Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Keluar oleh Yetti A.KA

Posted on Ming, 22 Jun 2014

NICELI keluar rumah pukul delapan pagi. Ia masih ingat bunyi mangkuk jatuh. Itu mangkuk kesayangannya. Mangkuk yang tidak boleh pecah. Tapi semua sudah terjadi. Pecahan-pecahan mangkuk itu bahkan masih berserakan di lantai saat ia meninggalkan rumah.

Dengan muram ia memandang jalan sambil terus memikirkan apa yang akan dikatakan Norm jika tahu mangkuk itu sudah berakhir? Ia menapaki jalan; satu langkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah, lima langkah dan entah nanti sampai berapa saat akhirnya ia berbalik lagi. Bunyi mangkuk jatuh tidak juga pergi dari kepalanya. Bunyi yang mendekam dalam kepala dan muncul berulang-ulang.

“Cukup,” desisnya sambil memejamkan mata, “Pergilah dari kepalaku.”

Ia bernapas tenang-tenang. Membuka matanya lagi. Jalan panjang kembali terbentang.

Sambil melanjutkan perjalanan, ia tetap memikirkan mangkuk yang pecah itu. Mangkuk hadiah dari Norm. Pantas saja kalau ia marah pada dirinya. Seharusnya mangkuk itu ia pegang kuat-kuat. Sekuat ia menyimpan kenangan saat ia menerima pemberian itu; di sebuah hari saat ia hampir menikah. Dan Norm bilang, simpan baik-baik ya. Norm seolah tahu setelah menikah mangkuk itu lebih berguna dari apa pun dalam hidupnya. Norm seperti tahu Niceli tidak akan punya waktu lagi keluar rumah: pergi makan; pergi hura-hura tanpa tujuan jelas; nonton film terbaru; nonton pertunjukan rakyat yang kadang diadakan di depan gedung kesenian di kotanya; minum teh hijau sore-sore—sesuatu yang paling digemarinya.

Bagaimana mungkin Norm membayangkan hidupnya demikian buruk? pikirnya waktu menerima hadiah dari lelaki itu. Ia menganggap hadiah Norm lelucon paling menggelikan. Ia tidak suka dapur. Tidak suka semua peralatan dapur. Norm tahu itu. Tapi ia memang menyimpan mangkuk itu baik-baik. Awalnya ia simpan di lemari khusus tempat ia menyimpan macam-macam benda kenangan. Ia pikir bila kangen pada Norm, ia bisa mengeluarkannya. Memandanginya. Dan mengingat wajah Norm yang bulat. Tawa Norm. Gigi Norm yang tidak rapi. Hidung Norm yang besar. Sepasang mata Norm yang dalam. Dalam? Ia tertawa. Ia memang pernah jatuh cinta pada Norm. Hanya orang yang jatuh cinta yang bisa mengukur kedalaman mata seseorang.

Tapi Norm benar sekali. Setelah menikah, mangkuk itu jadi amat berguna baginya. Mangkuk itu menjadi alasan untuk membeli peralatan lain. Bagaimana mungkin ia hanya punya mangkuk? Ia harus punya piring, gelas, wajan, alat pembakar ikan, pisau dapur, talenan, begitu ia pikir.

Ia pun ingin memenuhi dapurnya.

“Aku belajar masak sekarang, Norm,” ia menelepon Norm saat hari pertama memutuskan menyukai dapur; pada hari itu ia mencoba membuat kroket yang resepnya ia lihat di majalah. Dapurnya kacau sekali hari itu. Tepung terserak di meja. Minyak memercik ke lantai. Potongan kentang berhamburan ke mana-mana. “Seru sekali,” ujarnya terbahak. Ia ingin meyakinkan Norm, memasak itu ternyata menyenangkan dan dapur tempat bermain-main yang paling membahagiakan.

Ia menghela napas. Itu sepuluh tahun lalu. Saat ia menelepon Norm dan masih tertawa. Setelah itu ia makin jarang menelepon. Makin jarang tertawa. Ia takut mengganggu Norm. Ia tahu lelaki itu makin sibuk. Lagi pula apa kata pacar Norm jika ia terus-menerus menghubungi lelaki itu untuk menceritakan soal dapur, yang pasti saja tidak masuk daftar “urusan penting”.

Berhenti. Lalu menapak lagi. Kali ini ia melangkah lebih pelan. Ia tiba-tiba benci berjalan tergesa-gesa. Seperti yang ia lakukan selama ini. Tergesa. Ia tergesa mengambilkan handuk baru buat suaminya. Tergesa menyediakan segelas air minum hangat-kuku di meja. Tergesa membuatkan sarapan sehat. Tergesa mengambil bayinya di tempat tidur yang tiba-tiba terbangun karena bunyi klakson mobil tetangga.

Niceli-mu sudah tidak ada, Norm. Ia sering mengatakan itu pada dirinya saat-saat ia sedang tergesa. Saat-saat ia ingin sekali menjerit. Saat ia merasa kekurangan tangan agar bisa melakukan segalanya. Saat ia menyesali kenapa ia menolak bantuan seorang asisten rumah tangga demi membuktikan kemampuannya mengurus segalanya. Demi menunjukkan betapa ia menikmati kehidupan baru. Ia suka belajar. Dan ia akan terus belajar.

Untuk itu ia memilih berhenti bekerja saat kelahiran anak kedua. Ia tidak mengabari Norm tentang itu. Padahal itu titik paling penting yang membalikkan semua hidupnya. Dari A menjadi B. Dan Norm tak akan pernah menemukannya lagi. Sebab Norm berada di dunia A. Sebab Norm tidak akan mengerti apa-apa jika pun ia mencoba memberi penjelasan tentang kenapa ia harus berada di dunia B.

Serombongan anak berlari dan hampir menabraknya. Ia mengomel. Kenapa anak-anak harus bermain di jalanan. Seharusnya mereka belajar di sekolah pada jam pagi begini. Seharusnya? Seharusnya ia juga berada di rumah. Menjahit “baju hari Senin” anaknya yang robek di bagian ketiak. Ia belajar menjahit dua tahun. Ia mempelajari hal-hal yang akan berguna di rumahnya sekaligus bisa menyenangkannya. Ia menjahit baju-baju lucu untuk dirinya. Sayangnya, ia selalu merasa tidak tahu kapan akan bepergian ke mana dengan baju-baju itu. Ia bukan lagi Niceli yang senang pada baju-baju pas-badan bergaya vintage dan sepatu boots (di musim hujan ia suka memakai boots agak tinggi).

Norm pasti terpingkal kalau melihat dirinya sekarang. Karena itu ia tidak berani keluar rumah untuk jalan-jalan santai, pergi ke tempat-tempat yang menyenangkan perasaannya. Tempat dengan kemungkinan ia bertemu teman lama. Ia takut kalau kebetulan bertemu Norm. Lagipula ia memang mesti di rumah. Membereskan segala sesuatunya di pagi hari. Mengisi jam-jam membosankan dengan hal berguna ketika siang. Menanti anak-anak pulang sekolah, sore hari. Menanti suaminya pulang kantor, malam hari. Sepanjang penantian itu, ia mencoba macam-macam resep yang sudah makin dikuasainya. Merapikan dapur. Menatap ulang meja makan—ia suka mengubah letak meja makan untuk menghindari kebosanan. Menggambar pola dan menjahit. Membersihkan kebun mini.

Norm benar-benar tentu akan menertawakan dirinya sekarang. Niceli mendadak sedih. Tubuhnya menciut sekecil-kecilnya. Tapi ia sudah keluar, pikirnya. Ia harus mengangkat wajahnya yang sudah sebulat wajah Norm dulu. Telapak tangannya basah. Ia gugup, memang. Ini pertama kali ia keluar rumah dengan tujuan di luar biasanya. Bertahun-tahun ia sangat tertib tentang segala hal. Baiklah. Keluar rumah untuk bersantai atau menyegarkan pikiran barangkali sesuatu yang terlalu sederhana bagi orang lain. Namun, ingat, orang tidak akan tahu apa-apa tentang hidupnya sampai ia ada di sana—sebuah kehidupan yang bahkan tidak bisa diduga sama sekali. Di mana seseorang berubah pelan-pelan. Di mana seseorang mulai dijerat oleh aturan-aturan yang dibuat sendiri. Di mana seseorang mulai membuat hal-hal ideal dan merasa berdosa jika tidak memenuhinya.

Itu terjadi padanya.

Tapi sekarang ia benar-benar ada di luar, di sebuah jalan yang panjang. Seseorang menyapa—ia pikir itu tetangga barunya dan tampak kerepotan sekali membawa barang belanjaan. Mirip badut. Dan kemarin ia melakukan hal yang sama, juga pasti saja mirip badut. Ia membalas sapaan pendek itu. Pendek saja. Ia memang tidak suka banyak bicara seperti dulu. Lagi pula, ia tahu tetangganya itu tergesa. Mungkin saja suaminya akan pulang makan siang. Ia harus cepat sampai di rumah membawa barang belanjaannya di toko serba ada dekat kompleks rumah. Ia mesti menyiapkan segala sesuatunya.

Ia memang tidak menikah dengan lelaki cerewet. Suaminya sederhana. Apa adanya. Tidak menuntut. Ia tidak membicarakan harusnya Niceli begini dan begitu. Suaminya tidak melarang ia pergi ke mana pun. Akan tetapi justru itu yang menakutkan. Ia tidak tahu isi kepalanya. Tidak tahu apa maunya. Ia dihantui perasaan kurang ini dan kurang itu. Tentu saja seharusnya ia bisa terus bekerja, bisa ke mana-mana sebagaimana Niceli yang dulu, tapi itu membuatnya merasa bersalah. Dengan cara apa ia menghadapi lelaki tanpa cela itu selain dari memberikan kebaikan juga?

Kalau saja aku bersama Norm, pikir Niceli. Aku bisa melakukan apapun tanpa harus menjadi “Niceli yang terbaik”.

“Kita berdua keras kepala,” kata Norm waktu itu, “Kita tidak akan bertahan jika bersama-sama.”

Mungkin Norm benar. Tapi saat ini ia hanya memikirkan Norm. Atau selama ini sebenarnya ia selalu memikirkan Norm. Ia hanya mengingkarinya. Ia hanya meletakkan Norm ke dalam bagian gelap dari pikirannya.

Ia sudah sampai pada titik di mana kakinya tidak bergerak lagi. Ia ikut membeku bersama kaki itu. Dilihatnya sekeliling. Ia hanya sendiri di jalan panjang. Kau harus bahagia, Niceli. Kalau tidak, aku akan marah. Norm pernah mengatakan itu. Sekarang suara Norm terdengar nyata di telinganya, berganti-ganti dengan suara mangkuk jatuh ke lantai. Jalan di depannya masih sangat panjang. Ia tidak tahu apa ia akan sampai ke ujung sana atau tidak. Apa di sana ia akan menemukan Norm? Ia ingin bilang pada Norm, mangkuk itu pecah tadi pagi. Ia kurang hati-hati. Ia ingin katakan pada Norm, sejak mangkuk itu pecah ia seolah kembali menginginkan dirinya yang dulu. Ia ingin keluar. Ia rindu pada Niceli saat bersama Norm. Ia merasa kalau selama ini berada di tempat yang salah. Norm harus tahu: ia tidak bahagia.

Apa yang akan dikatakan Norm jika itu semua ia sampaikan?

NORM berhenti mendorong kursi roda. Niceli sudah tertidur dan kepalanya terkulai ke samping kanan. Seperti biasa, diambilnya buku tulis di tangan Niceli. Buku yang penuh coretan Niceli sepanjang hari ini. Ia membaca tulisan itu sambil sesekali menatap haru rambut Niceli yang mulai memutih.(*)

 

GP, 2014

 

Yetti A.KA tinggal di Padang, Sumatera Barat.

sumber : Koran Tempo, 22 Juni 2014.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme