Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Viral, Lelaki Tua dan Supra oleh Eko Triono

Posted on Ming, 30 Jun 2024

Kalau akhir-akhir ini Tuan gemar mengunjungi media sosial, Tuan akan mendapati kisah viral tentang lelaki tua dan motor Supra. Kisahnya yang kocak dan menyentuh hati membuat pengguna media sosial mengunggah ulang, dengan beragam cara, di berbagai saluran media sosial yang ada.

Kalau Tuan belum sempat mendengar atau melihat video dan gambarnya, saya bersedia menceritakannya.

Sudah siap? Perlu kopi?

Pada siang yang terik, berdasar latar video yang viral beredar itu, seorang lelaki tua sedang berjongkok di tepi jalan, di depan motor Honda Astrea Supra. Dilihat dari warna dan bentuknya, motor tua itu keluaran tahun 1997, masih menggunakan rem tromol, dan, sebagaimana dikenali, seri ini menggunakan kapasitas mesin 97 cc.

Seorang pesepeda, yang kebetulan melintas dengan kamera pada setang, berhenti. Menduga lelaki tua itu sedang butuh bantuan, pesepeda itu bertanya apa yang sedang terjadi?

”Mogok. Olinya habis.”

”Itu? Minyak goreng?”

”Betul. Dua kali penyaringan. Motor ini,” lelaki tua itu menepuk-nepuk pantat motornya dengan mesra, ”seperti istriku. Dia tidak butuh oli buat memasak. Dia butuhnya minyak goreng.”

Lelaki tua itu tertawa, tubuhnya yang besar berguncang seakan ada isyarat yang rahasia, lalu melanjutkan menuangkan minyak goreng kemasan ke lubang oli mesin. Dia mengatakan ini darurat, meski yang darurat ini sering terjadi.

”Dengan minyak goreng bisa?” suara pesepeda itu terdengar ragu dalam video yang terekam.

”Bisa! Bahkan minyak kayu putih atau minyak telon pun bisa, asal jangan minyak lintah atau minyak kadal,” lelaki tua berkata meyakinkan, kemudian dia menutup sisi wajah dengan telapak tangan kiri dan, dengan suara berbisik, seolah takut terdengar motornya, sebelum berkata, ”Hanya memang sedikit ngomel-ngomel, suaranya, biasalah. Tapi, aroma asapnya benar-benar seperti aroma dapur keluarga. Mas-nya sudah menikah?”

Sampai pada potongan tersebut, pesepeda itu mengunggah videonya di akun TikTok dan Instagram @pitmabur. Komentar yang muncul beragam.

Dari komentar-komentar tersebut, apabila disusun secara teliti, dapat kita ketahui siapa sebenarnya lelaki tua itu, dari mana dia berasal, apa yang dia lakukan dengan motor Supra tua di jalan dekat kebun semangka yang sepi pada terik siang hari?

Komentar teratas mengira lelaki tua itu orang asing yang tersesat. Jika penduduk lokal, tidak mungkin dia telantar. Paling tidak, bisa menghubungi atau meminta seseorang menjemputnya.

”Berani sumpah! Saya pernah melihatnya tidur di dekat Alun-Alun Purwokerto, bulan lalu, depan masjid, di atas motor Supra,” komentar dari @Yuksehatsusukedelai.

Bukannya fokus mencari informasi mengapa lelaki tua itu di Alun-Alun Purwokerto, @JiwaTampan malah mengomentari nama akun, ”Tolong jelaskan, @Yuksehatsusukedelai, memangnya kedelai punya susu? Kok susu kedelai? Sejak kapan tempe dan kecambah bisa berubah jadi mamalia?”

Kita lewati saja perdebatan tidak penting itu. Kita fokus menelusuri komentar penting dan berhenti pada balasan ke enam puluh dua dari @JualBeliTuyulKiloan, ”Itu tetangga saya,” ketiknya, ”Ya Allah jauh sekali perginya sampai ke daerah Pangandaran begitu. Beliau memang penggemar Supra sejati.”

Menurut kesaksian tetangganya itu, yang memberi bukti saat sedang kerja bakti bersama, saking cintanya pada Supra, lelaki tua itu dengan segenap kebanggaan yang tak tergoyahkan telah memberi nama anak-anaknya dengan identitas motor kesayangan. Anak pertamanya, seorang perempuan, diberi nama Supriyanti Cakram Kusuma. Anak keduanya, laki-laki, diberi nama siapa lagi kalau bukan Supra, Supranoto Ilham Fit.

Keseharian lelaki tua itu tinggal di kompleks perumahan dan kebiasaannya pergi jauh dengan motor Supra tua hingga berhari-hari lamanya baru terjadi beberapa tahun terakhir.

”Apa penyebabnya?”

”Tidak tahu pastinya. Sebelumnya dia hanya rutin ke kampus, lalu pulang dengan motor yang sama. Selama bertahun-tahun hingga masa tua,” jawab @JualBeliTuyulKiloan.

Tidak lama kemudian muncul komentar berupa kiriman foto yang lain. Supra yang sama berada di dalam kamar, standar dua, ditutupi selimut putih. Tak jauh dari situ, di ranjang, lelaki tua tidur miring sambil tangan dan kakinya memeluk motor.

”Apakah ini orang yang sama?” tanya pengirim. ”Dia pernah singgah di penginapan kami, di Cirebon, dan minta tidur bersama Supra-nya, dalam satu kamar. Kami sudah izin memfoto.”

Seiring mulai banyak yang melihat dan memberi tanda hati, makin banyak pula kesaksian yang mulai muncul, baik disertai gambar maupun video, dari yang normal hingga terkesan tidak masuk akal.

@PenjagaJodohOrang, ”Saya kondektur bus malam Surabaya–Jogja, saya pernah rekam motor ini jalan sendiri. Belum lama. Yang naik ketiduran pegang setang, kepalanya nempel di spidometer. Ini videonya. Motornya sama, yakin. Lihat pelat nomornya.”

Komentar di atas terlalu mistis, meski dengan bukti teramat meyakinkan. Di bawahnya, ada komentar yang lebih realistis dari @PijatSopan.

”Kami ingat. Kami masih punya fotonya. Lihat. Ini akhir Mei lalu lelaki tua ini memanggil dua terapis pijat lelaki di pusat kebugaran kami. Kami beroperasi di area Giayar, Bali. Ketika kami sampai di penginapan yang sederhana, yang kami temui ternyata hanya satu orang. Awalnya kami mengira dua orang untuk memijat satu orang, tetapi tidak. Teman saya kebagian memijat motor Supra tua rem tromol! Teman saya menanyakan sekali lagi, jangan-jangan lelaki tua ini mabuk. Namun, tidak. Lelaki tua ini saleh religius, baik hati, murah senyum, dan satu-satunya masalahnya adalah otot kakinya yang terlalu keras. Saat kami tanya, dia menjawab baru saja menggendong motor Supra-nya yang mogok. Kami mengira dia bercanda, tapi salah. Dia menunjukkan foto sedang menggendong motor Supra! Ini fotonya.

”Pelan-pelan teman saya, @Rino_TerapistJP, menanyakan sekali lagi. Lelaki tua itu menjawab, ’Tukang bengkel itu hanya memandang kekasihku sebagai kumpulan baut dan besi. Aku tahu, kalian lebih manusiawi dalam melihat segala sesuatu. Kami telah menempuh ribuan kilometer perjalanan bersama. Dia menggendongku selama bertahun-tahun lamanya. Dia pasti lelah, bantulah. Buatlah rileks setiap inci dari tubuhnya. Ini uangnya.’ Saya tidak tahu apa yang membuat teman saya menuruti, uang atau rasa empati yang mendalam. Kami pun mengobrol tentang siapa dirinya, dari mana berasal, ke mana akan pergi, dan mengapa begitu mencintai motornya dan memperlakukannya seperti seorang manusia?”

Lanjutan…

”Mana lanjutannya?!” Komentar lain tak sabar menunggu.

”Woi!” Masih tak sabar.

Tidak ada lanjutan apa pun dari akun @PijatSopan.

Mereka yang sudah telanjur penasaran terus mengejar dan menunggu.

Dari komentar-komentar mereka yang haru dan gelisah, tergambar kenyataan tersembunyi bahwa mereka jangan-jangan memiliki kendaraan atau benda kesayangan. Namun, belum ada dalam diri mereka rasa cinta yang sedemikian mengagumkan seperti yang dijalani dan dilakukan oleh lelaki tua itu, yang belakangan diketahui ternyata pergi dengan motor tuanya sendiri ke sejumlah daerah di Pulau Jawa hingga Bali.

Berbagai prasangka muncul tentang mengapa lelaki tua melakukannya? Apakah persoalan cinta? Keluarga? Mencari seseorang? Atau suatu janji tertentu yang belum diberitahukan pada orang lain? Orang-orang semakin penasaran.

Seperti biasa, artis-artis yang hidup mencari pandangan orang lain mulai berdatangan ikut nimbrung seperti penjual balon di setiap keramaian. Artis-artis itu telah berubah dari seniman menjadi orang yang mencari klik dan perhatian. Mereka ingin ambil bagian, bagian untung cuan, menumpang kisah-kisah orang lain yang sedang viral. Mereka mulai mencari alamat, menawarkan donasi motor keluaran terbaru, sampai produk-produk iklan bermunculan ingin ambil tempat di antara riuh sesak pertanyaan yang belum terselesaikan.

”Dari pelat nomornya itu Sleman, colek @SeduluranSupraSleman,” komen seseorang dengan lampiran pelat nomor yang diperbesar.

”Keluarganya atau temannya, plis, ceritakan, siapa lelaki tua ini dan mengapa dia melakukan semua itu, biar kami bisa tidur nyenyak.”

”Dia melakukan semua itu untuk menebus masa lalunya, Kak. Ketika dia muda ingin menikmati hobinya, tetapi dia harus bekerja menghidupi anak dan istri. Sulit pergi sendirian. Dia telah menghabiskan usianya untuk membahagiakan orang lain. Sampai akhirnya, ketika anak-anaknya sudah beranjak dewasa dan mandiri, dia memutuskan untuk menuntaskan impian masa mudanya dengan motor kesayangannya (tapi ini aku ngarang).”

”Masuk akal sih,” balas komentar di bawahnya, ”atau mungkin ini tentang cinta? Kita hanya bisa menduga. Ayo dong @SeduluranSupraSleman!”

Sehari kemudian, akun yang dicolek muncul memberikan komentar.

”Terima kasih telah mencolek kami. Kami sangat mengenal lelaki tua itu. Walaupun lelaki tua itu tidak mau bergabung dalam komunitas kami. Kami pernah menawari beliau sebagai ketua komunitas, mengingat beliau seorang dosen, akademisi, tetapi tetap ditolak. Alasannya bahwa beliau tidak ingin berubah dari mengagumi motor tua ke mengagumi kelompok. Kalau sudah berkelompok, orang akan kagum dengan identitas, membuat jaket, kaus, acara, dan cenderung bertindak arogan karena mulai menilai yang di luar identitasnya tidak istimewa. Nasihat ini yang kami pegang di @SeduluranSupraSleman dengan slogan yang juga diberikan oleh beliau: semua roda menggelinding, di jalan semua penting.

”Tentang mengapa beliau bepergian sedemikian rupa, kami tidak tahu. Mungkin itu lelakunya di dalam hidup seperti para sufi atau pertapa. Yang jelas, beliau pernah berkata bahwa terkadang seorang lelaki lebih nyaman menangis sendirian di atas motor, keliling-keliling, lalu pulang dalam keadaan sudah tenang dan seakan semuanya baik-baik saja.”

Kalau akhir-akhir ini Tuan mengunjungi media sosial dan sudah mendapati kisah viral tentang lelaki tua dan motor Supra-nya, lalu menemukan informasi tentang mengapa lelaki tua itu melakukannya, tolong ganti ceritakan pada saya tentang apa penyebab yang sebenarnya? (*)

—

Meja Prodi, 19 Juni 2024

EKO TRIONO : Lahir di Cilacap 1989. Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 30 Juni 2024

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme