Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kambing Hitam Setan oleh Sugeng Winarno

Posted on Rab, 23 Apr 2025

Di negeri Semelekethe yang aneh dan ajaib, tersebutlah sesosok setan yang dilanda kebingungan bahkan, lebih tepatnya, sedang galau. Namanya Syarrul, setan senior yang sangat kompeten dalam tugasnya: menggoda, menghasut, dan menyesatkan manusia dari jalan lurus. Ia telah bersumpah untuk berjuang tanpa lelah agar manusia tersesat, mengikuti jejaknya dalam memberontak terhadap perintah Tuhan. Biasanya, Syarrul melakukan tugasnya dengan bangga dan lihai serta selalu update dengan memanfaatkan teknologi terkini. Setiap bisikan yang ia lakukan, setiap tipu muslihat yang ia susun, selalu ada dampaknya setidaknya itulah yang ia yakini selama ini.

Namun, di negeri ini, Syarrul merasa terhina profesionalismenya akibat ulah penduduknya yang benar-benar unik. Kenapa? Karena tanpa perlu bujuk rayunya, mereka sudah gemar berbuat salah, menjerumuskan diri sendiri ke dalam kesalahan yang mengerikan dan, bagi Syarrul, ini sangat…keterlaluan. Penghinaan profesi! Tetapi yang menyakitkan hati Syarrul, setiap kali manusia melakukan kesalahan besar kekacauan, kelicikan, atau dosa-dosa yang tak habis-habis mereka selalu punya satu alasan: ”Karena setan membujuk!” Padahal, ia sendiri merasa belum melakukan apa-apa! Bahkan sekadar berbisik pun belum dilakukan. Kurang ajar! Syarrul berteriak.

Syarrul semakin lama semakin terhina karena bangsanya selalu menjadi kambing hitam. ”Bagaimana bisa ini terjadi?” pikirnya sambil duduk termenung di atas batu. ”Aku bahkan belum sempat menyusun jebakan apa pun! Mereka sudah jatuh sendiri ke dalam kubangan dosa, tetapi malah menyalahkanku?” Setan yang biasanya penuh semangat dan kepercayaan diri tinggi kini terpojokkan, cemas. Ingin mengakhiri dinas sebagai setan, tetapi Tuhan tidak memfasilitasi slot pensiunan setan. Ini jelas melanggar aturan alam semesta!

Sungguh, negeri Semelekethe ini membuat Syarrul mempertanyakan banyak hal. Siapakah sebenarnya yang menggoda siapa? Apa manusia di negeri ini tak membutuhkan setan lagi untuk berbuat salah? Dan kalau memang begitu, di mana letak peran dan tugasnya yang selama ini ia jalani dengan tekun dan mengikuti standar operasional prosedur? Dalam pikirannya, Syarrul bertanya-tanya, ”Bagaimana kalau pada akhirnya, justru manusia sendirilah yang ahli dalam menjerumuskan dirinya sendiri?”

Syarrul akhirnya membentuk Tim Investigasi yang ia pimpin sendiri. Mulailah mengamati tingkah polah manusia di negeri Semelekethe ini lebih saksama, laksana detektif yang mencurigai sesuatu. Tim memperhatikan bagaimana para penduduk tampak selalu sibuk, kadang-kadang dalam kekacauan yang tidak mereka pahami sendiri. Seorang lelaki menumpahkan susu di pagi hari dan menggerutu, ”Ini pasti karena setan!” Seorang wanita terlambat ke pasar karena bangun kesiangan, menyalahkan ”bisikan jahat” yang menghalanginya bangun lebih pagi. Bahkan, ketika seorang anak yang ceroboh menjatuhkan mainannya ke selokan dan menangis, ibunya menggumam, ”Dasar setan, jangan ganggu anakku!”

Kejadian demi kejadian berlangsung tanpa henti, setiap harinya, dengan pola yang sama. Setiap kali ada kesalahan, sekecil apa pun, pasti nama setan disebut. Semakin lama, Syarrul dan rekan merasa semakin gelisah. Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri, ”Apakah manusia ini benar-benar tidak bisa menerima kesalahan mereka sendiri?”

Pada suatu malam yang sunyi, Syarrul merasa dirinya sudah tak tahan lagi. Dalam keresahannya, ia memutuskan untuk mengadukan kejadian ini langsung kepada Tuhan. Ia merasa sudah terlalu lama menjadi kambing hitam manusia.

Syarrul: ”Tuhan, izinkan aku bicara.… Aku merasa, selama ini, aku selalu dijadikan penyebab semua kesalahan manusia. Setiap kali mereka jatuh atau tersesat, mereka menyalahkanku, padahal kami belum melakukan apa-apa!”

Tuhan menjawab dengan suara yang lembut, namun penuh kekuatan.

Tuhan: ”Mengapa kau merasa terganggu, Syarrul? Bukankah menggoda manusia memang menjadi pilihanmu sejak awal?”

Syarrul: ”Ya, memang benar. Aku memilih jalan ini, aku tahu tugas dan batasanku. Tapi di negeri ini…, mereka terlalu berlebihan. Bahkan tanpa bisikanku, mereka sudah berbuat salah, mereka mencari-cari alasan untuk lari dari tanggung jawab. Aku mulai merasa…, tidak ada gunanya lagi.”

Tuhan: ”Apakah kau merasa manusia seharusnya lebih bijak dan tidak selalu mencari kambing hitam?”

Syarrul: ”Justru itulah masalahnya, Tuhan. Aku hanya berharap manusia punya sedikit saja keberanian untuk mengakui kesalahan mereka sendiri. Selama ini, aku bekerja keras untuk menggoda mereka. Namun di sini, aku tidak diizinkan untuk menunjukkan kemampuanku. Mereka seakan-akan sudah ’tergoda’ sejak awal bahkan sebelum aku mendekati mereka.”

Tuhan tersenyum mendengar keluhan Syarrul yang langka ini.

Tuhan: ”Syarrul, ketahuilah bahwa manusia memang makhluk yang cenderung mencari jalan pintas. Namun, bukankah ini juga membuktikan bahwa mereka takluk pada kelemahan mereka sendiri?”

Syarrul: ”Tapi Tuhan, jika begini terus, apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabku? Jika mereka hanya menyalahkanku tanpa belajar dari kesalahan, apa artinya tugasku?”

Tuhan: ”Syarrul, bukan tugasmu untuk memikirkan siapa yang menanggung beban kesalahan. Mereka memutuskan jalan mereka sendiri. Kegelisahanmu bukanlah tanggung jawabmu, tetapi bagian dari keinginanmu untuk diakui, untuk bekerja dengan sempurna. Manusia, pada akhirnya, bertanggung jawab atas pilihan mereka sendiri, dan kelak mereka akan menghadapiku dengan segala perbuatan yang mereka lakukan.”

Syarrul terdiam, merenungi kata-kata Tuhan yang penuh makna. Mungkin selama ini ia terlalu terfokus pada posisinya, pada keinginan untuk ”menggoda dengan adil”, sehingga lupa bahwa tak semua manusia membutuhkan dorongan darinya untuk melakukan kesalahan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia masih merasa terusik. Di negeri Semelekethe ini, ada sesuatu yang membuat dirinya tampak tak lagi diperlukan.

Syarrul, si setan yang kini kian diselimuti kekecewaan, memutuskan untuk melakukan pengamatan lebih mendalam. Ia ingin mencari bukti bahwa manusia benar-benar telah menyimpang, bahkan tanpa bisikan-bisikan dari dirinya. Dengan langkah lunglai, ia tetap mencoba bersemangat menyusuri kehidupan di negeri Semelekethe, mengamati setiap lapisan masyarakat dari sudut-sudut tersembunyi.

Pertama, Syarrul dan rekan tetap melanjutkan mengamati para pejabat tinggi di pemerintahan. Di sana, ia melihat para politisi yang selalu tersenyum ramah di depan umum, namun penuh intrik licik di belakang layar. Mereka saling menyikut, memutar balikkan fakta, dan menebar janji kosong, semua hanya demi keuntungan pribadi. Seorang menteri, yang seharusnya mengurus anggaran untuk kementeriannya, malah sibuk menumpuk harta, berbisik pada diri sendiri, ”Setan pasti membujukku… tanpa dorongannya, aku tak akan tergoda.” Padahal, Syarrul tahu, ia tak pernah sekali pun berbisik kepada orang ini. Segala rencana busuk itu lahir dari hasrat pribadi si menteri dan gengnya.

Di sudut kota yang lain, Syarrul melihat seorang pengusaha kaya yang senang memanfaatkan keringat pekerjanya, membayar dengan upah serendah mungkin, namun bangga menunjukkan sumbangan besarnya ketika ada media yang meliput. ”Lihat, aku peduli pada masyarakat,” ujar si pengusaha dalam pidatonya, menyelipkan amplop besar di tangan wartawan agar tetap terlihat dermawan di depan publik. Ketika beberapa orang mencibirnya di balik layar, ia berkata enteng, ”Ah, kalau bukan karena bisikan setan, aku pasti akan lebih tulus.” Syarrul mencibir dalam hati, ”Bisikan setan? Sejak kapan aku berbisik untuk sekadar pamer?”

Lalu ia beralih memperhatikan masyarakat luas. Di jalanan kota, ia melihat para penduduk yang sibuk dengan urusan masing-masing. Beberapa orang membuang sampah sembarangan, dengan santai menyalahkan setan sebagai alasan mengapa mereka tak peduli pada kebersihan. Para pemuda berlomba memperkaya diri dengan cara instan, mengabaikan etika, hukum, bahkan agama, yang mereka anggap hanya formalitas. Mereka rajin pergi ke tempat ibadah, menunduk dalam-dalam ketika sedang khusuk beribadah, namun segera sesudah keluar, mereka kembali berbuat onar, melupakan segala doa yang baru saja mereka panjatkan. Bahkan seorang pria yang korup mengeluh kepada kawannya, ”Seandainya bukan karena bujukan setan, aku takkan tergoda. Ini sudah takdir.”

Melihat semua itu, Syarrul hanya bisa mendesah lelah, merasa semakin jengah. Ia merasa tugasnya menjadi semakin tidak berarti; manusia telah terbiasa mencari kambing hitam tanpa benar-benar menyadari akar dari setiap tindakan mereka. Namun, rasa penasarannya semakin dalam, dan akhirnya, ia kembali menghadap Tuhan untuk mencurahkan isi hatinya yang kini benar-benar diliputi kekecewaan.

Syarrul: ”Tuhan, aku merasa semakin terpojok. Manusia di negeri ini… mereka melakukan dosa, pelanggaran, dan tindakan keji atas kemauan mereka sendiri. Tetapi setiap kali mereka jatuh menjadi pendosa, mereka selalu menyalahkanku tanpa menyadari bahwa semua itu lahir dari dalam diri mereka sendiri. Bahkan para pemimpin mereka, yang memiliki kekuasaan untuk membimbing, malah memanfaatkan jabatan untuk keuntungan pribadi dan tetap menyalahkanku. Apakah ini masih adil?”

Tuhan menjawab dengan penuh kebijaksanaan.

Tuhan: ”Syarrul, bukankah kau tahu bahwa manusia telah diberi akal dan hati nurani? Mereka punya kebebasan memilih, dan itu termasuk kemampuan untuk menyalahkan.”

Syarrul: ”Tetapi, Tuhan, manusia sekarang lebih memilih menyalahkanku daripada belajar dari kesalahan mereka sendiri. Mereka begitu pandai mencari-cari alasan, bersembunyi di balik namaku agar tetap terlihat baik di mata sesama. Aku bahkan melihat mereka bangga melakukan dosa asal tidak diketahui banyak orang. Bagaimana aku bisa melanjutkan tugasku dalam keadaan seperti ini?”

Tuhan: ”Lalu apa yang kau inginkan, Syarrul?”

Syarrul: ”Aku ingin manusia bertanggung jawab atas pilihan mereka sendiri. Mereka berlindung di balik namaku, seolah aku satu-satunya alasan mereka terjerumus. Mereka bahkan tak lagi memerlukan bujukanku. Di sini, mereka hanya menggunakan kesalahan mereka sebagai alat untuk meraih simpati, membenarkan diri mereka di mata publik. Bahkan dalam ibadah, mereka lebih peduli pada bagaimana terlihat oleh manusia lain ketimbang kepada-Mu.”

Tuhan: ”Syarrul, pahamilah bahwa pada akhirnya setiap manusia akan dihadapkan dengan konsekuensi dari perbuatannya. Apakah mereka menyadarinya atau tidak, itu tidak mengubah takdir yang mereka buat untuk diri mereka sendiri.”

Syarrul terdiam, tenggelam dalam perenungan panjang.

Syarrul: ”Tuhan, mereka terlalu sering menyebut namaku, seolah-olah aku ini jalan keluar dari setiap permasalahan mereka. Aku menjadi kambing hitam untuk kesalahan-kesalahan mereka yang sebenarnya mereka ciptakan sendiri.”

Tuhan: ”Syarrul, mungkin kini kau mulai menyadari bahwa tak semua kejahatan di dunia ini adalah hasil bisikanmu. Hasrat buruk itu ada dalam diri manusia dan kau hanya menjadi cermin dari apa yang sudah mereka miliki.”

Syarrul merasa kata-kata Tuhan menohok hatinya yang dalam. Mungkin selama ini, ia terlalu larut dalam perannya, begitu asyik menggoda manusia, hingga lupa bahwa manusia memiliki kehendak bebas yang sering kali lebih kuat dari pengaruhnya sendiri. Kekecewaannya perlahan beralih menjadi keinsyafan. Sesungguhnya, manusia telah memilih jalan mereka masing-masing dan tak semua dosa membutuhkan kehadirannya.

Dengan berat hati, Syarrul menyadari bahwa perannya sebagai penggoda hanyalah sebagian kecil dari apa yang sebenarnya terjadi di hati manusia. Dalam perenungan itu, ia pun pergi, meninggalkan negeri Semelekethe dengan kesadaran baru bahwa mungkin, tanpa kehadirannya, manusia tetap mampu tersesat hanya dengan membiarkan kehendak bebas dan nafsu dalam diri mereka menguasai hati dan pikiran.

Dalam keheningan setelah panjangnya diskusi, Tuhan memandang Syarrul yang tampak diam, namun dalam pikirannya masih bergejolak berbagai pertanyaan. Tuhan memutuskan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam, menjelaskan secara gamblang apa yang sebenarnya terjadi di balik setiap tindakan manusia.

Tuhan: ”Syarrul, kau harus memahami bahwa dalam diri manusia ada sesuatu yang sangat unik. Sesuatu yang membuat mereka berbeda dari makhluk lainnya. Itu adalah kehendak bebas free will. Aku memberi mereka kebebasan untuk memilih, karena hanya dengan memilih mereka dapat sepenuhnya memahami arti dari kebenaran dan kesalahan.”

Syarrul: ”Kehendak bebas…. Jadi, maksud-Mu, Tuhan, manusia memilih dosanya sendiri, tanpa memerlukan bisikanku?”

Tuhan: ”Tepat. Kehendak bebas adalah sebuah anugerah sekaligus ujian. Setiap manusia punya pilihan untuk mengikuti hasrat baik atau buruk yang sudah ada dalam diri mereka. Kau hanyalah salah satu dari penggoda; pada akhirnya, keputusan tetap ada pada mereka.”

Syarrul: ”Tetapi, Tuhan, jika mereka terus menyalahkanku atas segala kesalahan mereka, bukankah itu menjadi tanggung jawabku juga?”

Tuhan: ”Tidak, Syarrul. Tanggung jawab itu tetap berada pada diri manusia sendiri. Meski kau berbisik, menggoda, atau memberikan ilusi, mereka masih memiliki pilihan untuk mengabaikanmu, berbuat baik, atau mengikuti jalan yang lurus. Itulah yang membuat mereka bertanggung jawab sepenuhnya atas setiap tindakan yang mereka lakukan.”

Syarrul terdiam, merenung. Ia mulai memahami bahwa selama ini ia hanya menjadi katalis, bukan sumber dari segala kejahatan manusia. Rasa kecewanya perlahan mulai mencair, tergantikan oleh keinsyafan akan perannya yang sebenarnya.

Syarrul: ”Jadi, aku bukanlah akar dari setiap kejahatan manusia? Aku hanya bagian kecil dari ujian mereka?”

Tuhan: ”Benar. Tugasmu adalah menggoda, bukan memaksa. Dalam ujian yang kuletakkan di dunia, kaulah cerminan dari hasrat buruk dalam hati manusia. Mereka melihat godaanmu, tetapi memiliki pilihan untuk mengabaikannya.”

Dengan pemahaman ini, hati Syarrul terasa lebih ringan. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu membebani dirinya sendiri, merasa bahwa setiap dosa manusia adalah tanggung jawabnya. Kini ia memahami bahwa manusia memiliki hak untuk menerima atau menolak godaannya dan pilihan itu ada di tangan mereka sendiri.

Syarrul: ”Tuhan, aku mengerti sekarang. Aku tak perlu memikul semua kesalahan manusia. Tugas yang Kau berikan padaku hanyalah untuk menggoda, bukan untuk memastikan mereka tersesat. Mulai sekarang, aku akan menjalankan tugasku dengan lebih bijak, tanpa merasa terbebani oleh pilihan mereka.”

Tuhan: ”Baiklah, Syarrul. Ingatlah, setiap makhluk memiliki perannya masing-masing, dan semuanya berjalan sesuai dengan ketetapan yang sudah Kuciptakan. Jangan biarkan pilihan manusia mengacaukan tugas dan pemahamanmu. Lakukanlah tugasmu dengan kesadaran bahwa kau hanyalah bagian dari perjalanan mereka.”

Dengan kepala tertunduk dan hati yang kini lebih lapang, Syarrul mundur perlahan, menyadari peran dan batasannya. Ia memutuskan untuk kembali ke tugasnya, tetapi kali ini dengan pemahaman baru. Ia tak lagi merasa perlu membuktikan diri atau merasa terpojok oleh pilihan manusia. Ia akan menggoda, tapi tak lagi merasa bertanggung jawab atas pilihan-pilihan yang manusia ambil.

Syarrul kini memahami bahwa dirinya hanyalah salah satu unsur dalam hidup manusia, bagian dari skenario besar yang penuh dengan pilihan, kesadaran, dan tanggung jawab. Dengan pandangan yang lebih dewasa dan beban yang lebih ringan, ia melanjutkan perjalanannya di dunia, menjalankan tugasnya dengan kesadaran bahwa di balik godaannya, manusia masih memiliki kekuatan untuk menentukan jalan hidup mereka sendiri.

Di negeri Semelekethe itu, Syarrul tak lagi merasa menjadi kambing hitam. Ia hanya menjadi setan yang menjalankan tugasnya, sambil menanti bagaimana setiap manusia akan memilih jalannya entah itu menuju kebaikan atau sebaliknya, sepenuhnya atas tanggung jawab mereka sendiri.

Syarrul melangkah menjauh dari percakapan yang mendalam dengan Tuhan, perasaannya kini jauh lebih tenang daripada sebelumnya. Setiap langkahnya terasa lebih ringan, seolah beban yang selama ini menggelayuti hatinya mulai terangkat. Dalam perjalanan pulang ke dunia, ia merenungkan semua yang baru saja dipahami.

Di tengah malam yang tenang, di bawah sinar bulan yang lembut, Syarrul merenungi keadilan dan kebebasan manusia. Ia melihat bagaimana setiap individu memiliki pilihan-pilihan untuk melakukan yang benar atau yang salah, untuk menerima atau menolak godaannya. Di sinilah letak keadilan; manusia tidak hanya menjadi korban dari keadaannya, tetapi juga aktor utama dalam kehidupan mereka sendiri.

Syarrul: ”Setiap manusia, meskipun dikelilingi oleh berbagai godaan, memiliki kuasa untuk memilih. Dalam setiap keputusan yang mereka buat, mereka berperan sebagai penentu nasib mereka sendiri. Keadilan bukanlah tentang mendapatkan segala sesuatu yang sempurna, melainkan tentang memiliki kesempatan untuk memperbaiki dan belajar dari kesalahan.”

Syarrul teringat akan berbagai contoh yang dilihatnya. Para pejabat yang menyalahkan setan, para pengusaha yang berpura-pura peduli, hingga masyarakat luas yang lebih suka mengabaikan tanggung jawab mereka. Semua itu berakar pada satu hal: ketidakberanian untuk menghadapi diri sendiri. Manusia sering kali mencari pengakuan dan apresiasi dari orang lain, tanpa pernah memulai dari dalam diri mereka sendiri.

Syarrul: ”Apresiasi sejati harus dimulai dari diri sendiri. Ketika manusia mampu mengakui kesalahan dan berusaha memperbaikinya, barulah mereka bisa menemukan kedamaian dan keadilan dalam hidup mereka. Tanpa pengakuan itu, mereka terjebak dalam siklus penyalahgunaan dan pengingkaran.”

Ia merenungkan kembali setiap dosanya, setiap kesalahan yang dilakukannya. Dalam hati, ia merasa bangga, bukan pada kebolehannya menggoda, tetapi pada kesadaran bahwa semua tindakan manusia memiliki akar dari dalam diri mereka sendiri. Syarrul berjanji pada dirinya untuk menjadi setan yang lebih bijak bukan hanya sekadar menggoda, tetapi juga memberi ruang bagi manusia untuk memahami dan meresapi pilihan mereka.

Syarrul: ”Akan kutunjukkan bahwa aku adalah bagian dari perjalanan mereka, bukan alasan dari kesalahan mereka. Dengan cara ini, mungkin aku bisa membantu mereka menemukan keberanian untuk mengambil tanggung jawab atas hidup mereka. Di sinilah aku menemukan makna yang sebenarnya dari kehadiranku.”

Ketika matahari terbit, membiarkan cahaya keemasan menyinari negeri Semelekethe, Syarrul merasa siap untuk menghadapi dunia baru. Ia ingin mengubah cara pandangnya terhadap tugasnya. Dalam setiap bisikan dan godaan, ia bertekad untuk membuat manusia merenung dan, mungkin, dengan harapan, mengingat bahwa mereka memiliki kekuatan untuk memilih dengan bijak.

Akhirnya, Syarrul tersenyum. Dalam refleksinya tentang keadilan dan kebebasan manusia, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Sekarang, ia bukan lagi sekadar setan yang menggoda, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya tanggung jawab dan pengakuan diri. Dalam setiap tindakannya, ia akan berusaha membisiki manusia dengan metode baru yang lebih humanis dan menyadari bahwa meski ia ada di sana, pilihan akhir tetap ada di tangan manusia. Dan mungkin, pada akhirnya, dengan pengertian yang baru ini, ia bisa membantu mereka untuk memahami diri mereka sendiri lebih baik bukan sebagai kambing hitam, tetapi sebagai penggoda makhluk yang memiliki kebebasan untuk memilih jalan yang benar.

Sugeng Winarno, seorang purnawirawan dari TNI AL, yang saat ini bekerja sebagai dokter gigi professional dan dosen di beberapa perguruan tinggi di sekitar Jabodetabek. Beberapa buku referensi yang sudah terbit, bertemakan tentang Sistem Kesehatan Ketahanan Negara, Komunikasi Bagi Tenaga Kesehatan, Energi Mocopat bagi Gen Z, dan Membangun Kebersamaan, Politik Persatuan Di Tengah Perbedaan.

sumber : kompas.id, 23 Apr 2025.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme