Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Lelaki Bercelana Joger oleh Hasbunallah Haris

Posted on Ming, 28 Apr 2024

Oleh: HASBUNALLAH HARIS

—

Nu’ai baru saja melepas capit cas aki setrum ikannya saat lelaki bercelana joger itu datang. Dia menawarkan pekerjaan; membersihkan bak PDAM di Bangko, tak berapa jauh dari rumah mereka yang uzur dan doyong. Tanpa pikir panjang, niat yang semula hendak pergi mengarit kambing bujang di belakang rumah diurungkan demi mendengar PDAM disebut-sebut, siapa yang tidak akan tergiur dengan uang dua ratus ribu, cash, kerja setengah hari di musim payah macam sekarang?

”Aku akan mengganti baju sebentar, tunggulah dulu,” ujar Nu’ai menyilakan lelaki itu duduk di beranda rumah. Sepasang anjing pemburunya kemarin baru saja melahirkan. Anjing yang betina sejak tadi mengawasi tamu yang datang, kadang mengedipkan mata dengan cemas, kadang melolong-lolong macam pungguk merindukan bulan.

Bak PDAM itu memang sudah lama tidak dibersihkan. Terakhir keduanya dapat panggilan sekitar dua bulan lalu sebelum Ramadan masuk. Orang-orang tentu saja menginginkan air terus mengalir jernih tanpa hambatan. Pekerjaan membersihkan bak meski berat namun dibayar dengan harga yang lumayan. Keduanya sudah menekuni pekerjaan lepas itu sejak beberapa tahun silam. Nu’ai, sebagai lelaki beranak satu yang menumpang tinggal di rumah bekas mertuanya yang sudah almarhum, pun tak urung merasakan gejolak lonjakan bahan pokok yang demikian cepat, ditambah lagi dengan Lebaran yang akan datang. Kepalanya pusing memikirkan uang belanja anak dan bininya. Dirinya? Oh tentu saja tidak, sudah dua tahun dia masih memakai baju koko lengan panjang yang sama, meski kini warnanya sudah sedikit memudar karena terlalu sering dicuci.

Sehabis menukar baju, dia pamit pada istrinya yang sedang membadung Amira, anak semata wayangnya itu. Perempuan dengan tahi lalat di bawah bibir itu bergetar mengucapkan ”hati-hati”. Perasaannya tidak enak sejak semalam, ditambah lagi pagi tadi saat sahur dia menjatuhkan mangkuk yang akan diletakkan ke atas rak. Pecahan mangkuk itu melukai kakinya sendiri.

”Sebelum sore kami sudah pulang, seperti yang sudah-sudah,” katanya sambil menjangkau topi bundar yang tergantung di belakang pintu dapur. Bininya hanya mengangguk dan mengantar hingga ke pintu depan, lalu kembali masuk untuk melanjutkan pekerjaan setelah dua orang itu hilang di ujung tikungan jalan setapak rumah mereka.

Sejak sama-sama sekolah di SD inpres, Nu’ai memang sudah akrab dengan lelaki bercelana joger itu. Keduanya sudah macam pinang dibelah dua, di mana ada Nu’ai, di sana ada pula dia. Namun jalan hidup memisahkan keduanya beberapa tahun saat Nu’ai mengenyam pendidikan di Kota Pekanbaru, dan kembali bersama setelah dia mengaku kalah di tengah hiruk pikuk kesibukan kota.

”Terlalu gila,” ujarnya bercerita saat mereka menunggu jagung di ladang beberapa tahun silam. ”Hidup di kota itu terlalu selangit, bahkan untuk berak saja harus membayar. Bah, kalau di sini kita tinggal pergi saja ke sungai sana dan berak sesuka hati, pakai air sesuka hari. Di kota semuanya ditakar, semuanya diatur, dan orang-orang serabutanlah yang akan menderita dibuatnya, tak sanggup membayar listrik, terjepit utang, terkangkang-kangkang dikejar rentenir.”

”Begitu?” Lelaki itu semringah mendengarkan. Selama hidungnya ditempuh napas, memang belum sekali pun dia menginjakkan kaki keluar kampung untuk merantau. Hidupnya habis sekadar menanam jagung dan kacang tanah, atau sesekali menanam padi di sawah gadai yang kini sudah terjual pula. Anaknya tiga, dan nasibnya tak jauh beda dengan Nu’ai; sebuah gambaran kemelaratan orang-orang pedesaan yang bertekuk lutut pada kata ”globalisasi”.

”Orang bilang enak tinggal di kota,” lanjut Nu’ai bercerita. ”Bah, mereka belum tahu saja kejamnya orang-orang kota, bahkan sesama tetangga saja tidak saling mengenal. Hidup macam apa itu?”

”Mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing mungkin, Kawan.” Lelaki itu berusaha mengajukan pembelaan.

”Ah, mana mungkin,” timpal Nu’ai lagi, lalu mengambil sebuah lidi enau untuk ditusukkan ke giginya yang jarang. ”Orang-orang kota memang tidak pernah peduli. Mereka membangun tembok yang tinggi untuk memagari rumah, mengisolasi diri, tak mau tahu dengan lingkungan sekitar.”

Dalam hati, lelaki itu sangat bersyukur tak pernah merantau. Dia merasa sudah cukup dengan ladang beberapa petak saja dan hasil yang nyaris sama dari tahun ke tahun, bila musim durian tiba, pemasukan akan bertambah, atau sesekali dia bisa bekerja jadi buruh lepas PDAM, membersihkan bak. Banyak pekerjaan sampingan yang bisa dilakukan dengan modal mau saja, tak perlu ijazah seperti orang-orang kota melamar pekerjaan. Gambaran kota bagi lelaki itu hanyalah sebuah penjara yang sangat memuakkan. Persaingan mencari makan sangat ketat, sementara lahan yang diperebutkan amatlah sempit.

Di Bangko, beberapa orang sudah menanti, sekop dan mesin dompeng, juga genset sudah tersedia. Mereka hanya bekerja seperti sebelum-sebelumnya, mengeluarkan pasir dari bak yang sangat besar. Namun ternyata kini ada yang berubah, genset yang dipakai sekarang kelihatan berbeda dengan sebelumnya. Tampilannya jauh lebih elegan dan rapi. Pun tampak menarik dengan stiker yang ditempel di sana-sini, stiker sebuah partai.

”Keluaran terbaru ni, Bos,” ujar lelaki itu berseloroh.

Lelaki yang sudah datang lebih dulu menepuk genset dengan bangga, lalu membuka topi bundar yang dia pakai. ”Kalau pakai ini, kerja kita paling hanya tiga jam, cincailah.”

Empat lelaki dewasa itu kemudian mulai membagi-bagi pekerjaan; dua orang turun, dua orang lain mengulurkan peralatan dari atas, baru kemudian mereka ikut turun sambil membawa sekop dan mulut pipa mesin dompeng yang siap menyedot pasir.

Baru satu jam bekerja, Nu’ai merasa ada yang janggal, dia merasa sesak napas. Saat berpaling pada lelaki di sudut bak yang sedang memegang sekop, lelaki itu tiba-tiba tumbang berdebam ke air bak yang hanya setinggi betis orang dewasa. Dia ingin segera menolong, namun entah mengapa tiba-tiba rasanya dunia berputar demikian cepat, kepalanya seakan dibelah dua dengan kapak tumpul, dan lelaki beranak satu itu ikutan tumbang di detik berikutnya.

***

Di rumah, Amira menangis sejadi-jadinya, ibunya sampai menyumpah-nyumpah karena sudah kehilangan kesabaran. Diberi mainan menolak, digendong meraung, dibuai tetap saja memekik, bahkan anjing betina di halaman ikut melolong tiada henti.

Tiba-tiba dua orang laki-laki bercelana katun, dengan baju kemeja lengan panjang yang disingsingkan, berjalan cepat menuju sebuah rumah doyong di ujung kampung. Air muka mereka sangat panik, barangkali darah sudah tak lagi mengalir dengan lancar ke sekujur tubuh mereka. Keduanya sudah macam mayat hidup berjalan, pucat pasi macam baru keluar dari es.

”Ini rumah Nu’ai?” Lelaki yang berbadan jangkung bertanya setelah dibukakan pintu. Kawannya hanya berdiri di halaman, menatap kosong ke kejauhan.

”Iya. Tapi Uda sedang tidak ada di rumah. Apakah ada perlu mendesak?” Perempuan itu menggendong bayinya yang masih menangis.

”Begini,” ujarnya ragu-ragu, beberapa kali lelaki itu menjilat bibir untuk memastikan yang diucapkannya benar. ”Ikutlah dengan kami, bawa pakaian seperlunya sekarang juga. Bawa juga kain panjang.”

Perempuan itu tersentak seketika, bayangan suaminya terlintas. Kain panjang? Bukankah kain panjang hanya dibawa untuk orang mati? Allah … perempuan itu menjerit tiba-tiba, tenaganya hilang bagai disedot puluhan pipa mesin dompeng sekaligus. Amira nyaris terlepas dari pangkuan ibunya jika saja lelaki itu tidak sigap menangkap. Namun ajaibnya, beberapa saat kemudian perempuan itu berdiri dengan tegap, entah tenaga dari mana dia dapatkan. Yang pasti setelah itu dia berujar; ”Baik, tunggulah sebentar, aku akan berkemas. Di rumah sakit mana suamiku sekarang?”

Di rumah sakit umum daerah lelaki itu masih mengatupkan mata. Hingga malam menjelang subuh, kala perempuan tangguh di sampingnya terus melantunkan doa-doa, dia baru tersentak dan terduduk seketika. Infus tercabut dari tangannya, mesin ambulatory EKG yang berada di sisi kiri atas berdering keras seketika, garis-garis hijau yang senantiasa turun naik dengan pelan tiba-tiba menyentak cepat membentuk bukit dan jurang yang sangat dalam. Alat itu makin kencang bunyinya saat lelaki di atas ranjang menarik napas sedalam dan sekeras yang dia bisa. Matanya nyalang, lantas dia menatap bininya yang berlinang air mata. Nu’ai tersadar dan mengucap istigfar berkali-kali, dia memeluk bininya penuh sukacita. Namun saat menanyakan keadaan sahabatnya, perempuan itu menggeleng lemah.

”Innalillahi wainna ilaihi rajiun …”

Hanya dia yang selamat. Media dengan cepat meliput, berdesak-desakan dengan tamu yang ingin membesuk, dokter sampai meneriaki mereka sebagai orang-orang tak tahu adat.

Namun beberapa hari kemudian, tersiar bisik-bisik aneh yang dibawa burung kalau kematian lelaki bercelana joger itu adalah sengsara membawa nikmat.

”Anaknya yang pertama, itu adalah hasil di luar nikah. Kalaupun dia hidup, tetap tidak akan bisa menikahkan kelak. Namun jika meninggal, setidaknya sang anak tidak akan tahu dan pasti wali hakim yang akan menikahkan. Itulah untungnya!”

Nu’ai menelan ludah, tidak di desa tidak di kota, orang-orang tetap saja sama; sama-sama busuk! (*)

—

HASBUNALLAH HARIS : Dilahirkan di Pakan Selasa, Kab Solok Selatan. Saat ini tengah menyelesaikan pendidikan di UIN Imam Bonjol Padang.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 28 April 2024

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme