Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Neraka Kembar Rajab oleh Triyanto Triwikromo

Posted on Ming, 09 Feb 2014

TAK boleh ada makhluk kembar di tanjung yang sepanjang malam warganya merasa memiliki 1.000 bulan itu. Jumlah pohon-pohon bakau yang tumbuh mengitari kampung pun tidak boleh berangka sama. Ketika mencapai 2.222 batang, dengan cepat Rajab, pemuda pemberang yang tidak pernah takjub pada misteri alam, akan menebas satu batang, sehingga orang tidak memiliki kesempatan mempercakapkan keajaiban pohon-pohon bakau. Juga saat jumlah bangau-bangau di tanjung menembus 1.111, dengan cekatan pula Rajab akan mencari cara membunuh makhluk-makhluk yang meliuk-liuk indah di antara cahaya matahari yang menyusup di sesela daun. Rajab bisa saja memanah kepala bangau hingga darah menetes-netes dan melayang-layang dari mata satwa berparuh besar, kuat, dan tebal itu. Rajab juga bisa menembak dengan senapan angin sehingga bulu-bulu hewan pemakan cacing dan serangga itu rontok, beterbangan.

Rajab juga pernah membantai sepasang kucing hanya karena bulu belang-belang hitam di tubuh cokelat satwa kesayangan Nabi itu mirip. Mula-mula Rajab menggantung secara terbalik kucing-kucing itu, lalu berkali-kali kepala binatang yang terus mengeong tersebut dia hantam dengan linggis. Tentu saja kucing-kucing itu muntah-muntah dan darah segar mengucur dari mulut mereka.

Karena itulah, sejak dulu warga kampung selalu menjauhkan apa pun yang kembar atau mirip dari mata Rajab. Mereka tidak ingin mengulang peristiwa yang menjijikan sekaligus mengenaskan pada masa-masa sebelumnya. Apalagi pada saat berusia 12 tahun. Rajab pernah memotong kelingking salah satu teman dengan parang tajam hanya karena tak ingin bermain-main dengan bocah kembar. Juga pada umur 15 tahun dia berusaha memancung kepala tiga bayi mungil karena di kening tiga malaikat kembar lucu itu ada semacam kaligrafi hitam berbunyi: Allah! Allah! Allah!

“Jangan tertipu. Bayi-bayi ini jika tidak dibunuh kelak akan menjadi iblis!” teriak Rajab sambil mengacungkan pedang samurai.

Warga berang saat itu. Gemerenggeng kemarahan menguar, tetapi tak seorang pun berani melawan Rajab. Warga merasa akan sia-sia melawan remaja sableng yang kini telah kian menjadi berandal tengik itu. Warga yakin jika mereka gegabah, sangat mungkin pedang samurai Rajab benar-benar akan terayun dan memenggal batang leher bayi-bayi itu.

Untunglah, pada saat kritis, Kiai Siti, tetua kampung yang selalu bertutur santun, menyeruak dari kerumunan. Dia mendekati Rajab, merangkul pemarah kesetanan itu, dan berbisik dengan lembut, “Siapa bilang mereka akan jadi iblis, Rajab? Juga siapa bilang ada kaligrafi Allah di kening bayi itu. Tak ada apa-apa di kening mereka. Juga tak seorang pun tahu apa yang bakal terjadi pada hari kemudian… Kau akan menyesali tindakanmu sekarang ini jika ternyata kelak mereka justru memuliakanmu?”

Rajab tak melawan. Sejurus kemudian tanpa disentuh oleh Kiai Siti, Rajab terkulai. Pedang samurai terlepas dari genggaman. Setelah itu, warga tahu, pada hari-hari berikutnya dia menghilang dari kampung. Tak ada yang tahu ke mana dia pergi. Kabar samar menyatakan: Rajab belajar agama ke Kota Wali dan akan kembali setelah perangainya menjadi halus dan seluruh syariat melekat di hati yang lembut.

“Rajab tidak lahir dari binatang,” kata Kiai Siti. “Siapa tahu kelak justru dia yang akan menjadi pemimpin kampung ini.”

RAJAB memang bukan kepiting atau kambing. Akan tetapi justru karena itulah lulus belajar dari Kota Wali, kehendak untuk membunuh makhluk kembar, tak bisa hilang begitu saja.

Kehendak itu mula-mula hanya tersimpan di dalam kegelapan hati. Akan tetapi lama-lama membuncah juga ketika dia mengungkapkan seluruh perasaan-perasaan hitam itu kepada Zaenab. Rajab tahu membicarakan apa pun kepada Zaenab, penunggu makam keramat Syeikh Muso—pendiri kampung yang sangat dimuliakan—bahwa pesan-pesannya tidak akan pernah keluar dari cungkup. Rajab juga tahu di telinga Zaenab, apa pun tidak pernah dimaknai secara benar, sehingga hanya kepada perempuan yang seluruh tubuhnya melepuh dan bersisik merah itu, dia berani membeberkan keinginan-keinginan jahat. Atau jika Zaenab, perempuan yang dianggap gila itu mau mendesiskan beberapa ungkapan yang terbalik-balik, Rajab akan memaknainya sebagai perintah sungsang.

“Warga kampung kita memang bebal, Zaenab. Karena itu, jangan heran jika hingga sekarang mereka tak paham mengapa aku membenci segala makhluk kembar. Mereka tidak tahu Allah tidak pernah menciptakan nabi atau malaikat kembar,” gumam Rajab seperti berkata untuk dirinya sendiri.

“Hujan! Hujan!” Zaenab malah berteriak sambil menunjuk matahari yang menyala merah di langit yang terang-benderang.

Rajab tak memedulikan ucapan Zaenab. Dia tahu siang itu tak ada badai dan hujan yang bakal menenggelamkan kampung.

“Iblis selalu memilih angka kembar untuk menampakkan dirinya kepada manusia. Karena itulah, agar salah satu dari kami menjadi manusia agung, ayahku menyingkirkan saudara kembarku ke kota. Karena itulah Syeikh Muso mesti terpisah dari Syeikh Bintoro, saudara kembar yang hendak membunuh panutan kita itu.”

Zaenab masih terdiam.

“Apakah kau tahu kini kita juga berhadapan dengan sepasang iblis kembar di kampung ini?”

“Seribu matahari hanya untukku, seribu bulan hanya untukmu. Kau tidak perlu berzikir, kau tidak perlu selawat. Kau tak perlu puasa, kau tak perlu salat, kau tak perlu berzakat, kau tak perlu berhaji, kau tak perlu bersyahadat. Seribu matahari hanya untukku, seribu bulan hanya untukmu.”

Rajab tidak terlalu memperhatikan perintah sungsang Zaenab. Apa pun yang diungkapkan Zaenab, dia anggap tidak penting. Karena itulah, Rajab terus mencerocos mengenai sepasang iblis yang mulai bercokol di kampung. “Warga kampung ini buta semua. Mereka tidak tahu bahwa Kiai Siti dan Panglima Langit Abu Jenar itu kembar. Wajah Abu Jenar dan Kiai Siti memang tidak serupa. Tetapi ketahuilah hati pengkhotbah sok suci dari kota dan tetua kampung yang rapuh itu sama.”

Tetap tak ada reaksi. Karena itulah, Rajab mendesis lagi, “Mereka sama-sama memberhalakan Allah. Abu Jenar merasa apa pun yang dikatakan paling benar dan seakan-akan dia jadi Tuhan bagi manusia lain, sedangkan Kiai Siti menganggap Allah mabuk pujian dan sesembahan. Karena itu, salah satu dari mereka harus dibunuh agar yang hidup jadi manusia agung…”

Kali ini Zaenab terkejut. Dia memang membenci Abu Jenar, tetapi tak ada keinginan sedikit pun untuk membunuh Panglima Langit. Zaenab juga tidak ingin ada pertumpahan darah di kampung itu. Karena itu, dengan perintah sungsang, dia meminta Rajab mengurungkan niat membunuh Kiai Siti maupun Panglima Langit Abu Jenar.

“Galilah Makam Syeikh Muso. Masuklah ke kubur. Tinggallah sepanjang hari di dalam kubur. Kiai Siti harus kau tusuk lambungnya dengan linggis. Panglima Langit Abu Jenar harus kausalib di tiang masjid,” perintah Zaenab tegas.

Karena tahu bagaimana cara memaknai perkataan Zaenab, Rajab bergegas meninggalkan cungkup. Jika tidak segera meninggalkan Makam Syeikh Muso, bisa-bisa Zaenab akan mencekik atau mengungkapkan kemarahan dengan berbagai cara. Meskipun begitu, sambil berlari, Rajab masih sempat berteriak-teriak dan mengacung-acungkan tangan ke angkasa. “Dan ketahuilah, Zaenab, aku tak akan menyentuh Abu Jenar. Aku justru akan membunuh Kiai Siti, pemimpin yang rapuh itu. Kampung ini akan rusak jika dipimpin oleh lelaki yang lemah. Kampung ini akan hancur kalau Makam Syeikh Muso terus diberhalakan dan Kiai Siti membiarkan perilaku konyol warga dan para peziarah bodoh.”

Zaenab tidak mendengarkan ancaman itu. Akan tetapi Zaenab tahu akan terjadi pertumpahan darah di kampung itu.

RAJAB agaknya memang tidak punya pilihan lain. Dia sangat yakin bahwa membunuh Kiai Siti bukanlah dosa. Akan tetapi dengan cara apa dia harus membunuh tetua kampung yang selalu dikelilingi warga dan kini senantiasa mempercakapkan apa pun bersama Panglima Langit Abu Jendar di masjid itu? Sangat tidak mungkin mencampur racun di segelas kopi. Sangat tidak mungkin menembak sang kiai dengan senapan angin. Mendekati mereka, Rajab seperti berhadapan dengan dua pohon api yang senantiasa menyala. Mendekati mereka, Rajab seperti berada dalam amuk neraka kembar. Rajab berpikir: satu neraka harus dipadamkan agar satu surga bercahaya. Jika kedua-duanya tetap ada, berarti kampung ini hanya berupa ½ surga atau ½ neraka. Jika ½ surga dan ½ neraka terus ada, bukan tidak mungkin manusia hanya menyembah ½ Tuhan. Ini berbahaya. Sangat berbahaya.

Karena itulah, Rajab menyimpulkan: yang paling mungkin adalah mengendap-endap ke rumah Kiai Siti pada malam hari dan membakar tempat itu. Atau jika itu gagal, bisa saja dia membakar cungkup saat Kiai Siti memimpin doa para peziarah yang sedang tafakur mengelilingi nisan Syekh Muso. Jika terpaksa, apa boleh buat, Rajab harus membakar masjid dengan segala isinya. Membakar—sebagaimana menghanguskan dan meludeskan pasar yang dilakukan orang akhir-akhir ini—menjadi pilihan karena Rajab tahu tak seorang pun bisa menangkap para pembakarnya. Rajab yakin para pembakar adalah malaikat-malaikat maut yang tak tersentuh.

AKHIRNYA hari paling laknat itu datang juga. Rajab telah menyiram masjid dengan bensin. Sebentar lagi bom molotov akan dilemparkan. Sebentar lagi api akan menyala. Sebentar lagi tubuh-tubuh terbakar akan meleleh seperti adonan kue.

Sebelum segalanya terbakar, Rajab mencoba meyakinkan diri bahwa segalanya berjalan lancar. Dia tidak ingin ketika melemparkan bom molotov, di langit dia justru melihat tiga rembulan menyala bersama-sama, di kubang masjid kaligrafi Allah berubah menjadi kembar tiga, dan yang tak terduga dari jauh tampak tiga tubuh Abu Jenar dan Kiai Siti bercahaya.

Tidak mungkin segalanya—juga ayat-ayat Allah indah yang senantiasa kubaca—akan berubah menjadi kembar tiga sebagaimana pernah kulihat kaligrafi Allah di kening tiga bayi kembar, bukan?

Belum ada jawaban. Otak Rajab serasa meledak. Dia merasa tidak mungkin membakar dirinya sendiri jika ternyata segala yang berada di tanjung, termasuk dirinya berubah menjadi kembar tiga.

Apakah jumlah pohon bakau yang mengepungku juga berubah menjadi 6.666? Apakah jumlah bangau-bangau menjadi 3.333? Apakah Makam Syeikh Muso berlipat menjadi tiga? Apakah…

Belum ada jawaban. Juga tak ada yang memberi tahu Rajab betapa beberapa saat lalu makan Syekh Muso telah diledakkan oleh Panglima Langit Abu Jenar. Lalu ketika tiba-tiba dia juga melihat tiga sosok makhluk tinggi bersorban mengendap-endap di masjid, Rajab bergegas menyalakan bom molotov di tangannya…

 

Triyanto Triwikromo beroleh Penghargaan Sastra 2009 dari Pusat Bahasa. Buku cerita pendek terbarunya, Surga Sungsang, akan segera terbit.

sumber : Koran Tempo, 9 Februari 2014.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme