Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Rumus Hidup Bahagia oleh Sabrina Lasama

Posted on Jum, 14 Feb 2025

Aku tidak melihat tanda-tanda penyakit di tubuh Ibu saat pulang ke rumah untuk pertama kalinya sejak kutinggalkan empat belas tahun lalu. Kerut di wajahnya tentu saja bertambah banyak tetapi Ibu masihlah seperti Ibu yang dulu, yang lincah, aktif, cerewet. Ibu masihlah Ibu yang dulu, yang juga melepasku dalam diam tanpa ada upaya menahan.

”Di mana Anto?” Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini lagi, keberadaan abangku itulah yang kupertanyakan.

”Anto masih berlayar, Nduk. Jadwalnya cuti masih enam bulan lagi.”

”Sayang sekali dia tidak bisa lihat aku menikah.”

Tak peduli kau masih tinggal serumah dengan orang tuamu ataukah terpisah jarak ribuan kilometer. Pertanyaan ’kapan menikah’ akan terus menjadi momok yang menghantui. Setelah menikah, lingkungan tetap tidak akan puas denganmu. Pertanyaan berubah menjadi, ’kapan punya anak?’, ’kapan tambah anak?’ kapan mati? Seolah-olah rumus hidup bahagia untuk perempuan adalah yang seperti itu. Jika kurang satu saja formula, maka di jidatmu akan timbul cap ’perawan tua’, ’perempuan tak laku’, ’aib keluarga’ dan label-label ngenes lainnya.

Untuk alasan-alasan di ataslah aku kembali ke rumah ini. Ibu bilang di telepon bahwa dirinya sakit. Batu empedu akut. Mungkin usianya tak lama lagi. Sebelum ia dipanggil Tuhan, ia sangat ingin melihat aku menikah. Anaknya hanya dua, aku dan Anto. Dari cerita Ibu aku tahu bahwa Anto sudah sukses jadi clening service di kapal pesiar luar negeri dengan gaji yang lebih dari cukup untuk membiayai istri dan anak-anak. Mereka tinggal tak jauh dari rumah Ibu. Rumah warisan tepatnya. Karena warisan, rumah ini penuh sesak dengan tujuh orang kakak beradik Ibu, para ipar dan belasan ponakan yang juga merasa berhak atas satu-satunya aset peninggalan Kakek. Sudah sejak dulu seperti itu. Rumah ini selalu ramai, penuh, sesak, kumuh. Pilihan Anto untuk pindah rumah adalah jalan yang paling masuk akal.

Untuk alasan-alasan di atas itulah kuajak si Buncit ke kampung berjumpa Ibu dan Ayah. Tanpa bi bu ba, tanggal pernikahan kami direncanakan. Kubilang kami tidak ingin pesta yang meriah. Dompet laki-laki itu sudah cukup terkuras karena membiayaiku mengambil strata dua di kampus swasta ternama. Perempuan harus berpendidikan tinggi agar dapat mengajarkan generasi berikutnya tentang bagaimana bertahan hidup. Syukur-syukur bisa turut andil mengubah rumus hidup bahagia yang sebagian besar gagal membuat bahagia pelakunya.

”Selamatan saja. Biar nanti dokumen negara kami urus sekembali ke ibu kota.”

”Ya, sudah kalau memang itu keinginan kalian.” Tampaknya Ibu hanya bisa pasrah. Daripada aku berubah pikiran dan malah jadi aib keluarga. Menikah di pengujung kepala dua adalah anomali bagi perempuan di kampung ini.

”Anti, kamu nggak bilang kita akan menikah?” Budiman, aku lebih suka memanggilnya si Buncit, tampak panik. Mungkin ia merasa dijebak sebab aku tidak bilang sama sekali tujuan kami pulang kampung di libur cuti bersama kali ini.

Ia menarik tanganku masuk ke dalam mobil mewahnya yang mengundang decak kagum bocah-bocah kampung telanjang penuh lumpur. Nyaris tidak pernah ada mobil masuk di kampung ini. Kalau mereka mengenal jenis-jenis merek mobil dan tahu harganya, mungkin mereka juga bisa kena serangan jantung hanya demi mendengar jumlah nol yang berderet pada nominalnya.

”Sudah, tenang saja, Mas.” Aku tersenyum menggoda. Sebelum si Buncit kembali protes, kusumpal duluan mulutnya dengan kecupan yang selama ini membuatnya candu. ”Kalau kamu mau kita tidur sekamar malam ini di rumah keluargaku, kamu harus nurut.”

Budiman terengah-engah setelah meladeni kecupanku. ”Ya, tentu saja aku mau tidur sama kamu. Tapi, menikah …?”

”Udahlah. Kamu tenang saja!” Aku mengibaskan jemari yang dihiasi nail art paling mahal dari salon kecantikan langgananku.

Singkat cerita Budiman setuju, selain karena dia tidak punya pilihan, dia juga tidak kuat tidur terpisah dariku. Sudah begitu sejak tujuh tahun yang lalu. Sudah begitu sejak pertama kali kami berjumpa di bar dekat rumah kos kumuhku. Sudah begitu sejak aku masih bekerja sebagai pelayan bar dan dia masih jadi wakil salah satu pejabat penting perusahaan minyak negara. Sekarang ia sudah naik pangkat menjadi pejabat pentingnya.

Aku tersenyum ketika mendengar Budiman mengucapkan ijab kabul pernikahan kami dengan fasih. Begitu para tamu undangan yang terdiri dari penghuni rumah dan tetangga kiri kanan meneriakkan ’sah’ dengan penuh antusias, kusambar tangan gempal si Buncit dan meletakkannya di keningku, membawanya ke bibirku, mengecupnya lama, sedikit menggigitnya untuk menggoda. Ia terkekeh.

Selamatan saja. Biar nanti dokumen negara kami urus sekembali ke ibu kota.

Ibu membagi kue-kue kepada para tamu dengan cekatan dan penuh energi. Tawa di wajahnya tidak pernah pudar. Tidak ada tanda-tanda penyakit batu empedu akut di tubuhnya. Sementara dari tempatku duduk, aku bisa menangkap paras itu. Paras menjijikkan laki-laki tua yang bibirnya legam dan keringatnya bau amis. Suami dari salah satu adik perempuan Ibu yang di masa lalu sering mengendap dan menggerayangi tubuhku.

Laki-laki itu menatapku tajam. Aku balas menatapnya. Ia tidak membuang muka, mungkin tergiur dengan tubuhku yang lekukannya semakin dalam. Aku menggeser tubuhku mendekat pada si Buncit, menyentuh pipinya dan sedikit memaksa agar ia menatapku. Kening si Buncit mengerut tapi aku balas mengecup bibir tebalnya. Ia kaget dengan tindakan nekatku di depan umum tetapi demi mendengar gemuruh tamu undangan yang menggoda, ia kembali terkekeh.

Aku menoleh sekali lagi kepada laki-laki di sudut ruangan, yang bibirnya hitam dan keringatnya bau amis, ia membuang ludah. Cuih! Seperti yang pernah dilakukannya empat belas tahun lalu saat pertama kali kuadukan kelakuannya kepada Ibu.

”Cuih, tak sudi aku sentuh anak bau matahari seperti Anti! Kecil-kecil sudah pintar fitnah.”

Tetapi tidak ada satu pun yang percaya pengaduan bocah lima belas tahun. Tak terkecuali Ibu dan Ayah. Yang membujuk tangisku hanya Anto. Ia berjanji akan merontokkan dua gigi depan laki-laki bejat itu. Tetapi, demi melihat susunan gigi depan pria itu masih lengkap saat ini, aku tahu Anto pun tidak memenuhi janjinya padaku.

Karena alasan di atas itulah aku pergi dari rumah. Lantang-luntung tidak jelas di jalanan. Bekerja jadi tukang cuci piring dari satu kedai ke kedai lainnya. Putus sekolah, tapi syukurlah ada program paket C.

Usiaku dua puluh tujuh tahun saat Undang-undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual disahkan. Setelah ribuan purnama berdiri, akhirnya negara ini punya dasar hukum untuk membela hak-hak korban rudupaksa. Aku membaca beritanya sambil tertawa dan menangis, lalu setelahnya hanya bisa mengumpat tahi keras-keras karena ternyata undang-undangnya tidak bisa berlaku surut. Tahi betul!

Rupanya, tiga hari sudah cukup untuk memuaskan rasa ingin tahu handai taulan. Mereka tidak peduli dengan postur buncit pria yang kubawa serta perbedaan usia lima belas tahun di antara kami. Untuk jangka waktu yang lama tampaknya pertanyaan-pertanyaan klise berbau-bau mencampuri urusan orang lain tidak akan keluar dari mulut mereka. Untuk jangka waktu yang lama, Ibu tidak akan mengancamku di telepon dengan kalimat ”Apa kamu tega Ibu mati penasaran karena belum lihat kamu menikah, Nduk?”

”Duh, beruntung banget kamu Anti, dapat suami mapan. Mobilnya bagus.” Para tetangga berdecak kagum. ”Kamu juga udah tambah cantik dan sukses ya, Anti. Waktu kecil dulu kamu hitam, kurus kering, bau matahari. Nggak nyangka kalau sekarang kamu bisa jadi wanita karier di perusahaan gede! Gajinya juga gede pasti.”

Hmm …lumayanlah gaji sekretaris pemimpin di perusahaan asuransi. Kalau bukan karena koneksi Budiman mana bisa aku masuk? Aku memang beruntung memiliki si Buncit dalam hidupku. Berkat dirinya, aku bisa menempuh pendidikan tinggi, merasakan pelesiran ke luar negeri, tidur di kamar hotel VVIP. Mau dustai nikmat yang mana lagi? Ia mungkin hadiah dari Tuhan atas semua penderitaan yang selama ini aku alami.

Mobil mewah Budiman mengantar kami kembali ke ibu kota. Kali ini Ibu melepasku dengan senyum paling lebar yang pernah terkembang di wajahnya. Pemandangan kontras jika dibandingkan dengan empat belas tahun lalu saat semua anggota keluarga lebih memercayai omongan laki-laki bejat itu saat semua keluarga bersepakat mengusirku dari rumah karena fitnah adalah penyakit menular sehingga jangan sampai sepupu yang lain juga terinfeksi. Aku berdoa di dalam hati, semoga sepupu perempuanku yang lain tidak jadi korban berikutnya karena demi Tuhan, bau keringat laki-laki itu tengik sekali.

”Aku nggak nyangka kita menikah di kampungmu.”

”Siri,” sahutku.

”Ya, apa pun itu. Kenapa sih pake nikah-nikah segala?”

”Kamu nggak mau nikahin aku?”

”Bukan begitu. Tapi kan ….”

”Tenang saja. Pernikahan kemarin cuma sandiwara. Imamnya aku sewa.”

Duh, beruntung banget kamu Anti, dapat suami mapan. Mobilnya bagus.

Budiman tertawa terbahak-bahak. Dia mengecup keningku sebelum mengeluarkan koper kami dari dalam bagasi. ”Aku balik sekarang, ya.”

”Lho, nggak masuk dulu, Mas?” Meski aku lebih suka ia segera pergi, tetap saja kulontarkan pertanyaan basa-basi itu. Biar bagaimana pun rumahku ini dia yang belikan.

”Aku harus pulang sekarang. Santi bawel terus ditelepon.” Si Buncit menggerutu. ”Kita ketemu lagi minggu depan nggak apa-apa, kan?”

Aku mengangguk mengiringi badan tambun pria itu masuk kembali ke Porsche abu-abu miliknya, pulang kepada istrinya. Sebagai simpanan yang baik hati dan tahu diri, jangankan bertemu seminggu sekali, bertemu sebulan sekali pun tak mengapa selama pin kartu kredit platinum miliknya tak berubah.

sumber : kompas.id, 14 Feb 2025.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme