Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Wajah Cinta Pertama oleh Amalia Achmad

Posted on Ming, 24 Nov 2013

CINTA pertama begitu samar-samar baginya.

Dia duduk dengan buku sketsa bersampul warna hitam di pangkuan. Buku itu terbuka menunjukkan kertas kosong. Tangan kanannya memegang sebatang pensil yang cermat diraut hingga tebal goresan grafit akan sesuai kehendaknya: tidak terlalu tebal dan tidak terlalu halus. Teh panas di cangkir dengan tangkai berukir sulur daun mengepulkan asap. Sementara ruangan itu mewangi bunga lavender.

Semua harus sesempurna keinginannya, sebab ia sedang membayangkan wajah cinta pertama.

Sepertinya wajah itu berbentuk hati dengan garis rahang lembut. Apakah rambutnya sebahu? Kalau tidak salah, matanya selalu tampak redup dinaungi alis melengkung yang seperti busur panah. Di salah satu pipinya ada cekungan kecil yang tampak setiap cinta pertama itu tersenyum.

Ya, kalau ia tak salah mengingat, seperti itulah wajah cinta pertamanya.

Pensil di tangannya mulai bekerja. Tetapi berkali-kali ia mengutuk: tak ada garis yang benar. Terlalu melebar, terlalu pendek, terlalu keras, terlalu dan terlalu. Memang kenangan akan wajah cinta pertama begitu jauh ia simpan di laci paling berdebu dalam ingatan yang jarang ditengoknya lagi. Mungkin ia perlu waktu lebih lama untuk mencari-cari. Untuk membuka lapis kenangan-kenangan satu demi satu.

Angin kering bulan Juni menepuk-nepuk pipinya, membawanya melamun lama.

Sebuah dapur. Wangi kue wafel dan kopi. Aku bersembunyi di bawah meja makan. Kaki-kaki telanjang Ibu lalu lalang. Suaranya lirih menyenandungkan sebuah lagu. Mengapa ia tidak juga menengok ke bawah meja untuk mencariku?

“Di mana anakku yang tampan, ya?”

Ah, Ibu menggodaku. Tentu ia tahu tempat persembunyianku. Aku menutup mulut, menahan geli di perut sebelum meledak menjadi gelak.

“Aduh, padahal ada kue wafel kesukaannya. Tapi di mana dia, ya? Hmm…”

Kulihat sepasang kaki Ibu yang cantik. Betisnya yang kecil terlihat kencang dan kulitnya berkilat-kilat licin. Ia berpura-pura kebingungan, kaki-kakinya lincah berpindah-pindah seperti sedang mencari sesuatu, mencariku. Tentu aku tahu, ia sedang bermain peran. Aku mengikik dari bawah meja. Ini permainan kami berdua.

Sepasang kaki yang lain datang. Kaki-kaki yang jelek. Pemiliknya menyeret-nyeret langkah dengan kasar, terhuyung-huyung dan sembarangan. Ibu diam, ia tak bergerak lagi, ia berhenti berpura-pura mencariku. Aku diam, hilang keinginan untuk tertawa. Aku menahan nafas sampai kurasa telapak tangan dingin dan agak biru. Tak kulihat wajah Ibu.

“Mas, silakan sarapannya.” Suara patuh Ibu mengingatkan aku pada pelayan restoran. Begitu dibuat-buat dan berjarak. Aku tidak suka. Ke mana hilangnya suara hangat menggoda tadi?

Kata-kata Ibu dijawab gumaman yang tak jelas dan turun naik. Aku menutup telinga. Aku tidak suka. Wangi wafel dan kopi yang enak di dapur tercampur bau laki-laki yang membawa sepasang kaki jelek itu. Aku mencium tembakau dan bau-bau aneh lainnya.

“Kopinya dingin. Heh! Ini kopinya dingin.”

“Maaf, Mas. Saya ambilkan yang panas di teko.”

“Lain kali bikin kopi yang bener!”

Prak! Cangkir kopi berguling dari atas meja lalu pecah di atas lantai, keping-kepingnya berserakan.

Aku tak mendengar suara Ibu. Sama sekali sepi. Hanya dengung berisik mesin lemari es dan suara gerak kipas gantung di langit-langit memenuhi sudut-sudut dapur.

Dari bawah meja, aku mengamati tumpahan kopi turun dari tepian, mula-mula deras dan tiba-tiba lalu pelan hingga menyisakan rintik-rintik hitam seperti rinai hujan pada sore yang gelap.

Tangannya turun naik dengan cepat. Ia menekan pensilnya terlalu keras, dan krek bunyi grafit patah terdengar. Diraihnya peraut. Matanya nanar sementara tangannya memutar-mutar badan pensil yang ramping. Pisau peraut bekerja hingga ujung pensil jadi setajam mata panah.

Aku selalu berpura-pura sedang tersesat di kedalaman hutan pinus setiap kali kumasuki kamar Ibu. Selalu tercium aroma kulit pohon bercampur rumput basah di sini. Pelapis dinding dari kertas bermotif bunga-bunga mawar sudah mulai berubah warna, menjadi kusam karena usia dan cuaca. Sebuah ranjang dengan kelambu yang tak pernah diturunkan berada tepat di tengah-tengah. Di sebelahnya, ada meja rias dengan cermin berbentuk oval.

Di sanalah, di kursi meja rias itu, aku biasa menemukan Ibu. Kadang ia sedang menyisir pelan rambut gelapnya yang sebahu. Kadang kusaksikan ia menyapu hati-hati wajahnya dengan perona. Kadang ia hanya mematut-matut diri, merapikan kerah blus yang terlipat tanpa ia ketahui, menghapus noda lipstik yang melenceng dari bibir, atau melatih sesungging senyum sampai ia tertipu sendiri, sampai ia merasa bahwa dirinya benar-benar bahagia. Semua itu dilakukannya sambil tak henti-henti bersenandung.

Tetapi aku tahu, rambut yang diperlakukannya bak mahkota itu habis kena jambak hingga rontok berhelai-helai. Perona yang dipakainya sekadar menutupi bekas lebam tamparan. Kerah blus bukan terlipat tak rapi tanpa alasan, seseorang menariknya sampai berantakan. Warna lipstik tak keluar dari garis bibir dengan sendiri: sebuah tangan telah menempelengnya kasar. Aku tahu, ia tak bisa berhenti bersenandung karena jeda sebentar apapun akan mengubah nyanyian menjadi tangisan, dan jika itu terjadi bagaimana mungkin ia bisa berlatih tersenyum

Aku tersesat di lebat hutan pinus ciptaan Ibu. Ada kebun bunga-bunga mawar dan seorang bidadari di sini. Bersandar pada punggung bidadari itu, aroma kulit pohon semakin jelas tercium, menguar dari tubuhnya. Ujung jari tangan kananku menggambar sepasang sayap pada punggungnya. Semoga suatu hari nanti sayap-sayap itu betul-betul tampak, betul-betul nyata, dan kepaknya akan membawa Ibu pergi dari hutan persembunyiannya.

Ibu menutup mata, lalu mulai berhitung, “Satu… dua… tiga…” Itulah tanda permainan dimulai. Aku ingin memekik kegirangan. Ada pompa dalam aliran darahku yang membuat jantungku bekerja dua kali lebih cepat. Kutarik tubuhku ke bawah ranjang Ibu, lebih dalam, jauh lebih dalam lagi.

“Sepertinya aku melihat anakku yang tampan di sini, tapi di mana dia sekarang, ya?” Sudah berulang kali kudengar kata-kata itu, tetapi masih juga seperti mantra sakti pembawa kegembiraan setiap kali itu berhasil melepaskan tawa yang kutahan-tahan.

Aku melihat kaki-kaki telanjang Ibu. Sepasang kaki itu lalu berputar-putar mengelilingi seluruh ruangan kamar. Mataku tak berhenti mengikutinya. Ujung-ujung gaun Ibu yang menyentuh betisnya melayang ringan setiap ia memutar tubuh.

Tiba-tiba pintu kamar dibuka. Hempasan daun pintu pada dinding melenyapkan hutan pinus, memaksa sang bidadari untuk melarikan diri. Sepasang kaki Ibu diam dengan patuh di tepi ranjang. Langkah berat yang memaku lantai keramik dari sepasang kaki bersepatu kotor itu meninggalkan jejak-jejak lumpur. Kaki-kaki itu mendekat ke arah Ibu berdiri. Dengan sekali dorongan kasar, Ibu terjatuh ke ranjang. Kaki-kaki Ibu menjuntai-juntai.

“Mas, ada anak kita, Mas.”

“Hah! Terus kenapa?”

“Mas, sebentar Mas, biar dia pergi dulu, Mas.”

“Ah! Diam!”

Aku menutup telinga rapat-rapat, tapi tak ayal suara-suara dari atas ranjang mencuri jalan sampai ke pendengaran. Suara pukulan, suara teriakan tertahan. Aku benci, benci!

“Heh! Mau ke mana kamu? Heh!”

Kusaksikan sepasang kaki kesukaanku itu meronta. Setelah berhasil membebaskan diri, ia berlari, menjauh.

Ibu tak juga menengok ke bawah ranjang.

Ia pergi.

Aku ada di bawah ranjang, Ibu.

Hujan turun tiba-tiba. Dia terengah-engah. Seperti kehabisan nafas. Titik-titik keringat muncul di dahi dan di atas bibirnya. Sepasang kaki dengan betis kecil dan kencang tergambar di atas kertas buku sketsa di pangkuannya. Seperti kemarin dan kemarin lusa, seperti hari yang sudah-sudah, ia gagal. Kertas-kertas sudah penuh coretan sepasang kaki, tapi wajah cinta pertamanya tak juga mampir pada ingatan. Hari ini, ia gagal lagi.

Kelak kau akan mendengar sebuah kisah tentang seseorang yang melukis wajah cinta pertamanya. Begitu indah wajah itu sehingga kau akan tersedak oleh rasa haru hanya karena menatapnya. Ya, kelak, bukan sekarang, bukan hari ini. Hari ini, ia gagal lagi.(*)

 

Amalia Achmad lahir di Bandarlampung, 12 Februari 1985. Menyelesaikan pendidikan pascasarjana dalam linguistik terapan di Universitas Negeri Yogyakarta. Kini tinggal di Yogyakarta.

sumber : Koran Tempo, 24 November 2013.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme