Di negeri Semelekethe yang aneh dan ajaib, tersebutlah sesosok setan yang dilanda kebingungan bahkan, lebih tepatnya, sedang galau. Namanya Syarrul, setan senior yang sangat kompeten dalam tugasnya: menggoda, menghasut, dan menyesatkan manusia dari jalan lurus. Ia telah bersumpah untuk berjuang tanpa lelah agar manusia tersesat, mengikuti jejaknya dalam memberontak terhadap perintah Tuhan. Biasanya, Syarrul melakukan tugasnya dengan bangga dan lihai serta selalu update dengan memanfaatkan teknologi terkini. Setiap bisikan yang ia lakukan, setiap tipu muslihat yang ia susun, selalu ada dampaknya setidaknya itulah yang ia yakini selama ini.
Namun, di negeri ini, Syarrul merasa terhina profesionalismenya akibat ulah penduduknya yang benar-benar unik. Kenapa? Karena tanpa perlu bujuk rayunya, mereka sudah gemar berbuat salah, menjerumuskan diri sendiri ke dalam kesalahan yang mengerikan dan, bagi Syarrul, ini sangat…keterlaluan. Penghinaan profesi! Tetapi yang menyakitkan hati Syarrul, setiap kali manusia melakukan kesalahan besar kekacauan, kelicikan, atau dosa-dosa yang tak habis-habis mereka selalu punya satu alasan: ”Karena setan membujuk!” Padahal, ia sendiri merasa belum melakukan apa-apa! Bahkan sekadar berbisik pun belum dilakukan. Kurang ajar! Syarrul berteriak.
Syarrul semakin lama semakin terhina karena bangsanya selalu menjadi kambing hitam. ”Bagaimana bisa ini terjadi?” pikirnya sambil duduk termenung di atas batu. ”Aku bahkan belum sempat menyusun jebakan apa pun! Mereka sudah jatuh sendiri ke dalam kubangan dosa, tetapi malah menyalahkanku?” Setan yang biasanya penuh semangat dan kepercayaan diri tinggi kini terpojokkan, cemas. Ingin mengakhiri dinas sebagai setan, tetapi Tuhan tidak memfasilitasi slot pensiunan setan. Ini jelas melanggar aturan alam semesta!
Sungguh, negeri Semelekethe ini membuat Syarrul mempertanyakan banyak hal. Siapakah sebenarnya yang menggoda siapa? Apa manusia di negeri ini tak membutuhkan setan lagi untuk berbuat salah? Dan kalau memang begitu, di mana letak peran dan tugasnya yang selama ini ia jalani dengan tekun dan mengikuti standar operasional prosedur? Dalam pikirannya, Syarrul bertanya-tanya, ”Bagaimana kalau pada akhirnya, justru manusia sendirilah yang ahli dalam menjerumuskan dirinya sendiri?”
Syarrul akhirnya membentuk Tim Investigasi yang ia pimpin sendiri. Mulailah mengamati tingkah polah manusia di negeri Semelekethe ini lebih saksama, laksana detektif yang mencurigai sesuatu. Tim memperhatikan bagaimana para penduduk tampak selalu sibuk, kadang-kadang dalam kekacauan yang tidak mereka pahami sendiri. Seorang lelaki menumpahkan susu di pagi hari dan menggerutu, ”Ini pasti karena setan!” Seorang wanita terlambat ke pasar karena bangun kesiangan, menyalahkan ”bisikan jahat” yang menghalanginya bangun lebih pagi. Bahkan, ketika seorang anak yang ceroboh menjatuhkan mainannya ke selokan dan menangis, ibunya menggumam, ”Dasar setan, jangan ganggu anakku!”
Kejadian demi kejadian berlangsung tanpa henti, setiap harinya, dengan pola yang sama. Setiap kali ada kesalahan, sekecil apa pun, pasti nama setan disebut. Semakin lama, Syarrul dan rekan merasa semakin gelisah. Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri, ”Apakah manusia ini benar-benar tidak bisa menerima kesalahan mereka sendiri?”
Pada suatu malam yang sunyi, Syarrul merasa dirinya sudah tak tahan lagi. Dalam keresahannya, ia memutuskan untuk mengadukan kejadian ini langsung kepada Tuhan. Ia merasa sudah terlalu lama menjadi kambing hitam manusia.
Syarrul: ”Tuhan, izinkan aku bicara.… Aku merasa, selama ini, aku selalu dijadikan penyebab semua kesalahan manusia. Setiap kali mereka jatuh atau tersesat, mereka menyalahkanku, padahal kami belum melakukan apa-apa!”
Tuhan menjawab dengan suara yang lembut, namun penuh kekuatan.
Tuhan: ”Mengapa kau merasa terganggu, Syarrul? Bukankah menggoda manusia memang menjadi pilihanmu sejak awal?”
Syarrul: ”Ya, memang benar. Aku memilih jalan ini, aku tahu tugas dan batasanku. Tapi di negeri ini…, mereka terlalu berlebihan. Bahkan tanpa bisikanku, mereka sudah berbuat salah, mereka mencari-cari alasan untuk lari dari tanggung jawab. Aku mulai merasa…, tidak ada gunanya lagi.”
Tuhan: ”Apakah kau merasa manusia seharusnya lebih bijak dan tidak selalu mencari kambing hitam?”
Syarrul: ”Justru itulah masalahnya, Tuhan. Aku hanya berharap manusia punya sedikit saja keberanian untuk mengakui kesalahan mereka sendiri. Selama ini, aku bekerja keras untuk menggoda mereka. Namun di sini, aku tidak diizinkan untuk menunjukkan kemampuanku. Mereka seakan-akan sudah ’tergoda’ sejak awal bahkan sebelum aku mendekati mereka.”
Tuhan tersenyum mendengar keluhan Syarrul yang langka ini.
Tuhan: ”Syarrul, ketahuilah bahwa manusia memang makhluk yang cenderung mencari jalan pintas. Namun, bukankah ini juga membuktikan bahwa mereka takluk pada kelemahan mereka sendiri?”
Syarrul: ”Tapi Tuhan, jika begini terus, apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabku? Jika mereka hanya menyalahkanku tanpa belajar dari kesalahan, apa artinya tugasku?”
Tuhan: ”Syarrul, bukan tugasmu untuk memikirkan siapa yang menanggung beban kesalahan. Mereka memutuskan jalan mereka sendiri. Kegelisahanmu bukanlah tanggung jawabmu, tetapi bagian dari keinginanmu untuk diakui, untuk bekerja dengan sempurna. Manusia, pada akhirnya, bertanggung jawab atas pilihan mereka sendiri, dan kelak mereka akan menghadapiku dengan segala perbuatan yang mereka lakukan.”
Syarrul terdiam, merenungi kata-kata Tuhan yang penuh makna. Mungkin selama ini ia terlalu terfokus pada posisinya, pada keinginan untuk ”menggoda dengan adil”, sehingga lupa bahwa tak semua manusia membutuhkan dorongan darinya untuk melakukan kesalahan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia masih merasa terusik. Di negeri Semelekethe ini, ada sesuatu yang membuat dirinya tampak tak lagi diperlukan.
Syarrul, si setan yang kini kian diselimuti kekecewaan, memutuskan untuk melakukan pengamatan lebih mendalam. Ia ingin mencari bukti bahwa manusia benar-benar telah menyimpang, bahkan tanpa bisikan-bisikan dari dirinya. Dengan langkah lunglai, ia tetap mencoba bersemangat menyusuri kehidupan di negeri Semelekethe, mengamati setiap lapisan masyarakat dari sudut-sudut tersembunyi.
Pertama, Syarrul dan rekan tetap melanjutkan mengamati para pejabat tinggi di pemerintahan. Di sana, ia melihat para politisi yang selalu tersenyum ramah di depan umum, namun penuh intrik licik di belakang layar. Mereka saling menyikut, memutar balikkan fakta, dan menebar janji kosong, semua hanya demi keuntungan pribadi. Seorang menteri, yang seharusnya mengurus anggaran untuk kementeriannya, malah sibuk menumpuk harta, berbisik pada diri sendiri, ”Setan pasti membujukku… tanpa dorongannya, aku tak akan tergoda.” Padahal, Syarrul tahu, ia tak pernah sekali pun berbisik kepada orang ini. Segala rencana busuk itu lahir dari hasrat pribadi si menteri dan gengnya.
Di sudut kota yang lain, Syarrul melihat seorang pengusaha kaya yang senang memanfaatkan keringat pekerjanya, membayar dengan upah serendah mungkin, namun bangga menunjukkan sumbangan besarnya ketika ada media yang meliput. ”Lihat, aku peduli pada masyarakat,” ujar si pengusaha dalam pidatonya, menyelipkan amplop besar di tangan wartawan agar tetap terlihat dermawan di depan publik. Ketika beberapa orang mencibirnya di balik layar, ia berkata enteng, ”Ah, kalau bukan karena bisikan setan, aku pasti akan lebih tulus.” Syarrul mencibir dalam hati, ”Bisikan setan? Sejak kapan aku berbisik untuk sekadar pamer?”
Lalu ia beralih memperhatikan masyarakat luas. Di jalanan kota, ia melihat para penduduk yang sibuk dengan urusan masing-masing. Beberapa orang membuang sampah sembarangan, dengan santai menyalahkan setan sebagai alasan mengapa mereka tak peduli pada kebersihan. Para pemuda berlomba memperkaya diri dengan cara instan, mengabaikan etika, hukum, bahkan agama, yang mereka anggap hanya formalitas. Mereka rajin pergi ke tempat ibadah, menunduk dalam-dalam ketika sedang khusuk beribadah, namun segera sesudah keluar, mereka kembali berbuat onar, melupakan segala doa yang baru saja mereka panjatkan. Bahkan seorang pria yang korup mengeluh kepada kawannya, ”Seandainya bukan karena bujukan setan, aku takkan tergoda. Ini sudah takdir.”
Melihat semua itu, Syarrul hanya bisa mendesah lelah, merasa semakin jengah. Ia merasa tugasnya menjadi semakin tidak berarti; manusia telah terbiasa mencari kambing hitam tanpa benar-benar menyadari akar dari setiap tindakan mereka. Namun, rasa penasarannya semakin dalam, dan akhirnya, ia kembali menghadap Tuhan untuk mencurahkan isi hatinya yang kini benar-benar diliputi kekecewaan.
Syarrul: ”Tuhan, aku merasa semakin terpojok. Manusia di negeri ini… mereka melakukan dosa, pelanggaran, dan tindakan keji atas kemauan mereka sendiri. Tetapi setiap kali mereka jatuh menjadi pendosa, mereka selalu menyalahkanku tanpa menyadari bahwa semua itu lahir dari dalam diri mereka sendiri. Bahkan para pemimpin mereka, yang memiliki kekuasaan untuk membimbing, malah memanfaatkan jabatan untuk keuntungan pribadi dan tetap menyalahkanku. Apakah ini masih adil?”
Tuhan menjawab dengan penuh kebijaksanaan.
Tuhan: ”Syarrul, bukankah kau tahu bahwa manusia telah diberi akal dan hati nurani? Mereka punya kebebasan memilih, dan itu termasuk kemampuan untuk menyalahkan.”
Syarrul: ”Tetapi, Tuhan, manusia sekarang lebih memilih menyalahkanku daripada belajar dari kesalahan mereka sendiri. Mereka begitu pandai mencari-cari alasan, bersembunyi di balik namaku agar tetap terlihat baik di mata sesama. Aku bahkan melihat mereka bangga melakukan dosa asal tidak diketahui banyak orang. Bagaimana aku bisa melanjutkan tugasku dalam keadaan seperti ini?”
Tuhan: ”Lalu apa yang kau inginkan, Syarrul?”
Syarrul: ”Aku ingin manusia bertanggung jawab atas pilihan mereka sendiri. Mereka berlindung di balik namaku, seolah aku satu-satunya alasan mereka terjerumus. Mereka bahkan tak lagi memerlukan bujukanku. Di sini, mereka hanya menggunakan kesalahan mereka sebagai alat untuk meraih simpati, membenarkan diri mereka di mata publik. Bahkan dalam ibadah, mereka lebih peduli pada bagaimana terlihat oleh manusia lain ketimbang kepada-Mu.”
Tuhan: ”Syarrul, pahamilah bahwa pada akhirnya setiap manusia akan dihadapkan dengan konsekuensi dari perbuatannya. Apakah mereka menyadarinya atau tidak, itu tidak mengubah takdir yang mereka buat untuk diri mereka sendiri.”
Syarrul terdiam, tenggelam dalam perenungan panjang.
Syarrul: ”Tuhan, mereka terlalu sering menyebut namaku, seolah-olah aku ini jalan keluar dari setiap permasalahan mereka. Aku menjadi kambing hitam untuk kesalahan-kesalahan mereka yang sebenarnya mereka ciptakan sendiri.”
Tuhan: ”Syarrul, mungkin kini kau mulai menyadari bahwa tak semua kejahatan di dunia ini adalah hasil bisikanmu. Hasrat buruk itu ada dalam diri manusia dan kau hanya menjadi cermin dari apa yang sudah mereka miliki.”
Syarrul merasa kata-kata Tuhan menohok hatinya yang dalam. Mungkin selama ini, ia terlalu larut dalam perannya, begitu asyik menggoda manusia, hingga lupa bahwa manusia memiliki kehendak bebas yang sering kali lebih kuat dari pengaruhnya sendiri. Kekecewaannya perlahan beralih menjadi keinsyafan. Sesungguhnya, manusia telah memilih jalan mereka masing-masing dan tak semua dosa membutuhkan kehadirannya.
Dengan berat hati, Syarrul menyadari bahwa perannya sebagai penggoda hanyalah sebagian kecil dari apa yang sebenarnya terjadi di hati manusia. Dalam perenungan itu, ia pun pergi, meninggalkan negeri Semelekethe dengan kesadaran baru bahwa mungkin, tanpa kehadirannya, manusia tetap mampu tersesat hanya dengan membiarkan kehendak bebas dan nafsu dalam diri mereka menguasai hati dan pikiran.
Dalam keheningan setelah panjangnya diskusi, Tuhan memandang Syarrul yang tampak diam, namun dalam pikirannya masih bergejolak berbagai pertanyaan. Tuhan memutuskan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam, menjelaskan secara gamblang apa yang sebenarnya terjadi di balik setiap tindakan manusia.
Tuhan: ”Syarrul, kau harus memahami bahwa dalam diri manusia ada sesuatu yang sangat unik. Sesuatu yang membuat mereka berbeda dari makhluk lainnya. Itu adalah kehendak bebas free will. Aku memberi mereka kebebasan untuk memilih, karena hanya dengan memilih mereka dapat sepenuhnya memahami arti dari kebenaran dan kesalahan.”
Syarrul: ”Kehendak bebas…. Jadi, maksud-Mu, Tuhan, manusia memilih dosanya sendiri, tanpa memerlukan bisikanku?”
Tuhan: ”Tepat. Kehendak bebas adalah sebuah anugerah sekaligus ujian. Setiap manusia punya pilihan untuk mengikuti hasrat baik atau buruk yang sudah ada dalam diri mereka. Kau hanyalah salah satu dari penggoda; pada akhirnya, keputusan tetap ada pada mereka.”
Syarrul: ”Tetapi, Tuhan, jika mereka terus menyalahkanku atas segala kesalahan mereka, bukankah itu menjadi tanggung jawabku juga?”
Tuhan: ”Tidak, Syarrul. Tanggung jawab itu tetap berada pada diri manusia sendiri. Meski kau berbisik, menggoda, atau memberikan ilusi, mereka masih memiliki pilihan untuk mengabaikanmu, berbuat baik, atau mengikuti jalan yang lurus. Itulah yang membuat mereka bertanggung jawab sepenuhnya atas setiap tindakan yang mereka lakukan.”
Syarrul terdiam, merenung. Ia mulai memahami bahwa selama ini ia hanya menjadi katalis, bukan sumber dari segala kejahatan manusia. Rasa kecewanya perlahan mulai mencair, tergantikan oleh keinsyafan akan perannya yang sebenarnya.
Syarrul: ”Jadi, aku bukanlah akar dari setiap kejahatan manusia? Aku hanya bagian kecil dari ujian mereka?”
Tuhan: ”Benar. Tugasmu adalah menggoda, bukan memaksa. Dalam ujian yang kuletakkan di dunia, kaulah cerminan dari hasrat buruk dalam hati manusia. Mereka melihat godaanmu, tetapi memiliki pilihan untuk mengabaikannya.”
Dengan pemahaman ini, hati Syarrul terasa lebih ringan. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu membebani dirinya sendiri, merasa bahwa setiap dosa manusia adalah tanggung jawabnya. Kini ia memahami bahwa manusia memiliki hak untuk menerima atau menolak godaannya dan pilihan itu ada di tangan mereka sendiri.
Syarrul: ”Tuhan, aku mengerti sekarang. Aku tak perlu memikul semua kesalahan manusia. Tugas yang Kau berikan padaku hanyalah untuk menggoda, bukan untuk memastikan mereka tersesat. Mulai sekarang, aku akan menjalankan tugasku dengan lebih bijak, tanpa merasa terbebani oleh pilihan mereka.”
Tuhan: ”Baiklah, Syarrul. Ingatlah, setiap makhluk memiliki perannya masing-masing, dan semuanya berjalan sesuai dengan ketetapan yang sudah Kuciptakan. Jangan biarkan pilihan manusia mengacaukan tugas dan pemahamanmu. Lakukanlah tugasmu dengan kesadaran bahwa kau hanyalah bagian dari perjalanan mereka.”
Dengan kepala tertunduk dan hati yang kini lebih lapang, Syarrul mundur perlahan, menyadari peran dan batasannya. Ia memutuskan untuk kembali ke tugasnya, tetapi kali ini dengan pemahaman baru. Ia tak lagi merasa perlu membuktikan diri atau merasa terpojok oleh pilihan manusia. Ia akan menggoda, tapi tak lagi merasa bertanggung jawab atas pilihan-pilihan yang manusia ambil.
Syarrul kini memahami bahwa dirinya hanyalah salah satu unsur dalam hidup manusia, bagian dari skenario besar yang penuh dengan pilihan, kesadaran, dan tanggung jawab. Dengan pandangan yang lebih dewasa dan beban yang lebih ringan, ia melanjutkan perjalanannya di dunia, menjalankan tugasnya dengan kesadaran bahwa di balik godaannya, manusia masih memiliki kekuatan untuk menentukan jalan hidup mereka sendiri.
Di negeri Semelekethe itu, Syarrul tak lagi merasa menjadi kambing hitam. Ia hanya menjadi setan yang menjalankan tugasnya, sambil menanti bagaimana setiap manusia akan memilih jalannya entah itu menuju kebaikan atau sebaliknya, sepenuhnya atas tanggung jawab mereka sendiri.
Syarrul melangkah menjauh dari percakapan yang mendalam dengan Tuhan, perasaannya kini jauh lebih tenang daripada sebelumnya. Setiap langkahnya terasa lebih ringan, seolah beban yang selama ini menggelayuti hatinya mulai terangkat. Dalam perjalanan pulang ke dunia, ia merenungkan semua yang baru saja dipahami.
Di tengah malam yang tenang, di bawah sinar bulan yang lembut, Syarrul merenungi keadilan dan kebebasan manusia. Ia melihat bagaimana setiap individu memiliki pilihan-pilihan untuk melakukan yang benar atau yang salah, untuk menerima atau menolak godaannya. Di sinilah letak keadilan; manusia tidak hanya menjadi korban dari keadaannya, tetapi juga aktor utama dalam kehidupan mereka sendiri.
Syarrul: ”Setiap manusia, meskipun dikelilingi oleh berbagai godaan, memiliki kuasa untuk memilih. Dalam setiap keputusan yang mereka buat, mereka berperan sebagai penentu nasib mereka sendiri. Keadilan bukanlah tentang mendapatkan segala sesuatu yang sempurna, melainkan tentang memiliki kesempatan untuk memperbaiki dan belajar dari kesalahan.”
Syarrul teringat akan berbagai contoh yang dilihatnya. Para pejabat yang menyalahkan setan, para pengusaha yang berpura-pura peduli, hingga masyarakat luas yang lebih suka mengabaikan tanggung jawab mereka. Semua itu berakar pada satu hal: ketidakberanian untuk menghadapi diri sendiri. Manusia sering kali mencari pengakuan dan apresiasi dari orang lain, tanpa pernah memulai dari dalam diri mereka sendiri.
Syarrul: ”Apresiasi sejati harus dimulai dari diri sendiri. Ketika manusia mampu mengakui kesalahan dan berusaha memperbaikinya, barulah mereka bisa menemukan kedamaian dan keadilan dalam hidup mereka. Tanpa pengakuan itu, mereka terjebak dalam siklus penyalahgunaan dan pengingkaran.”
Ia merenungkan kembali setiap dosanya, setiap kesalahan yang dilakukannya. Dalam hati, ia merasa bangga, bukan pada kebolehannya menggoda, tetapi pada kesadaran bahwa semua tindakan manusia memiliki akar dari dalam diri mereka sendiri. Syarrul berjanji pada dirinya untuk menjadi setan yang lebih bijak bukan hanya sekadar menggoda, tetapi juga memberi ruang bagi manusia untuk memahami dan meresapi pilihan mereka.
Syarrul: ”Akan kutunjukkan bahwa aku adalah bagian dari perjalanan mereka, bukan alasan dari kesalahan mereka. Dengan cara ini, mungkin aku bisa membantu mereka menemukan keberanian untuk mengambil tanggung jawab atas hidup mereka. Di sinilah aku menemukan makna yang sebenarnya dari kehadiranku.”
Ketika matahari terbit, membiarkan cahaya keemasan menyinari negeri Semelekethe, Syarrul merasa siap untuk menghadapi dunia baru. Ia ingin mengubah cara pandangnya terhadap tugasnya. Dalam setiap bisikan dan godaan, ia bertekad untuk membuat manusia merenung dan, mungkin, dengan harapan, mengingat bahwa mereka memiliki kekuatan untuk memilih dengan bijak.
Akhirnya, Syarrul tersenyum. Dalam refleksinya tentang keadilan dan kebebasan manusia, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Sekarang, ia bukan lagi sekadar setan yang menggoda, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya tanggung jawab dan pengakuan diri. Dalam setiap tindakannya, ia akan berusaha membisiki manusia dengan metode baru yang lebih humanis dan menyadari bahwa meski ia ada di sana, pilihan akhir tetap ada di tangan manusia. Dan mungkin, pada akhirnya, dengan pengertian yang baru ini, ia bisa membantu mereka untuk memahami diri mereka sendiri lebih baik bukan sebagai kambing hitam, tetapi sebagai penggoda makhluk yang memiliki kebebasan untuk memilih jalan yang benar.
Sugeng Winarno, seorang purnawirawan dari TNI AL, yang saat ini bekerja sebagai dokter gigi professional dan dosen di beberapa perguruan tinggi di sekitar Jabodetabek. Beberapa buku referensi yang sudah terbit, bertemakan tentang Sistem Kesehatan Ketahanan Negara, Komunikasi Bagi Tenaga Kesehatan, Energi Mocopat bagi Gen Z, dan Membangun Kebersamaan, Politik Persatuan Di Tengah Perbedaan.
sumber : kompas.id, 23 Apr 2025.