Selenting kasak-kusuk yang selama ini ia peram dalam sunyi akhirnya menuai kabar berita benar adanya. Bukan lagi sekadar bisik-bisik di antara asap cerutu yang mengepuli udara tepi sungai Karang Bulan yang nyaris tanpa riak jika tiada bermusabab. Bukan pula sesumbar gelombang samar di antara kibasan sarung yang tengah dicuci para perempuan sehunjur kampung mereka.
Kabar itu tiba bersama sebuah sasanggan kuningan berisi beras, gula, garam, serta, sebiji nyiur tua. Sungguhlah berat menjujung piduduk sembari meniti anak tangga menuju beranda rumah panggung keluarga Maryam Barliana. Pun begitu, hati wanita nyaris lepas pertengahan kepala tiga itu tentu lebih berat kiranya manakala mesti membuka pengunci pintu rumahnya.
Bukan tersebab pintu yang ada terlampau besar. Tak pula sampai setinggi batang enau atau selebar hampar tikar. Tidak demikian ukuran yang membuat tangan Maryam gemetar setelah mengintip dari sela jendela ketipak limbai siapa yang terdengar telinga.
Dada Maryam bertalu. Kian dekat jejak merapati pintu, kian terengah jua napasnya memburu. Kala ketukan demi ketukan mulai terdengar mendesak, Maryam masih melapangkan sanubarinya.
”Ketuklah dengan salam,” saran seorang dengan suara berat yang Maryam kenali. ”Tapi sekali salam terucap, pantang kaki beranjak.”
Pintu diketuk. Salam ditutur. Maryam tak punya pilihan selain bersahut sebagaimana tuntunan penghulu zaman. Maryam menyibak pintu rumah panggungnya. Dua manusia berdiri. Seorang perempuan dengan sasanggan kuningan di kepala. Seorang lagi lelaki yang hanya sekelebat bertentang mata.
”Apa gerangan yang menghantar langkah kalian ke sini?” Maryam melempar sorot mata lurus melewati bahu hingga jendela. ”Padahal gerimis belum reda sejak azan Dzhur lengser dari langgar.”
”Kami bermaksud mengikat kembali simpul tali yang sempat lerai.” Barahim yang sedari tadi bagai terkunci lidah akhirnya bicara.
Maryam mematut pandang selidik pada mereka berdua. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Senyum miringnya membuat Barahim meneguk ludah berat dan sepat. Barahim sepenuh paham gelagat wanita yang tiada bukan pernah bertaut hati dengan dirinya. Sebab itu menuju rumah panggung Maryam serasa demikian jauhnya meski secara garis jarak hanyalah selemparan batu lebih beberapa depa saja. Tetapi siapalah yang sanggup melangkah ringan pabila yang disusur adalah rasa bersalah?
”Dandang yang kupunya tidaklah seberapa besarnya. Wajan pun demikian adanya. Takkan cukup untuk memasak kenduri, lebih-lebih pernikahan anak dara seorang pambakal,” tolak Maryam sebelum lunas cerita Barahim dan adiknya perihal niat kedatangan mereka. ”Anak urang badahi1, tentu sanak famili yang datang akan banyak sekali. Belum lagi para pejabat tinggi dari lurah sampai bupati. Khawatir nanti nasi yang tersaji tidak tanak api.”
Kami bermaksud mengikat kembali simpul tali yang sempat lerai.
Kabut tipis mengudara dari ujung mulut Barahim yang terbuka. Hela dan embus napasnya terdengar kentara. Lamat-lamat ia melempar pandang pada Maryam, menyusur jejak-jejak harapan yang barangkali masih dapat dikaisnya. Suara batuk yang dibuat-buat mendahului kalimat yang hendak melintas ruang tenggorokan lelaki itu.
”Kami bukan hendak memintamu menanak nasi dan lauk pauk untuk kenduri,” kata Barahim. ”Aku yang perlu. Perlu tangan dinginmu mempersiapkan diriku sebelum melabuh sauh ke tangan penghulu.”
Geliat mata Maryam mendadak terkuak. Pupulinya tersingkap bagai jendela yang disentak. Demikian lebar. Demikian nyalang sebab kejut yang bukan alang kepalang. Sudut hati Maryam merutuk umpat atas laku Barahim seakan belum pernah tahu perihal malu. Nyaris betul ujung lidahnya mengeluarkan serapah tetapi urung demi sadar ia mesti menjaga marwah.
”Kanda Barahim Barajaki, kuterka matamu belum terkena rabun kiranya, masih terang dan lapang pandangmu terhadap laku sehari-hariku. Sehunjur kampung Kalumpang ini pun tahu, aku seorang peramu di warung bawah rumbia itu, bukan perias pengantin seperti yang kau mau.”
Barahim menggeleng tanpa ragu. Manik matanya menikam tepat di tengah retina Maryam Barliana. ”Sedari hulu hingga muara sungai Karang Bulan, kuterka nyaris tak ada antasan yang tak tahu, siapa dahulu mendiang Uma-mu. Nyaris tiada wajah perempuan dan lelaki di kampung ini yang tak pernah merasakan tepuk bedak ibumu, kecuali ia mati sebelum sempat menggelar perkawinan.”
Maryam menimbang. Jemarinya mengetuk lutut tanpa suara. ”Mengapa mesti aku?”
”Sebab hanya tersisa kau yang benar-benar tahu segala prosesi perkawinan adat Banjar Hulu.”
”Pambakal Kasdi tidak meminta jujuran pada kami. Tetapi ia ingin perkawinan anak dara tunggalnya terlaksana sesuai tradisi adat kaum babangsa Nagara, sebagaimana muasal tanah kelahiran keluarga mereka.” Adik Barahim menambahi.
”Tak ada celak mata dan gincu yang tersisa. Tak ada pula pemanis kelopak mata aneka warna. Semata-mata yang tersisa hanya alas bedak dan pensil alis saja. Tidakkah wanita yang Kanda Barahim pinang mendulang kecewa pabila riasnya tak seelok rupa seorang putri raja Nagara?” Lagi, Maryam mengutarakan penolakan. Lama ia melumat kemelut dalam hati perihal merias bakal bini orang yang pernah demikian ia cintai.
Barahim tak habis akal. Ia memang serupa minjangan hutan. Lekas menimbang kata. Gesit bertindak tanduk pada sesiapa saja. Dua dari sekian banyak alasan Maryam pernah menjatuhkan hati pada lelaki berkulit seumpama langsat tersibak kulit buahnya. Bening dan terang sekali. Mulus bagai tak berpori.
”Kalaupun bukan kami berdua yang kau rias, Maryam, setidaknya aku yang kau urusi sebermula tikar purun melilit badan sampai limbai langkah memijak teras rumah Pambakal Kasdi,” bujuk Barahim lagi. ”Kurasa mengurus pengantin lelaki takkan memerlukan banyak perlengkapan seperti yang kau sebutkan. Sisa-sisa pun tak apa, sebab tangan dinginmu yang kupinta.”
”Pulanglah,” ucap Maryam menyahuti. Suaranya seumpama air talang yang tanai sehabis hujan semalam. Dingin dan beku. ”Aku sedang menanak garih haruan.”
Sebab hanya tersisa kau yang benar-benar tahu segala prosesi perkawinan adat Banjar Hulu.
”Lalu bagaimana dengan permintaanku tadi?” kejar Barahim tak sabar hati. ”Harinya sudah dekat. Lebaran haji hidup tujuh hari sauhku akan berlabuh.”
”Pulanglah,” ujar Maryam lagi. ”Garih haruan yang sedang kutanak mesti ditambah secawan santan. Perlu waktu untuk memarut sebab kelapa tua yang kau bawa bahkan belum lepas dari tempurungnya.”
Barahim paham. Dijawilnya ujung siku sang adik. Keduanya berpamit dengan membungkukkan sebatas bahu pada Maryam. Ketipak langkahnya terdengar lekas berlalu dari anak tangga rumah Maryam. Sementara Maryam masih terpaku, tak jua meranjak mengatup pintu. Ia tengah menanak hatinya sendiri agar cukup matang tersaji pada hari ketujuh lebaran haji.
***
Petang belum seberapalah suntuk ketika seruas pisau yang terapit di antara jemari Maryam merajangi berpuluh lembar daun dilam, batang demi batang serai wangi, pula seikat pundak dan pandan. Mata bulat itu sempat menyipit manakala irisan pada sebiji limau purut agak besar menciprat. Ia sedikit terkesiap sebab tak awas. Perih dan pedih, namun enggan berucap. Sekadar menyusut sudut kelopak tanpa celak itu dengan ujung kakamban yang sedari pangkal pahanya merapati lantai dapur ini tersisa menyangkut pada sela leher belaka.
”Apa yang bisa kubantu untuk meringankan dirimu?” tawar Barahim mengundang pandang selidik adiknya sendiri. Sungguh pun begitu, ia tak terlampau peduli.
Maryam membalik pandang dari sebuah kuali yang terlihat penuh oleh aneka kelopak bunga bermacam aroma. Kalau sempat terhirup oleh indera penghidu maka akan tercium harum dilam, serai wangi, pandan dan pudak, berpadu rekah melati, mawar merah merona, serta cempaka pula kenanga. Sesayup oleh angin, terendus pula samar aroma limau purut yang menyegarkan seluruhnya. Harum setaman dari dapur bakal pengantin lelaki yang membuat hati Maryam mesti ditanak lebih lama daripada aroma rempah ini.
”Duduklah. Itu sudah cukup membantu daripada terus mengawasiku semacam ragu cukup becus meramu rempah timung untukmu,” sergah Maryam membuat Barahim kecut muka tetapi tak bisa menyanggah apa-apa. Maka meringkuklah lelaki itu di atas bangku papan yang sejatinya akan mengalasi prosesi mandi uapnya nanti.
Adik perempuan Barahim diminta Maryam mendekat ke sebuah penggiling batu berbentuk bulat nyarislah pipih itu. Diserahinya sebiji batu untuk melumat segenggam beras ketan yang telah Maryam rendam semalam hari.
”Tak perlu terlampau halus,” perintah Maryam membuat gerakan tangan adik Barahim terhenti sesaat.
”Mengapa begitu?” Mata asisten perias ini segera penuh tanya.
”Sebab untuk menghilangkan daki dan menyamarkan bekas luka pabila ada.”
”Kalau untuk menghilangkan apakah lebih kasar lagi?”
”Luka tak terlihat di dalam hati saja sulit hilang, apalagi yang jelas-jelas tampak bekasnya, samar pun syukur,” sindir Maryam membuat lidah Barahim kelu.
Adiknya lanjut menggiling bulir beras ketan yang telah ditambahkan kepingan temu giring kering dan bunga srigading. Seluruhnya bersatu meski tak terlampau halus itu. Maryam mengeriknya dengan sendok lalu memasukkan ke dalam semangkuk kaca. Tanpa bertukar kata apa-apa dicampurkannya kasai basah itu dengan minyak kelapa.
”Berbaliklah, biar kujangkau punggung belakangmu,” perintah Maryam tak berbantah.
Desir halus mengisi lintasan hati dua manusia yang pernah berkelindan rasa. Bagaimanapun dimungkiri pernah membersit dalam angan Maryam untuk menjadi dermaga bagi sauh yang dilabuh Barahim. Nyatanya angan Maryam tiada beroleh restu dari Tuhan Maha Penentu. Angannya karam. Hatinya porak-poranda. Lalu setengah berkelakar, takdir Maryam mengantarnya mempersiapkan perkawinan dengan Barahim sekeluarga. Bukan sebagai sepasang mempelai yang akan berbahagia, melainkan pengantin dan pahiasan.
Ujung jemari kaki Barahim Barajaki yang terbaluri tumbukan beras, temu giring, dan bunga srigading menandai telah selesainya proses kasai yang Maryam lakoni. Cekat dan cermat perempuan itu mengangkat kuali dari perapian ke alas tandan kelapa basah yang disusun sejajar di atas lantai papan dapur keluarga Barahim Barajaki. Uap panas menguar tepat ke muka ketika Maryam membuka tutup kuali.
”Tutupilah dengan tapih bakurung2,” ujar Maryam sembari memegangi selembar tikar purun yang mengelilingi tubuh tegap Barahim Barajaki.
Seperempat jam ke depan, lelaki barbalur tumbukan beras ketan itu bakal diasapi dengan rebusan rempah wangi. Konon cerita orang-orang bahari sebagai upaya pembersihan diri bakal raja dan ratu sehari. Sependek pendengaran Maryam, putri Pambakal Kasdi pun melakoni ritus serupa ini, namun oleh acilnya sendiri sebab Maryam urung menyetujui pinta Barahim Barajaki perihal sang bakal bini.
Luka tak terlihat di dalam hati saja sulit hilang, apalagi yang jelas-jelas tampak bekasnya, samar pun syukur.
Lembar tapih bakurung dilepas. Tikar purun dibuka. Maryam menutup prosesi dengan menelungkupkan handuk kecil ke sekujur tubuh Barahim Barajaki. Mula-mula muka lalu pundak turun ke bahu hingga ujung jari-jemari tangan serta kaki. Daki-daki berguguran di atas lantai papan. Warnanya nyaris tak terlampau berbeda. Putih susu belaka. Bukan abu-abu sebagaimana kulit sesiapa yang tersengat matahari saban hari. Barahim Barajaki memang tidak begitu. Sebab kerjanya mengurusi surat-menyurat yang mesti diteken Pambakal Kasdi. Ihwal tersebab lerainya pertalian Maryam dan Barahim Barajaki. Bermula dari jeling mata putri tunggal pambakal dengan lelaki yang lalai telah memadu hati tetapi ia ingkari.
”Apa telah luruh pula segala salahku padamu, Maryam?” panggil Barahim sebelum perias pengantin itu undur diri.
Maryam diam. Tiada kata yang meluncur sebelum ketipak langkahnya terdengar menerabasi genangan di halaman rumah Barahim Barajaki. Langkah lebar-lebar bagai demikian hendak lekas sampai ke rumah. Mungkin paling tidak, Maryam hendak lekas pergi.
***
Sarunai tak kunjung bertiup. Sepasang agung menanti berbunyi. Tapi siapalah yang akan menabuh babun bilamana kalimat janji dari pangulu yang mewakili Pambakal Kasdi tiada bersambung lidah dengan Barahim Barajaki. Kasak-kusuk segera menjalar serupa lalap api pada reranting rambutan yang mengasapi wajan. Wajah lelaki dengan usia sejumlah kaki kursi itu mendadak pias. Sebaris nama yang ia hafal di luar kepala kini benar-benar di luar kepala adanya. Tiada satu pun yang lekat. Sekadar barang sehuruf pun jua.
Pangulu membisiki Pambakal Kasdi. Suaranya pelan nyaris tak ada yang mendengari kecuali mereka berdua belaka.
”Akan sulit menyimpul dua janji pada seruas tali hati, lerai dulu yang satu sebelum membuat simpul baru,” terang Pangulu segera dipahami oleh Pambakal Kasdi ataupun Barahim Barajaki.
Maka, di sinilah lelaki itu kini. Di jendela dekat pambanyuan rumah bakal bini. Dua tangan bertopang pada kusen yang sebagian kerompang oleh gigi-gerigi para rayap. Sepasang mata membuang pandang ke arah batang-batang pisang tanpa tandan buah matang. Lidah mereka berdua gigil. Retina mata mereka memerah basah. Pipit gereja yang hinggap di seutas tali listrik pun tahu, dua manusia ini telah melepaskan, namun lupa merelakan.
”Adinda Maryam Barliana,” panggil Barahim Barajaki parau. Buku-buku jemarinya tak lagi kukuh menggenggam kusen jendela. ”Telah kutikam hati baikmu dengan belati pengkhianatan, demikian kejam, demikian tak termaafkan. Sungguh tiada keberanian meminta pengampunan atas salah yang kuperbuat secara sadar. Tetapi kalau boleh bertanya, apa yang bisa kulakukan agar sudi hatimu menerima perpisahan kita tersebab dosaku tentu bertahun lalu?”
Maryam gemetar. Tegar hati yang ia sulam bertahun-tahun sejak Barahim Barajaki mengingkari janji kini lerai semua. Maryam tak siap. Maryam tak kuasa kala kenyataan di bentang mata. Sesuatu yang sering ia dustakan dalam satu kalimat sangkal: ia dan Barahim Barajaki masih baik-baik saja, hanya tak lagi saling bicara.
”Ding3,” panggilnya lagi. Kali ini dengan nada yang lebih rendah, lembut sekali. Tata cara panggil yang telah lama tak Maryam dengari.
”Menghadaplah ke sini,” pinta Maryam pada Barahim Barajaki.
Maryam menunduk sedikit, tangannya melepas peniti dari tapih arguci yang membelit pinggang Barahim Barajaki. Tidak benar-benar lepas sebenarnya hanya memindah ujung kiri ke bagian dalam lalu ditutup ujung kanan pada bagian luar. Ekor halilipan di dalam. Sementara kepala di luar. Berbeda dengan tadi dalam kondisi terbalik tanpa siapa pun yang sadar kecuali Maryam sendiri.
”Biarlah segala yang baik saja yang dilihat orang-orang. Apa pun hal buruk yang pernah terjadi, cukup di simpan dalam-dalam,” ucap Maryam seraya menusukkan peniti terakhir sebagai pengunci.
”Lepaskan laung-mu.” Maryam menyambut uluran penutup kepala dari tangan Barahim Barajaki.
”Mengapa ujungnya dilipat?” protes lelaki itu ketika melihat Maryam menekan kuat pada sudut runcing di bagian atas penutup kepala miliknya.
”Tajak laung yang terlipat adalah penanda kau pernah mengucap janji pernikahan meski sekadar di bawah tangan seorang wali dari perempuan yang kini berdiri bertentang mata denganmu,” ujar Maryam seraya memasangkan kembali laung ke kepala Barahim. ”Sulitmu mengucap janji bukan tersebab ikat laung ini, tetapi jerat dusta pernikahan kita yang kau sembunyikan.”
Keterangan :
1. urang badahi : orang terpandang
2. tapih bakurung : sarung
3. ding : dik (adik)
Miranda Seftiana, lahir di Hulu Sungai Selatan. Merampungkan Pendidikan di Psikologi Fakultas Kedokteran Unlam. Novel Jendela Seribu Sungai (2018) yang digarap bersama produser Avesina Soebli telah diadaptasi menjadi film yang tayang pada 20 Juli 2023. Karya lainnya berjudul Lalu Tenggelam di Ujung Matamu (2019) terpilih dalam sayembara novel. Cerpen Miranda turut terhimpun dalam buku kumpulan cerpen pilihan Kompas 2015, 2017, dan 2019. Miranda turut terpilih sebagai emerging writers untuk Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) tahun 2024.
sumber : kompas.id, 09 Apr 2025.