Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Angin Muher

Posted on Sab, 25 Mei 2024

Du’a Limek tengah menjerang air ketika angin muher yang kejam mengetuk ubun-ubun rumahnya. Rumah setengah bata merah berdinding kayu itu terguncang bagai ayunan. Tetapi, Du’a Limek terus menatapi tungku api. Butiran keringat mengucur dari keningnya. Debu kelabu terbang mengangkut sisa-sisa arang. Ia tak beranjak keluar.

ANGIN itu muncul dari hutan seluas lautan di belakang rumahnya. Sebagian hutan telah kena babat dan menyisakan pohon-pohon besar yang menunggu alat berat. Mulanya angin muher melingkari cecabang pepohonan itu, tetapi kemudian menerjang ke tengah perkampungan. Kutukan leluhur, perempuan itu membatin.

Sebelumnya, dia telah memperingatkan orang-orang kampung agar menolak pembukaan hutan. Ketika itu mereka berkumpul di pelataran kapela untuk menyambut utusan misi. Du’a Limek mengatakan itu tanah komunal karena ada tanda dari puaknya. Tetapi, para pemangku adat membantahnya mentah-mentah. ”Hukum itu tidak lagi berlaku,” ketus seorang tana pu’an.

”Saya tetap punya hak,” Du’a Limek menantangnya.

”Kau tidak mendukung gereja?”

”Hutan itu milik leluhur.”

Sekelebat dia mengingat kembali pesan suaminya, seorang kapitan yang pada akhir hidupnya membangkang Belanda. Bahwa tanah-tanah di kampung tidak boleh diserahkan kepada siapa pun. Berbulan-bulan suaminya itu terserang penyakit aneh. Tubuhnya bilur-bilur dan berubah nanah; meninggalkan bau busuk. Du’a Limek tahu, kematiannya adalah kutuk. Lelaki itu telah mengkhianati kampung dengan menjadi sekutu penjajah.

Aroma nyala lilin di hadapan bingkai foto suaminya tiba-tiba menusuk hidungnya. Angin masih perkasa, nyaris menerbangkan benda-benda. Du’a Limek mengendus perasaan yang lain dari harum lilin. Dia bergerak limbung kaku ke pojok batu doa.

”Sekali lagi saya sudah beri tahu,” katanya usai membuat tanda salib. ”Tetapi, hutan itu sudah digusur.”

Lalu, dia menceritakan bagaimana para tetua kampung termakan bujuk rayu orang-orang misi. Mereka dijanjikan kekayaan, perabot rumah tangga, bak air minum, dan sekolah untuk anak-anak. Demi nama Tuhan, semoga kalian selamat, begitu kata pastor utusan, sebagaimana diteruskan seorang tetangga.

Awalnya, orang-orang itu ikut menolak rencana tersebut. Mereka pernah membudidayakan kapas, tetapi perusahaan Belanda yang menyediakan benih tiba-tiba gulung tikar. Penduduk meminta ganti rugi dan malah mendapatkan peluru yang keluar dari bedil.

”Mungkin orang-orang kulit putih kali ini menggunakan agama,” Du’a Limek menatap ke suaminya. ”Seperti ratusan tahun lalu?”

”Saya bersuara atas nama suami saya,” kata Du’a Limek meneruskan pendapatnya ke tujuh perwakilan kampung dalam tenda pertemuan di depan kapela itu. Itulah kesempatan terakhirnya setelah berminggu-minggu tak ada kesepakatan soal pelepasan hutan.

Tetapi, Du’a Limek hanyalah seorang perempuan –sekalipun istri kapitan– dan dianggap seharusnya berada di dapur mengurus makan-minum. Di kampung kekuasaan tertinggi tetaplah dipegang para tana pu’an –yang posisinya sejajar dengan penatua– sehingga sulit dibedakan siapa menjalankan status apa dan semuanya laki-laki yang tengah duduk di depan itu.

”Suamimu mati karena kebodohannya sendiri,” sindir seorang tetua bertampal mata hitam.

”Makanya kita jangan bodoh supaya tidak mati,” Du’a Limek menanggapnya.

”Lidahmu lancang sekali, seperti butuh disentuh,” seseorang yang tengah menggenggam salib Kristus turut menyembur.

Hati Du’a Limek seakan kena sayat. Tenggorokannya tercekat. Seandainya ki’at tersampir di balik sarungnya, dia pasti telah menyembelih lelaki lagak suci berbadan babi bunting itu. Dia membenci para perwakilan tersebut. Mereka punya watak sama dengan orang Belanda. Dia membenci siapa saja.

Ketika utusan misi Katolik itu datang, Du’a Limek telah beranjak pulang. Batang-batang kakinya menggerus tanah, beradu dengan rerantingan busuk, menuruni bukit kecil menuju rumahnya. Dia merasa nasibnya seperti ranting-ranting itu; tercampakkan, kaku, dan tak berguna. Tetapi, sekiranya dia telah menyampaikan peringatan.

Memang semenjak Belanda mengambil alih pulau itu dari Portugis, undang-undang baru segera diberlakukan. Tanah-tanah yang tidak jelas pemiliknya dikelola oleh negara dan tanah-tanah yang telah ada pemiliknya dapat disewakan. Itu aturan janggal bagi penduduk. Telah lama mereka mengerjakan tanah secara bersama dan pembagiannya mengikuti garis kesukuan tanpa hak milik. Kini mereka menghadapi orang kolonial yang licik. Orang-orang itu tahu, kapan waktunya membujuk dan kapan menghasut penduduk untuk melancarkan kepentingannya.

***

Sejak malam selepas pertemuan itu, tidur Du’a Limek tak pernah nyenyak. Mimpi-mimpi aneh menderanya. Kadang dia bersitatap dengan wajah suaminya. Kadang telinganya mendengar gemerisik semak belukar. Beberapa kali dia terbangun. Namun, situasi baik-baik saja dan dia kembali tertidur.

”Semuanya terjadi pagi ini,” tutur Du’a Limek setelah terjaga dari suatu malam yang singkat, seakan telah menemukan jawaban.

Sebab, dia barusan mendengar irama orkes kampung dan dentang lonceng dari arah kapela. Bebunyian itu mengiringi sorak-sorai penduduk serta aroma tuak menggayuti udara. Itu resepsi yang meriah sekali. Orang-orang misi menanggung tetek bengek urusannya. Perusahaan kelapa milik Vikariat Apostolik pun resmi beroperasi.

Perempuan itu tidak hadir di sana meski telah diberi tahu. Maka, usai berdoa keluarlah dia dari rumahnya, lantas memandangi hutan leluhur. Terdapat jalan setapak yang dibuat kaki-kaki penduduk menuju jejeran pohon meranggas. Desau angin dan dengus binatang hutan mengalir ke gendang telinganya. Dia menyelaraskan napasnya. Matanya melemparkan tatapan pedih.

Kemudian, dia membereskan berbagai perkakas di halaman rumah itu. Dia memindahkan peralatan dapur ke dalam rumah. Abu bekas pembakaran dia guyur dengan air. Lantas, sembari menunggu kedatangan orang-orang misi, entah kapan mereka mulai merambah hutan tersebab keriuhan di kapela masih berlanjut, dia segera menata perapiannya di pojok ruang belakang di dekat para-para penyimpanan hasil kebun. Dia akan memasak di situ hingga seterusnya dan mengurangi aktivitas di luar rumahnya.

Dalam seminggu perusahaan Vikariat Apostolik itu mulai membuka lahan. Puluhan hingga ratusan lelaki di bawah pimpinan seorang petugas telah membikin patok, menebangi pohon-pohon kerdil, dan membakar habis semak belukar. Tiga kendaraan penarik bajak bermesin uap muncul ibarat kerbau liar; membidas dengan ganas gumpalan tanah. Sekejap lembah kelihatan terbuka, seolah menandaskan keyakinan bahwa tanah itu layak bagi perkebunan kelapa.

Namun, ada kayu-kayu hidup, tinggi dan besar, yang belum tumbang. Du’a Limek berkata dalam hati seraya mengintip lewat celah kain rombeng yang menutupi ventilasi.

Dia tahu baik riwayat pepohonan itu. Suaminyalah yang menceritakannya. Pohon-pohon besar mengandung kesuburan. Akar-akarnya menangkar mata air. Karena itulah blupur rimun dulu mendirikan kampung dan mengerjakan huma di sekitarnya. Karena itulah altar batu dibuat sebelum para misionaris menganggapnya sembah berhala.

”Pengerjaannya ditunda,” begitulah desas-desus yang sempat dia dengar. ”Pohon-pohon itu membutuhkan alat yang lebih berat.”

Tetapi, Du’a Limek ragu. Sebaliknya dia tahu, tanaman-tanaman tersebut justru menolak takluk. Toh dia telah menyaksikan sendiri nasib suaminya usai menghanguskan mahe di kaki-kaki pohon. Lelaki itu hendak menyunggi setia pada orang Belanda. Namun, setelah pulang perang, tulak merambati tubuhnya pelan-pelan. Maut menjemputnya lebih cepat. Tidak peduli pada penyesalan dan sikap balik membangkang yang datang terlambat.

Maka, setiap kali keluar rumah, mengenakan kerudung hitam belasungkawanya, Du’a Limek dengan gelagak mata waspada kerap menyelidiki hutan yang mulai tergusur itu. Dia menebak-nebak berapa banyak tanaman yang bertambah remuk. Namun, pohon-pohon berbatang tinggi-besar masih saja berdiri, bahkan setelah dia kembali dari tempat penukaran barang ataupun mengolah kebun baru di bukit seberang.

***

Hari-harinya kemudian –seperti yang telah dia lakukan– lebih banyak dihabiskan di dalam rumah itu. Lampu minyak dan lilin senantiasa berkedip menjelang pagi dan malam. Kepulan asap keluar lewat cela kayu dan rongga pintu. Dia kini merasakan suasana berbeda. Tidak terhirup lagi aroma bunga liar dan sulur tanaman. Kelepak burung-burung yang kerap mematuk tanah menghilang begitu saja.

Itu adalah masa-masa puncak kesendirian baginya. Sekonyong-konyong dia mempertanyakan kembali kehadiran suaminya. Lelaki itu seperti ikut lenyap semenjak upacara pelepasan hutan. Mimpi-mimpinya selalu kosong. Padahal Du’a Limek membutuhkan pertanda; semacam kekuatan agar bisa tetap tegar. Dia juga masih punya banyak cerita, entah direkam dari tetangganya atau dilihatnya langsung, untuk disampaikan ke suaminya itu.

Mungkin suaminya benar-benar meninggalkannya. Mungkin lelaki itu marah kepadanya karena tak mampu menggagalkan pembukaan hutan itu. Namun, dia telah berusaha sekuat upaya –seharusnya ia tahu itu– dan sekarang memetik pengucilan demi pengucilan. Sedikit lagi hutan itu habis. Dia tidak bisa menjadi pahlawan; gagal total menebus dosa pecundang yang pernah suaminya lakukan.

”Saya sudah tidak sanggup,” begitulah Du’a Limek selalu berdoa sepanjang waktu dalam rutinitasnya yang tak lagi biasa.

Tepat pada masa-masa itulah, suatu pagi, usai memasang lilin di tatakan batu tempat suaminya bersimpuh, saat tengah menjerang air, perempuan itu kedatangan angin muher yang tiba-tiba. Pikiran-pikiran yang hendak dikuburkannya selintas menyeruak. Ingatannya kembali terbentang sejak hari pertama rencana penjualan hutan itu beredar.

Dengan ketenangan yang sulit digoyahkan, perempuan itu terus saja berdoa. Sementara di luar, orang-orang mulai berteriak, entah mengumandangkan apa, tetapi seperti merintih. Sebab, angin itu telah berubah menjadi badai raksasa. (*)

MAUMERE, 2023

sumber : JAWAPOS, Sabtu, 25 Mei 2024

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme