DALAM keadaan mabuk vodka murahan kami merencanakan pembunuhan. Zairin Ansar yang pertama kali melontarkan gagasan itu, sementara aku dan Jawahir Wahib langsung mengamini. Kami bertiga memang sama-sama pembenci, tepatnya pendengki, lelaki buruk rupa yang menjalin hubungan asmara dengan perempuan cantik, tapi kami tak menyangka bahwa kebencian kami itu bisa sedemikian rupa dan akhirnya menggiring kami pada keinginan untuk menghabisi nyawa seseorang. Dan seseorang itu adalah Jendol.
Ia teman kami sendiri. Nama aslinya Rendi Fansuri, wajahnya mirip tapir. Kami sepakat memanggilnya “Jendol” karena menurut kami Rendy adalah nama yang terlalu bagus untuk tampang seburuk itu. Awalnya kami tak memiliki masalah dengan tampang buruk dan nama bagusnya itu. Tapi kami mengganti namanya serta menyingkirkannya dari pertemanan semenjak ia mulai tak bisa mengendalikan mulutnya sendiri. Hari ini ia bilang Zara menaruh perhatian padanya, hari yang lain ia berkata bahwa Mona terus-menerus melirik dirinya. Mungkin kami akan tetap berteman dengannya jika saja nama-nama yang ia sebut itu bukan perempuan-perempuan yang, jangankan menaruh perhatian, mengetahui bahwa kami ada saja kami tak yakin. Padahal, dibandingkan Jendol, wajah kami jelas lebih menarik. Pendek kata, mereka itu perempuan-perempuan papan atas di kampus kami.
Lalu penjelasan apa yang bisa membuat kami tak berpikir bahwa Jendol terlalu banyak berkhayal, dan akibatnya sekarang ia telah menjadi sinting serta kehilangan kendali atas mulutnya sendiri? Kau tahu, Jendol tak kalah miskinnya dengan kami. Perempuan semacam Zara dan Mona hanya akan jatuh cinta pada tiga jenis laki-laki: laki-laki tampan, laki-laki kaya, atau laki-laki tampan sekaligus kaya. Tak mungkin mereka akan menjatuhkan pilihannya pada laki-laki buruk rupa, laki-laki miskin, apalagi laki-laki gabungan dari keduanya.
“Lalu kenapa tak kau pacari Zara atau Mona?” tantang kami pada suatu hari.
“Aku tak berminat, aku mengincar Sabrina.”
Astaga! Sungguh, wajahnya tampak semakin buruk saat ia mengatakan itu. Sabrina adalah salah satu bintang di kampus kami, peringkatnya bahkan di atas Zara dan Mona. Maka kami hanya bisa terbahak dan memutuskan bahwa Jendol memang benar-benar tak lagi layak menjadi teman kami.
Dan semuanya berjalan baik-baik saja sampai pada suatu hari kami melihat Jendol berjalan di halaman kampus menggandeng Sabrina. Sebagaimana telinga, terkadang mata memang tak boleh dipercaya sepenuhnya. Peristiwa salah dengar atau salah lihat lumrah terjadi di mana-mana. Maka, diam-diam setiap orang dari kami bertiga berharap bahwa dua di antara kami melihat hal yang berbeda. Tapi sayangnya itu terjadi di siang bolong dan di tempat terbuka.
Jadi, seandainya, dengan maksud menghibur diri kami sendiri, dua di antara kami mengatakan bahwa mereka tak melihat Jendol berjalan menggandeng Sabrina, itu hanya akan menjadi sebuah upaya yang sia-sia. Ada puluhan pasang mata lain yang melihat peristiwa itu, dan sekian banyak mulut lain yang siap mengatakan bahwa Rendy, yang kami panggil Jendol itu, berjalan sambil menggandeng lengan Sabrina. Maka tak ada jalan lain yang tersedia bagi kami kecuali mengakui bahwa apa yang kami saksikan itu memang nyata.
Dan benar saja, meski tak segusar kami bertiga, banyak orang di kampus kami juga menggunjingkan kenyataan ajaib itu. Tapi mereka membicarakannya dengan santai, sambil tertawa-tawa. Kami tidak. Kami membahas kenyataan yang pincang itu dengan penuh amarah. Tapi ternyata itu belum seberapa. Esoknya, kami melihat Jendol dan Sabrina makan siang bersama di kantin. Seusai makan, bidadari kampus itu mengelap keringat yang membasahi kening Jendol. Saat itulah kami menyimpulkan bahwa ternyata Tuhan tidak seadil yang digembor-gemborkan para ulama dan tokoh agama.
Sudah beberapa kali kami melihat lelaki buruk rupa berpacaran dengan perempuan cantik, dan itu selalu memunculkan rasa benci di hati kami. Tapi belum pernah hati kami terbakar sedemikian hebat seperti sekarang ini. Api kebencian yang sampai menghanguskan hati kami itu, jelas lantaran pelakunya adalah teman kami sendiri.
Lalu kami banyak mendengar analisis tentang jatuhnya Sabrina ke dalam pelukan Jendol. Yang satu mengatakan bahwa Jendol pandai bicara dan mahir memikat hati perempuan, yang lain berpendapat bahwa Jendol penuh perhatian, yang satu lagi mengatakan bahwa aura tertentu yang memancar dari tatapan mata Jendol membuat Sabrina kepincut, yang lain lagi yakin bahwa rasa percaya diri yang sangat tinggi yang membuat Jendol mampu menaklukkan perempuan secantik Sabrina. Dan sejumlah analisis tak masuk akal lainnya. Kami sendiri yakin seyakin-yakinnya, itu hasil kerja dukun Banten Belaka.
Maka sekarang di atas meja tersedia tiga pilihan bagaimana cara terbaik membunuh bajingan itu. Pertama, menggiringnya berjalan ke tempat sepi lalu mencekiknya beramai-ramai. Kedua, mengajaknya berenang di pantai lalu menenggelamkannya. Ketiga, mengundangnya ke pesta minuman kemudian diam-diam menaburkan racun ke dalam gelas minumannya. Kami sepakat memilih cara yang terakhir.
“Lalu, apa nama sandi operasi kita?” tanya Jawahir sesaat setelah kami bersulang.
Kami terdiam agak lama.
“Operasi Bolang-Baling,” jawab Zairin kemudian.
“Ah, sama sekali tak cocok!” Jawahir menukas.
“Tapi makna filosofinya dalam. Bolang-baling itu metafora bahwa betapa mengerikannya hubungan si Jendol dan Sabrina,” jawab Zairin lagi.
“Ya, tapi itu bukan nama yang keren untuk sebuah operasi pembunuhan berencana,” aku angkat bicara.
Setelah beberapa nama saling kami usulkan (antara lain “Anggur Kebencian”, “Beauty and The Beast”, dan “Racun Keadilan”), akhirnya kami sepakat dengan satu nama: “Dakocan”. Kami setuju memilih nama yang terakhir itu karena beberapa alasan: selain ringkas dan terdengar klasik, Dakocan, boneka asal Jepang itu, sekaligus kami maksudkan sebagai olok-olok bagi wajah Jendol yang buruk itu.
Begitulah, setelah bersulang merayakan tercapainya kesepakatan cara membunuh, kami bersulang untuk kedua kalinya, merayakan kesepakatan nama sandi operasinya.
Tapi tentu saja kami tak pernah benar-benar membunuh Jendol atau siapa pun juga. Saat itu kami dalam keadaan mabuk, dan usia kami masih belia. Dan itu terjadi hampir tiga puluh tahun yang lalu. Sekarang kami sudah menjadi orang-orang paruh baya yang sibuk dengan dunia kerja dan urusan keluarga masing-masing. Namun, sejak saat itu, julukan “Dakocan” kami sematkan pada setiap lelaki buruk rupa yang memiliki pacar atau istri cantik.
MALAM itu di rumah aku sedang memeriksa pesan-pesan masuk di telepon genggamku (yang kumatikan selama dua hari kepergianku ke Pulau Seribu bersama istri serta keempat anakku), dan aku dikejutkan oleh sebuah pesan pendek dari Jawahir. Sudah empat tahun lebih ia menghilang. Telepon genggamnya selalu tidak aktif atau sedang berada di luar jangkauan area. Pesan pendek yang sempat kukirim beberapa kali juga tak pernah dibalas.
Hubungan kami bertiga memang timbul tenggelam. Selepas kuliah, kami berpisah dan kehilangan jejak satu dengan lainnya selama lima belas tahun sebelum Mark Zuckerberg akhirnya mempertemukan kami di dunia maya. Kami segera melanjutkannya dengan pertemuan di dunia nyata.
Kami berjumpa di sebuah kafe di Kalibata. Aku yang menjamu mereka. Senang rasanya bertemu kawan lama. Untuk pertama kalinya kami bisa membahas soal hubungan Rendy (dulu kami memanggilnya Jendol) dan Sabrina sambil tertawa. Menurut Zairin, mereka akhirnya menikah dan sekarang telah memiliki lima anak. Rendy bekerja di sebuah perusahaan milik mertuanya, dan ia memperoleh kedudukan yang bagus. Zairin mengetahui semua ini berkat keikutsertaannya dalam sebuah group di jejaring sosial yang dikhususkan bagi alumni kampus kami.
Meski masih diliputi rasa heran, tapi dengan ringan kami membicarakan hubungan Rendy dan Sabrina. Mungkin benar belaka analisis yang mengatakan bahwa Rendy pandai bicara dan mahir memikat hati perempuan, bahwa Rendy sangat percaya diri, bahwa Rendy memiliki pesona pada tatapan matanya, dan seterusnya. Sekarang kami meragukan apa yang dulu kami yakini bahwa Rendy menggunakan jasa dukun dari Banten. Sebab, setahu kami, pemikat yang dibuat para dukun tak akan bertahan lama, sedangkan faktanya hubungan Rendy dan Sabrina langgeng hingga sekarang.
Kami tak tahu mana yang benar dan mana yang salah, tapi yang pasti, di usia paruh baya sekarang, kami sudah tak lagi memeram benci atau dengki pada Rendy maupun pada “Dakocan” lainnya. Kami tak lagi tertarik dengan perkara semacam itu. Kami sudah cukup direpotkan kerja dan urusan keluarga masing-masing. Sama dengan aku, Zairin menjadi “orang kantoran” dan sama-sama memiliki empat anak. Bedanya, aku pegawai negeri sedangkan Zairin bekerja di sebuah perusahaan swasta. Anakku dua laki-laki dan dua perempuan, sementara anak Zairin tiga perempuan dan satu laki-laki. Jawahir berwiraswasta, membuka toko kelontong di rumahnya, sambil sesekali menjadi makelar rumah dan tanah. Ia dikaruniai seorang anak perempuan.
SELAMA tiga tahun setelah pertemuan itu, kami selalu minum kopi bersama tiga atau empat bulan sekali, sampai tiba-tiba Jawahir tak bisa lagi dihubungi. Dari Zairin aku mendapat kabar bahwa Jawahir menghilang menyusul pertengkaran hebat dengan istrinya, entah karena apa. Setahun berikutnya Zairin mengabarkan kepadaku bahwa Jawahir telah bercerai. Konon sang istri pulang ke kota asalnya, Cirebon, mengajak anak semata wayang mereka.
Bertahun-tahun setelah itu aku tak pernah lagi mendengar kabar tentang Jawahir. Kesibukan kerja dan urusan keluarga (terutama beberapa bulan belakangan ini menjelang si sulung masuk perguruan tinggi), perlahan-lahan menyingkirkan Jawahir dari ingatanku, sampai pesan pendek yang mengejutkan itu kuterima dan kubaca: “Operasi Dakocan sudah terlaksana (Jawahir Wahib)”. Telepon genggamnya tak aktif ketika kucoba menghubunginya.
Sekali lagi kubaca pesan pendek itu: “Operasi Dakocan sudah terlaksana (Jawahir Wahib)”. Aku tercenung, tak paham maksudnya. Tapi aku mencium sesuatu yang buruk telah terjadi. Firasatku makin menguat saat kulihat banyak pemberitahuan panggilan tak terjawab dari nomor Zairin di telepon genggamku. Aku baru saja bermaksud menghubungi Zairin ketika telepon itu berdering. Kulihat nama Zairin muncul di layar.
“Ke mana saja kau?” tanya Zairin begitu telepon kuangkat.
“Aku baru saja pulang dari Pulau Seribu.”
“Sudah kau baca SMS dari Jawahir?”
“Ya. Aku baru saja hendak meneleponmu.”
“Kau tahu kawan kita sudah gila.”
Meski dikatakan dengan nada marah, aku menangkap kesedihan dalam suara Zairin saat mengucapkan kalimat itu. Kami terdiam sejenak. Operasi Dakocan sudah terlaksana (Jawahir Wahib), pertengkaran, perceraian, kau tahu kawan kita sudah gila, Rendy dan Sabrina. Dalam hitungan detik berbagai bayangan berkelebat di benakku. Tenggorokanku terasa kering.
“Apa yang terjadi?” tanyaku setelah menelan ludah.
“Kawan kita sudah gila,” Zairin mengulangi jawabannya.
“Apa maksudmu?”
“Ia membunuh pacar anaknya, sekarang ia dalam tahanan polisi di Cirebon.”
Zairin tak tahu apa yang menyebabkan Jawahir menjadi gelap mata dan gila. Ia hanya mendengar kabar bahwa Jawahir tak merestui rencana pernikahan anak gadisnya, sementara sang anak yang memperoleh dukungan dari ibunya, bersikukuh dengan pilihannya. Jawahir pergi ke Cirebon menemui mereka lalu terjadi keributan besar di sana.
“Kalau kau mau, besok pagi kita berangkat ke Cirebon, kita jenguk Jawahir dan mencari tahu apa yang sesunggunya terjadi,” kata Zairin.
Malam itu aku tak bisa tidur nyenyak, berkali-kali aku terbangun dan duduk merokok di teras depan.(*)
Jakarta, 2014
Ben Sohib tinggal di Jakarta.
sumber :Koran Tempo, 2 November 2014.