Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Magadir oleh Anton Kurnia

Posted on Ming, 08 Jun 2014

OH, Cinta, jiwaku musnah dihangus api yang kausulut di dalam diri. Semula kukira aku sudah mengenal api. Ternyata aku hanya tahu hangatnya lampu. Api yang ini berkobar tak terkendali. Tubuhku dibakar bara asmara. Tak kuasa aku memadamkannya. Kalau ini kegilaan, bukan aku yang memulainya. Tapi cintalah yang telah menyalakan sumbu kegilaanku tanpa rasa iba.

Kuratapi takdir dan nasibku. Kunyanyikan lagu penawar rindu:

Magadir ya galbil ‘ana
Magadir wisy dzambi ana
Magadir wittimdhi hayati
Masyawir watmannal hana

Oh, takdir! Wahai hatiku yang lara, apakah dosaku? Hidupku terus berjalan. Aku mengharapkan kebahagiaan. Tapi kami dipaksa berjauhan. Sirnalah kesenangan. Harapan pun hanya lamunan. Wahai para pecinta, bagaimanakah caranya agar cinta itu mudah? Bagaimana agar jarak membuat mata melupa? Sekali pandang kerinduan terasa manis bertahun-tahun. Berilah aku sekejap pandang kerinduan!

Mereka bilang masih ada air tenang, bahkan di tengah pusaran air yang gila. Tapi kenapa tak ada setitik pun ketenangan dalam pusaran kegilaan cintaku? Jika cinta bagaikan racun, jelaslah aku telah binasa dituba asmara.

Bagaikan gelang bagi tanganku, bunga bagi rambutku, pulas bagi mataku, gincu bagi bibirku, aroma wangi bagi payudaraku, kalung bagi leherku, kenikmatan bagi tubuhku, jiwa bagi rumahku. Bagaikana sayap bagi burung, air bagi ikan, nyawa bagi sang hidup. Begitulah kau bagiku. Betapa pun hebatnya aku menangis untuk melupakanmu, kau selalu kembali menyelindap di benakku. Dan bila kaudengar aku bernyanyi, kau tentu tahu, itulah tangisku untukmu. Yang menjerit adalah hati, tetes air mataku menjadi bayangan nyeri.

Oh, Kekasih, sekuntum mawar mekar dalam diriku saat kaukecup bibirku. Saat itu seakan raja dunia menjadi budakku. Dalam cahaya matamu aku belajar cara bercinta. Dalam ketampananmu aku belajar merangkai kata. Dalam gelap malam pun tak perlu lilin menyala. Sebab cahaya cinta sedang purnama.

Karena dirimu sampai hati aku mengkhianati suamiku. Karena cintamu aku terseret nafsu gila tak berujung. Tapi tak pernah kusesali perjumpaan kita. Bahkan jika cinta berarti petaka, biar sajalah aku dijemput. Mati dan mati tujuh kali berturut-turut. Kalau perlu sampai ribuan kali.

Di bukit sunyi daunan ilalang bergesek ditiup angin sepi. Aku membayangkan kekasih yang tak ada di sini. Bulan jelita. Gagak terentak dari lelapnya. Aku duduk sendiri di dalam kamar tempat kita pernah bercinta. Di pinggir ranjang kupandangi bantal. Malam ini ngilu hatiku. Bagaimana aku bisa menemukan kekasihku yang lenyap entah ke mana? Kapan bisa kutemui kau kembali? Berapa lama lagi malam akan berlangsung tanpamu? Apakah kau akan tetap mencintaiku?

Kuingat saat bahagia kala kita duduk berdua di sudut rahasia. Terbebas dari pandangan dan cakap orang-orang. Kau dan aku. Dua sosok tubuh tapi hanya satu jiwa. Harum semak dan nyanyi burung menebarkan kehidupan pada saat kita memasuki taman. Bintang-bintang yang beredar sengaja menatap kita lama-lama. Bagai bulan kita bagaikan cahaya terang kepada mereka. Kau dan aku menyatu dalam puncak nikmat tertinggi. Semua burung yang terbang di langit merasa iri. Lantaran kita tertawa riang sekali.

Begitu berat pertemuan, begitu berat perpisahan: ketika angin timur tak bertiup lagi, segala bunga layu; ulat sutra mati karena memintal, air mata lilin mengering kala mengabu. Suara malam mencecap cahaya bulan. Duka perpisahan tak juga sirna. Bagai mimpi musim semi ia datang sesaat. Lalu bagai kabut pagi ia pun tiada. Entah ke mana.

Aku teringat saat suamiku membawaku ke istanaku. Kau seorang budak muda rupawan yang baru dibelinya dari seorang saudagar budak. Pertama kali memandangmu, aku langsung jatuh cinta. Ah, siapa yang tidak? Perempuan sehat manakah yang bisa bersabar menatap cahaya parasmu?

Kuingat pula saat kami mengadakan pesta jamuan pada suatu malam di balairung istanaku. Para wanita kawan-kawanku tanpa sadar melukai jemari mereka saat mengupas delima seraya menatap takjub sosok rupawanmu ketika tiba-tiba kau masuk menghidangkan minuman segar. Mereka berseru dan mendesah tanpa sadar. Lupa diri dilanda pesonamu yang memabukkan dan bikin gemetar. Maka jangan salahkan aku jika aku tergoda oleh ketampananmu dan menggodamu karena racun asmara ini tak mampu kulawan.

YA, semula kau memang menolak jaring pesona yang sengaja kutebarkan. Sekuat akal dan daya kau mencoba lepas dari jerat madu perangkap rayuan. Tapi aku wanita berpengalaman. Lagi pula aku bukannya tak rupawan. Perlahan-lahan, selangkah demi selangkah, kau berhasil kutaklukkan. Kita pun menjadi sepasang kekasih tak terpisahkan.

Sampai tibalah malam jahanam itu. Saat kita berasyik-masyuk, meniti bahtera dalam liarnya badai asmara di atas peraduanku, suamiku yang semula kukira sedang bermuhibah ke luar negeri sekonyong-konyong mendobrak pintu terkunci dan menerobos masuk bersama penjaga.

Suamiku murka. Nyaris saja kau dipenggalnya saat itu juga. Beruntung air mata dan ratap rayuku yang mengiba-iba serta sedikit cintanya yang tersisa untukku membuatnya mengurungkan hukuman. Tapi siksaannya berlaku juga bagi kita berdua. Kau dideranya dengan empat puluh cambukan hingga luka-luka. Lalu kau diusir dari istananya dan tak diperkenankan lagi menginjakkan kaki di negeri ini. Kau dibuangnya ke ujung benua sebagai budak hina-dina dengan harga jual serendah-rendahnya demi menistakan harga dirimu. Sementara, aku dikurungnya di istana durjana ini, tak diperbolehkan beranjak selangkah pun dari gerbang yang dijaga para pengawal bersenjata. Aku pun tak diperdulikannya selama empat puluh hari empat puluh malam. Dianggap tiada dan tak berharga. Seandainya cintanya kepadaku tak sedahsyat ombak tujuh samudra, tentu kita berdua sudah binasa.

Dan kini aku disiksa rindu kepadamu. Padahal aku tak tahu di mana kau berada dan bagaimana keadaanmu. Cinta kita serupa buah terlarang yang membuat kita jatuh ke dalam nestapa rindu yang membelenggu. Oh, burung kelabu, sampaikanlah rinduku kepada kekasihku!

Aku ingin dekat denganmu bagai baju basah yang menempel di tubuhmu. Aku ingin mencarimu selalu walau kutahu itu tak perlu. Tentu saja sepasang kekasih tak usah bertemu di tempat tertentu. Karena yang satu ada di dalam yang lain sepanjang waktu.

Sayangku, aku akan selalu mencintaimu sampai seluruh lautan mengering dan batu karang leleh ke laut. Tapi tak kuat rasanya aku hidup tanpa kehadiranmu. Jika sampai aku mati, kenanglah aku saat sudah tiada nanti. Waktu kau tak lagi bisa menyentuhku. Ketika tak ada jalan kembali bagi kita. Kenanglah aku jika sudah terlambat untuk mengucapkan kata dan doa.

Kalau rindu menyiksaku hingga aku tak tahan lagi, biarlah aku mati. Tapi sebelum aku mati, perkenankan kupanjatkan sebuah pengakuan:

Ya, Tuhanku, tak pantas bagiku menjadi penghuni surga-Mu
Tapi aku tak kuat dengan panasnya api neraka
Maka ampunilah segala dosa dan kesalahanku
Jika Kau menolakku, kepada siapa lagi aku mengiba?

 

Kemang-Antapani, Mei 2014

Catatan
Cerita pendek ini diilhami Magadir, lagu berbahasa Arab gubahan Pangeran Mohammad Abdullah al-Faisal dan Siraj Omar Tamblen yang amat dikenal di kalangan pesantren di Indonesia, dipopulerkan oleh penyanyi Talal Maddah dan Warda al-Jazayria. Cerita pendek ini juga merupakan adaptasi tak setia kisah Zulaikha dan Yusuf dalam Haft Awrang karya Nuruddin Jami(1414-1492), penyair sufi Persia. Beberapa kalimat di dalamnya dipinjam dari puisi-puisi para penyair dari berbagai negeri dan berbagai zaman terjemahan Sapardi Djoko Damono dalam buku Love Poems: Aku dan Kamu (2007) serta syair Abu Nuwas al-Hasan (756-814).

 

Anton Kurnia sehari-hari bekerja sebagai manajer redaksi pada penerbit Serambi, Jakarta. Kumpulan cerita pendeknya adalah Insomnia (2004).

sumber : Koran Tempo, 8 Juni 2014.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme