Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pemberontakan oleh Yuditeha

Posted on Sen, 05 Agu 2024

Warga desa menilai Wiro orang baik, tidak pernah melanggar aturan, dan suka membantu orang yang kesusahan. Bahkan Wiro pernah berusaha membongkar aksi penipuan perihal tanah yang dilakukan Gondo, kepala desa ini. Namun, usaha Wiro gagal karena tidak bisa menunjukkan buktinya.

Penilaian warga terhadap Wiro seketika berubah sejak kematiannya sepekan lalu. Jasad Wiro ditemukan terkapar di pinggir jalan utama desa dalam keadaan telanjang dengan mulut penuh busa. Di dekatnya ada sebuah pesan: Seorang pezina memang pantas mati. Pesan itu membuat warga menilai Wiro tidak mampu menjaga citra dan perilakunya yang semula bersih menjadi kotor.

Meski begitu, anaknya yang bernama Danu tidak terpengaruh dengan penilaian itu. Danu tetap meyakini Wiro adalah bapak yang baik. Kepercayaan Danu atas Wiro karena dia hafal dengan tabiat bapaknya. Bahkan Danu masih ingat janji bapaknya yang pernah diceritakan kepadanya. Ketika ibunya meninggal saat melahirkan dirinya, Wiro berjanji tidak akan menikah lagi, semata karena ingin memastikan Danu tumbuh dengan kasih yang penuh. Danu pun merasakan sendiri kasih sayang Wiro, yang telah menerima dia seutuhnya. Tidak sekali pun Wiro menganggap kebisuan Danu sebagai kecacatan yang bisa menjadi penghalang Wiro untuk mengasihinya. Karena itu, kepergian Wiro membuat Danu sedih, terlebih karena Wiro tidak bisa membersamai dirinya lagi.

Pengertian itulah yang membuat Danu tidak memercayai kabar yang beredar terkait Wiro yang suka main perempuan. Justru Danu punya dugaan, bapaknya adalah korban pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang suruhan Gondo. Meski begitu, tak ada orang yang percaya karena Danu hanya anak bisu berusia delapan tahun.

Sekarang desa ini sedang menghadapi masa krisis alam karena musim kemarau panjang. Sebagian besar warga cemas dengan kondisi yang membuat persediaan bahan makanan warga menipis. Tapi, tidak demikian dengan Danu karena sejak dulu Wiro sudah mempersiapkannya. Wiro sangat paham siklus alam desanya hingga dia dengan sadar membuat lumbung bawah tanah untuk menyimpan persediaan bahan makanan lebih banyak untuk berjaga-jaga bila musim kemarau panjang datang. Karena itu, Danu tidak merasa khawatir. Jika warga cemas terhadap ancaman kelaparan, Danu sedih karena ditinggal Wiro.

Meski begitu, sebenarnya Danu masih punya satu orang yang selama ini bersahabat baik dengannya, yaitu Toha, pemuda yang sekitar tiga tahun lalu mendadak stres begitu mendapati istrinya mati di hutan ujung desa. Menurut kabar, sebelum istrinya dibunuh, lebih dulu telah diperkosa, tapi karena tidak ada bukti kasus itu tidak terungkap sampai sekarang. Toha menjadi sering histeris dan meracau yang membuat sebagian warga risi. Dari banyak kata yang dia ucapkan, dia paling suka menyebut nama beberapa warga.

Pada sebuah malam yang hening, desa itu tiba-tiba pecah oleh riuh. Warga geger ketika mengetahui rumah Toha terbakar hebat, sementara mereka menduga Toha sedang tidur di dalamnya. Ketika rumah telah ludes, para warga meyakini Toha ikut hangus terbakar.

Sesungguhnya yang terjadi ketika rumah itu terbakar, Wiro sempat nekat menerjang api untuk menyelamatkan Toha. Hanya Danu-lah yang melihatnya. Wiro menemukan Toha dalam keadaan pingsan yang sebagian tubuhnya terbakar. Setelah memadamkan api di tubuh Toha, Wiro membopongnya keluar. Wiro lantas menyembunyikannya, mengobati dan merawatnya. Ketika luka bakar di tubuhnya mengering, Toha memutuskan pergi dari desa, dan menjadi penghuni hutan di ujung desa, yang oleh warga dianggap tempat angker, terlebih setelah penemuan mayat istri Toha di sana. Hanya Wiro dan Danu-lah yang mengetahui keberadaan Toha itu.

Kembali pada kisah Wiro. Danu masih ingat, malam sebelum Wiro ditemukan mati, tiga orang bertamu ke rumahnya. Setelah terjadi percakapan, lantas mereka mengajak Wiro keluar. Beberapa warga melihatnya dan tidak merasa curiga karena nada bicara mereka biasa saja, bahkan sesekali terdengar gurauan sebelum semuanya masuk ke mobil.

Sebenarnya sikap orang-orang itu berbeda ketika masih di dalam rumah. Danu melihat dengan mata kepalanya sendiri perbedaan itu. Bicara mereka sangat menekan bapaknya. Karena itu, Danu tahu bahwa saat itu bapaknya sedang dalam masalah.  Namun, tampaknya orang-orang itu paham dengan karakter warga yang tidak akan percaya jika tidak ada bukti hingga ketika keluar membuat kesan yang wajar.

Danu tahu, tiga orang itu memaksa bapaknya untuk menuruti apa yang mereka perintahkan, termasuk pada saat mereka keluar rumah untuk melakukan rekayasa dengan bersikap seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Danu meyakini tiga orang itu jugalah yang kemudian mencekoki bapaknya dengan racun lalu menelanjanginya.

Namun, lagi-lagi kesaksian Danu tidak bisa tersampaikan karena dia tidak bisa bicara, dan ketika dia berusaha melakukan dengan bahasa isyarat pun, tetap tidak ada yang memahami, terlebih Danu yang waktu itu belum bisa menulis. Hanya Wiro dan Toha-lah yang mengerti bahasa isyarat itu. Padahal menurut Danu, kejahatan itu tak akan terbongkar jika dia hanya diam.

Kondisi alam desa semakin parah. Pohon-pohon besar mulai meranggas. Segala jenis tumbuhan pangan yang ditanam tidak bertunas. Bahan makanan yang ada di lumbung setiap warga telah habis. Dari hari ke hari kecemasan warga terus menebal. Jika tak segera turun hujan, bencana kelaparan benar-benar akan datang.

Tapi, lagi-lagi Danu tidak merisaukan hal itu. Satu-satunya yang terbayang dalam benaknya adalah Toha karena selain Wiro, Toha-lah yang selama ini bersedia menerimanya. Semalaman Danu memikirkan lagi nasib bapaknya, kisah Toha, lalu hidupnya sendiri. Pada saat dia kembali mengingat tiga orang yang dulu bertamu ke rumahnya, seketika di benaknya muncul ide. Danu ingin mengajak Toha bekerja sama untuk membuat rekayasa. Danu sudah tahu caranya agar Toha sepakat dengan rencana itu. Ketika dini hari menjelang, diam-diam Danu berjalan menuju hutan, tempat di mana Toha tinggal.

Selang beberapa hari sejak Danu menemui Toha, desa itu kedatangan seorang lelaki buruk rupa. Tidak ada yang mengenali bahwa lelaki itu sesungguhnya adalah Toha. Penyelamatan Wiro terhadap Toha rupanya tidak bisa menyelamatkan wajahnya. Ketika luka itu kering, wajahnya tidak dapat pulih seperti semula, bahkan menjadi sangat berbeda dengan aslinya.

Dengan tenang Toha keliling desa, menyambangi rumah-rumah warga. Pada mulanya orang-orang mengira dia pengemis, tapi setiap kali tuan rumah menemuinya dan hendak memberi uang, Toha berkata: ”Saya bukan peminta-minta. Saya sekadar ingin menyampaikan pesan orang-orang suci. Selagi masih ada kesempatan, berdoalah dan bertobatlah. Allah akan memberi kemudahan.”

Menjelang malam, usai Toha berkunjung ke rumah warga, dengan sangat hati-hati dia menuju rumah Danu lewat kebun belakang, lalu masuk di lumbung bawah tanah. Ketika tengah malam tiba, giliran Danu keluar untuk menaruh bingkisan yang berisi bahan makanan di setiap depan pintu rumah warga.

Esok harinya Toha keluar rumah, juga melalui kebun belakang, lalu kembali keliling menyambangi rumah warga. Namun, rumah-rumah itu kosong dan Toha mendapat kabar bahwa warga desa itu telah berkumpul di alun-alun. Toha gegas ke sana, dan ketika dia tiba di alun-alun, semua orang serempak menangkupkan tangan, tanda menghormati. Lantas ada orang bicara mewakili warga ”Maafkan kami yang tidak mengeri siapa engkau, tapi yang pasti kami tahu perkataan engkau terbukti. Maka kami menaruh harapan, bahkan jika engkau wali, kami semua percaya.”

Toha mengulangi apa yang pernah dia katakan bahwa dia hanya disuruh menyampaikan pesan orang-orang suci. Sementara orang yang mewakili mereka menyampaikan sebuah permintaan. Mereka berjanji mengikuti Toha jika bisa dia mengabulkan satu permintaan mereka.

”Apa yang kalian mau?”

”Kami minta hujan.”

Toha langsung memberi tanggapan bahwa jika mereka benar-benar mau berdoa, hujan akan datang. Jika pun tidak terkabul, hal yang sangat mungkin karena di desa itu ada penjahat yang bebas berkeliaran.

Apa yang Toha katakan adalah pesanan dari Danu. Danu punya keyakinan, jika para penjahat mendengar hal itu, hidupnya tidak akan tenang. Dengan begitu, dengan terpaksa mereka akan keluar dari persembunyiannya. Dan pada saat itu Danu dan Toha akan melakukan aksinya, membunuh mereka semua. Danu menyadari hal itu bukan tanpa risiko karena jika warga tahu siapa jati dirinya, atau jika hujan tidak turun, malapetaka yang lebih besar akan terjadi.

”Kami akan berdoa bersama,” sahut orang itu diikuti gemuruh sepakat dari warga.

Ketika Toha bertemu Danu dan menyampaikan kejadian itu, keduanya benar-benar bingung. ”Kenyataannya kita tidak pernah bisa membuat hujan,” bisik Toha.

Meski seluruh warga sudah berdoa, esok harinya hujan tidak datang, bahkan sampai dua hari setelahnya pun hujan tidak turun juga. Di saat Danu dan Toha sudah mulai pasrah, di hari ketiga jelang siang depan rumah Danu seketika ramai suara orang, ada suara ketukan di pintu rumah Danu.

Dalam kepanikan itu Danu memberanikan diri membuka pintunya. Begitu pintu terkuak, terlihat serombongan warga telah berdiri di teras dengan membawa empat jasad. ”Dari awal sebenarnya kami sudah tahu bagaimana mereka. Tapi, baru sekarang kami berani melakukannya,” ucap salah satu warga. (*)

Yuditeha : Penulis yang tinggal di Karanganyar. Pendiri Komunitas Kamar Kata.

sumber : JAWAPOS, Senin, 5 Agustus 2024

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme