Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Selilit oleh Moh. Hilmi Faiq

Posted on Ming, 27 Apr 2025

Apa yang dialami Sadewo dua belas jam terakhir mengingatkannya pada malam itu. Malam ketika Isnani terbahak-bahak di antara entakan bas lagu campursari yang menggetarkan kaca-kaca jendela. Lalu malaikat maut datang dalam wujud sate kambing.

Malam itu, sepasang mempelai berdiri kelelahan menyambut tamu yang datang seharian. Aneka hidangan berjajar di atas meja prasmanan. Sisa-sisa makanan dan bekas tusuk sate menggunung di atas piring-piring kotor. Orang-orang mengobrol dalam kerumunan-kerumunan kecil. Dan malaikat pencabut nyawa—yang kehadirannya tidak disadari siapa pun—yang melayang-layang mengutuk hiruk-pikuk suara gendang.

Malam itu, setelah orang-orang kekenyangan oleh makanan dan obrolan dan suara gendang, suara-suara menjadi riuh rendah. Lagu campursari terus berbunyi, seperti sosok cerewet, pantang mati. Saat orang-orang mulai kehabisan bahan obrolan, tiba-tiba Isnani meraung sambil membekap mulutnya sendiri. Mulut Isnani jelas menerbitkan darah. Telapak tangannya merah. Suara-suara masih riuh rendah.

”Isnani kenapa?” tanya seseorang.

”Dia bilang, mulutnya kena tusuk sate!” jawab yang lain.

”Kok bisa!”

Isnani terus memegangi mulutnya. Beberapa menit berselang, Isnani tersungkur dari kursinya. Masih dalam keadaan sadar. Tidak pingsan. Matanya mengerjap-ngerjap, lalu mendelik. Mengerjap-ngerjap lagi, lalu mendelik lagi.

Matikan soun-nya! Soun-nya matikan!

”Matikan soun-nya! Soun-nya matikan!” salah seorang memekik.

Lagu campursari berhenti. Jendela-jendela kaca tidak bergetar lagi. Empat orang menggotong Isnani ke dalam rumah. Suara-suara masih riuh rendah. Tuan rumah mengambilkan air mineral, menusuknya dengan sedotan, menyodorkannya ke Isnani, tapi Isnani sudah tidak berkutik. Hanya matanya yang mendelik.

”Is! Is! Sadar, Is! Nyebut, Is!”

Orang-orang panik. Mata Isnani masih mendelik. Detik menunggangi detik. Sampai seseorang mengucapkan kalimat tarjik. Innalillahi…. Disusul yang lain. Silih berganti. Suara-suara semakin sepi.

Di sisi lain, di atas puadai, kedua mempelai yang mulai kuyu masih saja menyalami beberapa tamu yang datang terlambat. Mata mereka tak nyaman dan terus mencuri pandang ke arah kerumunan. Bagaimanapun, pesta masih dan akan terus berlangsung. Yang pergi biarlah pergi. Siapa yang bisa menghentikan orang mati?

Malam itu Sadewo pulang terlambat. Masih tak percaya kalau Isnani sudah mati. Antara satu jam sebelum malaikat maut menarik rohnya, Isnani masih tertawa terbahak-bahak dengan mulut dipenuhi daging kambing. Isnani berbisik kepada Sadewo, bumbu satenya enak, tapi dagingnya sealot sabut kelapa. Mereka terbahak-terbahak. Isnani mengeluh, satu-satunya hal setelah kolesterol, yang membuatnya enggan makan sate, adalah setelah makan giginya selalu dipenuhi selilit. Bahkan, Isnani sempat berkelakar, mungkin akan menyenangkan kalau Tuhan menciptakan gigi manusia tanpa sela sehingga manusia tidak perlu selilitan kalau makan daging. Sadewo menanggapi dengan bijak, dia bilang, Tuhan menciptakan bentuk gigi manusia seperti itu sudah paling sempurna. Kalau gigi diciptakan tanpa sela, manusia hanya akan punya dua gigi, satu gigi atas dan satu gigi bawah. Kalau salah satu gigi—entah atas entah bawah—copot, maka akan copot sekaligus. Kalau gigi atas dan gigi bawah copot dua-duanya, manusia akan langsung ompong perot, tak peduli berapa usianya. Isnani dan Sadewo terbahak-bahak sampai keluar air mata. Iya juga, ya, sahut Isnani. Tentu itu lebih mengerikan dari selilit.

Ketika Insani memungut sebatang tusuk sate dan mulai membersihkan selilit di giginya, Sadewo berpaling untuk mengobrol dengan rekannya yang lain, sampai tiba-tiba Isnani meraung kesakitan membekap mulutnya sendiri.

Beberapa rekan Sadewo yakin, Isnani yang punya keluhan kolesterol mati sebab terlalu banyak makan daging kambing. Sementara, yang lain bilang, Isnani mati sebab kecocok tusuk sate. Apa pun itu, yang pasti Sadewo dan rekan-rekannya sepakat, jatah umur Isnani memang sudah habis, sebagaimana jatah rezekinya. Proyek pembangunan jalan layang yang dipegang Isnani otomatis lepas. Dan siapa sangka, proyek itu diestafetkan kepada Sadewo sebagai penanggung jawabnya. Ada sedikit drama perihal relokasi permukiman warga. Satu-dua warga menjadi keras kepala, tak mau rumahnya dipindah, meski dijanjikan ganti rugi yang layak. Sadewo selalu menyebut warga-warga keras kepala itu sebagai selilit. Selilit yang selalu mengganggu dan membuat tidak nyaman. Sebab itu, selilit mesti dicungkil. Dan Sadewo berhasil mencungkil paksa selilit-selilit itu hingga proyek jalan layang itu berjalan mulus. Sebab, proyek itulah Sadewo bisa membeli mobil sport yang agak pantas dibawa ke mana-mana. Sementara selilit-selilit itu, Sadewo sudah melupakannya. Tidak ada orang yang mengingat selilit.

Semalam, di sebuah hotel bintang lima, saat menghadiri rapat perdana proyek pembangunan Patung Garuda Raksasa yang rencananya akan dibangun di jantung kota, Sadewo menandaskan semangkuk es manado, sepiring kecil lupis gula aren, sepiring besar steak, dan senampan kecil puding sebagai pencuci mulut. Selilit di gigi Sadewo muncul sejak kunyahan daging pertama, semakin banyak daging yang dia kunyah, selilit yang nyangkut di giginya semakin banyak. Namun, Sadewo tidak memedulikannya. Bahkan, saat Sadewo menyantap puding pencuci mulut, seleilit itu masih saja dia abaikan.

Seusai menenggak segelas air putih, mengelap mulutnya dengan tisu, Sadewo mengambil tusuk gigi dan mulai membersihkan selilitnya perlahan-lahan dengan satu tangan, sementara tangannya yang lain menutupi mulut demi kesopanan. Selilit itu mulai lepas satu per satu. Namun, pada beberapa bagian—terutama di antara geraham dalam—masih ada yang nyangkut. Susah dibersihkan. Untuk menuntaskannya, Sadewo pergi ke toilet dan berkumur di depan wastafel dan cermin besar. Beberapa selilit terlepas. Namun, masih ada satu di pangkal geraham, terasa sekali. Sadewo membuka mulutnya lebar-kebar di depan cermin, dan tentu saja selilit itu tidak tampak. Hanya terasa sangat mengganjal. Membuat giginya mulai ngilu.

Sepanjang perjalanan pulang, lidah Sadewo tak berhenti bergerak, berusaha membersihkan selilit yang masih tersisa, tetapi nihil tanpa hasil. Sampai di rumah, dia menggosok giginya sampai berdarah, tetapi benda kecil yang menyumpal salah satu sela gerahamnya terasa semakin tebal. Sadewo sudah mandi dan ganti dengan piama, tetapi dia tidak segera mapan di ranjang. Dia malah kembali ke toilet dan berdiri di depan wastafel. Dia kembali mencongkel-congkel gerahamnya dengan tusuk gigi, lalu berkumur-kumur, dan terus menggerak-gerakkan lidahnya sampai pegal. Namun, gangguan di sela geraham tak juga hilang. Hal itu membuatnya sangat jengkel. Dia tak pernah sejengkel ini dengan mulutnya sendiri.

Ini lho! Selilitan sejak tadi gak hilang-hilang.

Saat balik ke kamar, Sadewo tak juga merebahkan tubuhnya di ranjang, dia malah duduk di depan meja rias istrinya, menatap bayangan dirinya dalam cermin.

”Mulutnya kenapa tho, Pak?” Istri Sadewo bertanya dengan malas, saat melihat Sadewo mangap-mangap di depan cermin.

”Ini lho! Selilitan sejak tadi gak hilang-hilang.”

”Sikat gigi, kumur-kumur,” istrinya menyarankan sambil menarik selimut.

Entah kenapa, suara istrinya itu tiba-tiba terdengar sangat menjengkelkan. Sadewo mengatupkan gerahamnya kuat-kuat sampai muncul suara gemeretak, lalu kembali mengangakan mulutnya, dan memasukkan jari-jarinya ke pangkal geraham yang mengganjal. Jari-jari itu terus bergerak. Geram. Seperti linggis yang hendak memberengkal gigi-gigi sialan yang menyusahkan. Andaikata jari-jarinya punya mata.

Jari-jari mungkin memang diciptakan bukan untuk selilit. Satu-satunya benda yang diciptakan untuk selilit adalah tusuk gigi. Mungkin dia butuh tusuk gigi lagi. Pada saat memikirkan tusuk gigi, mata Sadewo menatap sebuah jarum pentol di meja rias istrinya. Siapa yang tahu, mungkin jarum pentol juga diciptakan untuk selilit gigi. Tanpa pikir panjang, masih dengan hati dongkol, Sadewo memungut jarum itu dan mulai membersihkan giginya. Aku bisa mengendalikan jariku sendiri, batinnya. Dia terus menatap bayangan di cermin, mulutnya yang menganga, jarinya dengan senjata, serta gigi-gigi buruk yang berderet.

Andaikata gigi-gigi tak punya sela. Oh, andaikata gigi-gigi tak punya sela. Pada saat itu, tiba-tiba Sadewo teringat Isnani. Pada saat itu pula Sadewo merasakan nyeri yang sangat di antara gusi dan gerahamnya. Jarum itu salah bekerja. Sadewo merasakan asin darah di mulutnya. Dia kembali ke depan wastafel dan berkumur-kumur. Namun, darah itu terus keluar. Menyebarkan asin ke seluruh rongga mulut.

Sadewo mulai menyerah. Ingatannya tentang Isnani dan tusuk sate memberinya perasaan janggal. Sadewo benar-benar menyerah, sebab asin di mulutnya tak juga enyah. Dengan tubuh kuyu Sadewo merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menelan asin di mulutnya.

”Sudahlah, ini hanya selilit gigi,” gumam Sadewo yang mulai lelah dan mengantuk. Sadewo yakin, selilit itu masih ada di sela gerahamnya. Sadewo percaya, dia akan segera jatuh dalam tidur paling menggelisahkan.

Pagi hari, saat terbangun, Sadewo mendapati pegal-pegal di sekujur tubuhnya. Seolah, semalaman tubuhnya jadi bulan-bulanan. Dan yang paling mengerikan adalah dia merasakan ngilu luar biasa di antara gusi dan gerahamnya. Dia merasakan, sesuatu memenuhi mulutnya. Perasaan ganjil itu kembali menggerayanginya.

”Apakah selilitan bisa membuat seseorang mati?” dengan mulut ngilu Sadewo bertanya. Matanya mengerjap-ngerjap, seperti memastikan sesuatu.

Mungkin itu harus diperiksakan, Pak! Coba sini lihat! Aduh, Pak, kok bisa!

Istrinya yang sudah duduk di depan meja rias melongok keheranan, menatap Sadewo, ”Mulutmu kenapa, Pak? Sepertinya bengkak.”

Sadewo enggan menjawab sebab mulutnya terlampau ngilu untuk digerakkan.

”Mungkin itu harus diperiksakan, Pak! Coba sini lihat! Aduh, Pak, kok bisa!” Istri sadewo menatap ngeri. Sadewo bangkit tertatih, mendekati cermin meja rias.

Sadewo bergidik menatap bayangan wajahnya, bengkak di mulutnya membuat wajahnya tampak aneh. Mulutnya tak lagi tampak seperti mulut manusia, melainkan moncong binatang.

Malang, 21 April 2025

Mashdar Zainal, lahir di Madiun, 5 Juni 1984, penyuka prosa. Buku terbarunya Musim di Rambut Ibu, Penerbit Buku Kompas, 2024. Kini bermukim di Malang.

Laksmi Shitaresmi, perupa kelahiran Yogyakarta 1974. Sejak tahun 1988 sampai sekarang sudah ratusan kali terlibat pameran seni rupa, baik di dalam maupun luar negeri. Termasuk di dalamnya beberapa kali pameran tunggal. Ia pernah mengikuti program residensi di Aronskelkwek, Den Haag, Belanda (2013).

sumber : harian Kompas edisi 27 April 2025 di halaman 10 dengan judul “Selilit”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme