Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Makelar Bandit Tolchopo oleh Beri Hanna

Posted on Ming, 19 Mei 2024

Saya baru saja selesai mandi ketika Jorge datang. Badan dan rambut saya masih basah.

”Tuan, ini mendesak,” katanya setelah mendobrak pintu rumah yang sebetulnya tidak saya kunci.

”Ya. Kabar apa yang kaupunya, Jorge? Aku harap ini terdengar lebih buruk dari pintu rusak!”

JORGE melihat ke arah pintu. ”Maaf soal itu, Tuan,” katanya, kemudian melanjutkan kalimatnya dengan terbata-bata. ”Mereka datang. Dari jauh aku lihat mereka mengisi peluru pada pistol yang mereka bawa. Apa yang harus aku lakukan?”

Siapa yang dimaksud Jorge dengan ”mereka” adalah para Bandit Tolchopo. Memang saya telah menerima surat beberapa hari lalu, yang berisi permintaan sepuluh ekor sapi untuk sebuah pesta bujang. Bandit Tolchopo dikenal sebagai malaikat pencabut nyawa yang kerap meresahkan.

Kabar itu terdengar di mana-mana, hingga tiba di kampung kami; di kediaman saya. Mereka kerap berbuat sesuatu tanpa berpikir panjang. Beberapa orang percaya, barang siapa yang telah menerima surat dari mereka, kemudian tidak memenuhi atau malah dengan sengaja tidak menggubris, sesuatu yang buruk dapat saja terjadi.

Mereka telah lama ditakuti. Banyak orang pasrah menghadapi bandit ini. Para pebisnis, termasuk pedagang kecil, selalu merugi dengan adanya pungutan liar yang bermacam-macam. Baik uang, peliharaan, atau apa pun yang mereka inginkan. Namun, dengan semua fakta itu, saya pikir Bandit Tolchopo bukanlah masalah besar seperti yang dipikirkan kebanyakan orang.

Sejak kecil, saya tidak pernah diajarkan untuk melafalkan kosakata resah, takut, mohon ampun, dan sejenisnya. Orang tua saya mati ditembak di hadapan saya. Itu pemandangan yang tak pernah terbayarkan ketika saya berusia enam atau tujuh tahun. Peristiwa itu terekam kuat, hingga saya mendendam pada pembunuh dan membalas dengan cara yang sama di tahun mendatang.

”Pertama-tama, perbaiki pintu itu. Kemudian terima mereka dengan tersenyum. Dan jangan lupa buatkan mereka minuman,” kata saya.

”Tuan. Apakah Anda lupa siapa Bandit Tolchopo?”

”Saya tahu dan tidak lupa. Tetapi lakukan saja apa yang saya katakan. Saya butuh waktu mengeringkan rambut!”

Saya bergeser menuju kamar dan melupakan Jorge.

Apakah ia akan melakukan apa yang saya perintahkan? Saya tidak terlalu memikirkannya. Saat ini saya tidak ingin mendengar langkah kaki, gebrakan meja, atau suara tembakan, dan teriakan memohon ampun. Saya hanya ingin tenang dan mengeringkan rambut.

Mungkin, waktu yang dibenci semua orang adalah menerima tamu yang tak diinginkan. Kita bisa saja bersikap ramah, tetapi itu hanya bagian permukaan. Dari dalam, kita tetap membenci semuanya dan segera ingin melepaskan diri dari situasi yang rumit itu. Saya harap Jorge tidak mengerti soal ini dan dengan begitu ia dapat memperbaiki pintu tanpa gangguan. Tetapi apakah Jorge bisa mengatasi para bandit? Itulah pikiran yang mengganggu selagi mengeringkan rambut.

Saya pikir, Jorge memang kurang bisa diandalkan. Pada suatu waktu, saya pernah perintahkan dia untuk mencuri vodka. Namun yang dibawa kepada saya malah wiski.

”Apa bedanya vodka dan wiski, Tuan? Kalau keduanya sama-sama memabukkan,” tanya Jorge saat itu. Saya tidak pernah marah kepadanya karena saya tahu dia sedikit idiot. Ada sesuatu yang salah di dalam kepalanya. Atau sesuatu yang bergeser dari tempat seharusnya.

Tetapi kali ini, saya mau tak mau, harus yakin dan tidak yakin, dia dapat mengatasi para bandit. Dan pada akhirnya saya mendengar juga ketukan pintu. Kemudian saya dengar suara langkah kaki, diikuti ancaman, dan napas yang terengah-engah. Tiba-tiba saya teringat kejadian pembunuhan orang tua saya. Ketika saya keluar dari kamar, mereka ditembak dua kali dan tak tertolongkan.

”Jorge, saya tahu siapa kamu! Karena saya memang tahu semua orang di sini. Bukankah saya sudah mengirimkan surat? Apakah Tuanmu membaca surat saya dengan baik?” saya dengar suara itu.

”Kalau dia membaca surat itu, mengapa dia tak segera mengutus kau untuk mengirimkan sepuluh sapi ke tempatku? Jaraknya tak terlalu jauh dari sini. Hanya melewati dua desa. Jorge, aku kenal desa ini sejak lama dan aku tak pernah salah menilai soal ketaatan semua orang kepadaku. Inilah yang membuatku curiga, jangan-jangan, kau telah menggelapkan sapi-sapi itu? Terkutuklah kau, Jorge!”

Saya dengar jelas percakapan mereka. Termasuk apa yang dikatakan Jorge. Bahwa dia tidak menerima surat apa pun, dan jangan-jangan, anak buah para banditlah yang telah menggelapkan surat sebelum dia.

”Kau pintar sekali dan terkesan setia. Bagus, bagus. Tadinya aku ragu. Tapi sepertinya Tuhan sedang kesepian dan membutuhkan seorang teman. Kau siap untuk itu, Jorge?”

Saya menduga Bandit Tolchopo sebentar lagi akan menembak Jorge. Mungkin dia akan mati lebih cepat, tetapi apalah yang bisa dilakukannya? Saya meragukan pikiran buruk dan cepat merasa senang karena saya tidak mendengar rengekan dari Jorge. Saya pikir dia telah siap untuk itu. Mati di tangan seorang bandit bukanlah sesuatu yang buruk. Saya pernah memberi tahu Jorge bahwa kematian terburuk hanya terjadi jika kita tak pernah mengetahuinya. Semacam terjadi ketika kita tidur atau karena kekonyolan, terkelabui oleh sesuatu di luar kendali.

Saat ini rambut saya sudah mulai mengering, tetapi saya belum mendengar suara tembakan. Bahkan saya tak mendengar suara persitegangan apa pun di luar. Suasananya mendadak menjadi sunyi ketika saya memeras rambut dengan handuk. Dan kesunyian membawa saya pada kebisingan dan ingatan-ingatan buruk. Saya pernah membaca ini di buku-buku terkenal, kesunyian adalah kebisingan terbesar.

Tentang sesuatu yang saya benci, penembakan orang tua yang tak terhindarkan terjadi dalam beberapa detik saja setelah saya keluar kamar. Mereka roboh begitu saja. Semua segera melintas tanpa ancang-ancang dalam pikiran saya saat ini. Dan tentu saja, saya tak ingin mengalami peristiwa yang sama untuk kali kedua.

Ketika saya keluar dari kamar, Jorge masih terlihat santai berhadapan dengan Bandit Tolchopo. Bandit lain mengarahkan pistol tepat ke kening Jorge. Dan Jorge tak sedikit pun berkedip.

Melihat cara mereka memegang pistol, saat itu saya berpikir, sesuatu yang saya benci sepertinya takkan terjadi saat ini. Terbukti, beberapa detik, kemudian berlalu sesuai tebakan saya.

”Jorge, kenapa tidak buatkan minuman untuk para tamu? Saya tidak lihat ada gelas di atas meja!”

”Tuan, aku tidak bisa membuat minuman dengan senjata mengarah ke keningku.”

”Senjata itu hanya mengarah ke keningmu. Bukan meledakkan keningmu!”

Bandit Tolchopo menurunkan tangannya dari jidat Jorge dan segera melihat ke arah saya. Saya persilakan dia dan ketiga anak buahnya duduk.

”Saya kira kalian berjumlah lebih dari sepuluh,” kata saya tenang.

”Ya. Tapi apa yang kaulihat? Saya tegaskan, maksud saya kemari tidak untuk beramah-tamah!”

”Tentu saja saya tahu itu. Tapi beginilah keadaannya. Saya punya puluhan sapi dan di antaranya terserang penyakit cacing dan cacar. Apakah Anda tetap menginginkan sapi-sapi itu? Inilah yang membuat saya berpikir panjang dan tidak memenuhi permintaan Anda seperti dalam surat.”

Bandit Tolchopo berdiri diikuti ketiga anak buahnya. ”Anda tahu siapa saya?” katanya.

”Ya. Anda Tolchopo, malaikat pencabut nyawa. Tapi apa yang saya dapat setelah sapi-sapi itu saya serahkan?”

”Keselamatan. Dan tentu saja, kehidupan yang tenang,” katanya, terdengar seperti menjanjikan.

”Baiklah. Sepertinya sepadan dengan yang akan saya berikan.”

”Ya. Begitu terdengar menyenangkan.”

”Tapi, tunggu. Bagaimana kalau lima?” tanya saya membuat wajah Bandit Tolchopo tegang. ”Lima yang terbaik dan bebas dari penyakit cacing serta cacar.”

Dia menatap saya, lalu menoleh ke anak buahnya. Mereka berbisik dan tidak lama kemudian dia berkata, ”Hanya lima yang sehat?”

”Hanya lima yang tak tersentuh penyakit,” jawab saya meyakinkan.

Mereka kemudian mengangguk setuju.

Kami tidak berjabat tangan setelah itu. Tetapi sepakat dengan apa yang kami bicarakan. Para bandit kemudian meninggalkan rumah tanpa menenggak minuman yang disajikan Jorge. Saya pikir itu kebiasaan buruk para bandit yang tidak tahu tata krama saat bertamu.

”Tuan, apakah aku harus mengantarkan lima sapi itu ke mereka?” tanya Jorge dan dengan cepat saya menjawab tidak. Saya katakan pada Jorge, bandit tidak pernah melakukan negosiasi. ”Komplotan bandit hanya tahu memeras dan menembakkan pistol! Dan apa yang ditunjukkan Bandit Tolchopo barusan adalah penyelesaian ala makelar. Karena itu, mereka lebih pantas dibayar upah seorang makelar ketimbang bandit.”

”Berapa upah makelar, Tuan?”

”Saya tidak tahu, Jorge. Tetapi untuk makelar seperti mereka, saya rasa pantas dibayar lima potong daging sapi busuk!”

”Empat saja, Tuan. Saya pikir empat cukup. Masing-masing pantas mendapat satu potong daging busuk.”

Saya dan Jorge tertawa.

Kemudian kami menyiapkan daging sapi busuk serta menggali empat lubang sebagai tempat tujuan kami mengantarkan daging. Ketika semua siap dan gerimis turun, kami bergerak cepat dan tak banyak berbicara. Semua orang tahu bagaimana ini berakhir. (*)

—

BERI HANNA : Penulis dan arsiparis liar

sumber : JAWAPOS, Minggu, 19 Mei 2024

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme