Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kenakalan Remaja Manusia oleh Eliza Vitri Handayani

Posted on Ming, 07 Sep 2014

BAYANGAN gempal dari depan jatuh pada buku tulisku. Aku ketahuan!

“Coba lihat buku catatan kamu!” kata Pak Firdaus.

Kucengkeram buku itu erat-erat, sampai ia harus mencukilnya dari jemariku. Pak Firdaus tidak peduli akan mata-mata yang memandang penasaran ke arah kita. Dibalik-baliknya tiap halaman—berisi puisi-puisi yang sudah kugarap masih SD. “Kamu tahu sekarang lagi pelajaran Ekonomi?”

Dengan jarinya ia menyuruhku mengikutinya ke muka kelas. “Bawa tas kamu!”

Ia duduk di meja guru. Perut buncitnya menyembul di kolong dan kacamatanya jaduh ke hidung sementara ia menumpahkan isi tasku ke atas meja.

“Pak, itu kan barang-barang pribadi saya!”

Sebungkus pembalut berguling ke lantai. Pecahlah tawa seisi kelas.

Segara kusambar barang itu, sementara Pak Firdaus beranjak menuju wastafel di sisi papan tulis. Diputarnya keran dan diguyurnya hingga kuyup buku kesayanganku itu.

Di rumah aku langsung lapor. “Enggak pantas kan, Ma, guru ngorek-ngorek barang pribadi orang? Itu kan beri contoh yang buruk, Ma.” Di ubin kamar tidur Mama terbentang halaman-halaman lepek yang berdarah tinta hitam dan biru. Sudah setengah jam aku berusaha menyelamatkan mereka dengan pengering rambut Mama.

“Mungkin dia pikir kamu nyimpan rokok atau obat,” kata Mama.

“Tapi kan nggak harus dikeluarin semuanya di depan kelas, Ma. Itu kan bikin malu!”

“Udah ah, turuti aja maunya. Jangan pikir bagaimanya gurunya, serap ilmunya.”

Makanya sejak itu aku hanya mengadu pada Revo. Ia bilang, “Setan itu guru!”

Esoknya, motor Pak Firdaus dipreteli—hingga ke suku cadangnya.

DEMI menjauhkanku dari godaan setan, tawuran, dan kenakalan remaja lainnya, dua tahun lalu orangtuaku melumerkan tabungan mereka untuk menyelundupkanku ke sebuah sekolah swasta Islam di Tangerang. Mereka cemas melihat berita-berita tentang “geng” anak-anak SMA baku hantam di jalan raya, saling melempar batu, dan memecahkan kaca mobil-mobil, “preman-preman dini” menjarah bus dengan cutter atau pisau lipat; perempuan-perempuan ABG memamerkan paha di mal-mal mewah demi uang, cari pengalaman, atau sekadar senang-senang.

Pada awalnya aku menentang, mengambek, dan menangis. Aku membayangkan mesti tinggal di asrama yang lembap dan gelap, tidur bersesakan dengan lusinan anak perempuan dari kampung, mengaji seharian hingga suara jadi serak, dan memakai kerudung setiap hari. Aku ingin meneruskan ke SMP yang sama dengan kedua sahabatku.

UN berlangsung di bawah pengawasan guru-guru dari SD lain, barangkali pengaturannya begitu supaya guru-guru tidak sengaja mendongkrak nilai anak-anak didik agar sekolah mereka tetap jadi unggulan dan mendapat dana yang sehat dari pemerintah. Tapi guru-guru ternyata lebih lihai. Baru setengah jam kami menggarap ujian mata pelajaran pertama, teman sebangkuku menggulirkan segumpal kertas ke arahku. Karena tak ingin kena masalah, lekas-lekas kutepis kertas itu.

“Eh, ini dari Bu Guru, tahu?” bisik teman sebangkuku itu. Benar saja, ternyata memang guru pengawas yang menuliskan contekan itu, ia kemudian meminta kami mengedarkannya. Jika masih ada yang belum jelas, kami tinggal angkat tangan dan guru pengawas akan memberitahu jawabannya. Aku hanya bisa menerka guru-guru kami pun melakukan hal serupa di sekolah tempat mereka menjadi pengawas. Sepanjang minggu bola-bola kertas contekan berlompatan dari satu sudut kelas ke sudut kelas lain, seperti bakso di penggorengan.

Pada penghujung hari pertama ujian, Bu Kepala Sekolah menjulurkan kepalanya yang berkacamata tebal ke kelas kami dan berkata, “Kalian nggak usah bilang-bilang ya sama orangtua kalau guru-gurunya baik!”

Tapi tentu saja aku bilang.

Kata Mama: “Ya, enggak apa-apa, kan? Kalau kamu dapat nilai bagus, kamu juga yang untung.”

“Kalau begitu aku main aja ya, Ma? Buat apa belajar?”

“Jangan! Kamu tetap belajar, jadi ilmu dapat, nilai juga dapat.”

Setelah itu aku setuju dimasukkan ke sekolah Islam.

SUAKAKU bangunan U tiga tingkat yang memeluk pelataran semen tempat tiang bendera ditancapkan, di hadapannya terbentang lapangan olahraga. Visa masuknya berupa nilai minimal 7 pada ujian penerimaan, uang pangkal dua puluh juta rupiah, dan iuran bulanan tujuh ratus lima puluh ribu rupiah; sebagai gantinya sekolah menawarkan fasilitas belajar lengkap dengan macam-macam lab, perpustakaan, kamar mandi yang lega dan bersih, guru-guru yang bergelar minimal S1, serta ruang-ruang kelas ber-AC. Napas keislaman ditiupkan dalam bentuk muatan tambahan berupa mata pelajaran Sejarah Islam, Studi Alquran, dan Bahasa Arab; tiap Jumat kami diwajibkan mengenakan baju muslim, lengkap dengan jilbab untuk siswi (tapi guru-guru perempuan mesti berjilbab setiap hari).

Di belakang gedung sekolah ada kebun kosong yang ditunggui sebatang pohon pepaya. Anak-anak yang terlambat sering memanjat pagar seng yang membatasi halaman belakang sekolah dengan kebun kosong itu. Harus begitu, sebab gerbang sekolah ditutup tepat pukul delapan, setelahnya hanya bisa masuk seizin satpam dan guru jaga. Satu, dua kali terlambat, siswa masih dibolehkan masuk setelah bayar lima ribu rupiah dan melafalkan beberapa ayat Alquran. Setelah tiga kali terlambat, siswa tersebut bakal dipulangkan. Setelah tiga kali dipulangkan, siswa tersebut bakal diskors. Namun, karena jendela-jendela kelas tidak berjeruji, anak-anak yang terlambat bisa menyelinap masuk ketika guru lengah.

Anak-anak di kelas kami cukup solider, apalagi kalau dikoordinasi oleh Kardus (ditulis C4r-dö35h), geng yang paling disegani di sekolah, dan karena kebanyakan guru tak lebih baik daripada Pak Firdaus.

Pak Haris gemar mengata-ngatai siswa “bangsat”, “cecunguk”, bahkan “anjing”. Bu Rahayu yang perawan tua senang membelai anak-anak cowok yang ganteng. Pernah sekali dia mencoba memeluk Eris, wakil ketua Kardus, tapi ia langsung kena hardik, dan setelah itu ia tidak berani lagi. Pak Bimo guru olahraga, lebih sering kita panggil Bemo atau Bi-Je, sebab tiap giliran mereka berpraktik—menyervis bola voli, menendang bola ke gawang—dia justru membuang muka, lalu asal memberi mereka nilai 5, sekalipun servis atau tendangan mereka sempurna. Suatu kali, saat pelajaran basket, bola yang berat itu menghantam kepalanya hingga ia tersungkur. Tak ada yang mengaku atau mengadukan siapa yang melempar bola itu.

Ketua Kardus, Revo, berkulit gosong dan berambut keriting cepak, dengan sepasang jambang runcing dan lengan yang begitu berotot hingga ia sering pamer push up dengan satu lengan di depan kelas. Dalam band ia main gitar dan jadi penyanyi utama.

Sudah lama aku tertarik padanya, mungkin karena kupikir dia paling seksi di seantero sekolah, dan aku yakin ia mampu menghajar hingga babak-belur siapa saja yang berani menggangguku. Karena cowok sekeren dia tak pernah melirik cewek se-kuper aku, hanya dari jauh aku mengaguminya, datang ke tiap pentas seni tempat Kardus manggung, dan diam-diam memfotonya dengan lensa zoom. Makanya, waktu Revo menghampiriku saat pelajaran Fisika, tiga minggu sebelum buku puisiku direndam Pak Firdaus, seuntai petasan meledak dalam dadaku.

Bu Aliya tengah berusaha keras menarik perhatian kami, minggu lalu dengan teka-teki silang, dan sekarang dengan mengadakan kuis seperti di televisi. Tetapi sama saja, tidak ada yang memedulikan, kecuali lima kutu buku yang duduk di baris depan. Aku sebenarnya bersimpati kepada Bu Aliya, sebab meskipun ia sangat membosankan dan bersuara parau seperti gagak, dia bukannya tidak berusaha. Bayangkan hina yang ditahankannya ketika menggambar teka-teki silang di papan tulis sementara Eris dan Revo di balik punggungnya dengan berisik menggeser meja dan kursi supaya dapat tempat untuk main gitar di belakang kelas. Karena itu aku diam-diam memperhatikan.

Aku tengah mencari rumus menghitung gaya gravitasi sebuah planet ketika tiba-tiba Revo sudah berdiri di hadapanku.

“Katanya lu nulis puisi, ya?”

Aku merasa malu setegah mati. “Eh, iya.”

“Boleh lihat enggak?”

“Apa?”

“Kardus mau ikut perlombaan band se-Jakarta bulan depan, tapi persyaratannya harus punya lagu-lagu orisinil. Barangkali syairnya bisa pakai puisi lu.”

“Oh.” Aku pura-pura mempertimbangkannya. “Boleh aja.”

“Katanya lu udah punya satu buku.”

“Kata siapa?”

“Ada apa nggak?”

“Ada.”

“Ada sekarang?”

“Wah, kalau sekarang enggak.”

“Besok bawa ya.”

“Oke.”

Itulah awalnya aku menjadi penulis lirik lagu-lagu Kardus.

SELAMA ini yang menganggap tulisan-tulisanku bagus hanya Pak Iwan. Ia guru bahasa Indonesia, dan bukannya mengulang-ulang teori paragraf deduktif dan majas metonimia, ia menugaskan kami membaca dan menulis. “Cari dua buku sastra Indonesia klasik mana saja, lalu tulis laporan mencakup plot, karakter, latar, sudut pandang, dan moral.” Setelah laporan kami kumpulkan, Pak Iwan bercerita ia nyaris dipecat karena lancang menugaskan siswa membaca “buku dewasa”. Ia menorehkan “Hebat!” di akhir tiap tulisan yang kukumpulkan, dan mengusulkan aku menulis untuk mading dan Warta Sekolah.

Aku sedih banyak anak mengatainya bencong hanya karena Pak Iwan sering memakai maskara dan menyisir rambut dengan jeli. Barangkali juga karena jalannya agak melenggang dan ia sudah 36 tahun dan belum menikah. Saat aku kelas 8, ia mulai menyebut-nyebut telah punya “adik ketemu gede”, dan setelah ia membagikan undangan pernikahan kukira anak-anak bakal berhenti mengatainya bencong. Namun, setelah kami naik kelas 9, bukannya ia mengilhami kami untuk meneriakkan luapan barbar kami dari atap-atap dunia; ia jadi gemar menghantam siswa—awalnya dengan tangan terbuka, lalu dengan buku; kemudian, seminggu setelah Revo menghampiriku, ia menghantam dengan sepatu siswa yang dipergokinya membolos salat Jumat.

Revo bersimpati kepada anak yang dihantam, maka Senin berikutnya ia mencanangkan Gerakan Tutup Mulut di kelas: siapa saja yang berani memperhatikan pelajaran Pak Iwan, apalagi menjawab atau mengajukan pertanyaan, bakal berurusan dengan Kardus.

Tak sampai sepuluh menit setelah bel tanda masuk berbunyi, Pak Iwan sadar ada yang tak beres. Semua menunduk seolah ketakutan.

“Kenapa kalian semua menunduk begitu?”

Tak ada jawaban.

“Bapak mengerti kalian marah. Bapak memukul teman kalian. Yang Bapak lakukan itu memang berlebihan, tetapi wajib,” katanya. “Supaya kalian bisa lihat apa yang bakal terjadi kalau kalian berlaku serupa. Hati Bapak sakit menempeleng teman kalian seperti itu, tetapi dia memang harus dikorbankan. Sebagai tumbal! Sebagai contoh buat kalian pembangkang!”

Pak Iwan mencoba meneruskan pelajaran, namun tetap tak ada yang mengangkat wajah. Lambat-laun suaranya semakin serak dan bercampur sesenggukan. Ia akhirnya lari menyumpah-nyumpah ke ruang kelas.

“Mewek deh dia di kamar mandi,” celetik Revo yang sekarang duduk di sebelah kiriku, di baris belakang. “Lihat enggak lu? Maskaranya luntur semua.”

Anak-anak justru semakin curiga Pak Iwan sungguh-sungguh bencong, dan karena itu ia butuh mebuktikan kejantanannya; tapi ia tak berani dengan pria dewasa, maka ia menyasar anak-anak.

KEESOKAN harinya, begitu bel istirahat pertama berbunyi Revo melesat dari kursinya dan menghalangi pintu. Ia meminta anak-anak tinggal di dalam kelas untuk merundingkan tuntutan-tuntutan yang akan ia ajukan kepada Pak Iwan. Anak-anak mengeluh dan memutar mata, tapi segera menurut karena ingin cepat keluar.

Pada akhir diskusi Revo menuliskan hasilnya di papan tulis, disambut tepuk tangan teman-teman:

TRITUWA (TIGA TUNTUTAN SISWA)

1. Guru tidak akan menggunakan hukuman badan terhadap siswa, di dalam maupun di luar kelas;

2. Guru tidak akan menggunakan kata-kata kasar atau nama-nama binatang ketika mengkritik siswa, seperti “babi”, “bangsat”, atau “anjing”;

3. Guru tidak akan langsung mengadu kepada orangtua siswa tanpa sebelumnya membicarakan permasalahan siswa dengan siswa itu sendiri.

Bel berbunyi lagi. Pak Iwan mengintip di ambang pintu. Matanya mengamati kami dengan curiga.

Revo berdiri dan mengumumkan siap mengakhiri GTM dengan syarat Pak Iwan mengabulkan Trituwa. “Begini, Pak, kita-kita juga mau belajar. Jadi kalau Bapak masih mau mengajar di kelas ini, kita harus menyetujui beberapa persyaratan dari satu sama lain.”

Pak Iwan mengamati Trituwa sejenak, lalu menghela napas. “Bukan begini caranya. Ada OSIS yang bisa menyalurkan aspirasi.”

“OSIS kan di bawah bimbingan Bapak juga,” kata Revo, lalu melirik Puspa, ketua OSIS, yang gemetaran di sudut kanan depan.

“Kalau kalian tidak percaya OSIS, sampaikan keluhan kalian kepada orangtua, mereka akan menyalurkan kepada sekolah.”

“Enggak bisa. Orangtua selalu berpihak kepada guru.”

Akhirnya Pak Iwan tak sanggup menentang keras-kepalanya Revo yang diamplifikasi oleh sorak-sorai teman-teman sekelas. Untunglah, sebelum kelas usai kami berhasil mencapai kesepakatan:

1. Guru tidak akan menggunakan hukuman fisik terhadap siswa, di dalam maupun di luar kelas;

2. Guru tidak akan menggunakan kata-kata kasar atau nama-nama binatang ketika mengkritik siswa, seperti “babi”, “bangsat”, atau “anjing”;

3. Guru tidak akan sembarangan menggeledah atau menyita barang-barang pribadi siswa, seperti dompet, buku harian, apalagi menggeledah badan siswa;

4. Siswa akan muncul tepat waktu tiap mata pelajaran;

5. Siswa akan memperhatikan pelajaran, tidak bermain musik, belajar mata pelajaran lain, main ponsel, tidur, atau melakukan hal-hal selain memperhatikan dan mencatat;

6. Siswa tidak akan mencontek ketika mengerjakan PR atau ujian.

Kupikir syarat-syarat untuk kami jauh lebih berat daripada syarat-syarat untuk guru, tapi seluruh kelas bersorak-sorai menyetujui. Maka ketika Revo meminta seseorang untuk menuliskan traktat tersebut, aku mengajukan diri.

“Oke,” kata Revo. “Lu jaga traktat ini. Ingatin kedua pihak kalau ada pelanggaran!”

Bangga terpilih untuk peran sepenting itu, traktat kucatat serapi mungkin kemudian kucetak di lab komputer. Lalu aku kembali ke kelas untuk mengumpulkan tanda tangan. Pertama Pak Iwan, lalu Revo, lalu aku sendiri, dilanjutkan teman-teman lain.

Dengan sangat hati-hati kusimpan traktat itu dalam map plastik, lalu kudekap erat ke dada sambil kubawa pulang untuk kupamerkan pada Mama-Papa.

MALAM itu Papa masak masakan keahliannya: nasi goreng seafood dan telur dadar dengan cabai dan bawang merah yang membuat seisi rumah tercium seperti perayaan. Ketika nasi masih berasap di penggorengan, Papa menuangkannya ke piring-piring kami yang menganga. Ditancapkannya botol kecap di tengah meja sebelum Papa ikut duduk.

Sebelum ada yang sempat tanya “Gimana hari ini di sekolah?”, aku sudah menyodorkan map plastik berisi traktat Trituwa kepada Mama-Papa dan menceritakan kemenangan kami.

Papa mengamati traktat itu dan berkata, “Ngapain kamu ikut tanda tangan?”

“Aku bukan cuma ikut tanda tangan, Pa, aku jadi penjaga traktat. Lagipula, guru-guru keterlaluan.”

“Mama tahu kamu mau bantu teman-teman, tapi enggak perlu kamu tanda tangan nomor tiga. Jadi aja nomor lima puluh kek, seratus kek.”

“Kok Mama bisa sih ngomong begitu?”

“Kamu kalau dikasih tahu orangtua!” bentak Papa. “Kalau kamu diskors, gimana? Kalau dikeluarin, gimana? Mama-Papa capek-capek cari uang sekolah kamu. Sekolah mana yang mau terima kamu kalau kamu dikeluarin gara-gara hal begini? Otak kamu tuh belum bisa mikir rumitnya dunia, baru bikin begini aja udah bangga.” Papa mendengus sambil meninggalkan meja makan, “Huh! SMP!”

Aku ganti menatap Mama, menuntut pembelaan. Tapi Mama hanya berbisik, “Mama enggak mau kamu berteman dengan anak-anak badung yang memulai GTM itu. Memangnya kamu pikir mereka enggak akan dihukum? Nanti kalau kamu ikut kena getahnya gimana?”

Keherananku akan reaksi Mama-Papa lumer jadi airmata.

“Mama enggak mau kamu bertingkah seperti ini lagi, dengar?”

Aku tidak mengangguk, hanya menerawang dan mengunci diri di balik tirai airmata yang mengaburkan dunia luar.

Seminggu kemudian, motor Pak Firdaus dipreteli.(*)

 

Eliza Vitri Handayani menerbitkan novel Mulai Saat Ini Segalanya Akan Berubah pada 2014.

sumber : Koran Tempo, 7 September 2014.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme