Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen :” Penghuni Swan Yard oleh Rilda A.Oe. Taneko

Posted on Ming, 18 Mei 2014

Welcome to our house!
It isn’t usually as messy as today.
It’s worse!

KALIMAT itu tertera pada lempengan kayu cemara yang digantung di dinding dekat pintu utama rumah, bersebelahan dengan sebuah salib kayu. Makelar memersilakan mereka masuk. Ia mewakili sebuah agen perumahan yang tidak terkenal di Lancaster. Ia seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun, berwajah sangat muda dan polos, bulu matanya panjang-lentik dan matanya hijau. Ia terlihat seperti kanak-kanak. Ditambah dengan tubuhnya yang mungil, menurut Els, makelar itu serupa kurcaci. Els membisikkan hal ini pada San, suaminya, namun San lekas meletakkan jari telunjuk pada bibirnya.

Els dan San mengikuti makelar itu ke ruang duduk. Ruang itu terlihat seperti kapal pecah. Sepasang orang tua pemilik rumah duduk di sofa, di antara pakaian yang tersampir sembarangan dan bergunduk-gunduk. Lukisan dan buku-buku berserak di lantai, sementara beberapa patung-patung kristal berjajar di dekat kardus-kardus yang juga berantakan. Walau begitu, ruangan itu tidak meruapkan bau lembab, bau anjing basah, bau perpustakaan tua, atau bau susu basi, segala bau yang ada pada beberapa rumah lain yang sudah dikunjungi Els dan San. Udara di rumah itu terasa segar.

Rumah itu—sebuah maisonette apartemen tiga kamar, bercat cokelat, berlantai tiga (termasuk loteng), bernomor tiga belas dan berkode pos LA1 3EQ—adalah rumah ketiga belas yang San dan Els datangi. Dari rumah-rumah lain yang juga dijual di Swan Yard, Els paling suka posisi rumah itu: terletak tepat di tepi kanal dan berseberangan dengan katedral.

Ketika Els dan San naik ke lantai atas, dari kamar pertama mereka bisa melihat kanal dan dari kamar kedua, sebuah pohon beech, yang berdiri tegak di depan katedral dan sepertinya sudah berusia ratusan tahun. Sementara dari jendela loteng, menara jam balai kota mengintip dari celah dedaunan birch dan mapel.

Els suka dengan kanal dan pepohonan tua. Ia pun menggemari bangunan-bangunan kuno yang baginya sangat indah, memiliki karakter dan menyimpan banyak sejarah. Setidaknya, rumah-rumah tua yang ada di kota itu telah sanggup bertahan dari kejamnya Perang Dunia. Namun San sangat heran dengan kesukaan Els yang satu ini. Bagi San, rumah harus mampu melindungi dari dingin udara luar dan tidak menguras uang untuk biaya perawatan: dua hal yang tidak bisa diberikan oleh rumah-rumah tua.

“Kamu terlalu pragmatis, San. Kita juga harus hidup dalam keindahan,” Els berkata, lebih dari enam bulan yang lalu.

San menggelengkan kepala, “Aku tidak mau meghabiskan uang hanya untuk keindahan. Biaya gas untuk pemanas dan perawatan rumah tua sungguh tidak masuk akal bagiku.”

“Kamu tidak seperti orang Inggris, San. Sebagai orang yang lama tinggal di Inggris, seharusnya kamu juga mencintai bangunan-bangunan tua.”

San tertawa, “Kamu terlalu banyak membaca karya-karya Austen.”

Els menggeleng, “Bukan hanya itu, San. Rumah jaman Tudor atau Victoria memang indah sekali. Lihat saja ubin, dinding dan langit-langitnya. Keindahan seperti itu tidak bisa kita dapat dari rumah baru. Rumah baru, San, penuh dengan kepalsuan. Dinding palsu, lantai kayu palsu dan langit-langit yang membosankan.”

“Tapi, membayar mahal hanya untuk memandangi langit-langit rumah bukanlah tujuanku bekerja, Els.”

Mendapat jawaban seperti itu, Els terdiam. Selama ini San yang bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Els tidak pernah bekerja di luar rumah, dan ia tidak ingin bekerja. Els merasa ia tidak perlu bekerja. Toh San mampu memberikan apa pun yang ia inginkan, pikir Els. San tidak memerlukan bantuannya untuk menghasilkan uang. Terlebih lagi, bukankah Els sudah berbaik hati dengan membereskan pekerjaan rumahtangga, membersihkan rumah dan memasak? Bukankah di masa lampau, in the olden days, hanya orang-orang miskin saja yang bekerja? Perempuan-perempuan dari golongan atas tidak perlu membuat tangan mereka yang halus-bersih menjadi kasar dan kotor. Mereka bahkan memiliki puluhan pelayan.

Els ingin, seperti juga perempuan-perempuan bangsawan di jaman dahulu, ketika ia mati nanti, orang akan mengukir batu nisannya dengan kalimat serupa ini: “Els, istri yang sangat dicintai. Ia tidak perlu bekerja seumur hidupnya”. Ah, jika benar demikian, pikir Els, alangkah bahagianya!

Hanya saja, untuk saat itu, Els mengalah dan sambil tersenyum ia berkata, “Mungkin karena selain Austen, sejak kecil di Indonesia dulu aku senang membaca Rowling, San. Mungkin karena itu juga.”

“Lalu karena itu kamu ingin tinggal di Hogwarts? Dengan suami bercambang atau kumis berujung lancip yang mengenakan topi tinggi, membawa tongkat atau payung sepanjang hari?”

Els dan San tertawa, seakan menyudahi diskusi mereka tentang membeli rumah tua atau baru. Tapi kenyataannya, walau pun San telah mengatakan “tidak” untuk rumah-rumah tua, selama enam bulan pencarian mereka, dari dua belas rumah yang mereka lihat, hanya dua yang merupakan bangunan baru. San berpikir, kecintaan Els pada sastra Inggris, imajinasinya terhadap negeri ini dan gambarannya akan bangunan tua jugalah yang membuat Els rela meninggalkan Indonesia untuk menemani dirinya merantau di negeri yang dingin, berangin dan suram ini.

Pun begitu, ketika mereka membuka http://www.rightmove.co.uk, Els dan San melihat ada beberapa properti dijual di Swan Yard, tak jauh dari Victoria Memorial dan berada di area LA1, area paling tua di Lancaster. Dan sebuah berita gembira untuk San: rumah-rumah di Swan Yard baru dibangun dua puluh tahun yang lalu.

Lingkungan tua untuk Els dan bangunan baru untuk San! Swan Yard adalah jawaban bagi keinginan mereka berdua.

“Bagaimana?” tanya makelar pada San dan Els.

Els, dengan mata bulatnya yang berbinar dan pipi memerah, memandang mata sipit San dengan penuh harap. San terlihat ragu. Els paham sesungguhnya San masih tidak yakin untuk membeli rumah, seperti yang ia ungkapkan setengah tahun lalu. San tidak suka berhutang pada bank dan memilih untuk menyewa saja. Terlebih lagi, membeli rumah di Inggris bukanlah investasi yang bagus: harga rumah belakangan ini tidak pernah naik ataupun turun.

Tapi bagi Els menyewa rumah sama saja dengan membuang uang percuma. Pour money down the drain, demikian kiasan Inggris yang selalu Els ingat. San, yang memang kerap mengalah dan mengikuti kemauan Els, akhirnya mengiyakan ajakan Els untuk “melihat-lihat”rumah. Dan akhirnya, hari itu, ketika Els meraih tangannya dan menggenggamnya erat, San pun tak kuasa untuk mengatakan tidak. Ia akhirnya mengangguk.

Anggukan San itu membuat si makelar tersenyum lebar, “Saya bisa merekomendasikan solicitor yang bagus.”

Sepasang orang tua pemilik rumah yang sedari tadi duduk di sofa, menggenggam rosari di satu tangan sementara tangan mereka yang lain bergenggaman, terlihat lega dan seolah ingin melompat karena gembira.

Di sudut ruang duduk, sebuah televisi layar cembung, yang sedari tadi memainkan film bisu hitam-putih, tiba-tiba mengeluarkan desis, berkedip beberapa kali, lalu mati.

TIGA bulan kemudian, San dan Els pindah ke Swan Yard. Pindah ke bagian tertua dari kota Lancaster membawa imajinasi Els pada masa lampau. Setiap kali Els bangun dari tidur dan membuka tirai jendela, melihat angsa-angsa yang berenang di kanal, pagar batu dan jembatan tua, ia tersadar kalau ia tinggal di Inggris, di pulau kecil tempat para penulis kesukaannya pernah hidup. Setiap kali ia melihat orang-orang yang lalu-lalang di sekitarnya, yang berambut pirang, berhidung ujung lancip, dengan bercak di kulit mereka yang pucat, Els merasa dekat dengan tokoh-tokoh di cerita-cerita yang pernah ia baca. Ketika ia mendengar orang-orang itu berbicara pelan dengan logat British yang kental dan hampir tanpa menggerakkan bibir mereka yang tipis, dan saat mereka, tanpa ia minta, membukakan pintu untuknya di pertokoan dan perkantoran, mempersilakan ia menyeberang jalan, mengantri di depan mereka dan mengambilkan barang yang sulit ia raih karena tubuhnya yang kecil, Els merasa ia hidup di jaman yang baginya teramat menggetarkan. Kesopanan sedemikian rupa sungguh membuat Els jatuh kagum pada penduduk pulau berangin ini.

Tapi San selalu mengingatkannya, “Masa lampau itu tidak seindah imajinasi di benakmu. Dan tidak semua orang sesopan yang kamu kira. Bahkan mungkin sebaliknya.”

San mengacungkan jempolnya, lalu memutar tangannya hingga jempol itu berada di bawah. Mendengar perkataan San ini, Els hanya tertawa dan lekas melupakannya. Els terlalu sibuk mengatur perabotan dan mengamati sekeliling rumah mereka: banyak pepohonan dan sudut-sudut yang seolah menyimpan cerita.

Els pun tertarik pada rumah yang terletak di sudut jembatan, Clayton Bridge House namanya. Rumah itu terlihat berbeda dengan rumah-rumah lainnya: berupa tumpukan batu berbentuk balok, berjendela sempit dan beratap rendah. Els mengira-ngira siapa yang tinggal di rumah itu. Ia kerap mengitari rumah itu tapi tak pernah melihat tanda kehidupan: kaca-kaca jendela yang berdebu, pipa air yang kering dan catnya terkelupas, sarang laba-laba di hampir setiap sudut. Di malam hari, sebelum menutup tirai jendela ruang tamu, Els sering mengintip ke arah rumah batu, namun ia tidak melihat cahaya lampu.

Satu waktu, Els sedang berjalan menyusuri tepi kanal ketika seorang perempuan berambut pendek keperakan, yang duduk di bangku kayu, menyapanya, “Penghuni baru di Swan Yard?”

Els mengangguk senang. “Apa kita bertetangga?”

“Ya,” perempuan itu menajawab pelan, “tapi aku harap tidak untuk waktu yang lama.”

Awalnya Els senang ketika tahu perempuan itu bertetangga dengannya dan ia berencana menanyakan tentang rumah batu. Tapi mendengar lanjutan perkataan perempuanitu, Els menaikkan alis. Perempuan itu menunjuk ke rumah di seberang rumah Els dan San.

“Itu rumahku.”

Sebuah plang kayu tertancap di tanah di depan rumah itu. Plang itu bertuliskan “For Sale”.

“Oh,” Els tersenyum, “Sepertinya ada banyak rumah yang dijual ya?”

“Ya,” perempuan itu berkata, “semua orang ingin secepatnya meninggalkan Swan Yard.”

“Mengapa?”

“Jika kita tidak beruntung, akan ada tanda silang merah di pintu rumah kita. Gereja yang menentukan.”

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”

“Semua berawal dari Henry VIII, si Raja Tudor,” perempuan itu terbatuk, “1536. Kau ingatlah tahun itu. Itulah awal dari kutukan masa lampau yang menghantui hingga sekarang. Henry kawin enam kali, berseteru dengan Roma dan akhirnya mengharuskan rakyat membayar tanah glebe.”

“Apa ini mengenai chancel repair liability?” Els menduga-duga.

Perempuan berambut perak mengangguk.

“Oh,” Els tersenyum. Kemudian ia menjelaskan, “Sebelum menandatangani kontrak pembelian rumah, solicitor kami menyinggung tentang itu. Tapi dia bilang itu tidak masalah, kami hanya perlu membayar asuransi senilai 25 quid.”

Els teringat saat menjelaskan hal itu, solicitor mereka—di kantornya (yang sangat indah, bagi Els, dan sangat tua, bagi San) yang terletak di dekat kastil Lancaster—tersenyum ramah, matanya yang hijau dinaungi alis nan lentik seolah tersenyum lembut. Els merasa pernah melihat mata yang sama, tapi entah di mana.

Penjelasan solicitor tentang tanah glebe itu lewat seperti angin lalu: Els terlalu sibuk untuk ambil tahu lebih rinci. Els asik mengamati kabinet-kabinet kayu dan ubin lantai kantor yang berusia ratusan tahun. Sementara San, yang ingin selekasnya keluar dari kantor yang baginya pengap dan gelap itu, percaya begitu saja pada perkataan sang solicitor.

“Ha! Apa dia juga menjelaskan kalau asuransi tidak akan mau membayar sesuatu yang sudah pasti merugikan, seperti asuransi banjir untuk rumah yang sudah pernah terendam air?”

Perempuan itu terbatuk, lalu ia melanjutkan, “Rumah-rumah di Swan Yard akan ditandai: Lay Rector. Tidak akan ada yang mau membeli rumah yang ditandai. Tidak akan ada asuransi yang mau membayari.”

Els mematung bingung.

“Kutukan masa lampau. Rumahmu tak akan laku dijual. Tidak ada nilai. Dan seumur hidup kau harus membayari perawatan katedral.”

“Tidak mungkin….”

“Ha! Kau tak percaya? Lalu menurutmu, mengapa semua orang memasang plang “For Sale” di depan rumah mereka?” Perempuan itu tersenyum pahit dan melanjutkan, “Tapi mungkin sekarang sudah terlambat, kutukan segera jatuh. Hari ketiga belas di bulan ini adalah batas akhir untuk gereja menjatuhkan vonis. Hari ketiga belas! Mereka akan datang! Mereka akan datang!”

Perempuan itu bangkit dari bangku. Dia berjalan tertatih ke tepi kanal, dan dengan tongkat kayunya, dia mengusir angsa-angsa yang kemudian mengepakkan sayap terbang menjauh.

ELS merasa tidak mampu menyampaikan kabar buruk itu kepada San. Ia sungguh bingung. San telah menghabiskan semua uang tabungannya dan berhutang banyak kepada bank untuk membeli rumah itu. Tentu San akan sangat kecewa jika mengetahui bahwa rumah yang mereka beli terancam tidak ada harganya, dan mereka juga harus membayari perawatan katedral. Terlebih lagi, Els mengerti kalau San berencana untuk menjual rumah mereka dan pindah ke daerah Selatan, beberapa tahun dari sekarang.

Els sungguh berpatah hati. Kemungkinan terburuk dalam hidupnya seolah berada di pelupuk mata: ia harus bekerja mencari uang. Baru sekali ini di dalam hidupnya, Els tidak menyukai hal yang berkaitan dengan the olden days.

Apa yang harus dia sampaikan kepada San? Els mengira-ngira. Apakah dengan menyalahkan King Henry VIII, San akan sedikit terhibur? Atau sebaiknya, dia menyalahkan anggota parlemen yang tidak mau menghapus hukum kuno, walau sudah ratusan tahun dilupakan orang-orang, alih-alih mengukuhkannya tanggal tiga belas bulan ini? Atau lebih baik mereka menuntut solicitor dan makelar yang membuat mereka membeli rumah, sebelum semua terlambat? Sebelum pihak gereja datang dan menandai rumah mereka?

Bagi Els, kemungkinan terakhirlah yang masuk akal dan merupakan satu-satunya jalan untuk keluar dari perangkap Swan Yard. Mungkin saja mereka masih sempat membatalkan kontrak rumah dan kredit dari bank. Mungkin saja mereka masih sempat mengelak dari kutukan.

Malam harinya, Els hendak mengajak San berbicara ketika ia melihat kerlip cahaya lampu dari rumah batu. Dari balik tirai jendela ruang duduk, disinari lampu-lampu taman, Els melihat sosok gelap bertubuh mungil keluar. Sosok itu menjinjing sebuah kaleng dan kemudian berhenti di rumah seberang, mengguratkan tanda silang berwarna merah di pintu rumah itu. Els menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Sosok gelap itu berbalik, berjalan di antara bayang-bayang pepohonan mapel, menuju ke arah rumah mereka. Els mengendap-endap mendekati pintu. Ia berjinjit dan mendekatkan matanya ke lubang pengintip. Namun, anehnya, hanya pekat yang Els lihat. Sedetik kemudian, secercah cahaya berkelebat. Hanya sedetik, namun cukup membuat Els tersadar dan luar biasa terkejut. Ternyata bukan kegelapan yang ia lihat.

Tapi sebuah mata berwarna hijau! Dan mata itu seakan menyeringai jahat!(*)

Lancaster, Oktober 2013

 

Rilda A.Oe. Taneko berasal dari Lampung dan sekarang menetap di Inggris. Kumpulan cerita pendeknya Kereta Pagi Menuju Den Haag (2010).

sumber : Koran Tempo, 18 Mei 2014.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme