Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Gigi Copot oleh Malik Ibnu Zaman

Posted on Jum, 21 Feb 2025

Mimpi….

Kata sebagian orang mimpi adalah bunga tidur. Menurut sebagian orang lagi mimpi tidak sekadar mimpi, tetapi memiliki makna. Di mana makna tersebut bisa tersurat atau tersirat. Dengan kata lain mimpi semacam bocoran apa yang akan terjadi di dunia nyata.

Pertanyaannya aku termasuk golongan mana? Tentu saja aku termasuk golongan yang percaya bahwa mimpi adalah bocoran dari Yang Maha Kuasa tentang apa yang akan terjadi pada kehidupan nyata kita. Ditambah lagi ibuku sering mengajarkan perihal tafsir mimpi. Ibuku sendiri diajari oleh mendiang kakek.

”Mimpi yang memiliki makna adalah mimpi yang ketika kita bangun tidur, kita ingat betul dengan detail mimpi yang dialami. Tetapi, jika mimpi tersebut tidak diingat, itu bukan mimpi namanya. Tetapi bunga tidur,” ujar ibu kepadaku ketika suatu kali aku mengatakan bahwa semalam aku mimpi, tetapi tidak ingat mimpi tentang apa.

Belajar tafsir mimpi tentu saja seru sebab ibu menjelaskan dengan gaya bercerita. Namun, sayangnya ketika aku berusaha menafsirkan mimpi yang aku alami. Itu sungguh menyeramkan. Jawaban tentang mimpi itu langsung muncul di benak kepala, tanpa edeng-edeng, tanpa aling-aling. Dan itu selalu memiliki makna negatif. Ketika aku menceritakan hal ini kepada ibu. Ia diam sebentar, lalu mengatakan, ”Kemampuan semacam itu adalah pemberian dari Yang Maha Esa, supaya kamu tidak kagetan dalam menjalani kehidupan yang penuh sandiwara ini.”

Jawaban ibu tentu saja tidak menjawab keresahan yang aku alami. Usiaku sekarang adalah 23 tahun. Jika aku hidup sama seperti kebanyakan orang sampai umur 63 tahun. Maka aku akan dibayangi oleh ketakutan akan sebuah mimpi begitu lama. Ya, sepanjang hidup. Alhasil ada semacam penyesalan mengapa dulu aku mau saja diajari oleh ibu perihal tafsir mimpi. Mengapa aku tidak menolak.

Ketika kakek meninggal, aku sudah tahu 40 hari sebelum ia dibungkus dengan kafan. Ya, aku tahu itu dari mimpi. Dalam mimpi aku bersama kakek dikejar-kejar oleh kuntilanak di sebuah jalan. Di kanan kirinya sawah dengan padi menguning dan terdapat petani sedang memanen. Namun, mereka tidak memedulikan kami. Lalu, sampailah pada sebuah rumah gelap gulita dengan pintu kupu tarung menghadap utara. Dan kuntilanak yang mengejar kami tidak terlihat lagi.

Aku mau masuk terlebih dahulu, namun kakek melarangnya. Ia mengatakan bahwa dirinya terlebih dahulu yang akan mengecek dalam, memastikan di rumah tersebut tidak ada siapa-siapa. Begitu satu kaki kakek masuk, ia langsung ditarik oleh sosok kuntilanak. Ternyata kuntilanak yang mengejar kami sudah menunggu di dalam. Aku pun terbangun dari tidur dengan keringat dingin. Bajuku basah kuyup seperti tercebur.

Rumah gelap menghadap utara dalam mimpi tersebut jika ditafsirkan memiliki makna kuburan. Kita tahu bahwa mayit di Indonesia itu kan posisinya menghadap ke barat melintang dari utara ke selatan. Komplek kuburan di Jawa memiliki model pintu kupu tarung.

Ya, tafsir mimpi itu menjadi kenyataan. Padahal, ketika bangun tidur aku meludah tujuh kali ke kiri. Sebab, kata ibu ketika mimpi buruk, maka ketika bangun sebelum turun dari kasur segeralah meludah ke kiri sebanyak tujuh kali. Tujuannya agar tidak terjadi di dunia nyata.

Mimpi lainnya berkaitan dengan adik sepupuku yang bernama Umar. Tatkala ia berumur 40 hari, aku bermimpi. Mimpi ini terjadi sewaktu aku tidur siang. Dalam mimpi itu aku melihat Umar digendong oleh kuntilanak. Aku terbangun dari tidur ketika mendengar isak tangis dari bibiku yang datang ke rumah, mengabarkan bahwa Umar demam tinggi. Seminggu berlalu badannya tak kunjung reda meskipun sudah di bawa ke dokter. Lalu ia pun dibawa ke rumah sakit. Dua minggu lamanya ia dirawat, sebelum akhirnya ia kembali kepada Sang Pencipta.

Kemudian ketika aku dipecat dari tempat aku bekerja, aku sudah mengetahuinya dua bulan sebelum pemecatan itu terjadi. Dalam mimpi tersebut, aku didatangi oleh kakek tua. Lalu ia pun menceritakan tentang skema mengenai pemecatan diriku. Benar saja aku dipecat melalui skema fitnah oleh orang bernama Ivan, Fathoni, dan Haekal.

Ada satu lagi mimpi yang cukup unik, kali ini masih berkaitan dengan kematian. Mimpi tersebut adalah gigi copot. Dalam mimpi tersebut tanganku tiba-tiba bergerak ke mulut dan mencabut satu gigi geraham, entah itu di kanan atau di kiri. Aku mimpi tersebut setiap kali akan ada kerabat yang meninggal. Jujur saja, mimpi tersebut yang paling menyebalkan. Bukan hanya karena kabar duka yang akan datang. Tetapi sakitnya itu loh terasa tiga kali lipat dari dunia nyata. Bahkan ketika bangun, rasa nyut-nyutan itu masih terasa.

Ibu mengatakan bahwa jika yang copot gigi geraham atas, maka itu pemberi kabar bahwa akan ada kerabat dari pihak ayah yang meninggal. Tetapi sebaliknya, jika gigi geraham bawah yang copot, maka akan ada kerabat dari pihak ibu yang meninggal.

Maka berkaitan dengan mimpi gigi copot, sudah tidak terhitung jumlahnya. Sebab baik keluarga ayah dan ibu, semuanya keluarga besar. Tetapi akan aku ceritakan beberapa mimpi tentang gigi copot ini.

Sehabis sholat subuh di 2015, gigiku masih sedikit nyut-nyutan. Ya, semalam aku habis mimpi gigi geraham bawah kanan copot. Belum sempat aku menceritakan mimpi itu, terdengar suara ketukan pintu dengan nada tergesa-gesa. Bergegaslah aku membuka pintu. Ternyata nenek dari pihak ibu. Ia pun memanggil nama ibu ”Ni…,Ni…”. Ibu yang sedang mencuci beras menyahut. Aku pun mengikuti langkah  nenek di belakang.

”Lik Kaji Khaer meninggal tadi jam 3.” Lik Kaji Khaer ini merupakan adik dari kakek. Sontak ibu langsung kaget sebab tidak terdengar kabar kalau pamannya tersebut sakit. Ibu pun menanyakan kepada nenek, Lik Kaji Khaer sakit apa. Namun, nenek hanya menggeleng. Ia pun bergegas mengajak ibu untuk segera melayat ke desa sebelah. Ibu pun meminta saya untuk sarapan di kantin sekolah saja.

Sepulang sekolah nenek menceritakan bahwa Lik Kaji Khaer meninggal di rumah sakit. Katanya selepas makan sore, ia muntah-muntah, pingsan. Anaknya pun membawanya ke puskesmas kecamatan. Namun, puskesmas merujuknya ke rumah sakit daerah. Lalu jam 3 dini hari meninggal. Kata dokter, ia mengalami retak di tengkorak. Kemudian hal tersebut dibenarkan oleh mantri desa yang bernama Wahyono. Ia menceritakan bahwa tiga bulan yang lalu Lik Kaji Khaer datang ke tempat prakteknya. Lik Kaji Khaer mengeluhkan bahwa kepalanya sakit seperti ditusuk pisau. Lebih lanjut ia menceritakan kalau dirinya tertimpa kelapa ketika di kebun.

Tentu saja karena ingin kaya. Padahal dunia tidak akan dibawa mati.

Mantri Wahyono pun hanya memberikan obat penahan sakit dan menyarankan untuk dirontgen di rumah sakit umum daerah. Makanya Mantri Wahyono pun juga kaget. Ia mengira sarannya tersebut dituruti oleh Lik Kaji Khaer.

Selesai nenek menceritakan kronologi tentang Lik Kaji Khaer. Ibu muncul dari dapur dan mengatakan ”Lik Kaji Khaer mah memang pelit. Tak kira pelit hanya kepada keponakan-keponakannya saja. Ternyata untuk dirinya sendiri juga pelit.” Nenek pun menyahut, ”Tentu saja karena ingin kaya. Padahal dunia tidak akan dibawa mati.”

Perasaan setelah mimpi tersebut tentu saja membuat was-was. Timbul pertanyaan wah, siapa nih yang akan meninggal. Barangkali perasaan tersebut timbul karena penasaran. Maka tatkala terdengar kabar itu datang, was-was itu hilang. Tetapi sekarang lain ceritanya, aku tidak lagi berada di kampung. Tetapi berada jauh di Negeri Matahari Terbit. Jika di kampung aku bisa menceritakan mimpi itu kepada ibu. Tetapi di negeri seberang ini, semuanya aku tutup rapat. Bisa saja telepon, tetapi aku tak suka bercerita lewat telepon.

Oleh sebab itu, kesempatan pulang kampung satu tahun sekali, aku tanyakan kepada ibu tentang siapa kerabat yang meninggal. Lalu setelah mendapat jawaban, aku ingat-ingat bulan apa aku mimpi gigi copot. Misalnya, tatkala kemarin ibu mengatakan bahwa Mbah Kusen, paman dari ayah, meninggal pada bulan Agustus. Maka, ingatanku seketika melayang bahwa memang aku mimpi gigi geraham kiri atas copot. Hanya sebatas itu yang aku tanyakan, aku tak berani menanyakan bagaimana keadaannya tatkala meninggal. Sebab, katanya kondisi saat nyawa sudah tidak dalam badan adalah gambaran perilaku semasa hidup.

Lalu ibu beralih ke kabar bahwa di bulan November, sepupu kakek yang bernama Wak Sopan meninggal. Di bulan tersebut aku mimpi gigi geraham copot bagian kanan bawah. Ibu pun berlanjut ke kabar bahwa di bulan Desember bibi dari ibu yang bernama Mbah Mur meninggal. Dan lagi-lagi di bulan tersebut aku memang mimpi gigi copot bagian bawah kanan. Kali ini ibu melanjutkan ceritanya bahwa mulut dari Wak Mur tebal seperti kue cucur. Aku pun jadi ingat dulu aku sering diomeli sama dia tanpa sebab. Bukan hanya diriku, tetapi yang lain juga tidak luput dari omelannya.

Kali ini aku mimpi tentang gigi copot lagi. Jika aku bisa bertanya kepada tuhan, maka aku akan bertanya kenapa pertanda kematian kerabat itu selalu datang lewat mimpiku.

Malik Ibnu Zaman, lahir di Tegal Jawa Tengah. Menulis cerpen, puisi, esai, dan resensi yang tersebar di beberapa media online. Buku pertamanya sebuah kumpulan cerpen berjudul Pengemis yang Kelima (2024). Sekarang sedang menempuh studi di jurusan Sastra Indonesia Universitas Pamulang.

sumber : kompas.id, 21 Feb 2025.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme