Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Israelisme

Posted on Ming, 08 Sep 2024

Aku menghubungi Pusat Sibernetika Semesta, tapi rupanya lembaga yang paling bertanggung jawab terhadap populasi dan giat robot humanoid di muka bumi itu tidak melayani telesensorik. Bagaimana mungkin, menjelang tahun 2040 komunikasi konsorsium dan para versis harus dilakukan via pesan kinetik dan hologram mapping. Tidakkah itu menghabiskan terlalu banyak sumber daya, apalagi bagi versis, yang –tinggal di– Israel seperti aku.

YA, versis. Sejak robot-robot humanoid membuat petisi kepada negara tentang penggunaan istilah atau nama dalam menyebut produk sibernetika, para robot humanoid keberatan disebut robot setelah karya-karya Karl Capek diproduksi ulang. Dalam drama Rossum’s Universal Robots yang legendaris, Cepek menyebut robot sebagai budak. Keadaan itu makin parah ketika Profesor Antelove Sumargo menguji sensitivitas emosi Jamlock, robot humanoid dengan kapasitas memori panoramik bergerak hingga 2789 supermega ultrabite, dengan mewajibkan mereka membaca Cadmus. Sebagaimana dugaan, tak hanya robot, para manusia pun terkena demam karya-karya pesohor Yunani Kuno itu.

Biblionouszork alias Departemen Komunikasi dan Pendidikan pun merilis semua karya Cadmus atau kisah-kisah tentang –atau yang berkaitan dengannya– dalam format digital dengan varian yang lengkap: teks, audio, visual, audiovisual, hologramik, hingga yang ultrasonik. Gratis. Akibatnya laman Biblionouzork jebol di pekan ketiga. Sungguh memalukan. Wajar saja kalau Doktor James Feifei mengundurkan diri dua hari kemudian karena mengaku gagal. Kegegeran baru pun lahir: Luka Luke yang dilantik menggantikan Feifei dicurigai bukan manusia, melainkan versis. Melainkan robot humanoid!

Aku juga membaca Cadmus. Mendalami segala hal tentang raja pertama Negeri Thebes itu malah. Bahkan saking banyaknya membaca esai-esaiku tentang eksistensi kecerdasan buatan di zaman lahirnya pragenius di Athena dan Sparta itu, aku kerap diundang ke seminar, gelar wicara, siniar, dan interaksi telepatronik dengan topik seputar Revolusi Inteligensia 9.9. Profesor Antelove bahkan terang-terangan mengirimiku flashy alias pesan supersingkat dan cepat agar kami bisa bertemu. Laki-laki itu ingin tahu lebih banyak tentang para naga yang menjadi pasukan andalan Thebes di zaman Yunani Kuno. ”Bagaimana mungkin kecerdasan memancar dari gigi ular raksasa berkaki itu? Benarkah kotorannya naga adalah emas sebagaimana mitologi yang berkembang di Tiongkok Raya dan Asia Tenggara?

Kala itu aku ragu. Si profesor benar-benar ingin tahu atau sedang mengujiku. ”Aku bahkan sangat tertarik tentang Galatea yang pernah Prof publikasikan di Mayoribes dua tahun lalu. Aku lega sekali bisa berpikir cepat untuk mengimbangi permainannya.”

”Bagaimana mungkin di zaman ultradigital ini, masih ada barter?”

Sejak itu, kedekatan kami bukan hanya membuatku tahu banyak tentang Galatea yang terbuat dari gading gajah. Tapi juga membawaku pada penelitian tentang Phygmalion, si pembuat Galatea yang jarang disebut namanya dalam kisah-kisah mayor Yunani, padahal ia memelopori kecerdasan buatan di zamannya.

Profesor Antelove, entah tulus entah menghargai, takjub dengan kedalaman pengetahuanku tentang mitologi naga. Ia bahkan sering memintaku bercerita ulang tentang proses penyigian gigi naga untuk menjadi semacam chip dalam menjinakkan naga-naga buas itu sendiri untuk menjadikan mereka bagian dari bala tentara kerajaan. ”Apakah benar naga-naga itu jelmaan Hephaestus?”

Aku tertawa. ”Maafkan kalau aku lancang atau kurang ajar, Prof,” kataku waktu itu. ”Prof benar-benar tidak tahukah?”

”Sejak Society 5.0 meletus di Jepang, eksistensi polimatik adalah mitos. Makin ilmuwan, makin sempit pengetahuannya, makin tidak layak sombong, makin terkungkung kandang pseudo-intelektualisme.”

Baiklah. Aku percaya. ”Hephaestus memiliki sekumpulan tenaga pembantu yang merupakan automata, Prof.”

”Apa?” Profesor membelalak. ”Bagaimana bisa Hephaestus …”

”Ia bahkan seorang dewa, Prof.”

”Oh.”

”Besar dan populer di Yunani, tapi patungnya malah bertengger di museum di Kopenhagen sejak tahun 1800-an.”

”Bagaimana bisa ia berurusan dengan mesin-mesin abstrak, konstanta bahasa formal, dan tentu saja grammar atas dasar postulat dan hipotesis tertentu.”

Sebagaimana profesor, aku pun ikut menggeleng.

”Automata sang dewa bahkan terbuat dari emas, Prof.”

Cting! Notifikasi hologramku masuk. Pusat Sibernetika baru saja mengonfirmasi kenyataan yang sungguh pahit kuterima. Bahwa Fillia Killick berakta pembuatan tujuh belas tahun yang lalu. Oh, bagaimana profesor merekayasa riwayat dan memoriku sehingga aku tak curiga sedikit pun. Bagaimana mungkin aku berbicara dengan pembuatku tiga tahun setelah aku didaftarkan ke Departemen Kependudukan Versis (dulu Robot Humanoid namanya).

Aku meraba-raba sekujur tubuhku. Aku memandang lepas ke halaman rumahku yang dipenuhi lampu-lampu yang mengambang oleh infra atom. Aku mencoba mengingat banyak hal. Makin banyak yang kuingat, makin kuyakin bahwa semuanya adalah rekayasa sensorik. Aku meragukan diriku, meragukan muasalku.

”Ada pertanyaan?”

Rupanya petugas hologramik masih belum beranjak dari hadapanku.

”Bagaimana dengan Ujang Killick dan Ilut?”

”Anda pernah melihat mereka?”

Aku mengangguk. ”Mereka orang tuaku.”

”Ibu Fillia, memori buatan dalam diri Anda yang bilang begitu. Bukan fisik, bukan psikologis.”

”Berilah aku akses ke Badan Kesehatan Sibernetika.” Ya, bukan rahasia lagi kalau rumah sakitnya robot itu hanya bisa diakses oleh mereka yang masih punya hubungan dengan petinggi negara atau Konsorsium Versis.

”Dipertimbangkan.” Lalu hologram itu padam seperti asap yang lenyap dalam sekali tiup.

Kini aku merenung. Merenung? Tidakkah itu hanya bisa dilakukan oleh manusia, bukan robot? Benarkah aku versis? Ah, tidak. Selama ini aku kerap dikucilkan oleh teman-temanku karena mereka menganggapku seorang paranoid terhadap robot. Dan kini, aku sungguh berat menerima bahwa aku juga versis. Meskipun, ya meskipun, selama ini, sebelum kenyataan itu menyala-nyala, aku masih bisa hidup baik-baik saja. Dengan penuh gairah. Dengan kesedihan. Dengan macam-macam ekspresi dan keadaan. Aku sangat manusia. Kalaupun hasil pemeriksaan Badan Kesehatan Sibernetika nanti memvonis aku robot humanoid, aku ikhlas. Ikhlas karena tak ada pilihan. Tah selama ini, selama versis dan manusia hidup berbaur atas nama multiversisme dan muktikulturalisme, aku masih baik-baik saja.”

”Meskipun kamu dilahirkan sebagai mangkuk pengemis sekalipun, kalau itu bisa membuatmu gembira, orang-orang dan para versis tidak bisa berbuat apa-apa, selain mengganggumu.” Ah, aku teringat ucapan Profesor Antelove pada pertama aku ditunjuknya menulis kisah hidupnya sepuluh tahun yang lalu. ”Sebagai penulis, kau bisa hidup bahagia apabila kau menghargai yang wajib: diri sendiri. Kamu bukan seorang filantropis. Kamu juga bukan freegan yang menganggap sayur sebagai hasil pertanian di surga dan hewan sebagai sumber kemiskinan bangsa. Jadi, tidak usah banyak gaya dan pencitraan. Dengar,” profesor memberi jeda, ”meskipun kamu penulis produktif, meskipun kamu … ah apa pun itu, bahagia atau sedih atau frustrasi adalah domainnya dirimu. Kamu yang buat sekaligus kontrol sendiri.”

Notifikasi berdentang di ujung telinga kananku. Di sana, udara menjelma layar tembus pandang. Badan Kesehatan Sibernetika telah menunjuk dokter untuk memeriksaku. Aku diminta menjawab pertanyaan yang kesemuanya bisa kujawab. Yang kesemuanya tidak sedikit pun mengarah pada simpulan bahwa aku adalah mesin. ”Berikutnya, asistenku yang akan mengurusmu.”

Tak sampai dua menit, suara perempuan humanoid di layar terdengar tegas. ”Kami akan mengonfirmasi semua jawaban Anda dengan Profesor Antelove,” terangnya.

”Buat apa? Dia mengklaim membuatku robot. Dia menjadikanku model eksperimennya. Dia …”

”Kalau Anda tahu begitu, Anda sudah tahu kalau Anda robot, bukan?” sindirnya dasar humanoid sok berkuasa!

”Tetap masih ada peluang kalau profesor berbohong.”

”Kita berurusan dengan hasil asesmen, bukan perasaan,” tegas si asisten. ”Sertifikat penerbitan Jamlock 8.9 atas nama Fillia Killick ditandatangani oleh Profesor Antelove Sumargo. Anda paham sekarang?”

”Tidak mungkin.”

”Hati-hati kalau bicara,” nada suaranya makin tegas dan tajam. ”Kecuali Anda mau melawan Konsorsium Versis.”

”Aku akan melapor ke negara. Aku bukan budak konsorsium.”

”Kamu robot. Bukan budak. Spesimenmu sama persis dengan Januarisme, robot asistenmu.”

Gila! ”Kamu pasti tidak membaca Karl Capek!”

”Kami membaca Cadmus. Bukan dramawan Ceko itu.”

”Robot artinya budak.”

”Anda mau menjadikan Rossum’s Universal Robots-nya Capek sebagai pleidoi? Maaf, negara maupun konsorsium tidak memasukkan R.U. R. ke daftar bacaan penduduknya.”

Lalu aku merasakan sekujur tubuhku menegang. Kedua tanganku seperti diborgol. Petugas itu sudah hilang dari layar. Berganti dengan tulisan ”Ditahan karena Melawan Konsorsium Sibernetika Semesta.”

Aku benar-benar kesulitan menggerakkan tubuh. Robot hologramik berdiri di hadapanku. Lima detik kemudian, ia menarikku masuk ke dalam lingkaran cahaya ungu mudanya. Tak pernah kubayangkan kalau aku akan menjadi uap sebagaimana para versis yang kedapatan melakukan kudeta atau meretas sistem keamanan konsorsium. Sayup-sayup aku mendengar ayah dan ibuku berbisik. Ayah menyeretku ke Jawa, ibu merayuku ke Yerusalem. Mereka rakitan ultrasonik imajiner atau bukan, aku tak peduli. Aku kadung gembira mendengar suara mereka. (*)

Lubuklinggau–Baku, Januari–Juli 2024

*Cerpen ini merupakan sempalan (spin-off) atas ”Cinta di Atas Sharkeen Bus” (Koran Tempo, 21 Januari 2024) dan ”Musim Semi di Kisufim Road” (Kompas, 2 Juni 2024).

sumber : JAWAPOS, Minggu, 8 September 2024

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme