Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Suara 12 oleh Taufik Ikram Jamil

Posted on Ming, 19 Okt 2014

MENUNGGU suara, hampir tak ada yang dapat mereka lakukan selain berbuat demikian. Sesuatu yang akan menjadi asbab keselamatan mereka secara paripurna—bertemu lagi dengan anak isteri, sanak-saudara, kawan-kawan, dan segala hal yang menyenangkan. Sesuatu yang telah membuktikan bagaimana langkah-langkah keselamatan tersebut telah dibuat.

“Tapi sudah lama sekali, mengapa suara itu tak terdengar juga,” kata Ihsan, satu dari empat orang warga yang hidupnya sudah di ujung tanduk. Tiga dari warga lain, yakni Nanung, Togar, dan Bilah, tidak menyahut perkataan Ihsan yang hampir terdengar sebagai keluhan.

Agaknya, oleh karena kalimat itu juga yang diucapkan Ihsan berkali-kali, Togar pun berujar, “Mungkin suara itu ada urusan yang mendesak, yang tak dapat ditinggalkan, mendadak lagi.”

“Urusan?” Ihsan balik bertanya.

“Ya, barangkali,” jawab Togar.

“Urusan kaubilang?”

“Dengarmu, apa?”

Ihsan tak menjawab pertanyaan itu.

“Bisa saja. Mungkin saja, setelah meletakkan kita di sini atas tuntunan suara itu, yang bersangkutan harus menyelesaikan sesuatu yang mendadak dan mendesak pula. Seperti kita dulu. Ada-ada saja yang menyita waktu kita, sampai kadang-kadang kita lupa dengan satu atau dua urusan,” jelas Nanung.

“Ah, tak mungkin itu,” sambut Bilah. “Tak mungkin suara tersebut berbuat demikian. Ia atau dia barangkali, harus memerioritaskan kita. Kita dalam keadaan yang berbahaya sekali, tidak tahu berada di mana dalam keadaan gelap yang luar biasa pula,” sambungnya.

“Pakaian yang telah kering di badan, dengan rasa lapar dan haus yang demikian tinggi, belum lagi nyamuk yang dua kali sekejap menghisap darah, wah… Kita memang harus didahulukan dari yang lain. Usah payah-payah, tuntun saja kita ke tempat yang ada orangnya, ke suatu tempat sebagaimana ia telah membawa kita ke sini,” balas Ihsan.

“Entahlah, malas bertengkar dengan kalian,” kata Togar.

“Ini bukan bertengkar, tetapi membicarakan bagaimana ada pihak yang sampai hati menyuruh kita menunggunya dalam keadaan parah semacam itu,” Bilah tak mau diam.

“Ya, usah ditunggu kalau begitu,” sambut Togar.

“Duh. Kalau saja aku dapat melihatmu, mau rasanya aku tinju moncongmu itu,” umpat Bilah.

“Hehehe…”

“Ketawa lagi!”

“Habis, bagaimana lagi kawan. Menunggu inilah yang pasti, sementara kita memang tak bisa berbuat lain. Nasib orang menunggu, memang begitu. Apalagi kalau kita dalam keadaan jauh dari normal semacam ini. Menunggu pacar yang cantik molek saja akan terasa berjam-jam, padahal waktu yang dilewati dalam menunggu itu hanya sepuluh menit. Betuk tak?”

SEPI lagi, tetapi masing-masing dari mereka memasang telinga lebar-lebar, mana tahu suara tersebut menjelma, suara yang mengarahkan mereka untuk bergerak, menuju keselamatan. Dalam posisi duduk di atas tanah, selain menunggu suara itu, tak ada lagi yang mereka tahu tentang keadaan diri dan lingkungan mereka. Malahan, mereka tidak tahu, di mana sebenarnya mereka berada—di ruangankah atau di sebuah tempat terbuka. Dalam gelap yang amat sempurna, mereka juga tidak dapat melihat diri mereka sendiri, apalagi memandang sesamanya.

“Kenapa lama sekali ya…” ujar Bilah.

“Nanung, Nanung. Mengapa engkau tak bicara?”

Yang ditanya hanya mendehem.

“Engkau sakit?”

Mendehem lagi.

“Ah…,” Ihsan mengeluh panjang.

Togar berpura-pura batuk seperti hendak menyetel suaranya. “Sekarang masih untung,” katanya parau.

“Masih untung kau bilang?” tanya Ihsan.

“Entah macam mana orang ini berpikir. Seperti ini masih dikatakan untung? Untung apanya?”

“Setidak-tidaknya ada yang kita tunggu. Ada sesuatu yang jelas kita tunggu, meski bukan wujud yang kita kenal sehari-hari. Hanya suara, ya hanya suara yang dengannya kita merasa lebih tenteram,” jawab Togar.

“Duh…”

“Bayangkan saja ketika kita tergapai-gapai di laut, lebih dari dua hari. Memang kita menunggu, tetapi yang kita tunggu itu tidak jelas. Kita menunggu, ada sampan atau kapal atau apa sajalah namanya yang menyelamatkan kita. Tetapi apa?” Kisah Togar.

Dia mengatakan, tidak sekali dua kapal tanker lewat dalam pandangan mereka. Tetapi awak kapal-kapal besar itu seperti tidak peduli dengan keadaan mereka yang terkatung-katung di laut luas. Lambaian, teriakan, dan entah apa lagi yang mereka lakukan untuk mengambil perhatian manusia di dalam tanker, sama sekali tidak berbalas sedikit pun. Mungkin benar juga, awak-awak sejumlah tanker itu tidak melihat mereka, sehingga lewat begitu saja, tetapi jelas bahwa penungguan mereka yang tak pasti itu pun berakhir dengan ketidakpastian pula.

Suatu malam yang gelap tanpa bintang, tanpa cahaya, tiba-tiba mereka mendengar suara. Suara itu mengatakan agar mereka saling berpegang sambil berenang pelan-pelan, kemudian mengikuti suara dalam bimbingan satu kalimat, “Terus… terus… terus dan terus…”

Tak ada keraguan sedikit pun, juga terhadap tenaga mereka yang sudah hampir habis, tetapi masih diminta untuk tetap bergerak—berenang pelan-pelan. Tapi pasti mereka menjangkau suatu tempat yang mungkin tidak di laut, entah berapa lama kemudian. Sepakat mereka mengakui bahwa harapan hidup tentu jauh lebih besar di tempat itu, dibandingkan ketika mereka masih berada di dalam lautan. Mereka bisa bernapas seperti biasa, pun bergerak sebagaimana lazimnya, jelas sebagai sesuatu yang berlawanan dari kondisi sebelumnya, kondisi di dalam laut.

“Jelaslah suara itu memberikan kita harapan hidup lebih besar dibandingkan sebelumnya. Kemudian ia meminta kita menunggunya agar harapan besar tersebut menjadi kenyataan. Ini masih beruntung namanya. Coba saja kalau suara itu tidak muncul, bisa-bisa harapan kita pun menghilang bersama napas dan tenaga kita yang ditelan oleh waktu,” jelas Togar.

DENGAN harapan yang tercipta bersama suara itu, tentu tidak berlebihan kalau mereka berempat membayangkan kembali berada di kampung, bertemu dengan sanak-saudara dan handai-taulan sekalian. Mereka pun akan menjalani hari-hari biasa sebagai bapak dari sejumlah anak, tentu pula sebagai suami dari seorang perempuan. Mencari nafkah, bergaul, dan segalanya, sebagaimana yang mereka tempuhi selama ini.

“Tapi aku tak akan buat pekerjaan ini lagi. Cukuplah sudah,” kata Ihsan.

Pernyataan Ihsan tersebut mengambang begitu saja, sebab tak seorang pun di antara mereka yang memberi komentar—apakah mengiyakan atau menyanggah. Padahal, sejak bujang-bedengkang lagi, mereka bekerja dalam satu tim, menyelundupkan apa yang bisa diselundupkan ke Malaysia. Istilah orang setempat adalah semokel, diserap dari istilah Belanda smokkel.

Hasil hutan, rokok, sudah menjadi barang biasa untuk pekerjaan ini, sempat juga mereka membawa bensin dan solar. Pulang dari tanah besar itu, mereka tak hanya membawa pakaian bekas, tetapi juga beras, bahkan semen yang harganya lebih murah dibandingkan di kampung mereka sendiri. Suatu pekerjaan yang memberi faedah besar bagi orang kampung karena jaminan ketersediaan barang-barang keperluan sehari-hari dengan harga yang mereka inginkan yakni lebih murah dibandingkan dengan barang-barang serupa dari tanah Sumatera.

Dengan berbagai cara, mereka selalu sukses menjalankan pekerjaan itu. Tapi untuk tak dapat diraih, malang memang tak dapat ditolak. Dalam perjalanan menggunakan pompong sekali itu, menjelang subuh di perairan internasional dalam kawasan Selat Malaka, alat angkutan mereka yang membawa kayu, dihantam gelombang besar, memuntahkan semua isi pompong, bahkan mereka sendiri. Dalam kegelapan, tak ada yang dapat mereka raih kecuali mengandalkan tenaga sendiri untuk tidak tenggelam.

Seperti tiba-tiba saja semuanya itu terjadi, seperti tiba-tiba saja. Pasalnya, gelombang besar tersebut menggemuruh hanya sekali, kemudian tinggal riak sebelum benar-benar tenang. Dalam kekalutan, hanya Nanung yang sempat teringat bahwa gelombang itu, jangan-jangan terjadi sebagai dampak tsunami walaupun ia tak tahu di mana bencana alam tersebut terjadi. Ketika tsunami di Aceh, kawasan ini juga sempat bergolak macam itu. Tapi tidak dilayaninya ingatan tersebut, sebab ia harus bergegas menyelamatkan diri sebelum semuanya terlambat.

Mereka saling panggil dan merapat, berusaha untuk tidak terlepas antara satu dengan lainnya. Sepotong dayung cadangan, kalau-kalau mesin pompong rusak, sangat membantu usaha tersebut. Nasihat-menasihati, menjadi semacam sedia kala ada yang mencerminkan senasib dan sepenanggungan, berbuah tanggung jawab diri masing-masing untuk senantiasa mendahulukan kepentingan orang lain. Oleh karena perasaan tersebut serupa dan sebangun di hati masing-masing sekawanan pedagang lintas batas itu, mereka pada gilirannya berusaha untuk tidak menyusahkan orang lain.

CERITA punya cerita, dalam kepayahan berhari-hari di laut, dalam kegelapan yang entah bagaimana dan begitu lama mereka rasakan, tiba-tiba muncullah suara itu. “Biar kutolong. Tetaplah saling merapat, bila perlu saling rangkul.”

“Engkau? Siapa engkau?” tanya salah seorang dari kawanan berempat itu, Bilah.

Togar cepat menimpali pertanyaan Bilah dengan mengatakan, yang paling penting sekarang itu adalah bagaimana mereka dapat diselamatkan, tidak perlu mengetahui siapa pemilik suara itu. Gagasan ini ternyata diterima bulat-bulat oleh sekawanan lelaki tersebut. Sebab, jangankan mengetahui pemilik suara, wujudnya saja mereka tidak dapat melihat. Malahan, mereka juga tidak dapat melihat sesama mereka.

Terhadap diri sendiri pun, mata mereka masing-masing tak mampu berperan sebagi alat pemandang. Istilahnya, keadaan memang gelap-mengakap, tak sekedar gelap gulita. Hanya hembusan napas mereka masing-masing yang memberi tanda keberadaan tubuh mereka selain segala yang mereka ingat terhadap tubuh mereka sendiri.

“Ayo, cermati dari mana arah suaraku. Walau dalam keadaan gelap mengakap, pandangan kalian masih bisa kalian arahkan kepada dari mana arah datangnya suaraku. Ayo. Terus, terus…,” lanjut suara itu yang diikuti orang berempat tersebut tanpa begitu susah-payah. Sampailah mereka pada suatu tempat yang bukan laut sebagai mana mereka rasakan, setidak-tidaknya tak lagi mereka rasakan genangan air, sedangkan kaki mereka menginjak sebuah dataran.

“Tapi nanti dulu. Tunggu aku, tetaplah saling merapat. Aku akan datang lagi, sampai kalian benar-benar selamat dari bencana ini.”

Cuma, itulah tadi, kepergian suara tersebut lama sekali. Ini membuat suasana hati empat sahabat itu menjadi kacau-balau. Keluhan dan saling bantah, tak dapat dihindarkan. Apalagi Ihsan dan Bilah yang hampir sama-sama emosional, terlebih disebabkan suasana yang tidak cukup untuk dilukiskan melalui kata-kata “amat tidak nyaman”. Upaya Togar yang coba bersikap arif terhadap peristiwa ini, sebaliknya mereka tanggapi sebagai orang tak jelas, tak memiliki rasa empati terhadap penderitaan sesama. Nanung yang hanya diam saja, mereka nilai serupa saja dengan perilaku Togar walau dalam bentuk pasif.

Ketika perbedaan tersebut hampir meledak menjadi adu jotos, terdengar suara meminta maaf. “Agak lama memang, sebab aku terpaksa menyelesaikan suatu masalah gawat.”

“Tapi, kami lebih gawat lagi, menunggumu seperti tanpa ujung dalam keadaan yang benar-benar berbahaya dan tak jelas.”

“Sudah, usah diperbincangkan. Yang pasti, suara itu akan membawa kita untuk sebuah keselamatan. Benar, kan?” Tanya Togar yang diarahkannya kepada suara.

Diam sekejap.

“Tak ada yang lebih gawat daripada penjual-belian suara yang kini terjadi pada diriku dan harus aku selesaikan tadi,” terdengar suara seperti berbisik.

“Ha, benar, kan? Dia ini bukan manusia, bukan manusia!” teriak Nanung, yang dari tadi hampir tak pernah berbicara. Ia segera menyeret kawan-kawannya untuk menghindar dari suara itu tanpa pikir panjang, sambil tak henti-henti berujar dengan setengah menjerit, “Tolong… tolong…”

Begitulah akhir cerita empat orang yang terdengar di kampung kami di pinggiran Selatbaru, Bengkalis, sebelum mereka benar-benar siuman, belum lama berselang. Kami berusaha menolong mereka semampunya, sampai mereka kami hantar pulang ke kampung mereka sendiri di Pulau Padang. Bagaimana duduk perkara sebenarnya, tidak pula saya tahu. Nanung yang menuturkan kejadian ini, mulai dari awal sampai datang dan perginya suara tersebut kepada saya, tidak pula menceritakannya lebih rinci dari itu. Kelak kalau bertemu dia nanti, saya gali lagi cerita ini sampai tidak ada satu pun pertanyaan yang tersisa sehubungan dengannya, insya Allah. Ya, begitu banyaknya pertanyaan, begitu banyakya…(*)

 

Taufik Ikram Jamil bermukim di Pekanbaru, Riau. Buku-buku cerita pendeknya adalah Sandiwara Hang Tuah (1996), Membaca Hang Jebat (2000), dan Hikayat Batu-Batu (2005).

sumber : Koran Tempo, 19 Oktober 2014.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme