Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pindah Rumah oleh Rio Rozalmi

Posted on Rab, 16 Apr 2025

Ini kali ketiga aku pindah rumah. Walau masih dalam satu kota tapi beda kecamatan. Aku merasa hidup seperti suku yang tinggal di pedalaman hutan, hidup nomaden. Tapi mereka hidup berpindah-pindah dengan alasan yang bisa aku terima, karena bahan makanan pada tempat itu sudah habis atau sebab musim yang berubah. Tapi bagaimana dengan aku? Tentu tidak untuk kedua alasan itu.

Baru malam kemarin aku bersama ayah dan ibu pulang dari kampung nenek, dan pagi ini aku harus bergegas mengemas barang. Aku harus pindah hari ini juga. Padahal aku masih ingat, baru pekan lalu ibu membayar uang sewa rumah ini. Namun itu tidak dihiraukan oleh ibu, yang ia sampaikan padaku, kita harus pindah hari ini juga. Aku tahu tak ada gunanya untuk bertanya lebih lanjut pada ibu, apalagi untuk berdebat. Yang aku lakukan hanya memasukkan semua barangku pada tas dengan pikiran bimbang yang berkumpul di kepala.

Betul saja. Ini terjadi lagi. Kami pindah masih di kota yang sama, hanya dua kecamatan dari rumah sebelumnya. Aku masih belum mendapat alasan kenapa ibu dan ayah suka sekali pindah rumah. Yang aku lihat ibu dengan tetangga sekitar tidak ada masalah, semua kegiatan sosial seperti pengajian dan arisan, ibu ikuti. Begitu juga dengan ayah. Dia juga sering ikut gotong royong yang diadakan oleh Pak RT. Bahkan ayah juga sering duduk di kedai kopi dengan bapak-bapak lain, sampai ibu marah karena pulang tengah malam.

“Kevin, mengapa tidak semua barang kamu rapikan?” Tanya ibu yang berdiri di depan kamarku.

“Tidak usah, Bu. Barang yang perlu saja aku rapikan. Agar nanti jika kita pindah lagi, aku tidak repot untuk berkemas.” Sindirku.

Ibu tidak menjawab, ia langsung beranjak dari pintu kamarku.

Sibuknya aku menata barang di kamar yang lebih kecil dari sebelumnya, begitu juga dengan ibu dan ayah. Hingga matahari berganti rembulan. Ibu tidak sempat untuk memasak dan ayah mengajak kami makan malam di luar sambil memberi tahu jalan menuju sekolahku. Jika dibanding dengan rumah sebelumnya, rumah sekarang lebih jauh jaraknya ke sekolah. Begitu juga dengan kantor ayah. Namun ini bukan alasan untuk tidak pindah.

Sepekan berlalu, aku tinggal di rumah ini. Tidak payah bagiku untuk berteman dengan anak-anak di Kompleks Mutiara ini. Mungkin karena ini kali ketiga aku pindah, jadi jiwa adaptasiku makin terasah. Hanya saja aku perlu lebih pagi berangkat sekolah dibanding sebelumnya. Aku lihat ibu sudah berdandan lagi dengan gayanya serupa istri pejabat besar. Ya mau ke mana lagi kalau bukan pergi arisan ibu-ibu kompleks atau perkumpulan yang berkedok pengajian. Lain pula dengan ayah yang hampir tiap malam pergi ke warung, walau hanya sekadar untuk minum kopi dan membahas kecamuk politik di negeri ini.

Sore ini ayah pulang lebih awal. Tak biasanya ayah seperti ini. Pukul enam itu paling cepat biasanya. Ayah pernah cerita, jadi seorang kasir nasabah itu pulangnya tak sama dengan pegawai bank lainnya. Ayah harus menghitung transaksi hari ini dan mencocokkan dengan data yang ada di komputer.

“Pusing aku, Ma. Pusing!” Kata ayah sambil melempar tas ke kursi di ruang tamu.

“Papa diteror lagi?”

“Kali ini lebih serius ancamannya, Ma. Coba kamu bisa bersabar dulu, tidak akan terjadi seperti ini.” Kesal ayah sambil kedua tangannya memegang kepala.

“Sabar? Kurang sabar apalagi aku, Pa?”

Entah apa yang mereka buat kesepakatan pada malamnya, sehingga pagi ini semua baik-baik saja.

Mereka terus saling menyalahkan. Aku memilih menyumbat kedua telinga dengan perangkat jemala. Karena aku sudah bisa menebak kelanjutan dari pertengkaran mereka. Ini bukan kali pertama. Ayah akan pergi keluar, menghabiskan malam di kedai kopi. Sedangkan ibu menangis di kamar. Dan aku juga sudah tahu akhir dari pertengkaran mereka. Semua akan berakhir di meja makan pada saat paginya. Ibu akan menyiapkan sarapan seperti biasa dan ayah juga akan memuji masakan ibu. Seolah-olah tidak ada terjadi apa-apa pada sore kemarin. Itulah hebatnya ayah dan ibu. Entah apa yang mereka buat kesepakatan pada malamnya, sehingga pagi ini semua baik-baik saja.

“Ma, jangan lupa nanti ya. Pakai KTP Mama, nanti kalau ada kendala segera hubungi Papa.”

Ibu memberi kode dengan jempol bersama telunjuk yang membentuk lingkaran dan tiga jari lagi berdiri. Aku menghalau semua pertanyaan-pertanyaan yang muncul di dasar benakku. Buat apa aku harus menghiraukan urusan mereka, bagiku asal mereka tidak bertengkar itu sudah lebih dari cukup, batinku.

Tapi permintaan ibu adalah titah seorang ratu yang harus dituruti dan segera dilaksanakan.

Marun muncul di ujung langit. Aku lebih dulu tiba di rumah. Ibu dengan senyum sumringahnya menyuruh aku untuk segera mandi dan memakai pakaian yang bagus. Tidak mengerti apa maksudnya. Yang aku tahu, aku letih sepulang sekolah dan ingin rebahan walau selang beberapa menit saja. Tapi permintaan ibu adalah titah seorang ratu yang harus dituruti dan segera dilaksanakan.

Tak lama dari aku mendapat titah itu, ayah datang. Dengan kemeja biru dan tas jinjingnya, ayah langsung memeluk ibu. Gayung bersambut. Mereka girang hingga lupa jika ada aku di sana, bahkan ayah juga lupa untuk melepas sepatunya. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan mereka, kenapa sore ini menjadi sore yang menyala, apa karena marunnya langit? Atau karena KTP tadi pagi? Entahlah. Aku menarik diri dan menuju kamar untuk berganti pakaian.

Pertanyaan yang bertumpuk di kepala terjawab sudah. Ibu mengajak aku ke pusat perbelanjaan modern atau Mall. Makan enak, pasti. Sesampai di Mall, restoran paling mahal yang dituju. Tanpa beban ayah membayar dengan menggesek saja.

“Kevin, kamu mau beli apa?” tanya ibu dengan suara yang mengalun.

“Beli sepatu boleh, Bu?”

Kesempatan ini tidak aku sia-siakan. Aku sudah lama ingin sepatu baru yang teman-temanku sudah memakainya. Benar saja, bak jin Aladin, permintaanku langsung terkabulkan.

Terdengar suara bergema dari tiap sudut Mall yang menginformasikan bahwa akan segera tutup dalam beberapa menit. Tapi ibu masih mau membeli tas dan sepatu yang tadi dia lihat. Sekali lagi, kemauan ibu adalah titah yang tidak bisa ditolak. Dengan sisa waktu yang makin mengerucut, kami berlari ke toko yang ibu maksud. Sungguh malam yang melelahkan dan membahagiakan. Lelah karena mengelilingi Mall dengan tentengan di kanan dan kiri. Bahagia karena barang yang aku inginkan kini sudah kumiliki.

Sepekan berlalu, ibu sibuk pergi dengan sepatu dan tas barunya, begitu juga dengan aku. Yang tak lepas dengan sepatu impian itu. Kini aku bisa lebih percaya diri ketika ke sekolah, karena apa yang teman-temanku pakai, aku juga sudah ada. Tak ada rasa minder apalagi malu ketika aku jajan di kantin atau saat berbaris.

Semua kebahagiaan itu tidak lama adanya. Belum cukup sebulan, mendung menghampiri.

“Kevin, kamu mulai berkemas ya.” Ungkap ibu yang masih di meja makan.

“Kita mau akhir pekan ke mana, Bu?” tanyaku sambil menghabiskan bubur ayam.

“Kita akan pindah rumah.” Timbal ayah.

Aku tidak mau melanjutkan pertanyaan lagi, sebab aku sudah tahu ayah dan ibu punya alasan yang berlapis untuk setiap kepindahan. Dengan wajah datar, aku beranjak dari meja makan menuju kamar. Aku tidak kesusahan untuk berkemas karena seringnya pindah. Ini menjadi keahlian yang tidak dimiliki oleh anak seusiaku. Aku yakin itu.

Jangankan akan bermanfaat, bekas siramannya pun tak akan ada.

Kali ini aku pindah rumah di daerah pinggir kota, betul-betul paling pinggir. Bahkan bahasa keseharian anak-anak di sini sudah terkontaminasi dengan bahasa daerah. Ingin rasanya aku untuk protes pada ayah dan ibu, tapi itu bagai menyiram bunga di derasnya hujan. Jangankan akan bermanfaat, bekas siramannya pun tak akan ada. Hanya letih dan buang-buang waktu saja. Mencoba menikmati setiap detik, walau gerak tak berkutik, memulai menit ke menit dengan rasa menerima tapi jiwa trauma, menghadirkan pikiran baik pada pergantian jam yang dilalui, meski raga ingin pergi.

Ketenangan yang diharapkan pada pindah rumah kali ini, hanya harapan semu semata. Dua lelaki paruh baya datang. Dengan tubuh yang tegap dan tatapan tajam. Pintu rumah diketuk dengan sangat keras. Ayah mengintip dari balik jendela yang ditutupi kain.

“Dua orang lelaki, Ma.” Bisiknya tepat di telinga ibu.

“Aku tak kenal dengan mereka, Yah.”

Dengan langkah ragu, ayah yang ditemani ibu membukakan pintu.

“Bayar! Bayar! Bayar!”

Suara teriakan itu yang aku dengar dari pintu kamar. Aku tidak mau ambil bagian dari apa yang terjadi di situ. Lagi dan lagi, aku menyumbat telinga dengan perangkat jemala. Suara di luar masuk di sela-sela telingaku. Segera aku tambah bunyi dari gawai, hingga sampai pada batas paling keras. Dengan menggoyangkan kepala, aku nikmati lagu setiap kata yang keluar dari perangkat jelama. Begitu juga dengan kakiku, yang bergoyang mengikuti alunan musiknya.

Perutku memberontak. Wajar saja karena matahari telah tergelincir dari posisinya. Sudah saatnya makan siang. Kuberanikan untuk keluar kamar dengan telinga yang masih tersumbat. Pandanganku terbelalak. Kapal pecah. Kaca meja tamu berserak, bunga plastik penghiasnya berantakan, kursi terbalik, dan pecahan piring menghiasi lantai. Apakah perang dunia ketiga sudah terjadi?

Aku tidak melihat ayah atau pun ibu. Yang aku dengar hanya suara tangisan dari kamar mereka. Dari pintu kamar yang terbuka sedikit, aku mencoba melirik. Hanya ada ibu yang menutupi wajahnya dengan sepuluh jari. Rambutnya pun kusut bagai benang layangan yang tak digulung. Di mana ayah? Entahlah. Dengan langkah kecil aku coba mendekati kamar itu. Tangisan ibu makin dalam. Kupanggil beberapa kali, tapi tak ada respon dari ibu. Kubuka perlahan pintu kamar itu, melebihi kapal pecah saat di ruang tamu tadi.

Lebih baik aku menunggu ibu selesai dari tangisannya daripada aku mengganggu singa betina yang lagi bersedih.

Bingung merajai kepalaku. Aku harus mulai dari mana? Setelah berpikir dan menimbang, aku memutuskan untuk duduk diam di samping ibu. Aku membatin jika aku mulai dari merapikan barang, lalu bagaimana dengan ibu. Jika aku ke ibu dulu, ibu bagaikan batu yang mengeluarkan suara tangisan. Duduk diam itu sudah tepat. Lebih baik aku menunggu ibu selesai dari tangisannya daripada aku mengganggu singa betina yang lagi bersedih.

Beberapa saat berlalu. Tangisan ibu membeku. Ia mulai membuka mata dan melirik aku, dengan mengusap sisa air mata di pipinya.

“Sudah lama kamu di sini, Vin?” tanya ibu dengan suara yang masih serak.

“Baru, Bu. Baru beberapa menit saja.” Jawabku dengan tangan mengusap bahu ibu.

Saat aku bertanya kesedihan apa yang ibu langsungkan, ibu menjawab dengan hujan di sudut matanya. Aku tak kuat untuk melanjutkan pertanyaan berikutnya. Hanya dengan rangkulan dan sandaran kepala kulanjutkan.

Pelangi muncul setelah hujan jatuh di sudut mata ibu. Dengan koper hitam yang berisikan beberapa lembar pakaian dan tas sandang, aku dan ibu melangkah keluar rumah. Hingga kami sampai pagar luar, batang hidung ayah tak kunjung tampak. Sebuah mobil dengan bertuliskan kata-kata yang berwarna hijau, kami meninggalkan rumah.

Bagiku asal bersama ibu, maka dunia akan baik-baik saja.

“Hendak ke mana kita, Bu?” tanyaku dengan memandang matanya yang masih bengkak.

“Sesuai titik ya, Mas.” Sahut ibu pada sopir.

Dan aku hanya diam. Beberapa saat berlalu, pandanganku masih lekat pada wajah ibu yang melihat gawainya.

“Mengapa dibuang kartunya, Bu?” tanyaku saat ibu mengeluarkan kartu dari gawainya.

“Ibu mau hidup tenteram, tanpa teror dari pinjaman online itu.”

Aku menjahit bibir mendengar itu dan memilih menikmati perjalanan yang aku tidak tahu tujuannya. Bagiku asal bersama ibu, maka dunia akan baik-baik saja.

Febrio Rozalmi Putra, memiliki nama pena Rio Rozalmi. Aktif pada komunitas Forum Lingkar Pena Pekanbaru. Alumni dari Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Padang dan sebagai pendidik dengan tugas tambahan Kepala Sekolah pada sebuah Sekolah Dasar di Pekanbaru. Beberapa karya terbaru adalah kumpulan cerpen Senja yang Marun, kumpulan artikel pendidikan yang berjudul Toresan Tinta Pendidikan, dan antologi cerpen yang ditaja Balai Bahasa Provinsi Riau dengan judul Terapi Kamar Mandi dengan judul cerpen “Wanita Penyadap Karet”.

sumber : kompas.id, 16 Apr 2025.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme