Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Hari Terakhir Ah Xiang oleh Leopold A. Surya Indrawan

Posted on Ming, 25 Jan 2015

SEUSAI menderetkan delapan piring tart susu di atas meja panjang ruang tamu, Ah Xiang kembali ke kamarnya, berbaring. Kendati merasa bugar—ia baru mandi setelah berbulan-bulan tak membasuh tubuhnya—ia yakin bahwa hari itu ajalnya akan tiba sesuai perkataan Li Hwa, sepupunya yang mampu meramal hari kematian seseorang itu.

“Tanggal empat bulan sembilan wa bakal mati,” kata Ah Xiang. Ia menelepon kakak dan delapan orang adiknya satu demi satu sehari setelah ia mendapati tanggal kematiannya. Pemberitahuan itu pun ia maksudkan sebagai undangan agar saudara-saudaranya datang mengunjunginya pada tanggal tersebut.

“Daripada le ngomong sembarangan begitu lebih baik le mandi deh! Kalau le cari perhatian dengan cara begitu, makin tak ada yang mau dekat-dekat sama le,” kata Ah Seh, adik perempuan Ah Xiang.

Lebih banyak saudara Ah Xiang yang tak mengindahkan perkataannya itu. Sedangkan Ah Xiang percaya betul dengan ramalan Li Hwa karena perempuan paruh baya itu pernah meramal dengan jitu hari kematian salah seorang sahabat dekat Ah Xiang. Saudara-saudara Ah Xiang yang mendengar cerita itu beranggapan bahwa akibat tebakan Li Hwa hanyalah kebetulan. Pikir mereka waktu itu, orang bodoh saja pasti bisa menebak kematian seseorang yang sudah sekarat!

Di samping kepercayaannya terhadap ramalan Li Hwa, Ah Xiang memang berharap untuk segera mati, tetapi ia terlalu takut untuk bunuh diri. Ia pernah mendengar bahwa Giam Lo Ong, dewa penguasa akhirat, tak akan segan-segan menjebloskan orang-orang yang mati bunuh diri ke dalam neraka.

Seumur hidup Ah Xiang membujang. Satu-satunya perempuan yang pernah ditidurinya tidak juga dinikahinya. Perempuan itu adalah Was, pembantu rumah tangga yang dulu pernah merawat ibu Ah Xiang. Setelah ibu Ah Xiang meninggal dua puluh tahun lalu, Was kembali ke kampungnya. Was pernah membujuk Ah Xiang agar memperistrinya, namun kedua orangtua Ah Xiang tak sudi menjadikan pembantu rumah tangga mereka sebagai menantu. Dan akhirnya, Was pun menyadari bahwa warisan dari kedua orangtua Ah Xiang tak akan menjamin kemakmuran hidupnya. Apalagi Ah Xiang adalah penganggur. Ia hidup hanya dengan uang pemberian adiknya, Ah Li, yang sempat tinggal bersamanya bertahun-tahun dan akhirnya pergi meninggalkan dia untuk bekerja di Singapura. Hingga kini Ah Li masih mengiriminya uang dan sesekali uang itu digunakan Ah Xiang untuk taruhan main catur dengan tukang-tukang yang memperbaiki rumah tetangga seberang.

Sejak kepergian Was, Ah Xiang menjadi sosok yang muram. Lebih-lebih setelah Ah Li pergi, ia jadi hidup sebatang kara. Namun, kesendirian itu masih bisa terobati paling tidak sekali dalam setahun. Perayaan Imlek dengan keluarga besar beberapa kali masih terus diadakan di rumahnya, begitu pula sangjit—upacara seserahan—jika ada kemenakan perempuan Ah Xiang yang hendak menikah. Kedua acara tersebut diadakan di tempat tinggal Ah Xiang karena itulah rumah induk keluarga. Dengan adanya acara-acara itu, selalu ada yang Ah Xiang nantikan tiap tahun. Dan Ah Xiang akan sibuk membikin tart susu andalannya untuk memeriahkan acara-acara itu. Bagi ia, keberadaan tart susu wajib dalam setiap perayaan keluarga. Tart susu adalah sebuah warisan luhur. Rasa manisnya adalah pembawa kebahagiaan. Dan kebahagiaan adalah pembawa keberuntungan.

“Isi tart susu harus lembut, lembut sampai terasa meleleh ketika ia masuk ke dalam mulut,” kata ibu Ah Xiang ketika beliau mengajari Ah Xiang membikin tart susu pertama kali. “Dan le mesti ingat untuk selalu pakai telur ayam kampung, karena warnanya lebih kuning, rasanya lebih lembut, dan baunya lebih tidak amis.”

Jika Ah Xiang membayangkan dirinya memanjat pohon keluarganya hingga ke zaman leluhurnya di Kengtang Timur, ia akan menemui nenek moyangnya, si pembuat tart susu pertama yang menerima resep kue tersebut dari Chau-Kun, dewa penguasa dapur, melalui mimpi. Ah Xiang tak pernah bisa menerima jika ada yang mengatakan bahwa tart susu hanyalah modifikasi orang-orang Hong Kong terhadap pai susu Portugis. Ah Xiang tak akan berpihak pada kemungkinan sejarah yang mengancam keluhuran resepnya. Dan apa pula guna menentang keyakinannya itu?

“Orang bule mana bisa bikin kue enak!” kata Ah Xiang. Padahal ia tak pernah mencoba kue-kue Eropa.

BEBERAPA tahun setelah masa-masa muram Ah Xiang, tart susu buatannya pun tak lagi hadir dalam acara-acara keluarga. Ia kehilangan semangat untuk membuatnya. Perayaan Imlek dan sangjit tak lagi diadakan di rumahnya, tetapi di rumah baru Ah Seh di daerah Kebon Jeruk, yang memiliki lahan parkir dan ruang keluarga yang lebih luas. Istilah “rumah induk”, yang berarti rumah generasi pertama keluarga Ah Xiang yang tinggal di Jakarta, pun tak lagi diindahkan. Mulanya Ah Xiang masih mau menghadiri acara-acara di rumah adiknya itu. Ia pergi ke sana dengan menumpang mobil kemenakannya. Akan tetapi, tahun demi tahun ia semakin merasa terasing di tengah keriuhan keluarga besarnya sendiri. Hingga akhirnya ia pun memutuskan tak lagi bergabung dalam acara-acara keluarganya. Ia lebih memilih untuk menyendiri sepanjang tahun di rumahnya yang hampir tak pernah dikunjungi oleh siapa pun. Ia hanya keluar dari rumahnya untuk membayar air, listrik, dan telepon, atau membeli makanan di warung. Selebihnya ia lebih sering duduk di kursi teras sambil memandangi pohon jeruk.

“Kenapa belum ada yang datang juga?” pikir Ah Xiang.

Ah Xiang juga memutuskan untuk tak lagi mandi dan membersihkan rumah. Pikir ia, untuk apa merawat sesuatu yang tak lagi dihiraukan? Bau kecut tubuhnya pun makin pekat dan makin menyebar. Tak mungkin ada yang tahan berada dekat-dekat dengannya. Saudara-saudaranya pun terjebak di antara rasa kasihan dan rasa jijik, namun nampaknya rasa yang kedua jauh lebih kuat. Mereka menganggap perbuatan Ah Xiang sebagai aksi unjuk rasa untuk mencari perhatian. Dan hasilnya malah sebaliknya, ia semakin tak diperhatikan.

Jika Ah Xiang mendengar deru mesin mobil yang mendekati rumahnya, seringkali ia akan berpikir bahwa itu adalah suara mobil milik salah satu saudaranya yang hendak berkunjung. Namun, dugaannya itu hampir selalu salah. Dan tiap kali itu terjadi, ia akan mengembuskan napas panjang sambil menatapi mobil yang menderu itu melintas di depan rumahnya.

Pada suatu petang, harapan Ah Xiang bangkit ketika ia mendengar suara Li Hwa yang memanggilnya di depan pagar rumah. Padahal, sepupunya itu datang semata-mata untuk melihat keadaannya. Tentu saja Li Hwa tak semudah itu memberi tahu tanggal kematian seseorang. Ia lebih sering menyimpan pengetahuannya itu di dalam hati. Untuk itu ia perlu dipaksa selama berjam-jam.

“Tak pantas rasanya wa kasih tahu soal itu ke le!” kata Li Hwa.

“Kalau le dikasih kemampuan buat buka rahasia langit, itu artinya le memang punya hak untuk itu!” kata Ah Xiang.

Meski kemampuannya terdengar begitu luar biasa, cara Li Hwa menyibak hari kematian jauh tak memerlukan tata upacara: ia hanya perlu memejamkan kedua matanya dalam waktu yang agak lama. Menurut penjelasannya, dengan cara itu ia dapat membiarkan kesadarannya berkelana ke langit, memasuki istana Giam Lo Ong yang berdiri di atas kepulan awan-awan, melintasi lorong panjang yang di kedua sisi dindingnya dipenuhi rak berisi gulungan-gulungan perkamen, dan kemudian berhenti di sebuah ruangan kecil berlantai kayu, berdinding lukisan naga dan burung hong, dengan sejilid kitab bersampul emas di atas meja. Dalam kitab itu, Li Hwa dapat mencari nama orang yang ingin ia ketahui tanggal kematiannya. Halaman-halaman kitab itu akan berbalik sendiri sesuai keinginan Li Hwa.

Ah Xiang merasa tak perlu bertanya-tanya bagaimana ia akan mati. Ia pikir ia akan mati karena kondisi tubuhnya yang sudah tak sehat lagi. Seringkali ia muntah tanpa sebab, napasnya tiba-tiba jadi pendek-pendek, dan sekujur tubuhnya lemas total sehabis makan. Namun tak sekali pun ia pernah ke dokter untuk memeriksakan keadaannya.

“Dua bulan lagi wa bakal mati!” kata Ah Xiang ketika menelepon Ah Li.

“Koh, le lebih baik jangan percaya deh sama si Li Hwa itu! Omongan dia cuma bullshit! Kalau dia memang jago ramal, kenapa hidupnya susah sampai sekarang?” kata Ah Li.

“Bulsit itu apa, Li?”

SEJAK memperoleh tanggal kematiannya, Ah Xiang mulai berpikir untuk membuat sebuah perayaan sederhana. Perayaan Imlek berulang terus dari tahun ke tahun, sedangkan kematian adalah hal yang tak berulang. Kematian semestinya lebih pantas dirayakan, pikir Ah Xiang. Untuk itu, ia mulai menyiapkan adonan tart susu sejak beberapa hari sebelum tanggal kematiannya yang telah diramalkan itu. Dalam sehari ia menyiapkan delapan piring tart (delapan, ia pikir, adalah angka keberuntungan). Setelah selesai memanggangnya, dan menunggu tart-tart itu mengempis dan mendingin, ia menyimpannya di dalam kulkas. Ketika harinya tiba, ia tinggal menyajikan kue-kue tart itu di ruang tamu. Ia juga telah memotong tiap tart menjadi delapan bagian.

“Ah Li dan Ah San pasti yang paling kangen sama tart susu wa,” ujar Ah Xiang seraya membelah-belah kue itu. Dalam benaknya ia mengingat-ingat setiap anggota keluarga besarnya, mengira-ngira siapa saja yang bakal datang ke pemakamannya. Ia berharap semua datang. Namun ia juga bertanya-tanya apakah mereka bakal menangisi dan mendoakannya. Atau jangan-jangan mereka sekadar datang untuk kesopanan. Bukankah kesopanan sudah menjadi alasan berjuta-juta orang untuk menghadiri bermacam acara di dunia ini?

Akankah mereka datang hari ini?

Lama-kelamaan, Ah Xiang semakin merasa cemas. Ia tak lagi tahan berbaring di tempat tidurnya, menatapi dinding-dinding kamarnya yang kuning kusam dan kalender tahun 1995 bergambarkan perempuan bule berbikini yang tak pernah dicabutnya sejak tahun yang tercetak pada kalender itu. Ia mulai bertanya-tanya, kenapa sudah sesiang ini saudara-saudaranya belum juga datang untuk menemani saat-saat terakhirnya?

Bahkan Li Hwa pun tak memberi kabar.

Ah Xiang bangun dari tempat tidurnya, berjalan ke arah telepon untuk mengecek apakah kabelnya putus atau digerogoti tikus. Ah Xiang berniat menelepon tetapi ragu. Ia lalu memandang ke arah deretan tart susu buatannya di meja panjang ruang tamu. Ia termangu sebentar, sebelum klakson mobil dari arah luar mengagetkannya dan membuat ia berlari ke halaman rumahnya dengan penuh harap.

“Siang, ini rumah keluarga besar Pasaribu, bukan?”

“Sa… salah rumah!” Ah Xiang menggeleng.

Ah Xiang kemudian kembali ke kamar tidurnya. Ia berjalan lunglai. Ia berbaring lagi selama dua jam. Ia mencoba membayangkan bilamana keluarga besarnya telah datang dan memenuhi rumahnya itu, menikmati perayaan sederhana yang digelarnya sebelum upacara pemakamannya.

Pukul empat sore, Ah Xiang keluar lagi dari kamarnya. Tak ada tanda-tanda kedatangan siapa pun. Ia lalu berjalan ke ruang tamu dan mengambil sepotong tart susu dengan tangannya. Ia makan sambil duduk di kursi teras sambil memandangi jeruk-jeruk yang mengkal dan langit yang lama-lama menguning. Sinar matahari menimpa wajahnya.

“Ah Xiang, Ah Xiang. Kamu jadi anak pertama yang menyusul Mama.”

Beberapa saat setelah mengunyah potongan tart susu itu, Ah Xiang tiba-tiba mengantuk. Ia tak kembali ke kamarnya untuk berbaring. Ia membiarkan dirinya tertidur sambil duduk. Tak ada udara yang bergerak saat itu, tetapi ia merasa tubuhnya begitu ringan, seolah-olah ada beban yang terangkat dari dalam rongga dadanya. Mendadak ia terkekeh. Ia terkekeh begitu lama hingga air matanya tumpah, tanpa sebab yang bisa ia jelaskan.

Ia tak lagi mengharapkan apa-apa, tak juga mengharapkan kedatangan siapa pun.

Malam hampir tiba dan Ah Xiang beranjak dari teras. Ia menoleh ke belakang dan melihat dirinya duduk terkulai. Kedua matanya terpejam seperti tengah tertidur pulas. Ah Xiang mengusap wajahnya dan pergi meninggalkan tubuhnya.

Ia masih belum tahu hendak ke mana.(*)

Kuta Selatan, 29 Desember 2014

 

Leopold A. Surya Indrawan lahir di Jakarta, 11 November 1989. Lulusan Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Pelita Harapan.

sumber : Koran Tempo, 25 Januari 2015.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme