alam itu pukul satu dini hari, sebuah motor melaju kencang. Di tikungan, ia seperti kehilangan keseimbangan. Benturan antara motor dan bahu jalan tak terelakkan. Pengemudi terlempar dan terguling.
Beruntung situasi jalanan tidak terlalu sepi. Orang-orang di sekitar segera memberikan pertolongan. Korban dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) sebuah rumah sakit yang untungnya pun tak jauh dari lokasi kejadian.
Penanganan segera dilakukan oleh tim medis. Siku dan kakinya robek cukup dalam. Pelipis dan pergelangannya memar. Korban, pria berusia kisaran 28 sampai 35 itu, terbaring di kasur pasien. Orang-orang di UGD dengan sigap mengurus luka-lukanya. Tangan dan sebagian kakinya mati rasa, tanda bahwa anestesi sudah diberikan sebagai langkah awal proses penjahitan luka. Mata pasien terus memperhatikan satu persatu orang di sekelilingnya bekerja.
Rangkaian proses operasi penjahitan selesai. Sang pasien menyisir seluruh ruangan melihat satu demi satu orang dari tirai yang sedikit terbuka. Dia melihat dua perawat wanita sedang berkoordinasi, satu orang sedang duduk menghadap komputer, serta beberapa perawat yang lalu lalang.
Sejurus kemudian, seseorang mendatanginya. Ia adalah dokter yang saat itu bertugas di UGD, sekaligus yang menangani operasi penjahitan luka-lukanya.
“Bapak, Inu.”
“Iya, Dok.”
Dokter wanita itu menjelaskan proses penjahitan serta kondisinya saat ini. Sang pria melihat dokter wanita itu dengan sepenuh perhatian meski masker yang dikenakan sang dokter menjadi penghalang antara mereka. Dia hanya bisa mengamati mata, rambut, suara, serta gerakannya. Sang pria seperti mencoba memastikan sesuatu. Sejurus kemudian raut kecewa terlihat wajahnya. Nampaknya, si pasien tak menemukan apa yang dia cari pada dokter itu.
“Kapan saya bisa keluar, Dok?”
Dokter itu ragu hendak menjawab.
“Melihat luka-luka yang cukup serius, Bapak sepertinya belum bisa pulang cepat. Kita periksa lagi nanti ya”
“Baik, Dok.”
Pria itu tidak terkejut dengan penjelasan sang dokter. Dia sudah menduganya. Lebih tepatnya, itu sudah sesuai yang direncanakannya. Dia memang belum mau keluar dari rumah sakit itu. Pria itu harus mencari dan memastikan seseorang. Untuk itu, dia harus menunggu dokter jaga selanjutnya.
“Saya lihat banyak bekas luka sebelumnya di badan Bapak,” tanya sang dokter wanita sesaat sebelum pergi.
Pria itu terkejut. Dia tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu.
“Ah Iya, Dok. Beberapa waktu lalu saya jatuh saat mendaki gunung,” dia berbohong.
Sang dokter diam sejenak. Pria itu tidak tahu apa respons dari dokter itu. Masker yang dikenakan sang dokter menjadi penghalang untuk membaca gestur wajahnya.
“Wah, beruntung sekali masih selamat. Anda harus lebih berhati-hati jika ingin terus hidup, Pak.”
“Saya permisi dulu. Semoga lekas membaik,” imbuh dokter itu sembari berjalan meninggalkannya. Si pasien hanya bergeming.
Pagi harinya, seorang perawat datang memeriksa. Dia menanyakan perihal keluarga dan meminta data-datanya untuk keperluan administrasi.
“Kalau boleh tahu siapa dokter jaga UGD yang akan memeriksa saya setelah ini?” tanya si pasien.
“Dokter Johan, Pak.”
“Laki-laki?”
“Iya, kenapa Pak Inu?”
“Tidak apa-apa, saya mau pulang saja sepertinya.”
Perawat itu melaporkan permintaan sang pasien kepada dokter yang berjaga. Setelah menandatangani sebuah surat, pria itu diizinkan meninggalkan rumah sakit.
Sebelum meninggalkan rumah sakit, dia melihat sekeliling ruangan UGD untuk terakhir kali. Pada sebuah sudut, sang pria melihat papan dokter jaga UGD. Diperhatikannya setiap nama dokter jaga. Lagi-lagi, apa yang dilihatnya mengecewakan. Sejurus kemudian pria itu pergi. Motornya yang entah di mana setelah peristiwa semalam sengaja dia biarkan.
Wah, beruntung sekali masih selamat. Anda harus lebih berhati-hati jika ingin terus hidup, Pak.
Kini dia sudah berada di apartemennya, sendirian, dengan kaki terpincang dan tangan yang hanya mungkin digunakan sebelah. Perih dan ngilu mulai dia rasakan. Pria itu memperhatikan kertas resep obat dari rumah sakit lalu meremas dan membuangnya. Dia tidak menebus obat sama sekali. Di kotak obatnya, masih tersisa banyak obat-obat seperti yang diresepkan itu.
Dia berjalan menuju meja di sudut kamar lalu mengambil sebuah buku catatan dari laci. Halaman buku itu dia bolak-balik. Dia berhenti di salah satu halaman yang berisi delapan daftar nama rumah sakit berurutan. Urutan pertama hingga keenam telah dicoret. Pria itu mengambil pena dan mencoret nama rumah sakit urutan ketujuh. Rumah sakit tempat dia baru saja keluar.
Enam bulan lalu, dia mendapat informasi bahwa wanita yang dicarinya bekerja di salah satu rumah sakit di kota ini sebagai dokter jaga di UGD. Hanya itu informasi yang dia dapat. Dia pun datang ke kota ini dan mendatangi semua UGD rumah sakit di sini. Tentu bukan sebagai pengunjung, dia harus masuk UGD sebagai pasien untuk benar-benar bisa bertemu dengan wanita itu. Maka dia pun harus berkali-kali merekayasa situasi “gawat darurat” seperti malam tadi.
Satu bulan kemudian, setelah merasa luka jahitannya membaik, dia menuju rumah sakit kedelapan. Rumah sakit terakhir dalam daftarnya.
Lokasi rumah sakit terakhir ini agak terpencil dan melewati jalan perkampungan. Sangat sepi. Dia melihat situasi sekitar rumah sakit dan mencoba mencari jenis kecelakaan paling mungkin dan paling aman untuk dirinya.
“Kecelakaan tunggal di sini tak akan menyebabkan cedera serius. Aku hanya akan di UGD beberapa jam saja,“ pikirnya. “Aku butuh setidaknya satu hari di UGD untuk bisa melihat seluruh dokter yang berjaga.”
Akhirnya dia memutuskan satu cara. Cukup beresiko. Meminum ketamin dalam jumlah banyak, maka dia akan overdosis. Itu hanya akan membuatnya pingsan jika dia beruntung. Tak akan ada yang curiga. Orang hanya akan mengira dia keracunan obat.
Malam itu, dia meminum air yang telah dilarutkan di dalamnya lusinan pil ketamin. Pria itu melangkah mendekati jalan ke rumah sakit. Perutnya mulai mual tapi dia belum juga ambruk. Kepalanya berputar. Tiba-tiba dia merasa berada di sebuah hutan. Lalu banyak orang berpakaian kerajaan zaman dulu mendekatinya. Dia tahu sedang berhalusinasi. Akhirnya, dia menyungkurkan diri di tepi jalan. Lalu semuanya senyap.
Pria itu terbangun esok hari dengan selang udara menempel di wajahnya. Di punggung tangan kirinya sudah tersambung selang infus. Dia melihat dokter yang memeriksanya serta seorang perawat mendampingi di belakang.
“Selamat Pagi, Pak Inu Kertapati,” dokter itu menyapa sambil tersenyum.
Orang yang disebut hanya diam. Dia masih mencoba mengumpulkan kesadaran. Dokter itu seorang wanita muda dengan perawakan kecil dan rambut pendek. Perangainya yang ceria serta senyumnya yang tak pernah turun membuat pasien merasa nyaman. Namun, dokter itu bukan orang yang sedang dia cari.
Perawat melepas peralatan selang udara serta infus yang menancap di tangannya. Pria itu terheran kenapa secepat ini sudah dilepas. Selang udara memang bisa digunakan hanya secukupnya, namun infus membutuhkan waktu lebih lama untuk habis. Dia melihat kantong infus yang baru saja dilepas oleh perawat. Matanya terbelalak. Itu adalah kantong ukuran 1000 ml. Dan isinya sudah nyaris kosong.
“Dok, berapa lama saya di sini?”
“Bapak masuk ke IGD dua hari lalu dalam keadaan pingsan,” jawab sang dokter.
Pria itu terhenyak. Dia tak menyangka akan pingsan selama itu.
“Apakah saat saya masuk, Anda juga yang menangani saya, Dok?” pertanyaan aneh ini tak kuasa dia ucapkan.
“Bukan. Dokter UGD lain yang menangani Bapak. Kenapa, Pak? “
“Tidak apa- apa. Lupakan, Dok,” jawab sang pria.
Pria itu geram dan menyesali dirinya sendiri karena pingsan sangat lama. Dia kehilangan kesempatan melihat semua dokter jaga UGD di situ. Terutama yang “menerimanya” dua hari lalu saat pingsan.
Tidak berapa lama, seorang perawat masuk menjelaskan terkait prosedur dan administrasi. Dia sudah diizinkan pulang dan diberi beberapa resep obat. Tapi, penyesalannya melewatkan hari pertama di UGD masih menghantuinya.
“Maaf, bolehkah saya tanya sesuatu?” ujar sang pria memberanikan diri.
“Siapakah dokter yang menangani saya ketika masuk ke sini?”
“Saat itu kebetulan saya juga yang berjaga, Pak. Dokter yang bertugas adalah Dokter Frisca Sekartaji,” ujar sang perawat.
“Frisca Sekartaji?” pria itu berpikir sambil mengulang nama yang disebut. “Sekartaji.”
“Tapi dia sudah tidak di sini, Pak.”
“Tidak di sini?”
“Kemarin Dokter Frisca resign. Tepat setelah menangani Bapak.”
“Apakah Mba tahu di mana dokter Frisca Sekartaji itu sekarang?”
“Tidak, Pak. Pegawai di sini juga tidak ada yang tahu. Belum banyak yang akrab dengannya. Dia berasal dari luar kota. Dokter Frisca pun baru satu bulan di rumah sakit ini. Sebelumnya dia dokter jaga di UGD Rumah Sakit Padma.”
Pria itu semakin terkejut. Rumah sakit yang disebut oleh si perawat adalah tempat dirinya dirawat bulan lalu saat mengalami kecelakaan yang dia rekayasa sendiri di tikungan.
“Sebenarnya…, “ si perawat hendak melanjutkan ucapan meski sedikit ragu. Di sisi lain, pria itu sudah bersiap mengejar informasi tambahan.
“Dokter Frisca sempat berkata bahwa mungkin Anda akan menanyakan tentangnya setelah siuman. Apakah kalian saling kenal?”
Siapakah dokter yang menangani saya ketika masuk ke sini?
Pria itu semakin terkejut dan hanya diam tanpa menanggapi pertanyaan si perawat. Dia akhirnya yakin bahwa wanita yang dia cari adalah dokter yang baru saja menanganinya karena overdosis ketamin. Dia juga yang menjahit luka-lukanya satu bulan lalu di Rumah Sakit Padma.
“Dia sudah tahu aku mencarinya. Dia juga tahu aku membuat rekayasa mencelakai diri sendiri agar bertemu dengannya. Dan dua kali sudah dia menyelamatkan hidupku,” batin sang pria.
“Apakah artinya kamu sudah memaafkanku?” gumam pria itu.
Tiba-tiba sang pria teringat kata-kata yang diucapkan dokter wanita itu setelah luka-lukanya dijahit di RS Padma. “Anda harus lebih berhati-hati jika ingin terus hidup.”
Kini dia merasakan pesan itu begitu indah dan menenangkan. Tak berapa lama, senyum di wajahnya merekah.
“Jadi begitu. Terima kasih, Sekartaji.”
Kini dia sudah lebih lega dan siap meninggalkan kota itu. Sementara itu, sang perawat di hadapannya masih berdiri kebingungan.
Pandu Wijaya Saputra, Penikmat sastra dan budaya. Tinggal di Cisauk, Kabupaten Tangerang.
sumber : kompas.id, 18 Apr 2025.