Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : UGD oleh Pandu Wijaya Saputra

Posted on Jum, 18 Apr 2025

alam itu pukul satu dini hari, sebuah motor melaju kencang. Di tikungan, ia seperti kehilangan keseimbangan. Benturan antara motor dan bahu jalan tak terelakkan. Pengemudi terlempar dan terguling.

Beruntung situasi jalanan tidak terlalu sepi. Orang-orang di sekitar segera memberikan pertolongan. Korban dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD)  sebuah rumah sakit yang untungnya pun tak jauh dari lokasi kejadian.

Penanganan segera dilakukan oleh tim medis. Siku dan kakinya robek cukup dalam. Pelipis dan pergelangannya memar. Korban, pria berusia kisaran 28 sampai 35 itu, terbaring di kasur pasien. Orang-orang di UGD dengan sigap mengurus luka-lukanya. Tangan dan sebagian kakinya mati rasa, tanda bahwa anestesi sudah diberikan sebagai langkah awal proses penjahitan luka. Mata pasien terus memperhatikan satu persatu orang di sekelilingnya bekerja.

Rangkaian proses operasi penjahitan selesai. Sang pasien menyisir seluruh ruangan melihat satu demi satu orang dari tirai yang sedikit terbuka. Dia melihat dua perawat wanita sedang berkoordinasi, satu orang sedang duduk menghadap komputer, serta beberapa perawat yang lalu lalang.

Sejurus kemudian, seseorang mendatanginya. Ia adalah dokter yang saat itu bertugas di UGD, sekaligus yang menangani operasi penjahitan luka-lukanya.

“Bapak, Inu.”

“Iya, Dok.”

Dokter wanita itu menjelaskan proses penjahitan serta kondisinya saat ini. Sang pria melihat dokter wanita itu dengan sepenuh perhatian meski masker yang dikenakan sang dokter menjadi penghalang antara mereka. Dia hanya bisa mengamati mata, rambut, suara, serta gerakannya. Sang pria seperti mencoba memastikan sesuatu. Sejurus kemudian raut kecewa terlihat wajahnya. Nampaknya, si pasien tak menemukan apa yang dia cari pada dokter itu.

“Kapan saya bisa keluar, Dok?”

Dokter itu ragu hendak menjawab.

“Melihat luka-luka yang cukup serius, Bapak sepertinya belum bisa pulang cepat. Kita periksa lagi nanti ya”

“Baik, Dok.”

Pria itu tidak terkejut dengan penjelasan sang dokter. Dia sudah menduganya. Lebih tepatnya, itu sudah sesuai yang direncanakannya. Dia memang belum mau keluar dari rumah sakit itu. Pria itu harus mencari dan memastikan seseorang. Untuk itu, dia harus menunggu dokter jaga selanjutnya.

“Saya lihat banyak bekas luka sebelumnya di badan Bapak,” tanya sang dokter wanita sesaat sebelum pergi.

Pria itu terkejut. Dia tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu.

“Ah Iya, Dok. Beberapa waktu lalu saya jatuh saat mendaki gunung,” dia berbohong.

Sang dokter diam sejenak. Pria itu tidak tahu apa respons dari dokter itu. Masker yang dikenakan sang dokter menjadi penghalang untuk membaca gestur wajahnya.

“Wah, beruntung sekali masih selamat. Anda harus lebih berhati-hati jika ingin terus hidup, Pak.”

“Saya permisi dulu. Semoga lekas membaik,” imbuh dokter itu sembari berjalan meninggalkannya. Si pasien hanya bergeming.

Pagi harinya, seorang perawat datang memeriksa. Dia menanyakan perihal keluarga dan meminta data-datanya untuk keperluan administrasi.

“Kalau boleh tahu siapa dokter jaga UGD yang akan memeriksa saya setelah ini?” tanya si pasien.

“Dokter Johan, Pak.”

“Laki-laki?”

“Iya, kenapa Pak Inu?”

“Tidak apa-apa, saya mau pulang saja sepertinya.”

Perawat itu melaporkan permintaan sang pasien kepada dokter yang berjaga. Setelah menandatangani sebuah surat, pria itu diizinkan meninggalkan rumah sakit.

Sebelum meninggalkan rumah sakit, dia melihat sekeliling ruangan UGD untuk terakhir kali. Pada sebuah sudut, sang pria melihat papan dokter jaga UGD. Diperhatikannya setiap nama dokter jaga. Lagi-lagi, apa yang dilihatnya mengecewakan. Sejurus kemudian pria itu pergi. Motornya yang entah di mana setelah peristiwa semalam sengaja dia biarkan.

Wah, beruntung sekali masih selamat. Anda harus lebih berhati-hati jika ingin terus hidup, Pak.

Kini dia sudah berada di apartemennya, sendirian, dengan kaki terpincang dan tangan yang hanya mungkin digunakan sebelah. Perih dan ngilu mulai dia rasakan. Pria itu memperhatikan kertas resep obat dari rumah sakit lalu meremas dan membuangnya. Dia tidak menebus obat sama sekali. Di kotak obatnya, masih tersisa banyak obat-obat seperti yang diresepkan itu.

Dia berjalan menuju meja di sudut kamar lalu mengambil sebuah buku catatan dari laci. Halaman buku itu dia bolak-balik. Dia berhenti di salah satu halaman yang berisi delapan daftar nama rumah sakit berurutan. Urutan pertama hingga keenam telah dicoret. Pria itu mengambil pena dan mencoret nama rumah sakit urutan ketujuh. Rumah sakit tempat dia baru saja keluar.

Enam bulan lalu, dia mendapat informasi bahwa wanita yang dicarinya bekerja di salah satu rumah sakit di kota ini sebagai dokter jaga di UGD. Hanya itu informasi yang dia dapat. Dia pun datang ke kota ini dan mendatangi semua UGD rumah sakit di sini. Tentu bukan sebagai pengunjung, dia harus masuk UGD sebagai pasien untuk benar-benar bisa bertemu dengan wanita itu. Maka dia pun harus berkali-kali merekayasa situasi “gawat darurat” seperti malam tadi.

Satu bulan kemudian, setelah merasa luka jahitannya membaik, dia menuju rumah sakit kedelapan. Rumah sakit terakhir dalam daftarnya.

Lokasi rumah sakit terakhir ini agak terpencil dan melewati jalan perkampungan. Sangat sepi. Dia melihat situasi sekitar rumah sakit dan mencoba mencari jenis kecelakaan paling mungkin dan paling aman untuk dirinya.

“Kecelakaan tunggal di sini tak akan menyebabkan cedera serius. Aku hanya akan di UGD beberapa jam saja,“ pikirnya. “Aku butuh setidaknya satu hari di UGD untuk bisa melihat seluruh dokter yang berjaga.”

Akhirnya dia memutuskan satu cara. Cukup beresiko. Meminum ketamin dalam jumlah banyak, maka dia akan overdosis. Itu hanya akan membuatnya pingsan jika dia beruntung. Tak akan ada yang curiga. Orang hanya akan mengira dia keracunan obat.

Malam itu, dia meminum air yang telah dilarutkan di dalamnya lusinan pil ketamin. Pria itu melangkah mendekati jalan ke rumah sakit. Perutnya mulai mual tapi dia belum juga ambruk. Kepalanya berputar. Tiba-tiba dia merasa berada di sebuah hutan. Lalu banyak orang berpakaian kerajaan zaman dulu mendekatinya. Dia tahu sedang berhalusinasi. Akhirnya, dia menyungkurkan diri di tepi jalan. Lalu semuanya senyap.

Pria itu terbangun esok hari dengan selang udara menempel di wajahnya. Di punggung tangan kirinya sudah tersambung selang infus. Dia melihat dokter yang memeriksanya serta seorang perawat mendampingi di belakang.

“Selamat Pagi, Pak Inu Kertapati,” dokter itu menyapa sambil tersenyum.

Orang yang disebut hanya diam. Dia masih mencoba mengumpulkan kesadaran. Dokter itu seorang wanita muda dengan perawakan kecil dan rambut pendek. Perangainya yang ceria serta senyumnya yang tak pernah turun membuat pasien merasa nyaman. Namun, dokter itu bukan orang yang sedang dia cari.

Perawat melepas peralatan selang udara serta infus yang menancap di tangannya. Pria itu terheran kenapa secepat ini sudah dilepas. Selang udara memang bisa digunakan hanya secukupnya, namun infus membutuhkan waktu lebih lama untuk habis. Dia melihat kantong infus yang baru saja dilepas oleh perawat. Matanya terbelalak. Itu adalah kantong ukuran 1000 ml. Dan isinya sudah nyaris kosong.

“Dok, berapa lama saya di sini?”

“Bapak masuk ke IGD dua hari lalu dalam keadaan pingsan,” jawab sang  dokter.

Pria itu terhenyak. Dia tak menyangka akan pingsan selama itu.

“Apakah saat saya masuk, Anda juga yang menangani saya, Dok?” pertanyaan aneh ini tak kuasa dia ucapkan.

“Bukan. Dokter UGD lain yang menangani Bapak. Kenapa, Pak? “

“Tidak apa- apa. Lupakan, Dok,” jawab sang pria.

Pria itu geram dan menyesali dirinya sendiri karena pingsan sangat lama. Dia kehilangan kesempatan melihat semua dokter jaga UGD di situ. Terutama yang “menerimanya” dua hari lalu saat pingsan.

Tidak berapa lama, seorang perawat masuk menjelaskan terkait prosedur dan administrasi. Dia sudah diizinkan pulang dan diberi beberapa resep obat. Tapi, penyesalannya melewatkan hari pertama di UGD masih menghantuinya.

“Maaf, bolehkah saya tanya sesuatu?” ujar sang pria memberanikan diri.

“Siapakah dokter yang menangani saya ketika masuk ke sini?”

“Saat itu kebetulan saya juga yang berjaga, Pak. Dokter yang bertugas  adalah Dokter Frisca Sekartaji,” ujar sang perawat.

“Frisca Sekartaji?” pria itu berpikir sambil mengulang nama yang disebut. “Sekartaji.”

“Tapi dia sudah tidak di sini, Pak.”

“Tidak di sini?”

“Kemarin Dokter Frisca resign. Tepat setelah menangani Bapak.”

“Apakah Mba tahu di mana dokter Frisca Sekartaji itu sekarang?”

“Tidak, Pak. Pegawai di sini juga tidak ada yang tahu. Belum banyak yang akrab dengannya. Dia berasal dari luar kota. Dokter Frisca pun baru satu bulan di rumah sakit ini. Sebelumnya dia dokter jaga di UGD Rumah Sakit Padma.”

Pria itu semakin terkejut. Rumah sakit yang disebut oleh si perawat adalah tempat dirinya dirawat bulan lalu saat mengalami kecelakaan yang dia rekayasa sendiri di tikungan.

“Sebenarnya…, “ si perawat hendak melanjutkan ucapan meski sedikit ragu. Di sisi lain, pria itu sudah bersiap mengejar informasi tambahan.

“Dokter Frisca sempat berkata bahwa mungkin Anda akan menanyakan tentangnya setelah siuman. Apakah kalian saling kenal?”

Siapakah dokter yang menangani saya ketika masuk ke sini?

Pria itu semakin terkejut dan hanya diam tanpa menanggapi pertanyaan si perawat. Dia akhirnya yakin bahwa wanita yang dia cari adalah dokter yang baru saja menanganinya karena overdosis ketamin. Dia juga yang menjahit luka-lukanya satu bulan lalu di Rumah Sakit Padma.

“Dia sudah tahu aku mencarinya. Dia juga tahu aku membuat rekayasa mencelakai diri sendiri agar bertemu dengannya. Dan dua kali sudah dia menyelamatkan hidupku,”  batin sang pria.

“Apakah artinya kamu sudah memaafkanku?” gumam pria itu.

Tiba-tiba sang pria teringat kata-kata yang diucapkan dokter wanita itu setelah luka-lukanya dijahit di RS Padma. “Anda harus lebih berhati-hati jika ingin terus hidup.”

Kini dia merasakan pesan itu begitu indah dan menenangkan. Tak berapa lama, senyum di wajahnya merekah.

“Jadi begitu. Terima kasih, Sekartaji.”

Kini dia sudah lebih lega dan siap meninggalkan kota itu. Sementara itu, sang perawat di hadapannya masih berdiri kebingungan.

Pandu Wijaya Saputra, Penikmat sastra dan budaya. Tinggal di Cisauk, Kabupaten Tangerang.

sumber : kompas.id, 18 Apr 2025.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme