Buncit mengerut tapi aku balas mengecup bibir tebalnya. Ia kaget dengan tindakan nekatku di depan umum tetapi demi mendengar gemuruh tamu undangan yang menggoda, ia kembali terkekeh.
Aku menoleh sekali lagi kepada laki-laki di sudut ruangan, yang bibirnya hitam dan keringatnya bau amis, ia membuang ludah. Cuih! Seperti yang pernah dilakukannya empat belas tahun lalu saat pertama kali kuadukan kelakuannya kepada Ibu.
”Cuih, tak sudi aku sentuh anak bau matahari seperti Anti! Kecil-kecil sudah pintar fitnah.”
Tetapi tidak ada satu pun yang percaya pengaduan bocah lima belas tahun. Tak terkecuali Ibu dan Ayah. Yang membujuk tangisku hanya Anto. Ia berjanji akan merontokkan dua gigi depan laki-laki bejat itu. Tetapi, demi melihat susunan gigi depan pria itu masih lengkap saat ini, aku tahu Anto pun tidak memenuhi janjinya padaku.
Karena alasan di atas itulah aku pergi dari rumah. Lantang-luntung tidak jelas di jalanan. Bekerja jadi tukang cuci piring dari satu kedai ke kedai lainnya. Putus sekolah, tapi syukurlah ada program paket C.
Usiaku dua puluh tujuh tahun saat Undang-undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual disahkan. Setelah ribuan purnama berdiri, akhirnya negara ini punya dasar hukum untuk membela hak-hak korban rudupaksa. Aku membaca beritanya sambil tertawa dan menangis, lalu setelahnya hanya bisa mengumpat tahi keras-keras karena ternyata undang-undangnya tidak bisa berlaku surut. Tahi betul!
Rupanya, tiga hari sudah cukup untuk memuaskan rasa ingin tahu handai taulan. Mereka tidak peduli dengan postur buncit pria yang kubawa serta perbedaan usia lima belas tahun di antara kami. Untuk jangka waktu yang lama tampaknya pertanyaan-pertanyaan klise berbau-bau mencampuri urusan orang lain tidak akan keluar dari mulut mereka. Untuk jangka waktu yang lama, Ibu tidak akan mengancamku di telepon dengan kalimat ”Apa kamu tega Ibu mati penasaran karena belum lihat kamu menikah, Nduk?”
”Duh, beruntung banget kamu Anti, dapat suami mapan. Mobilnya bagus.” Para tetangga berdecak kagum. ”Kamu juga udah tambah cantik dan sukses ya, Anti. Waktu kecil dulu kamu hitam, kurus kering, bau matahari. Nggak nyangka kalau sekarang kamu bisa jadi wanita karier di perusahaan gede! Gajinya juga gede pasti.”
Hmm …lumayanlah gaji sekretaris pemimpin di perusahaan asuransi. Kalau bukan karena koneksi Budiman mana bisa aku masuk? Aku memang beruntung memiliki si Buncit dalam hidupku. Berkat dirinya, aku bisa menempuh pendidikan tinggi, merasakan pelesiran ke luar negeri, tidur di kamar hotel VVIP. Mau dustai nikmat yang mana lagi? Ia mungkin hadiah dari Tuhan atas semua penderitaan yang selama ini aku alami.
Mobil mewah Budiman mengantar kami kembali ke ibu kota. Kali ini Ibu melepasku dengan senyum paling lebar yang pernah terkembang di wajahnya. Pemandangan kontras jika dibandingkan dengan empat belas tahun lalu saat semua anggota keluarga lebih memercayai omongan laki-laki bejat itu saat semua keluarga bersepakat mengusirku dari rumah karena fitnah adalah penyakit menular sehingga jangan sampai sepupu yang lain juga terinfeksi. Aku berdoa di dalam hati, semoga sepupu perempuanku yang lain tidak jadi korban berikutnya karena demi Tuhan, bau keringat laki-laki itu tengik sekali.
”Aku nggak nyangka kita menikah di kampungmu.”
”Siri,” sahutku.
”Ya, apa pun itu. Kenapa sih pake nikah-nikah segala?”
”Kamu nggak mau nikahin aku?”
”Bukan begitu. Tapi kan ….”
”Tenang saja. Pernikahan kemarin cuma sandiwara. Imamnya aku sewa.”
Duh, beruntung banget kamu Anti, dapat suami mapan. Mobilnya bagus.
Budiman tertawa terbahak-bahak. Dia mengecup keningku sebelum mengeluarkan koper kami dari dalam bagasi. ”Aku balik sekarang, ya.”
”Lho, nggak masuk dulu, Mas?” Meski aku lebih suka ia segera pergi, tetap saja kulontarkan pertanyaan basa-basi itu. Biar bagaimana pun rumahku ini dia yang belikan.
”Aku harus pulang sekarang. Santi bawel terus ditelepon.” Si Buncit menggerutu. ”Kita ketemu lagi minggu depan nggak apa-apa, kan?”
Aku mengangguk mengiringi badan tambun pria itu masuk kembali ke Porsche abu-abu miliknya, pulang kepada istrinya. Sebagai simpanan yang baik hati dan tahu diri, jangankan bertemu seminggu sekali, bertemu sebulan sekali pun tak mengapa selama pin kartu kredit platinum miliknya tak berubah.
sumber : kompas.id, 14 Feb 2025.