Mimpi….
Kata sebagian orang mimpi adalah bunga tidur. Menurut sebagian orang lagi mimpi tidak sekadar mimpi, tetapi memiliki makna. Di mana makna tersebut bisa tersurat atau tersirat. Dengan kata lain mimpi semacam bocoran apa yang akan terjadi di dunia nyata.
Pertanyaannya aku termasuk golongan mana? Tentu saja aku termasuk golongan yang percaya bahwa mimpi adalah bocoran dari Yang Maha Kuasa tentang apa yang akan terjadi pada kehidupan nyata kita. Ditambah lagi ibuku sering mengajarkan perihal tafsir mimpi. Ibuku sendiri diajari oleh mendiang kakek.
”Mimpi yang memiliki makna adalah mimpi yang ketika kita bangun tidur, kita ingat betul dengan detail mimpi yang dialami. Tetapi, jika mimpi tersebut tidak diingat, itu bukan mimpi namanya. Tetapi bunga tidur,” ujar ibu kepadaku ketika suatu kali aku mengatakan bahwa semalam aku mimpi, tetapi tidak ingat mimpi tentang apa.
Belajar tafsir mimpi tentu saja seru sebab ibu menjelaskan dengan gaya bercerita. Namun, sayangnya ketika aku berusaha menafsirkan mimpi yang aku alami. Itu sungguh menyeramkan. Jawaban tentang mimpi itu langsung muncul di benak kepala, tanpa edeng-edeng, tanpa aling-aling. Dan itu selalu memiliki makna negatif. Ketika aku menceritakan hal ini kepada ibu. Ia diam sebentar, lalu mengatakan, ”Kemampuan semacam itu adalah pemberian dari Yang Maha Esa, supaya kamu tidak kagetan dalam menjalani kehidupan yang penuh sandiwara ini.”
Jawaban ibu tentu saja tidak menjawab keresahan yang aku alami. Usiaku sekarang adalah 23 tahun. Jika aku hidup sama seperti kebanyakan orang sampai umur 63 tahun. Maka aku akan dibayangi oleh ketakutan akan sebuah mimpi begitu lama. Ya, sepanjang hidup. Alhasil ada semacam penyesalan mengapa dulu aku mau saja diajari oleh ibu perihal tafsir mimpi. Mengapa aku tidak menolak.
Ketika kakek meninggal, aku sudah tahu 40 hari sebelum ia dibungkus dengan kafan. Ya, aku tahu itu dari mimpi. Dalam mimpi aku bersama kakek dikejar-kejar oleh kuntilanak di sebuah jalan. Di kanan kirinya sawah dengan padi menguning dan terdapat petani sedang memanen. Namun, mereka tidak memedulikan kami. Lalu, sampailah pada sebuah rumah gelap gulita dengan pintu kupu tarung menghadap utara. Dan kuntilanak yang mengejar kami tidak terlihat lagi.
Aku mau masuk terlebih dahulu, namun kakek melarangnya. Ia mengatakan bahwa dirinya terlebih dahulu yang akan mengecek dalam, memastikan di rumah tersebut tidak ada siapa-siapa. Begitu satu kaki kakek masuk, ia langsung ditarik oleh sosok kuntilanak. Ternyata kuntilanak yang mengejar kami sudah menunggu di dalam. Aku pun terbangun dari tidur dengan keringat dingin. Bajuku basah kuyup seperti tercebur.
Rumah gelap menghadap utara dalam mimpi tersebut jika ditafsirkan memiliki makna kuburan. Kita tahu bahwa mayit di Indonesia itu kan posisinya menghadap ke barat melintang dari utara ke selatan. Komplek kuburan di Jawa memiliki model pintu kupu tarung.
Ya, tafsir mimpi itu menjadi kenyataan. Padahal, ketika bangun tidur aku meludah tujuh kali ke kiri. Sebab, kata ibu ketika mimpi buruk, maka ketika bangun sebelum turun dari kasur segeralah meludah ke kiri sebanyak tujuh kali. Tujuannya agar tidak terjadi di dunia nyata.
Mimpi lainnya berkaitan dengan adik sepupuku yang bernama Umar. Tatkala ia berumur 40 hari, aku bermimpi. Mimpi ini terjadi sewaktu aku tidur siang. Dalam mimpi itu aku melihat Umar digendong oleh kuntilanak. Aku terbangun dari tidur ketika mendengar isak tangis dari bibiku yang datang ke rumah, mengabarkan bahwa Umar demam tinggi. Seminggu berlalu badannya tak kunjung reda meskipun sudah di bawa ke dokter. Lalu ia pun dibawa ke rumah sakit. Dua minggu lamanya ia dirawat, sebelum akhirnya ia kembali kepada Sang Pencipta.
Kemudian ketika aku dipecat dari tempat aku bekerja, aku sudah mengetahuinya dua bulan sebelum pemecatan itu terjadi. Dalam mimpi tersebut, aku didatangi oleh kakek tua. Lalu ia pun menceritakan tentang skema mengenai pemecatan diriku. Benar saja aku dipecat melalui skema fitnah oleh orang bernama Ivan, Fathoni, dan Haekal.
Ada satu lagi mimpi yang cukup unik, kali ini masih berkaitan dengan kematian. Mimpi tersebut adalah gigi copot. Dalam mimpi tersebut tanganku tiba-tiba bergerak ke mulut dan mencabut satu gigi geraham, entah itu di kanan atau di kiri. Aku mimpi tersebut setiap kali akan ada kerabat yang meninggal. Jujur saja, mimpi tersebut yang paling menyebalkan. Bukan hanya karena kabar duka yang akan datang. Tetapi sakitnya itu loh terasa tiga kali lipat dari dunia nyata. Bahkan ketika bangun, rasa nyut-nyutan itu masih terasa.
Ibu mengatakan bahwa jika yang copot gigi geraham atas, maka itu pemberi kabar bahwa akan ada kerabat dari pihak ayah yang meninggal. Tetapi sebaliknya, jika gigi geraham bawah yang copot, maka akan ada kerabat dari pihak ibu yang meninggal.
Maka berkaitan dengan mimpi gigi copot, sudah tidak terhitung jumlahnya. Sebab baik keluarga ayah dan ibu, semuanya keluarga besar. Tetapi akan aku ceritakan beberapa mimpi tentang gigi copot ini.
Sehabis sholat subuh di 2015, gigiku masih sedikit nyut-nyutan. Ya, semalam aku habis mimpi gigi geraham bawah kanan copot. Belum sempat aku menceritakan mimpi itu, terdengar suara ketukan pintu dengan nada tergesa-gesa. Bergegaslah aku membuka pintu. Ternyata nenek dari pihak ibu. Ia pun memanggil nama ibu ”Ni…,Ni…”. Ibu yang sedang mencuci beras menyahut. Aku pun mengikuti langkah nenek di belakang.
”Lik Kaji Khaer meninggal tadi jam 3.” Lik Kaji Khaer ini merupakan adik dari kakek. Sontak ibu langsung kaget sebab tidak terdengar kabar kalau pamannya tersebut sakit. Ibu pun menanyakan kepada nenek, Lik Kaji Khaer sakit apa. Namun, nenek hanya menggeleng. Ia pun bergegas mengajak ibu untuk segera melayat ke desa sebelah. Ibu pun meminta saya untuk sarapan di kantin sekolah saja.
Sepulang sekolah nenek menceritakan bahwa Lik Kaji Khaer meninggal di rumah sakit. Katanya selepas makan sore, ia muntah-muntah, pingsan. Anaknya pun membawanya ke puskesmas kecamatan. Namun, puskesmas merujuknya ke rumah sakit daerah. Lalu jam 3 dini hari meninggal. Kata dokter, ia mengalami retak di tengkorak. Kemudian hal tersebut dibenarkan oleh mantri desa yang bernama Wahyono. Ia menceritakan bahwa tiga bulan yang lalu Lik Kaji Khaer datang ke tempat prakteknya. Lik Kaji Khaer mengeluhkan bahwa kepalanya sakit seperti ditusuk pisau. Lebih lanjut ia menceritakan kalau dirinya tertimpa kelapa ketika di kebun.
Tentu saja karena ingin kaya. Padahal dunia tidak akan dibawa mati.
Mantri Wahyono pun hanya memberikan obat penahan sakit dan menyarankan untuk dirontgen di rumah sakit umum daerah. Makanya Mantri Wahyono pun juga kaget. Ia mengira sarannya tersebut dituruti oleh Lik Kaji Khaer.
Selesai nenek menceritakan kronologi tentang Lik Kaji Khaer. Ibu muncul dari dapur dan mengatakan ”Lik Kaji Khaer mah memang pelit. Tak kira pelit hanya kepada keponakan-keponakannya saja. Ternyata untuk dirinya sendiri juga pelit.” Nenek pun menyahut, ”Tentu saja karena ingin kaya. Padahal dunia tidak akan dibawa mati.”
Perasaan setelah mimpi tersebut tentu saja membuat was-was. Timbul pertanyaan wah, siapa nih yang akan meninggal. Barangkali perasaan tersebut timbul karena penasaran. Maka tatkala terdengar kabar itu datang, was-was itu hilang. Tetapi sekarang lain ceritanya, aku tidak lagi berada di kampung. Tetapi berada jauh di Negeri Matahari Terbit. Jika di kampung aku bisa menceritakan mimpi itu kepada ibu. Tetapi di negeri seberang ini, semuanya aku tutup rapat. Bisa saja telepon, tetapi aku tak suka bercerita lewat telepon.
Oleh sebab itu, kesempatan pulang kampung satu tahun sekali, aku tanyakan kepada ibu tentang siapa kerabat yang meninggal. Lalu setelah mendapat jawaban, aku ingat-ingat bulan apa aku mimpi gigi copot. Misalnya, tatkala kemarin ibu mengatakan bahwa Mbah Kusen, paman dari ayah, meninggal pada bulan Agustus. Maka, ingatanku seketika melayang bahwa memang aku mimpi gigi geraham kiri atas copot. Hanya sebatas itu yang aku tanyakan, aku tak berani menanyakan bagaimana keadaannya tatkala meninggal. Sebab, katanya kondisi saat nyawa sudah tidak dalam badan adalah gambaran perilaku semasa hidup.
Lalu ibu beralih ke kabar bahwa di bulan November, sepupu kakek yang bernama Wak Sopan meninggal. Di bulan tersebut aku mimpi gigi geraham copot bagian kanan bawah. Ibu pun berlanjut ke kabar bahwa di bulan Desember bibi dari ibu yang bernama Mbah Mur meninggal. Dan lagi-lagi di bulan tersebut aku memang mimpi gigi copot bagian bawah kanan. Kali ini ibu melanjutkan ceritanya bahwa mulut dari Wak Mur tebal seperti kue cucur. Aku pun jadi ingat dulu aku sering diomeli sama dia tanpa sebab. Bukan hanya diriku, tetapi yang lain juga tidak luput dari omelannya.
Kali ini aku mimpi tentang gigi copot lagi. Jika aku bisa bertanya kepada tuhan, maka aku akan bertanya kenapa pertanda kematian kerabat itu selalu datang lewat mimpiku.
Malik Ibnu Zaman, lahir di Tegal Jawa Tengah. Menulis cerpen, puisi, esai, dan resensi yang tersebar di beberapa media online. Buku pertamanya sebuah kumpulan cerpen berjudul Pengemis yang Kelima (2024). Sekarang sedang menempuh studi di jurusan Sastra Indonesia Universitas Pamulang.
sumber : kompas.id, 21 Feb 2025.