Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Hujan oleh Zaim Rofiqi

Posted on Ming, 26 Okt 2014

MUNGKIN inilah saatnya. Mungkin inilah saat yang tepat untuk mengungkapkan semua. Semua hal yang selama ini ia tekan demikian dalam. Semua hal yang selalu membuatnya gemetar saat muncul dalam ingatan. Semua hal yang membuat hidupnya begitu berat tak tertanggungkan.

HUJAN meledak menghamburkan semua makhluk yang ada di jalan itu. Semua yang hidup tunggang-langgang mencari tempat perlindungan, seperti para serdadu yang panik melihat ribuan bom dijatuhkan. Hanya mikrolet, bajaj, bus, mobil yang tampak masih melenggang di jalanan, seakan merekalah kini penguasa kerajaan hitam panjang tersebut.

Di teras rumah kontrakannya, Murato merasa sedikit lega karena siang itu ia tak ke mana-mana. Oh, betapa ia akan kebingungan di jalan mencari tempat perlindungan seperti para serdadu itu. Betapa ia akan tidak bisa menikmati kejadian alam yang paling ia sukai—dan yang paling ia kutuk: hujan, hujan deras, hujan lebat. Dan seperti biasa, air akan menggenang di mana-mana. Dan jika hujan akan lama, hal itu berarti genangan air akan meninggi. Dan jika genangan air terus meninggi, hal itu berarti akan ada yang tenggelam, akan ada yang mati—seperti hewan-hewan di kampungnya, seperti ibu, bapak, dan adiknya, seperti beberapa tetangganya, dulu.

Warna langit yang begitu pekat seakan menandakan bahwa hujan akan tak sebentar. Murato henyak dari tempat duduknya, masuk ke dalam rumah, dan kembali lagi dengan membawa segelas kopi, pulpen, dan dua buah buku. Setahun terakhir ini ia mulai bisa dan biasa berlama-lama duduk di teras saat hujan turun. Melamun, menulis, membaca, menatap hujan, dan menangis. Ya, menangis. Dan kadang tangisnya lebih lama dibanding hujan itu sendiri. Betapa tidak. Ia selalu merasa gemuruh hujan itu seperti menyalahkannya. Ia selalu merasa, dan sering kali mendengar, deru air itu seperti menjelma seribu cemoohan, sejuta makian, yang diteriakkan kepadanya: “Semua ini salahmu, Anak Durjana!”; “Kau juga ikut membunuh mereka!”; “Kau terlalu puas dengan kepuasanmu sendiri…!”; “Kau…!”; “Dan kau…!” Dan tubuhnya akan tegang dan gemetar, pikirannya melesat-lesat, air matanya tumpah. Dan jika sudah seperti itu, ia biasanya langsung masuk ke dalam rumah. Memutar lagu sekeras mungkin, atau menyetel televisi dengan volume maksimal, atau membunyikan apa saja yang dapat membuat suara hujan tak terdengar, lalu merebahkan diri di kamar, menangis, menangis, dan menangis, sering kali hingga ia tertidur. Namun setahun terakhir ini, sejak kepindahannya ke Jakarta tiga tahun lalu, ia mulai bisa menguasai diri saat langit murka. Meski air matanya masih sering tumpah saat duduk lama memandang hujan, ia mulai bisa menemukan kembali kesukaannya pada hujan seperti dulu, saat kesalahan itu, persetubuhan itu, belum terjadi, saat semua anggota keluarganya masih lengkap.

Murato menyalakan sebatang rokok dan mulai membuka-buka halaman salah satu buku yang dibawanya. Beberapa saat ia mencoba membenamkan dirinya pada apa yang ia baca, sambil sesekali menatap ke arah hujan, ke arah lalu-lalang mobil yang tampak mulai jarang. Ia melihat jam di pergelangan tangannya: pukul 15.47.

Sebuah geluduk kecil terdengar seperti sebuah gerobak kayu yang meluncur menuruni jalanan terjal. Murato sedikit terusik, namun kembali mencurahkan perhatiannya pada buku di tangannya itu. Beberapa kelebat kilat kecil mengiris langit, memberi sedikit terang pada langit senja yang semakin mengelam, disusul rentetan geluduk yang menjadikan senja itu semakin gemuruh. Murato, mengangkat mukanya dari buku di hadapannya, wajahnya sedikit menegang, ia merasa rentetan geluduk itu telah membuyarkan konsentrasinya pada buku itu.

Ia menyeruput kopi lalu mengambil buku yang satunya lagi. Beberapa kali ia tampak hendak menuliskan sesuatu tapi urung. “Menulis apa?” pikirnya. Sejenak, ia menatap jauh menembus hujan dan kemudian tampak seperti hendak menuliskan sesuatu, tapi urung kembali. “Apa?” pikirnya. Beberapa kilat panjang meleset kejar-mengejar, sambar-menyambar menerangi senja yang mulai memekat menjadi malam. “Geledek besar. Geledek besar. Akan terdengar geledek besar,” gumamnya sambil mencengkeram erat pulpen dan buku yang kini tertutup. Wajahnya tampak semakin menegang seperti mencemaskan suatu hal yang sangat mengerikan. Kedua tangannya semakin erat mencengkeram pulpen dan buku itu dan mulai sedikit bergetar. Dan seperti yang ia khawatirkan, sebuah gelegar geledek yang begitu keras menggetarkan kaca-kaca jendela rumah kontrakannya.

“Geledek itu, ya, geledek seperti itu…,” gumamnya. Wajahnya semakin tegang, pikirannya mulai melesat ke sana ke mari. Beberapa kejadian mulai bermunculan, saling-silang, berjejeran di dalam kepalanya. Ia merasa kucuran air hujan yang semakin deras dari sepanjang atap rumahnya seperti menjelma sebuah layar bening yang sengaja dibentangkan untuknya. Dan satu per satu peristiwa-peristiwa di kampungnya dulu mulai bermunculan di layar itu, peristiwa-peristiwa yang selalu membuat sendi-sendinya seperti berlepasan.

Dan, seperti biasa, gemuruh air hujan di sekitar perlahan akan terdengar seperti cacian yang ditujukan ke arahnya: “Semua salahmu, Anak Laknat!”; “Nikmatmu membunuh mereka!”; “Kau telah membiarkan mereka…!”; “Kau…!”; “Dan kau…!” Murato menghisap rokoknya beberapa kali dan langsung mematikannya. Matanya melotot tajam ke arah layar hujan itu. Beberapa kilat panjang dan begitu terang kembali berkelebat dan langsung disusul dentuman-dentuman geledek besar. “Geledek itu, oh, geledek itu. Mungkin sebaiknya aku masuk ke dalam,” batinnya. Namun sebuah geledek dahsyat kembali terdengar, dan Murato merasa tercekat di tempat duduknya. “Tidak, tidak,” gumamnya sambil terus melotot tajam ke arah hujan, “aku harus melawan semua ini.”

Murato mengalihkan pandangan ke sekelilingnya, namun ia merasa semua hal yang ia lihat segera mengingatkannya pada peristiwa itu. Ia melihat jalanan yang digenangi air setinggi betis, dan ia ingat jalan dengan genangan air setinggi itulah yang dilewatinya malam atau pagi saat peristiwa itu terjadi. Ia melihat langit yang semakin penuh dengan kelebat kilat, dan ia ingat bahwa kilat-kilat seperti itulah yang dulu memenuhi langit kampungnya saat peristiwa itu terjadi.

“Mungkin inilah saatnya,” pikir Murato, “mungkin inilah saat yang tepat untuk melawan itu semua. Semua hal yang selama ini aku tekan demikian dalam. Semua hal yang selalu membuatku menggigil gemetar saat muncul dalam ingatan. Semua hal yang sering membuat hidupku terasa begitu berat tertanggungkan.”

AKU ingat gelegar geledeklah yang membangunkanku malam atau pagi itu. Gelegar geledek beruntun yang menggetarkan atap dan dinding-dinding kayu surau di kampungku. Selepas isya’, setelah berzikir dan membaca beberapa lembar Kitab Suci, aku merebahkan diri di sudut surau itu. Gerimis yang seperti tak hendak habis menghalangi langkahku untuk pulang. Merebahkan diri di atas lantai surau yang semakin dingin membuatku merasa nyaman, hingga aku pun mengantuk dan akhirnya tertidur.

“Jam berapa?” pikirku. Aku menggeliat, duduk, dan segera merasakan dingin udara membungkus tubuhku. Kudongakkan kepala ke atas tempat pengimaman: jam dinding bulat yang menggantung di situ menunjukkan pukul 02.30. Aku sedikit kaget: aku tak menyangka tertidur selama itu di dalam surau. Aku melihat sekeliling, dan beberapa orang yang tadi sholat isya’ berjemaah bersamaku sudah tak ada lagi. Si Rahmad dan Rahman yang tadi juga ikut rebahan di dalam surau pun sudah tidak kelihatan lagi. Di luar, gerimis yang tadi turun selepas isya’ sudah berubah menjadi hujan deras.

Untuk beberapa saat aku kembali merebahkan tubuh, berniat untuk kembali tidur. Namun rasa kantuk tak juga mau datang. Sambil sesekali melihat ke luar, pada hamparan kebun pisang dan rerumpun bambu yang diguyur hujan, sambil mendengarkan deru hujan yang begitu kencang terdengar di tengah keheningan dinihari, aku mengamat-amati seluruh ruangan surau yang sudah ada sejak aku kecil dan sangat sering kukunjungi. Surau itu sebenarnya termasuk dalam wilayah Kampung Atas, namun warga Kampung Bawah yang jumlahnya tak seberapa dan rata-rata miskin sering ikut menggunakannya, terutama pada waktu sholat magrib, isya’, dan subuh.

Beberapa kilat panjang dan begitu terang berkelebat-kelebat di langit di atas kebun pisang dan rumpun bambu, disusul rentetan geledek besar yang kembali menggetarkan atap, kaca, dan dinding-dinding surau. Geledek besar beruntun itu sedikit mengagetkanku dan praktis mengusir seluruh sisa-sisa kantukku.

“Apa yang harus kulakukan?” pikirku. Sejenak aku ke luar surau dan melihat kucuran air hujan yang menggerojok dari atap ke lantai teras surau seperti menjelma sebuah layar bening yang menghalang-halangi pandanganku. Aku alihkan pandangan ke sekeliling surau, dan aku melihat kebon pisang dan rerumpun bambu yang terhampar di sana sudah digenangi air setinggi tumit. “Tak mungkin pulang sekarang,” pikirku. Aku pun masuk ke dalam surau, lalu kembali merebahkan tubuh.

Bosan terus-menerus merebahkan badan tanpa melakukan apa-apa, akhirnya aku memutuskan untuk ke kamar mandi: buang air kecil, lalu mengambil air wudhu. Meskipun terasa dingin, aku merasa tubuhku sangat segar setelah menyucikan diriku dengan air wudhu dari kolah surau itu. Akan lebih baik jika aku manfaatkan waktu menjelang subuh ini untuk membaca Kitab Suci lalu solat tahajud, batinku.

Setelah mengambil air wudhu, aku segera menuju rak kitab yang ada di sudut kanan surau, mengambil sebuah Al-Qur’an lalu berjalan ke arah pengimaman, dan duduk di shaf pertama, tepat di belakang pengimaman itu. Kubaca bismillah dan surah pertama Kitab Suci itu—surah Al-Fatihah—dalam hati, lalu kubuka-buka Kitab itu, mencari-cari surah Ar-Ra’d (Guruh). Sejak di bangku SD dulu aku hafal semua surah yang ada dalam Al-Qur’an, termasuk jumlah ayat mereka dan arti surah-surah itu—aku ingat, guru agamaku yang sangat berdisiplin dulu mewajibkan seluruh murid untuk melakukannya—meski aku sebenarnya tak paham apa yang aku baca dalam Kitab itu. Mungkin hujan deras yang tak juga mau berhenti—yang disertai rentetan guruh yang menciutkan hati—yang mendorongku untuk membaca surah Ar-Ra’d (Guruh) itu.

Selama membaca surah itu, kilat-kilat di angkasa tak henti-hentinya berkelebatan, kadang disertai sebuah gelegar geledek besar, atau rentetan geluduk yang terdengar seperti musik tak beraturan yang mengiringi pembacaanku atas Kitab Suci. Kurang lebih setengah jam aku membaca surah itu, dan selama itu praktis suaraku luruh tak terdengar, tertimpa gemuruh hujan yang menghantam atap, kaca-kaca, dan dinding-dinding surau. Tepat ketika aku mengakiri pembacaanku atas surah Ar-Ra’d itu kembali dengan Al-Fatihah, sebuah kilat panjang yang begitu terang membelah langit di atas kebun pisang dan rumpun bambu itu, dan sebuah guntur dahsyat menggetarkan seluruh surau itu.

Begitu selesai membaca Al-Fatihah, aku segera berdiri, meletakkan Kitab Suci di atas sebuah mimbar kecil yang ada di sebelah kanan pengimaman, lalu bersiap untuk mendirikan tahajud. Aku merasa pikiranku begitu bersih dan badanku begitu segar, hingga kulafalkan niat sholat tahajud dengan begitu khusyu’ dan tanganku mendirikan takbir dengan begitu mantap. Aku ingat salah seorang guruku di madrasah dulu pernah mengatakan bahwa sholat tahajud yang dilakukan dengan badan yang segar, hati yang bersih, pikiran yang bening, dan kekhusyukan yang mendalam, akan terasa begitu memuaskan dan menenangkan, hingga kenikmatan yang didapat setelah melakukannya bisa disamakan dengan kenikmatan persetubuhan—“orgasme” yang didapat di akhir sholat akan membuat seseorang luruh dan seperti menghilang tenang.

Dan aku memang membuktikannya: sering kali aku merasakan nikmat yang demikian mendalam itu—nikmat “bertemu dan bersetubuh” dengan Sang Khalik, nikmat merasa luruh, melayang, lalu seperti menghilang dalam “pertemuan dan persetubuhan” itu—terutama jika aku melakukan tahajud seorang diri, dalam dingin dan hening surau di dinihari, saat aku yakin semua orang telah tertidur.

Namun tak lama setelah takbir pertama kuucapkan, dari kejauhan lamat-lamat kudengar kentongan dibunyikan berkali-kali, dan beberapa orang meneriakkan “Banjir… banjir!”

Bunyi kentongan dan suara-suara teriakan itu sedikit mengusikku, hingga terbersit dalam benakku untuk tak jadi melakukan sholat tahajud dan segera ke luar. Namun pikiran lain kemudian muncul dalam benakku: tahajud tak membutuhkan waktu lama, hingga alangkah baiknya jika kuselesaikan dulu sholatku, lalu ikut menghambur bersama orang-orang di luar itu.

Akhirnya, aku pun memutuskan untuk melanjutkan sholatku: meski sedikit terganggu dengan bunyi kentongan dan teriakan-teriakan itu, namun aku kemudian bisa menguasai diri dan menjalankan sholatku dengan kekhusyukan yang cukup mendalam. Pikiran yang bersih, badan yang bugar, dan dingin udara di sekitar membuatku seperti hanyut dan tenggelam dalam “persetubuhan” itu. Bayangan atau harapan untuk mendapatkan kepuasan, ketenangan, dan kenikmatan batin pada saat dan setelah melakukan sholat tahajud memang sedikit banyak terwujud begitu aku selesai melakukannya. Ada semacam perasaan “plong” setelah aku mengucapkan salam terakhir dalam tahiyatku.

Aku berniat menyempurnakan ibadah malamku itu dengan doa penutup untuk sholat tahajud yang panjangnya tak seberapa, namun niat itu segera aku urungkan: bunyi kentongan yang semakin kencang dan suara teriakan orang-orang yang kini sudah sangat jelas terdengar dari berbagai arah telah membuyarkan konsentrasiku dan membuatku segera henyak dari dudukku, lalu menghambur ke luar.

Kilat-kilat yang begitu panjang dan terang berkelebat-kelebat di angkasa saat aku ke luar dari surau itu, disusul rentetan gelegar geledek yang begitu besar dan menggentarkan. Langit yang pekat hitam seragam tampak bergetar dan seperti hendak runtuh sejengkal demi sejengkal. Genangan air di sekitar surau dan di jalan setapak yang menghubungkan Kampung Atas dan Kampung Bawah sudah setinggi betis saat aku melewatinya. Aku mempercepat lagkahku, lalu berlari sekuat tenaga, saat lamat-lamat di kejauhan kudengar teriakan, “Banjir bandang, banjir bandang! Kampung bawah kena banjir bandang!” Kucopot sarung, peci, dan sandalku dan kupegangi dengan satu tangan, lalu kukerahkan seluruh tenagaku untuk melesat menuju rumahku. Apa yang ada dalam pikiranku hanyalah sesegera mungkin sampai di rumah dan memastikan bahwa keluargaku selamat.

Begitu tiba di undakan-undakan di samping sebuah kali kecil yang menghubungkan Kampung Atas dan Kampung Bawah, badanku seketika lemas. Perasaanku campur-aduk: marah, sedih, bingung, cemas, kecewa, takut, putus-asa, khawatir, dan entah apalagi. Apa yang terhampar di depanku sama sekali di luar dugaanku: air setinggi perut orang dewasa menggenang di mana-mana. Sebagian besar rumah yang ada di Kampung Bawah praktis telah roboh, dan hanya menyisakan pancang-pancang kayu atau bambu yang miring ke sana ke mari. Rumah-rumah yang kebetulan terbuat dari tembok pun sudah tak utuh lagi. Rumahku sendiri, yang letaknya tak jauh dari tepi kali dan sebagian besar terdiri dari gedheg bambu dan papan kayu, hanya menyisakan pancang-pancang pagar yang kebetulan terbuat dari besi, serta separuh bak mandi yang dulu dibuat bapakku dari batu-bata yang diplester semen.

Untuk beberapa saat aku berdiri tepat di tengah-tengah bekas rumahku, tak tahu apa yang harus kulakukan. Kukalungkan sarungku ke leher, dan kukenakan lagi peci yang telah kuyup sambil terus menatap kosong ke hamparan bekas rumahku itu. Kuabaikan orang-orang yang terus berdatangan, berseliweran, entah membantu para korban entah menyelamatkan diri dari kepungan air hujan.

Tanpa kusadari, air mataku tumpah, linang-linang air yang sebenarnya tak berarti apa-apa dibanding guyuran hujan dan hamparan air di hadapanku yang kini berlimpah ruah. Aku masih mematung di tengah-tengah bekas rumahku smbil terus menangis ketika seseorang menghampiriku dan memberitahuku bahwa seluruh keluargaku (ayah, ibu, dan adikku yang berusia delapan tahun) tewas terseret banjir bandang saat tidur. Jenazah mereka kini ada di tanggul menuju jalan besar, di sebelah barat Kampung Bawah. Aku segera bergegas menuju ke tempat itu. Di sekitar, aku melihat orang-orang berlalu-lalang, mengangkuti apa-apa yang masih bisa diselamatkan.

Begitu sampai di tanggul itu aku mendapati jenazah keluargaku terbujur kaku bersama delapan jenazah lain. Beberapa luka dan memar terlihat di kepala, wajah dan tubuh ketiganya. Seketika persendianku seperti berlepasan, aku ambruk di pinggir tanggul dan menangis sejadi-jadinya sambil memeluk jenazah ayah, ibu, dan adikku itu. Kepalaku seperti mau pecah, tubuhku kaku. Oh, seandainya saja aku tidak tidur di surau, pikirku, seandainya aku segera pulang begitu terbangun dari tidurku. Seandainya aku tak berkeras kepala mengejar kenikmatanku sendiri. Aku tentu bisa menyelamatkan mereka. Oh, betapa besar kesalahanku! Betapa mengerikan kesalahanku!

SETELAH menerakan kalimat terakhir di bukunya itu, Murato menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Tangannya terkulai, pulpen yang dari tadi dicengkeramnya terlepas dan jatuh ke lantai. Di luar, di jalanan, hujan sudah sedikit reda, tinggal tersisa rintik-rintik gerimis yang terlihat seperti tombak-tombak lembut yang menghunjami bumi. Tak terlihat lagi kelebat kilat, tak terdengar lagi gelegar geledek.

Murato memejamkan matanya, dan beberapa saat kemudian, airmata mengalir dari kedua kelopaknya.(*)

 

Zaim Rofiqi telah menerbitkan Matinya Seorang Atheis (kumpulan cerita pendek, 2011) dan Seperti Mencintaimu (kumpulan puisi, 2014).

sumber : Koran Tempo, 26 Oktober 2014.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme