Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Apa Yang Lebih Kuat dari Maut? oleh Mashdar Zainal

Posted on Ming, 18 Feb 2024

Rel-rel menatap dingin, seperti mata golok yang menatap leher para binatang yang gelisah di rumah jagal. Kita duduk di sisian rel ini sedari subuh. Kita menghitung, tak kurang dari lima kereta telah berlalu-lalang melampaui kita –yang hanya duduk dan saling bergenggaman tangan.

AKU menggigil dan tak berani mengangkat kepala. Dan kautahu, aku menggigil bukan karena hawa dingin. Tapi karena hawa kematian yang sedari tadi menjawil-jawil tengkukku, yang rasanya jauh lebih dingin.

Kau datang hanya dengan sebotol air mineral dan roti sobek yang kaubawa dalam tas plastik kecil bertulisan nama sebuah minimarket. Sedangkan aku datang hanya membawa diri yang diam-diam telah kaucuri dari orang tuaku menjelang subuh tadi.

”Kita harus yakin, dan kita juga harus siap,” katamu berkali-kali.

Dan aku tak pernah yakin pada apa pun. Namun kematian, meskipun kau tak yakin padanya, ia tetap akan menghampirimu, bukan? Sedari subuh tadi, ketika aku berjingkat kabur lewat pintu belakang, sampai kita bertemu dan saling bergenggaman tangan, tak sepatah kata pun meluncur dari mulutku. Aku lebih banyak menunduk. Sedangkan kau tak henti-hentinya meyakinkan bahwa cinta adalah sesuatu yang lebih kuat, bahkan dari maut. Kautahu, sebanyak apa pun kau meyakinkan aku, aku tetap tak akan goyah, karena bagaimanapun, maut bukanlah sesuatu yang pantas dijadikan mainan, apalagi taruhan.

Sejak kereta pertama melintas, kau sudah menggenggam tanganku erat-erat (seakan berusaha menariknya) dan bertanya, ”Bagaimana? Kau sudah siap?”

Dan aku masih menggeleng dengan isakan yang sentimental. Kau meraih kepalaku ke dalam pelukanmu sambari berkata, ”Tidak apa-apa. Kita akan menunggu kereta selanjutnya, sampai kau siap.”

Aku ingin bilang padamu bahwa sebenarnya aku tak pernah siap. Ketika kereta kedua, ketiga, dan keempat datang, kau pun menanyakan pertanyaan yang sama, dan aku pun menjawab dengan jawaban yang sama. Hingga kau meraih tanganku dan mengajakku untuk mampir ke warung nasi campur di pinggiran rel. Mungkin pemilik warung menatap kita dengan tatapan heran: dua mudi-mudi yang sedari subuh hingga matahari meninggi hanya duduk-duduk di sisian rel sambil bergandengan tangan. Dan sebelum kita mampir ke warung itu, kita sempat mendengar seorang lelaki menggerundel membicarakan kita dari dalam warung itu, ”Pacaran kok di pinggir rel, sebenarnya mereka itu mau pacaran atau mau cari mati?”

Dan kita hanya tersenyum mendengar itu. Senyum yang getir.

”Biar saja mereka bicara apa, mereka tak akan pernah mengerti,” katamu dengan nada sinis. Dan aku masih saja diam dalam dekapanmu. Ketika kita benar-benar singgah ke warung itu, orang-orang di dalam warung jadi bungkam. Hanya suara piring yang beradu dengan sendok, atau suara pantat cangkir yang menyentuh nampan, atau suara tempe tepung yang dicelupkan ke minyak panas.

Kau memesan dua porsi nasi campur dan dua gelas teh hangat. Kau mengunyah sarapanmu ragu-ragu, sedangkan aku malah mendiamkannya.

”Ayolah, itu sudah dipesan. Makanlah supaya badanmu tidak gemetar,” katamu nyaring tanpa memedulikan pelanggan lain yang mendelik ke arah kita dengan tatapan aneh. Aku menyeruput teh hangat sekali dan mendiamkannya lagi.

”Apa mau kusuapi?” katamu lagi. Orang-orang kembali memelototi kita, anak pemilik warung yang masih remaja menutupi mulutnya karena membisikkan sesuatu pada ibunya.

Aku mulai menyentuh nasi campur itu dan memasukkannya ke dalam mulut, sesendok demi sesendok. Sungguh, aku ingin muntah. Bukankah seseorang yang siap mati seharusnya tak sempat memikirkan rasa lapar?

”Kalau memang nggak mau ya sudah, nggak usah dipaksa,” katamu sambil mengelap mulutku dengan sapu tangan marun yang kaurogoh dari saku bajumu. Orang-orang masih mencuri-curi pandang ke arah kita sambil menyeruput kopi, teh, atau memasukkan nasi ke mulut mereka. Kau tak peduli.

Setelah membayar, kita pun kembali ke tempat semula, dan barulah orang-orang di dalam warung berbincang dengan suara nyaring, suara mereka seperti kawanan lebah yang terusik. Kita tahu, mereka membicarakan kita.

”Kita tak harus peduli, bukan?” katamu. Aku mengiyakan.

Kita duduk di tempat semula dengan posisi seperti semula, saling bergenggaman tangan. Rel-rel masih menatap kita dengan dingin. Anak pemilik warung mengintip kita dari jendela warungnya. Kaubalas memelototinya, hingga ia beringsut masuk.

”Aku benar-benar heran. Mengapa orang-orang selalu ingin tahu urusan orang lain?” katamu dengan dongkol. Ketika itu kereta kelima hampir melintas, kita tahu dari guncangan lirih yang membuat senar-senar kawat di sisian rel bergerak-gerak seperti dawai raksasa yang dipetik oleh tangan yang tidak tampak.

”Kau siap?” tanyamu lagi. ”Kalau kau siap, kita bisa melakukannya sekarang. Percayalah, ini tidak akan sakit. Bukankah rasa sakit yang paling sakit sudah kita telan bersama. Ayolah, kita sudah membuat kesepakatan. Kita akan memberi pelajaran berharga pada mereka.”

Aku benar-benar tak habis pikir, tidak adakah pelajaran lain yang bisa kita sepakati? Mengapa harus maut? Sebenarnya aku ingin berkata padamu demikian: Setelah tubuh kita tercerai-berai oleh moncong kereta yang melaju tanpa ampun, kita tak akan pernah tahu apakah orang tua kita mendapatkan pelajaran berharga atau malah bersyukur karena anak-anak mereka yang pembangkang telah lenyap dari muka bumi.

Namun aku masih membisu, aku tidak sampai hati menatap matamu yang telah begitu yakin bahwa maut adalah jalan terbaik bagi dua insan yang cinta kasihnya dianggap sebagai sesuatu yang konyol dan tergesa. Dua insan yang kebahagiaannya tak pernah direstui. Kau ingin, kita membuktikan pada mereka bahwa cinta kita lebih kuat dari apa pun, bahkan kematian.

Ketika kereta kelima melaju di hadapan kita dengan kecepatan yang tak bisa kita kilas, angin yang serampangan telah mengibaskan rambut dan rokku, sementara debu beterbangan, membuat kita menutup mata dan hidung.

”Baiklah, mungkin kereta selanjutnya,” katamu sambil menghalau debu dari hadapan kita dengan sapu tanganmu.

”Kereta selanjutnya adalah kereta supercepat yang biasanya melaju lebih kencang dari kereta lain. Seperti cahaya. Mungkin kereta berikutnya adalah kereta terbaik. Jadi, kau harus siap,” ungkapmu lagi.

Aku tak tahu mengapa tubuhku semakin gemetar. Seperti tubuhmu juga. Tapi aku gentar. Tak sepertimu yang begitu yakin pada kebahagiaan di dunia lain. Entahlah, pikiranku tidak di situ. Detik ini aku malah membayangkan, kedua orang tua kita sedang kelimpungan mencari kita yang hilang sejak subuh hari. Tanpa salam pamit. Memang, untuk mati, seseorang tak perlu pamit pada siapa pun. Tak ada waktu untuk itu. Tapi kau tak pernah tahu bahwa semakin dekat langkahku menuju rel-rel itu, kegamanganku kian berlipat-lipat. Lebih-lebih ketika kereta-kereta itu melaju dengan kecepatan tanpa batas. Aku benar-benar gentar.

Sebenarnya aku pernah berpendapat, kalaupun kita harus mati bersamaan, kita bisa memilih cara yang lebih santun, seperti minum racun serangga, misalnya. Namun kau berkilah, setelah orang tua kita mendapati mulut kita berbusa-busa mereka akan segera melarikan kita ke rumah sakit dan kita akan semakin celaka karena kita selamat. Jadi, aku tak membantah usulmu untuk meleburkan tubuh kita di moncong kereta yang tengah melaju dengan kecepatan cahaya. Tapi sekali lagi, setiap kali kereta-kereta itu datang dan kau menanyakan apakah aku sudah siap, aku semakin gemetar dan semakin tidak siap. Bahkan diam-diam, aku ingin membatalkan niat konyol ini.

Ketika pikiranku melambai ke mana-mana, dan waktu bergegas tanpa mau tahu, kereta keenam telah datang. Kereta supercepat yang katamu melaju dengan kecepatan cahaya. Dari kejauhan suara dengungnya begitu menyeramkan. Serupa sangkakala yang akan menamatkan dunia kita. Itukah malaikat maut yang hendak mencabut nyawa kita? Sisian rel kembali berguncang dan terus menatap kita dengan dingin. Senar-senar kawat juga turut berguncang. Seakan mereka bersorak.

Kau berdiri dan meraih tanganku, ”Kali ini kita harus siap. Kita sudah melewatkan lima kereta, dan kita tidak akan melewatkannya lagi. Kita harus siap.”

Tubuhku gemetar. Tanganku gemetar. Dari kejauhan, lampu di kepala kereta berkedip-kedip seperti mata iblis yang genit. Kereta semakin dekat. Dan kau menggenggam tanganku semakin erat. Mungkin kau melihat kegamangan yang nyata di mataku sehingga kau menyeretku begitu rupa menuju tengah rel yang lebih tampak seperti mata golok yang siap mencincang tubuh kita. Kereta semakin dekat, kita pun berjalan semakin dekat.

Orang-orang dari dalam warung berhamburan keluar. Mereka mengatai kita gila sambil berteriak tak keruan. Sebagian menjerit-jerit. Kereta masih beberapa puluh meter lagi. Dan karena kereta itu melaju dengan kecepatan cahaya, kita hanya butuh hitungan detik untuk sampai di neraka. Kau masih terus menyeretku.

”Aku tidak siap! Aku tidak siap! Aku tidak pernah siap! Cinta tak pernah lebih kuat dari mati!” jeritku terlepas untuk kali pertama. Seketika kau menghentikan langkahmu dan menatapku nanar.

Kita masih berdiri dengan jarak tak kurang dari dua meter ketika kereta itu melaju selaju-lajunya di hadapan kita. Angin bercampur debu menampar wajah dan tubuh kita yang rapuh, kuyu, dan nyaris tumbang. Kereta terus melaju, gerbong demi gerbong seperti menertawai kita, mempecundangi kita, dan kita masih saja berdiri seperti pohon perdu tua. Selepas gerbong terakhir melintas di hadapan kita, yang tampak hanya rel-rel dan kerikil yang rebah dan tampak begitu lelah.

Orang-orang berlarian mengerumuni kita, mencecar kita, memaki kita, mengumpat kita semau mereka. Dan bagi kita, mereka hanya makhluk-makhluk yang tak pernah mengerti. Mereka terus berkerumun dan menggerakkan mulut-mulut bau mereka. Telingaku seperti berdengung. Sejurus kemudian, kau melepaskan genggaman tanganmu dengan kasar –seperti mencampakkan sesuatu– dan pergi menyibak kerumunan dengan mata memerah.

Kau meninggalkanku. Dari sela-sela tubuh orang yang berkerumun itu, aku melihat punggungmu yang berjalan terguncang-guncang kian mengecil, kian menjauh. Dan rel-rel itu masih saja menatapku dengan dingin. (*)

—

MASHDAR ZAINAL : Lahir di Madiun 1984. Buku terbarunya Gelak Tawa di Rumah Duka (2020). Kini bermukim di Malang.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 18 Februari 2024

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme