Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Selamat Ulang Tahun, Bulan yang Menggantung di Langit oleh Clara Ng

Posted on Ming, 10 Nov 2013

PESAWAT dari Singapura mendarat pada jam dua siang di landasan pacu bandara Soekarno-Hatta. Suara salah satu kru kabin menggema, memberikan laporan penutup tentang kondisi cuaca Jakarta dan mengingatkan penumpang agar tidak menyalakan telepon genggam sebelum pesawat berhenti total. Lima belas menit kemudian, Irena bersama tumpahan penumpang lainnya berjalan melewati lorong imigrasi. Telepon genggamnya bergetar.

“Mam, sudah tiba?”

“Barusan.”

“Sori, Mam, Lori nggak bisa menjemput. Banyak pasien.” Irena sudah menduganya. “Nanti Pak Rudi menunggu di luar. Lori menitip kunci apartemen sama Pak Rudi.”

Telepon dimatikan. Irena memasukkan telepon genggam di kantung bajunya. Dia berjalan dengan tenang, melewati konter imigrasi dengan mulus, dan berbelok untuk mengambil satu koper kecil di tempat pengambilan tas.

Kedatangan Irena ke Jakarta bukan karena keinginannya, tapi karena undangan dari Lia, saudara sepupunya yang menyiapkan pesta ulang tahun ayahnya yang kesembilanpuluh, yang jatuh pada dua hari lalu. Ayahnya adalah paman Irena, suami dari adik ibunya. Perayaan ulang tahun itu terpaksa diubah tanggalnya karena Paman harus melakukan cek kesehatan. Tapi tidak apa. Justru karena itu, Irena mendapatkan tiket Singapura-Jakarta pulang-pergi dengan harga lebih murah.

Di teras bandara, Irena bertemu dengan Pak Rudi, supir pribadi anaknya. Lelaki itu langsung mengambil alih koper seretnya dan membantu Irena menuju tempat parkir mobil. Barusan Irena menutup pintu mobil, telepon genggamnya bergetar lagi.

“Ren, nanti pestanya jam enam. Tapi kalau mau datang sekarang, boleh juga.”

“Aku pulang dulu ke apartemen Lori, Kak Lia.”

“Oke, terserah.” Irena nyaris menutup percakapan, tapi Lia masih melanjutkan. “Oya, hari ini kamu ulang tahun, kan? Selamat ulang tahun, Ren. Yang keberapa nih?”

“Lima-lima.”

Setelah bertukar basa-basi, telepon pun dimatikan. Irena duduk menyender di jok belakang mobil. Dia memejamkan matanya. Sudah berapa tahun berlalu sejak dia meninggalkan rumah keluarga Paman di Kebayoran Baru? Dulu waktu selesai SMA, Irena pergi ke Jakarta untuk kuliah. Dia tinggal di sana sampai menikah dengan Yogi, lalu pindak ke Depok.

Pikirannya melayang-layang. Sejak dulu, Irena tidak pernah dekat dengan saudara sepupunya walaupun mereka tinggal bersama-sama di rumah Kebayoran Baru. Lia lebih suka menghabiskan waktunya dari malam sampai subuh di antara bar dan kafe. Pekerjaannya sebagai fotografer fashion menyeret Lia memiliki gaya hidup yang tidak sama dengan Irena.

Ganjil juga ketika dua minggu lalu, Irena menerima SMS dari Lia. Saat itu Irena sedang memasak bubur untuk cucunya yang sedang tertidur di buaian. Dia sendirian di dapur. Jam sepuluh pagi, tidak ada suara apa-apa kecuali televisi yang dinyalakan dengan volume paling rendah. Anaknya bersama suaminya yang berkewarganegaraan Singapura sudah keluar sejak jam enam pagi, mengejar kereta bawah tanah MRT seperti para eksekutif muda lainnya.

Lia mengundang Irena untuk datang ke pesta ulang tahun ayahnya. Pesta kecil-kecilan, begitu katanya di SMS. Merayakan Papa yang mencapai usia sembilan puluh tahun. Bisakah Irena pulang ke Jakarta pada hari itu? Please.

Pikiran Irena terputus ketika mobil tiba di apartemen Lori di bilangan Kuningan. Irena melewati penjagaan sekuriti tanpa masalah, masuk ke lift menuju lantai dua belas. Dia membuka pintu dengan kunci yang dititipkan Pak Rudi. Keheningan apartemen langsung menyambut dirinya. Keheningan yang janggal, yang tak pernah dimiliki Irena.

Irena berjalan ke dapur, meninggalkan kopernya di sana. Tak ada suara sedikit pun dari sol sepatunya yang menyentuh marmer. Dapur bersih mengilat seakan-akan tidak pernah tersentuh. Irena berdiri beberapa menit di sana tanpa melakukan apa-apa, lalu dia berjalan ke ruang tengah. Dengung mesin kulkas terdengar lirih, cukup jelas dari tempatnya berada. Irena duduk bersandar di sofa. Dia tidak tahu apakah tertidur atau tidak, mungkin di antara itu, tapi cukup lama waktu berlalu. Matahari mulai turun di arah barat. Irena bergerak perlahan menuju kamar mandi. Saatnya merapikan diri.

PAMAN berjalan dengan bantuan tongkat di usianya yang sembilan puluh tahun. Pundaknya tidak melengkung seperti kebanyakan lelaki tua lainnya. Kepala Paman telah botak seluruhnya, meninggalkan wajah dengan tulang pipi yang tirus. Irena mengambil gelas sambil melirik Paman. Lelaki tua itu ternyata sedang memandangnya dari ujung ruangan. Sinar mata Paman tetap sama seperti puluhan tahun lalu, hangat dan maskulin. Tatapan mereka bertemu di udara. Irena meneguk air minumnya dengan tenang. Dari ujung matanya, dia melihat Paman menghampiri Irena dengan gerakan menyeret.

“Selamat ulang tahun, Ren.” Suara Paman terdengar berat, tapi usia tua membuat suara itu menjadi serak dan lebih kering.

“Selamat ulang tahun, Paman.” Irena meletakkan gelas lalu mengulurkan tangannya. Jari-jemari Paman terasa kurus dan kasar.

“Saya meminta Lia agar mengundangmu ke Jakarta, apa pun caranya. Terima kasih sudah datang.”

Irena mengangguk maklum. Pantas, Lia tidak pernah sengotot ini kepadanya.

“Sembilan puluh tahun. Apa rasanya berada di usia sembilan puluh tahun, Paman?”

Paman tersenyum, menampilkan giginya yang sangat sempurna. Irena tahu, itu gigi palsu. Ujung matanya menciptakan kerut-kerut yang tampak seperti cakar di sepanjang dahi. Dia menepuk punggung tangan Irena dengan pelan.

“Mari, kita duduk di perpustakaan.”

Irena menguntit Paman dan duduk di salah satu sofa; namun Paman bangkit dari tempat duduknya, lalu tertatih pindah ke sebelah Irena. Dia merebahkan tongkatnya di dekat kakinya.

“Apa rasanya berada di usia lima puluh lima?” tanya Paman dengan nada yang persis sama dengan yang diucapkan Irena ketika bertanya kepadanya.

Irena tidak menjawab. Dia mengangkat bahunya.

“Saya berada di usiamu ketika kamu datang pertama kali di rumah ini.” Paman berbicara dengan suara lamban. “Waktu itu, rambutmu panjang. Bergelombang. Kenapa kamu memotongnya sependek ini?”

“Karena panas.” Irena tidak mengatakan bahwa sejak usia empat puluh tahun, rambutnya sering rontok sehingga menjadi tipis. Memotongnya pendek-pendek adalah usahanya agar kerontokan tidak semakin menjadi-jadi. “Ribet kalau mengurus Alena. Dia baru bisa belajar jalan.”

“Cucumu?”

“Cucu perempuan.” Irena mengangkat jari telunjuknya. “Baru satu. Akan bertambah satu lagi di tahun depan.”

Paman tersenyum sekali lagi. “Luar biasa.” Dia terus tersenyum, namun senyumnya pelan-pelan berubah menjadi tatapan panjang ke arah Irena. Tatapan yang tak memiliki kedip. “Saya senang mendengar kamu punya cucu. Kamu bahagia?”

Irena merapatkan bibirnya dengan sedikit kaget. Apakah dia bahagia? Irena tidak tahu. Ini adalah pertanyaan yang sederhana, tapi terdengar rumit. Apakah perlu dijawab dengan sederhana? Atau tidak? Irena tidak sempat menimbang-nimbang terlalu lama. Paman memandangnya seakan-akan membutuhkan jawaban dengan cepat. Akhirnya dia mengangguk.

“Baguslah. Saya senang kamu bahagia.”

“Kalau Paman sendiri?”

“Saya?” Paman terkekeh. Bibirnya pecah-pecah di kedua ujungnya. “Di usia sembilan puluh tahun, tidak ada lagi yang bisa saya minta. Saya sudah memiliki semuanya. Tentu saja saya bahagia.”

“Bahagia dengan almarhumah Bibi?”

Mata Paman bersinar. “Bahagia,” sahutnya pendek. Ada jeda beberapa detik, sebelum dia melanjutkan dengan nada perlahan dan serak, “Bahagia juga waktu denganmu.”

Tatapan Irena menerawang. “Waktu itu saya masih sangat muda. Dua puluh tahun.”

“Ya, saya ingat. Gadis yang pintar dan cantik.”

Irena menggeleng. “Buruk rupa dan bodoh.”

Paman ikut menggeleng. Matanya tersenyum. “Sangat pintar dan cantik. Sampai sekarang.”

Irena mengangkat dagunya, tertawa salah tingkah. “Paman masih belum berubah. Masih pandai merayu.”

“Ini bukan rayuan. Saya tidak pernah salah menilaimu.”

Irena melirik ke pintu perpustakaan. Dia baru sadar, pintu itu tertutup rapat. Tamu-tamu masih berkeliaran di luar, tapi tidak ada yang datang ke perpustakaan. Ini hanya sekadar waktu. Sebentar lagi pasti ada yang sadar si ulang tahun tidak berada di antara mereka. Tatapannya kembali ke arah Paman. Dia memutuskan untuk bertanya sesuatu yang sering menghantui tidur malamnya.

“Adakah perempuan lain setelah saya?”

“Tidak ada.”

Irena tidak percaya, tapi dia memutuskan untuk percaya. Demi ulang tahun Paman. Demi ulang tahunnya. Demi tahun-tahun yang telah hilang di antara mereka.

“Bagaimana denganmu? Setia dengan Yogi, selama-lamanya?”

“Selama-lamanya.”

Mata Paman berkedip. Irena tahu, Paman tidak percaya, tapi dia tidak berkata apa-apa. Ini bukan momen kesaksian. Tidak ada yang harus percaya dengan apa yang dikatakannya.

Tangan Paman bergerak. Dia meletakkan telapak tangannya di paha Irena, lalu mengusap-usapnya dengan lembut. Jari-jari lelaki tua itu bergetar hebat. Irena tidak tahu apakah karena grogi atau penyakit syaraf di usia senja. Sentuhan itu membangkitkan kenangan yang terasa sangat jauh dan samar-samar. Waktu seakan berpindah tempat.

Irena mengulurkan tangan, menyentuh tangan Paman yang penuh dengan bintik-bintik cokelat, lalu menggenggamnya. Selama dua menit, mereka bertukar masa lalu dalam jari-jemari yang saling bertaut. Irena tahu, waktunya tidak banyak. Dia bisa melakukannya sekarang atau tidak sama sekali.

Lelaki itu rupanya memiliki semburan pikiran yang sama. Sebelum Irena bergerak, kepala Paman maju dan mencium bibir Irena. Irena balas menciumnya. Bukan sekadar mencium, yapi juga memagut. Dengan lemah lembut, Irena melekatkan dirinya ke arah Paman, memberikan kehangatan dari tubuhnya yang malam ini dipenuhi ribuan gelombang pasang.

LORI tidak datang ke pesta ulang tahun Paman. Pasiennya masih banyak dan tidak habis-habis. Irena pulang sendirian bersama Pak Rudi ke apartemen Lori yang kosong dan hening. Dia tidak menyalakan lampu ketika mendorong pintu apartemen. Cahaya bulan masuk lewat jendela, merembes di bak cuci piring.

Irena masuk ke dapur, berdiri sendirian; merasa seakan-akan baru keluar dari mesin waktu. Kepalanya berputar cepat. Jam sepuluh. Irena bersender di kulkas, merasakan dengungan listrik di punggung tubuhnya. Malam ini dia mendapat kesempatan menjadi perempuan paling kesepian di alam semesta. Namun tidak apa-apa. Kesepian adalah hadiah sempurna untuk sebuah perayaan ulang tahun. Irena mendongak, memandang bulan dari balik jendela. Selamat ulang tahun, bisiknya dari bibir yang terkatup rapat, bulan yang menggantung di langit.(*)

31 Oktober 2013

 

Clara Ng tinggal di Jakarta. Buku-bukunya yang mutakhir adalah Blackjack (novel) dan Pintu Harmonika (novel anak-anak), keduanya terbit pada 2013.

sumber : Koran Tempo, 10 November 2013.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme