Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Menonton Bapak Memancing di Laut oleh Dewanto Amin Sadono

Posted on Ming, 25 Feb 2024

Oleh DEWANTO AMIN SADONO

Tersebutlah keluarga Wayan yang ingin mengisi liburan. Reza ingin melihat Candi Borobudur gara-gara waktu ditanya gurunya letaknya di mana, dijawabnya: Amerika Serikat. Afgan pengin ke Bromo yang disebut-sebut sebagai taman terindah ketiga di dunia justru setelah terbakar.

COBA terbakar dua kali lagi. Pasti nomor satu,” katanya.

Zaenab menuntut Wayan memenuhi janjinya waktu pacaran. Serta-merta Wayan melebarkan bibir tanpa merasa berdosa. ”Liburan ke Bali butuh uang segini,” tangannya memperagakan sedang memegang tumpukan uang. ”Kita ke laut saja. Mancing!”

Reza berteriak gembira. Ia sering berharap suatu ketika bisa bertemu presiden, lalu ditanya nama-nama ikan, lalu diberi hadiah sepeda. Afgan bersikap biasa saja meskipun suka menonton acara Tualang Si Boling. Ia mencurigai ikan yang dipancing para bocil itu hanya rekayasa. Mana ada ikan yang baru kena pancing langsung mati, tak bergerak-gerak sama sekali.

Sedang Zaenab cemberut dan pilih tidak ikut. Meskipun begitu, ia memberikan beberapa pesan kepada Wayan, dan ada satu pesan yang ditekankannya kuat-kuat. Sebab kejadiannya belum lama. Ceritanya Zaenab, Reza, dan Afgan ditinggal Wayan waktu menonton pasar malam di alun-alun. Wayan pamit beli rokok dan tak kembali lagi. Ditelepon berkali-kali tidak diangkat. Terpaksa Zaenab dan kedua anaknya itu pulang jalan kaki.

”Kalau besok Reza dan Afgan sampai kamu tinggal di laut…” Zaenab tidak melanjutkan ucapannya. Ia lantas memilin-milin handuk, menjatuhkan ke lantai, lalu diinjak-injaknya.

Pagi itu langit cerah dan penjual tahu bulat sedang tidak lewat. Wayan, Reza, dan Afgan bersiap-siap. Tas berdesain khusus berisi perlengkapan memancing itu diletakkan Wayan di bagian depan motor, dijepit di antara dua paha. Dipakainya helm, dirapatkannya jaket, lalu menyilakan Reza dan Afgan naik motor matik yang sudah uzur itu. Namun, belum juga Wayan sempat menstarter motor, Zaenab sudah berteriak dari dalam rumah.

”Aku tidak masak! Nunggu hasil tangkapan ikan dari laut!”

Nama asli Wayan, Bambang Santoso. Gara-gara waktu kecil pernah menderita epilepsi, teman-temannya SD memanggilnya Bambang Ayan. Sebab kadang-kadang masih suka bertingkah seperti ayam kena tetelo, ketika di depan bapaknya yang terkenal galak, para tetangga memanggilnya Wa Ayan. Namun menghilangkan Wa-nya waktu bapaknya tidak ada.

Bambang sendiri, karena menganggap namanya terlalu pasaran, mengaku bernama Wayan waktu berkenalan dengan para perempuan. Pun demikian dengan perempuan yang sekarang menjadi istrinya itu. Zaenab yang mengira Wayan orang Bali berharap suatu saat diajak pulang kampung Wayan agar bisa mandi telanjang di Pantai Kuta.

Wayan kuliah di fakultas keguruan di perguruan tinggi swasta dan lulus enam tahun dengan predikat susah payah. Hal itu lebih susah dan payah dibandingkan upaya kedua orang tuanya untuk membiayainya. Selepas wisuda, Wayan menjadi guru honorer di SMP negeri di pinggiran ibu kota kabupaten, dan terperangkap di situ seperti katak tercebur ke lubang paralon.

Mula-mula Wayan mengira honor guru honorer besar, jauh melebihi UMR. Untuk satu jam pelajaran berdurasi yang 40 menit, honornya Rp 50 ribu. Jika mengajar 24 jam seminggu, honornya sebulan adalah Rp 50 ribu x 24 jam x 4 minggu. Lima juta kurang dua ratus ribu! Cukup banyak walaupun tidak fantastis.

Namun, Wayan hanya bisa meringis ketika tahu bahwa 24 jam yang dimaksud itu berlaku untuk penghonoran selama satu bulan! Entah manusia goblok mana yang telah menentukan perhitungan yang mahaidiot itu.

Untungnya Zaenab tak tinggal diam. Berbekal wajahnya yang cukup cantik, Zaenab menjadi supplier produk-produk kosmetik. Menawarkan skin care dan lain-lain lewat aplikasi Toksik. Dirinya sendiri sebagai modelnya. Pernah beberapa kali ditawar laki-laki; dikira sedang open BO. Namun, sampai sekarang Zaenab belum teperdaya meskipun sering kali godaan ekonomi itu begitu besarnya.

Setengah jam kemudian Wayan, Reza, dan Afgan tiba di muara. Seratus meter dari situ, laut terlihat cokelat pekat. Ombak berdebur-debur memukul tumpukan batu pemecah ombak. Setelah memarkir motor di samping warung, Wayan membeli umpan, lalu digandengnya Reza dan Afgan menuruni lereng jalan. Wayan menghampiri pemancing yang sedang nongkrong di atas batu. Tampangnya kumal, sekumal topi yang dikenakannya.

”Sudah dapat, Pak?” Wayan melongok-longokkan leher ke wadah ikan yang jelas-jelas kosong itu.

”Belum, Mas. Sepi!”

”Jelas saja sepi! Mancingnya di sini. Dapatnya pasti sampah, bukan ikan,” Wayan meninggalkan si pemancing, lalu berkata kepada Reza dan Afgan. ”Mancing butuh teori. Tidak boleh asal. Ada perhitungannya. Kuncinya pada umpan dan tempat mancing!”

Wayan lalu bercerita, ketika teman dari temannya mancing di muara, kailnya ditarik ikan besar sekali. Butuh semalaman untuk menariknya. Bahkan, tangan teman dari temannya itu sampai keseleo. Yang menyambar umpan ikan pari raksasa. Lebih besar dibanding tampah.

”Waooo, besar sekali!” sahut Reza.

”Mungkin lebih besar lagi. Jika…”

”Keseleo gara-gara tarik-tarikan dengan ikan?” Afgan memotong ucapan yang belum selesai itu.

”Bukan,” Wayan nyengir kuda, ”kurang dua meter dari darat, senar pancingnya putus. Waktu mengejar ikan yang sudah kelihatan punggungnya itu, kakinya terpeleset lumpur, tangannya membentur batu.”

Wayan, Reza, dan Afgan tiba di bawah pohon tak jauh dari muara, dan Wayan menyempatkan menghampiri dua pemancing yang sedang sibuk memasang umpan.

”Sudah dapat, Mas?”

”Sudah! Tapi kecil-kecil!” jawab yang berjaket gambar buaya.

”Pakai umpan apa?” Wayan melongok wadah bekas cat tembok itu.

”Cacing!” jawab yang berkaus oblong gambar cicak.

”Tentu saja dapatnya kecil-kecil! Mancing di laut umpannya cacing,” Wayan mencibir, lalu menjauh, lalu berkata kepada Afgan dan Reza. ”Kalau mau dapat ikan kakap yang segede bantal, umpannya harus udang hidup seperti yang kita beli tadi.”

Wayan, Reza, dan Afgan tiba di mulut muara. Wayan memilih tempat yang teduh, di samping tanaman perdu, tak jauh dari tumpukan batu pemecah ombak. Wayan menggelar spanduk bekas penerimaan peserta didik baru, mengeluarkan botol air putih, dan menyuruh Reza dan Afgan duduk di situ.

”Jangan ke mana-mana! Ombaknya besar!”

Reza dan Afgan patuh. Sesekali mereka mengedarkan pandangan ke sekitar muara: tumpukan batu, laut, langit, dan pasir. Lain kali memperhatikan bapak mereka yang sedang sibuk.

Wayan mengeluarkan peralatan pancing, mengambil joran yang bisa dipanjangkan hingga dua meter setengah. Dipasangnya rel. Senarnya nilon berdiameter 0,18 mm mampu menarik beban sampai 8 kg tanpa khawatir putus. Lalu dipasangnya kail dan pemberat. Wayan ingin memancing dengan teknik dasaran. Saat ombak besar biasanya para ikan suka berkumpul di dasar muara.

Setelah pancingan siap, Wayan membuka besek wadah udang. Diambilnya udang paling besar, dikaitkannya ke kail. Wayan lalu menuju tumpukan batu; berdiri di atasnya, menoleh ke Reza dan Afgan.

”Sebelum melemparkan kail, jangan lupa berdoa! Minta diberi ikan besar!” Wayan mengayunkan jorannya,” Bismillah! Duh Gusti Allah, minta ikan yang segede pantat istri hamba!” berbarengan umpan dan pemberat itu mendarat di air, Wayan menutup doanya. ”Amin!”

Lima menit berlalu. Ujung joran Wayan tak bergerak-gerak atau berayun-ayun, apalagi melengkung. Wayan lalu menggulung relnya. Didapatinya umpan itu sudah tidak ada. Wayan mengerutkan kening, lalu memasang umpan baru, melemparkan ke tempat berbeda, disertai doa yang sama, lalu menoleh ke kedua anaknya yang masih bersila di atas spanduk dengan berkeringat dan wajah bosan.

”Mancing harus sabar! Rezeki akan mendatangi orang-orang yang sabar!” Wayan tersenyum. ”Acara mancing di televisi itu hanya rekayasa. Aslinya tidak semudah itu. Kadang harus menunggu berjam-jam sebelum…!”

”Pak! Pak!” Reza histeris, ”umpannya dimakan! Jorannya melengkung!”

Wayan berbalik, serta-merta mengayunkan joran ke belakang, sekuat-kuatnya, lalu cepat-cepat menggulung rel. Strike! Pekiknya dalam hati. Dirasakannya ada gerakan-gerakan pada ujung senar. Hidung Wayan kembang kempis. Entah seberapa besar ikannya.

”Besar, Pak?” Reza berdiri, Afgan juga. Keduanya penasaran. ”Sebesar bantal?” tanya Reza lagi.

”Sepertinya tidak sebesar itu,” Wayan terus menggulung rel. Sesekali rel murahan itu berdecit-decit seperti tikus terjepit pintu akibat mendapat tekanan di luar kesanggupannya. ”Tapi kalau tiga kilo sepertinya ada.”

Wayan terus membuat gerakan mengayun dan menggulung, dan merasakan sensasi yang luar biasa. Sepertinya, itu juga perasaan yang dirasakan si pemancing tua dalam cerita pendek yang panjang yang pernah dibacanya. Sensasional! Tapi, Wayan tak ingin menjadi pemancing yang goblok. Buat apa mempertahankan ikan busuk. Sebesar apa pun ikannya, tetap saja tak ada gunanya jika kucing pun tak sudi mengendusnya. Justru mendatangkan penyakit. Dan baginya, memancing tidak ada kaitannya sama sekali dengan filosofi tentang perjuangan dan keuletan. Berlebih-lebihan. Tuman!

Perlahan-lahan, tapi pasti, Wayan berhasil menarik beban yang membebani kailnya itu. Jaraknya tinggal dua meter lagi dan terus mendekat, dan mendekat lebih dekat, hingga dekat sekali, dan seketika Wayan mengerutkan keningnya.

”Besar, Pak? Sebesar apa?” Reza melongok-longok.

Wayan hanya butuh dua detik untuk memikirkan jawabannya. ”I-iya! Besar sekali! Bisa dimasak satu keluarga,” sahutnya, nadanya dibuat riang gembira. Lalu, tiba-tiba, ”Aduh! Aduh! Lepas! Sialan! Padahal sudah Bapak pegang!”

”Ikannya lepas, Pak?” tanya Afgan yang semula tak acuh.

”Iya, lepas! Sayang sekali, ya?”

Wayan menarik napas dalam-dalam. Kisah nyaris dapat ikan pastilah lebih indah untuk dikenang daripada kisah konyol yang sering dialami para pemancing. Rupanya Wayan menyulut senar pancingnya dengan rokok dan kayu seukuran lengan yang hampir mencopot jantungnya itu pun seketika terbawa arus, meluncur ke dasar muara.

Wayan berdiri, menunjukkan ujung senar pancing yang rantas itu ke kedua anaknya, dan tiba-tiba merasa sangat bersalah.

Wayan mengajak kedua anaknya pindah lokasi. Satu jam kemudian, pindah lagi ke lokasi yang lain. Namun, hasilnya sama saja. Seolah-olah sudah bersepakat untuk memboikot, tak ada satu ikan pun yang menyambar umpan. Wayan pun menyerah dan memutuskan pulang. Perihal kegagalannya mendapatkan ikan sebiji pun itu, Wayan mengajukan berbagai alasan. Reza dan Afgan mengangguk-angguk, memaklumi.

Namun, saat tiba di lokasi pemancingan yang tadi disebutnya tidak ada ikannya kecuali sampah, Wayan menganulir niatnya buat menyerah setelah melihat wadah ikan pemancing bertopi kumal yang tadi diejeknya.

Buru-buru Wayan membawa Reza dan Afgan ke warung tak jauh dari tempat itu. Memesan mi goreng tanpa telur serta es teh untuk Reza dan Afgan, dan kopi hitam untuk dirinya sendiri. Setelah itu, Wayan kembali memancing. Posisinya tak jauh dari pemancing bertopi itu.

Setelah pesanan datang, Reza dan Afgan segera menyantapnya. Perut mereka lapar sekali. Empat jam hanya terisi air putih. Keduanya makan tanpa bicara. Reza berkonsentrasi penuh pada makanan kesukaannya itu. Sementara, di sela-sela menggarpu mi, Afgan sesekali menoleh ke bapaknya yang sedang memancing.

Setengah jam kemudian Wayan memasuki warung. Wajahnya semringah! Senyumnya melebar. Ditunjukkannya dua ikan berukuran cukup besar yang tergantung pada tali plastik itu ke kedua anaknya.

”Dapat, Pak?” Reza tersentak. Wajahnya bercahaya.

Wayan mengangguk, digantungnya ikan itu di pintu warung, duduk di kursi, menyeruput kopi, menyulut rokok.

”Dek, Bapak dapat ikan, tuh!” Reza menyenggol Afgan yang tetap sibuk dengan sisa-sisa es tehnya. ”Besar sekali, lah!”

”Sudah tahu!” sahut Afgan, melirik ikan yang sedang dikerubuti lalat itu, tanpa melirik bapaknya.

Wayan tersenyum masam. Dan senyum Wayan bertambah masam ketika pemancing bertopi kumal itu tiba-tiba masuk warung, menadahkan telapak tangan, dan menagih kekurangan pembayaran ikan. (*)

KAJEN, 18 Desember 2023

—

Dewanto Amin Sadono : Guru dan penulis. Tinggal di Kajen, Pekalongan.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 25 Februari 2024

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme