Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Aswatama Pulang oleh Gunawan Maryanto

Posted on Ming, 08 Sep 2013

“AKHIRNYA kuda itu datang, Anakku. Menolongku.”

Aswatama menghela napasnya. Panjang. Di kejauhan terdengar ringkik kuda dari sebuah padang—seperti sebuah panggilan pulang. Cukup. Kalimat itu sudah menjawab seluruh pertanyaannya. Ia tak memerlukan kelanjutan cerita itu. Cukup! Ibuku adalah seekor kuda! Jadi benar kata tetangga. Jadi benar kata teman-teman sekolahnya dulu. Krepi bukan ibu kandungku. Tubuh Aswatama bergetar. Kebenaran itu membuatnya gentar. Matanya menatap tajam tubuh bapaknya yang tergolek di ranjang. Tubuh lelaki tua itu tampak lebih kecil dari yang seharusnya. Mulutnya terbuka seperti hendak melanjutkan cerita. Tapi tak keluar suara apa pun dari mulut itu.

Aswatama pun tak sanggup berkata apa-apa. Ia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya. Sekuat-kuatnya. Menggenggam kekosongan yang tiba-tiba menguasai seluruh dirinya. Kekosongan yang menghapus kehadirannya pelan-pelan. Sekali lagi ia menghela napasnya. Seperti berusaha mengisi tubuhnya dengan udara atau apa saja. Ia tak mau hilang. Tapi tak ada yang datang. Bahkan seekor kuda.

“PULANGLAH segera. Bapakmu sekarat di rumah sakit.” Suara perempuan itu datar. Hampir-hampir tanpa tekanan. Tanpa tanda baca. Aswatama tak bisa membaca perasaan apa pun dalam percakapan telepon yang begitu singkat itu. Bukan percakapan sebenarnya. Aswatama bahkan tak sempat mengatakan sepatah kata apa pun. Telepon di seberang sudah ditutup saat Aswatama menyadari bahwa dirinya telah terdiam begitu lama sambil menempelkan ponsel di pipinya. Ia terdiam seperti patung Dewi Windradi di pusat kota. Patung tersedih yang pernah disaksikannya—di tengah kolam dengan tiga ekor kera yang sedang berenang mengitarinya.

Konon ketiga ekor kera itu adalah anak dari sang Dewi yang terkutuk jadi kera karena berebut Cupu Manik Astagina. Tapi Aswatama tak sedang bersedih sepert Dewi Windradi yang tengah melihat ketiga anaknya menjadi kera. Aswatama tak tahu perasaan macam apa yang telah menguasainya. Tapi yang jelas bukan kesedihan. Ia tak bisa menamai perasaannya yang lempang dan lengang seperti jalan-jalan di Sokalima yang telah 20 tahun ditinggalkannya. Dan kini sebuah kabar dengan nada yang datar memanggilnya pulang ke Sokalima.

Krepi, ibunya, menelepon. “Pulanglah segera.” Krepi. Aswatama terbayang wajah ibunya—perempuan yang selama bertahun-tahun dianggapnya sebagai ibu. Di dadanyalah ia kerap menghabiskan airmatanya ketika masih bocah, saat teman-teman sepermainannya mengolok-olok sepasang kakinya yang mirip kaki kuda. “Aswa anak kuda! Aswa anak kuda!” Aswatama berlari secepat kuda mencari ibunya. Di rumah, di pasar, di sawah, di jalan atau di mana saja. Ia mencari dada Krepi. Dan menangis di sana. Dada Krepi adalah rumahnya. Tempat paling aman dan nyaman di seluruh dunia. Hingga Aswatama beranjak remaja, dada Krepi adalah dunianya. Apakah dada itu masih hangat seperti saat terakhir ditinggalkannya? Masih digelayuti sepasang payudara yang putih dan lembut? Bau tubuh Krepi kembali datang mengurung Aswatama. Dan tanpa bisa dicegah kemaluannya menegang.

“Ibu… Krepi…” Bibir Aswatama bergetar membisikkan namanya. Malam jahanam itu kembali datang mengunjungi Aswatama. Sebuah malam di mana ia sama sekali tak bisa memejamkan mata. Hatinya gelisah tanpa alasan. Seperti ada yang terus-menerus mengganggunya. Umurnya hampir 17 tahun waktu itu. Masih duduk di bangku kelas 3 SMA. Dengan malas ia keluar kamar setelah yakin tak akan bisa tidur malam itu. Ia melangkah menuju beranda. Mungkin dengan merokok di teras sambil menikmati malam rasa gelisahnya akan berkurang.

Saat itulah ia dengar isak tangis seorang perempuan dari kamar orangtuanya. Aswatama berjingkat pelan menuju kamar mereka. Isak tangis itu makin jelas terdengar. Pintu kamar separuh terbuka. Aswatama merapatkan tubuhnya ke dinding lalu bergerak pelan mendekati pintu kamar. Isak tangis itu makin mengeras seperti menyambut kedatangannya. Suara tangis Krepi, ibunya. Aswatama makin gelisah. Sesuatu mungkin baru saja terjadi.

Ia menajamkan pendengarannya. Hanya tangis ibunya yang terdengar. Ia sama sekali tak mendengar tangis Durma, bapaknya. Ke mana dia? Aswatama bertanya-tanya. Atau jangan-jangan sesuatu telah terjadi pada bapaknya. Masih dengan penuh kehati-hatian Aswatama melongok ke dalam kamar orangtuanya. Dalam remang cahaya ia menangkap sosok ibunya. Duduk di tepi ranjang. Membelakanginya. Bapaknya tak ada. Hanya ibunya sendirian. Duduk, tertunduk dan menangis.

“Ibu…” Aswatama berbisik memanggilnya. Tangis itu seketika terhenti. Krepi menoleh ke arah pintu kamar dengan kaget. Dengan gugup ia menelan airmatanya begitu tahu Aswatamalah yang berdiri di ambang pintu. “Oh, kamu, Aswa. Masuklah.”

Aswatama buru-buru masuk dan memeluk Krepi. “Ibu kenapa nangis? Bapak ke mana?”

Krepi kembali terdiam. Airmatanya kembali mengalir deras seperti Bengawan Silugangga. Aswatama mengguncang-guncang tubuh ibunya, “Kenapa, Bu?”

Krepi tetap tak menjawab. Isak tangisnya kembali terdengar. Lebih keras. Lebih panjang. Ia memeluk Aswatama sekencang-kencangnya. Aswatama gugup. Jantungnya berdegup dengan cepat. Perempuan yang tengah memeluknya itu terasa bukan ibunya. Aswatama seperti tengah memeluk seseorang yang baru saja dikenalnya. Seorang perempuan yang membuat seluruh bulu tubuhnya meremang. Tubuh Krepi yang terbalut gaun tidur tipis begitu menggetarkan Aswatama. Aswatama menatap mata Krepi. Krepi menatap mata Aswatama. Dan bibir keduanya pun bertemu.

Entah berapa lama mereka berdua saling pagut. Saling gigit dan berguling-guling di ranjang. Hingga kemudian Aswatama menatap mata kiri Krepi dalam-dalam. “Banyu suci pitung prakara, sadurunge tumetes, manggon aneng dhangkeling rikinaningsung, nuli ingsun tetesake saka pucuking braja, manggon ana cupu kang ana tengah dadi rasa mulya, tumibaa manungsa kang mulya.”(1)

Krepi menjerit menerima kedatangan Aswatama dalam tubuhnya. “Ae, rahmu. Ae, rahku. Ae, rasamu. Ae, rasaku. Rasamu kalah kaya rasaku.”(2) Ia menghirup napas Aswatama dalam-dalam. “Masuki aku, Aswa! Masuki tubuhku!” Dan kemudian tak ada suara lagi. Sokalima diam seribu bahasa. Jalanan lengang ditinggalkan para pejalan. Serangga-serangga malam masuk kembali ke dalam liangnya. Awan hitam menghapus bulan dan bintang-bintang. Sebuah malam yang kosong tanpa penghuni.

Paginya Aswatama pergi meninggalkan Sokalima untuk selama-lamanya. Malam itu adalah malam terakhir ia bertemu dengan Krepi. Tak akan ada malam-malam yang lain dengan Krepi. Dengan ibunya sendiri. Aswatama berusaha lari sejauh-jauhnya. Dikejar rasa bersalah yang berlebihan. Dua puluh tahun ia berhasil meninggalkan Krepi. Hingga beberapa saat yang lalu, perempuan itu memanggilnya pulang.

SEPANJANG jalan menuju Sokalima Aswatama berusaha menggambar wajah bapaknya. Sekena-kenanya. Dua puluh tahun mungkin telah mengubah banyak hal. Tapi mungkin juga tidak. Durma barangkali masih tetap seperti saat terakhir ditinggalkannya. Tak ada yang berubah. Durma tetap seorang guru olah raga di sebuah SD yang bertangan dingin dan tak banyak bicara. Seorang bapak yang begitu mencintai anaknya lebih dari segalanya. Seorang lelaki dengan tubuh yang cacat dan penuh luka. Dan kini sedang terbaring sendirian di rumah sakit. Menanti ajalnya tiba.

Ingatannya melayang pada sebuah petang. Pada sebuah pelajaran memanah di tanah lapang. Aswatama, yang berumur lima tahun saat itu, memegang busur panjang melebihi tinggi tubuhnya. Ia sudah memasang sebatang anak panah dan mengarahkannya pada sebuah sasaran; orang-orangan sawah dengan wajah yang ditempeli gambar seseorang yang tak dikenalnya.

“Tatap mata orang itu, Aswa. Dan lepaskan panahmu saat kedua mata itu telah menjadi satu di matamu!” Durma berdiri di samping anak lelakinya satu-satunya itu. Aswatama kecil menatap sasarannya. Menatap mata seseorang yang tak dikenalnya.

“Siapa dia, Pak? Gambar siapa yang Bapak tempel di sana?”

“Seseorang yang paling jahat di muka bumi ini. Seseorang yang pantas untuk mati. Tatap matanya, Aswa, jangan lepaskan!”

Aswatama menatap sepasang mata itu. Ia tak menemukan pancaran kejahatan di sana. Ia justru menemukan cahaya yang begitu lembut dan penuh dengan kasih sayang. Wajah seorang bapak yang begitu teduh.

“Tapi siapa dia? Apa kejahatan yang telah dilakukannya?”

“Lihat baik-baik bapakmu. Kamu akan tahu kejahatan apa yang telah dilakukannya!”

Aswatama menoleh tanpa menurunkan busurnya. Ia menatap tajam bapaknya. Berusaha mencari jawabannya di sana. Di hadapannya tegak berdiri seorang lelaki dengan kaki pincang, tangan pengkor dan wajah yang rusak. Aswatama terhenyak seolah baru saja menyadari keadaan tubuh bapaknya yang porak poranda itu—seperti sebatang pohon randu rusak yang masih tegak sehabis dihantam badai bertubi-tubi. Selama ini ia menganggapnya sebagai sebuah kewajaran, sebuah kelaziman, bahwa bapaknya memang ditakdirkan dalam keadaan demikian. Dan demikianlah bapaknya seharusnya.

“Tatap lagi mata itu. Dan lepaskan panahmu sebanyak bisa kamu mulai sore ini. Kelak jika saatnya telah tiba kamu akan berhadapan dengannya. Namanya Sucitra. Kini ia berdiam menjadi seorang pemimpin di Wirata.”

Aswatama terbangun dari lamunannya. Kereta tengah berhenti entah di stasiun mana. Ia melihat ke luar jendela. Ia mencari papan nama yang bisa dibacanya. Tak lama kemudian ia telah menemukannya, tersembunyi di balik kerumunan orang-orang yang berdiri menunggu keretanya masing-masing. Stasiun Banyu Tinalang.

Masih dua stasiun lagi. Aswatama melihat jam tangannya. Tepat tengah malam mungkin ia akan sampai di Sokalima dan segera bertemu dengan bapaknya. Apa yang mesti dikatakannya? Maaf telah lari dari rumah? Maaf telah menyetubuhi istrinya? Maaf tak bisa membalaskan dendam itu? Maaf karena telah jadi seorang pecundang? Di luar itu ia tak punya apa-apa yang bisa diceritakan. Sesuatu yang barangkali akan bisa membuat bapaknya bangga dan mati dengan tenang. Ia bukan Arjuna. Bukan Bima. Bekas teman-teman sekolahnya. Bekas murid-murid bapaknya yang kini telah menjadi orang-orang besar. Bahkan ia bukan Duryudana, si murid paling bego yang kini telah jadi pemimpin itu. Ia bukan siapa-siapa. Tak seorang pun mengenalnya. Meski kemampuannya setanding dengan Arjuna, ia tetap hanya seorang pecundang. Aswatama membuang wajahnya ke luar jendela kereta. Gelap. Tak ada apa-apa di luar sana.

Kereta terus menyeretnya menuju Sokalima. Membawanya kembali berhadapan dengan berbagai kenyataan. Aswatama menghela napasnya. Memejamkan mata dan mencoba tidur. Ia ingin bangun di sebuah tempat yang tak dikenalnya. Menuntaskan 6000 tahun pengembaraannya sebagai seorang ciranjiwin—hidup abadi dan tak mengenal cinta.(*)

 

Jogjakarta, 2013

Keterangan

(1). Air tujuh rupa, sebelum menetes, berdiam di dalam akarku, segera kuteteskan dari ujung pusakaku, berdiamlah dalam lubang tengahmu dan jadilah rasa mulia, jadilah manusia mulia. (Mantra Jawa sebelum bersetubuh)
(2). Aih, darahmu. Aih, darahku. Aih, rasamu. Aih, rasaku. Rasamu kalah sebagaimana rasaku. (Juga mantra Jawa sebelum bersetubuh)

 

Gunawan Maryanto giat di Teater Garasi, Jogjakarta. Buku puisinya yang mutakhir adalah The Queen of Pantura (2013).

sumber : Koran Tempo, 8 September 2013.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme