Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pertengkaran Ivan Satu dan Ivan Dua oleh Karta Kusumah

Posted on Ming, 01 Feb 2015

MAKA beginilah akhirnya: Ivan Satu menghajar perut Ivan Dua dengan tangan kanan. Ivan dua menggigit betis Ivan satu. Ivan satu menjerit, sejurus kemudian menyepakkan kakinya ke kepala Ivan Dua. Ivan dua terlempar. Setelah bangkit dan mengambil ancang-ancang, Ivan Dua menghambur lantas menggigit leher Ivan Satu. Ivan satu menjulurkan tangannya ke belakang, mencengkeram Ivan Dua, lantas mengempaskan Ivan Dua ke dalam got.

Selesai.

AKU telah menceritakan kepadamu sebuah kisah persahabatan yang berakhir dengan tidak menyenangkan. Kau boleh meneruskan kisah ini menurut versimu sendiri kepada pacarmu sebagai pengisi jeda ketika kau kehabisan bahan obrolan sementara pacarmu butuh basa-basi yang lebih menggigit sebelum memberi izin menggigit bibirnya; atau sebagai cerita pembasmi kantuk di sela-sela perjuanganmu menyelesaikan skripsi yang mesti direvisi untuk ketujuh kali; atau bisa juga sebagai dongeng pengantar sebelum meminjam uang pada seorang temanmu yang gemar menonton pertandingan tinju kelas bulu. Terserah.

Namun sebelum melangkah lebih jauh, aku akan mengajukan tiga syarat: Pertama, jangan mengubah nama tokoh yang ada di dalam cerita. Biarlah Ivan Satu dan Ivan Dua tetap ada. Untuk mempermudah pendengar atau pembacamu berilah keterangan tentang siapa Ivan Satu dan Ivan Dua tersebut. Kedua, jangan menceritakan kisah ini lebih dari satu kali pada orang yang sama kecuali kau sudah mengubah jalan cerita yang kau bangun sebelumnya. Terakhir, jangan sekali-sekali memaksakan diri menyisipkan pesan moral apa pun ke dalam kisah yang kau ceritakan kecuali kau sedang berhadapan dengan seorang terpidana mati yang tiga jam lagi akan dieksekusi; atau berhadapan dengan gerombolan remaja patah hati yang gemar memotivasi dirinya sendiri dengan menonton televisi.

Sebagai bahan uji coba, aku menawarkan padamu dua contoh kisah alternatif dari kisah yang sudah kuceritakan padamu barusan.

 

Satu

IVAN satu adalah seorang mahasiswa sastra tahun akhir sebuah universitas di Padang. Sudah menulis dua ribu tiga ratus delapan puluh tujuh sajak cinta yang ia tujukan kepada tiga puluh lima perempuan dari tingkat usia berbeda yang masing-masing selalu berkomentar singkat, padat, datar, dan seragam setiap kali Ivan Satu menyodorkan sajak cintanya. Ivan Dua adalah seekor anjing-hitam-kurus-tua bangka-penyakitan dengan air liur yang selalu menghambur berantakan setiap kali ia batuk. Batuk yang, aduhai, ketika mendengarnya bisa membuat selera makan lenyap dua jam.

Perkenalan Ivan Satu dan Ivan Dua bermula ketika Ivan Satu menemukan dirinya tenggelam dalam kesedihan bertubi karena usulan proposal skripsi yang ia ajukan kepada Pembimbing Satu dan Pembimbing Dua ditolak dengan mantap, ditambah lagi proposal hubungan berpacaran yang ia ajukan tadi malam kepada salah seorang perempuan dalam sajaknya juga ditolak dengan mantap. Hari itu Ivan Satu merasa bahwa orang-orang di dunia sedang sepakat untuk menghancurkan perasaannya.

Dengan membawa kesedihan di pelupuk mata ia bertolak dari ruang jurusan yang berada di lantai empat menuju salah satu perpustakaan yang berada di lantai satu. Sepanjang perjalanan dari lantai empat ke lantai satu Ivan Satu berhenti di tiap-tiap lantai, melongokkan kepalanya, dan menatap ke bawah. Duh, tinggi. Pasti langsung mati, bisiknya kepada diri sendiri. Namun, karena tujuannya ke perpustakaan adalah tidur, bukan bunuh diri, maka setelah melongokkan kepalanya, menatap ke bawah, dan berbisik, ia kembali melanjutkan perjalanannya. Sampai di perpustakaan, ia mendadak tidak jadi ingin tidur. Ia malah duduk merokok di bangku yang berada di pintu masuk. Duduk dengan pandangan nanar ke arah depan sambil menggerutu-menggerutu sendiri. Saat itu, Ivan Dua yang kebetulan baru saja pulang dari dalam semak-semak di belakang kampus, membawa diri letihnya dan duduk di samping Ivan Satu. Menatap ke arah yang sama.

Sial, sial benar dosen-dosen itu! gerutu Ivan Satu.

Ivan Dua menggonggong.

Mendengar gonggongan itu, Ivan Satu sadar bahwa gerutuannya didengar. Merasa tidak nyaman karena cemas gerutuannya dianggap sebagi makian dan tersebar melalui Ivan Dua, ia membuat kesepakatan.

Dengar, anjing! Kata Ivan Satu berbisik. Apa pun yang kaudengar, itu tidak sesuai dengan apa yang ada di pikiranmu.

Ivan Dua menggonggong.

Aku tidak ingin kau menyampaikan kabar yang tidak benar. Tadi itu aku hanya berusaha mencari-cari cara yang tepat untuk menghabiskan kekesalanku dengan segera.

Ivan Dua menggonggong.

Jadi, jangan membuat jalanku meninggalkan kampus ini menjadi semakin dipersulit. Jangan bercerita pada siapa pun tentang apa yang kau dengar barusan. Sip?

Ivan Dua menggonggong.

Apa kau bisa dipercaya?

Ivan Dua tidak menggonggong dan menolehkan pandangannya ke arah yang lain.

Aduh, maaf, aku hanya bercanda. Tentu saja kau bisa dipercaya. Maklum, akhir-akhir ini aku sering dikecewakan diri sendiri jadi agak sulit untuk percaya pada yang lain.

Ivan Dua menoleh pada Ivan Satu dan menggonggong lagi.

Bagus, ujar Ivan Satu sambil mengelus-elus kepala Ivan Dua. Kenalkan, aku Ivan. Kau?

Ivan Dua menggonggong.

Hahaha, anjing! Nama kita sama! Luar biasa. Sebuah awal pertemanan yang menyenangkan.

Ivan Dua menggonggong.

Baiklah, anjing. Eh, Ivan. Maukah kau mendengar kekesalanku yang lain? Tapi, aduh. Sebenarnya aku sudah tidak ingin mengingat-ingatnya lagi, namun karena kau menyenangkan, dan lebih-lebih karena kita teman, akan kucoba.

Ivan Dua menggonggong.

Dua hari yang lalu, aku berkenalan dengan seorang perempuan—

Ivan Dua menggonggong.

O, tentu, tentu saja dia cantik. Ya, meskipun kita punya sudut pandang yang berbeda tentang apa dan bagaimana cantik itu. Wajahnya, kau tahu, seperti kombinasi yang tidak masuk akal dari tiga bintang film syur Indonesia tahun tujuh puluhan—

Ivan Dua menggonggong.

Hahaha. Bukan, bukan itu maksudku. Aku memberi gambaran seperti itu agar kau bisa dengan lebih mudah membayangkan serupa apa perempuan yang berkenalan denganku itu.

Ivan Dua menggonggong.

Kau sendiri yang selalu menyela. Baiklah, aku lanjutkan. Perkenalan itu, tentu saja, tidak hanya selesai dengan saling menyebutkan nama. Aku juga berhasil mendapatkan nomor ponselnya dengan cara yang, aku pikir, tidak perlu aku jelaskan karena itu bukan bagian penting.

Ivan Dua menggonggong.

Dua jam setelah mendapatkan nomornya, aku mulai menyerang ponselnya dengan sajak-sajak cinta yang kutulis—

Ivan Dua menggonggong.

Jangan menyela terus!

Ivan Dua menggonggong.

Kalau dihitung-hitung, dalam waktu sehari, aku sudah mengiriminya lebih dari tiga puluh lima sajak cinta. Dengan namanya tertulis di bawah judul. Namun, ia tidak pernah membalas dengan apa pun atau merespons dengan cara apa pun ketika keesokan harinya kami berpapasan di depan ruang jurusan. Ya, sepertinya hari itu ia sedang sibuk karena ia tampak kesusahan membawa banyak map dan bahan ajar sehingga barangkali tidak memperhatikan aku.

Ivan Dua menggonggong.

Tidak, teman. Aku tidak berhenti mengiriminya sajak. Justru sejak berpapasan dengannya di depan ruang jurusan itu aku semakin menggebu-gebu menulis sajak dan mengirimkan padanya.

Ivan Dua menggonggong.

Hahaha, itu bukan GR. Tapi percaya diri, teman. Kulanjutkan?

Ivan Dua menggonggong.

Malam selanjutnya, atau tepatnya, kemarin malam, untuk pertama kalinya aku tidak mengiriminya sajak, namun mengganti sajak dengan sebuah pertanyaan—

Ivan Dua menggonggong.

Aku bertanya padanya maukah ia jadi pacarku.

Ivan Dua menggonggong.

Dan ia membalas, untuk pertama kali, dengan bertanya sudahkah aku menyelesaikan revisi skripsiku. Ditambah sebuah kalimat. Dosen pembimbingmu sudah tidak sanggup lagi membantumu, mulai besok saya yang akan menggantikan. Sial!

Ivan Dua menggonggong berkali-kali.

Sial! Jangan perolokkan aku, teman.

Ivan Dua menggonggong lebih keras dari sebelumnya.

Cukup, cukup. Kau membuatku sedih, teman.

Ivan Dua menggonggong sambil mondar-mandir dan menggoyangkan ekornya di depan Ivan Satu.

Cukup. Aku tidak ingin marah oleh ejekanmu.

Ivan Dua berguling-guling di tanah.

Ivan Satu menggelagak darahnya. Ia merasa teman yang baru saja dikenalnya ini sudah berani untuk memancing kekesalan lain darinya.

Hentikan, anjing!

 

Dua

IVAN Satu adalah seorang pengangguran berumur dua puluh tujuh tahun, berpacaran dengan Rona Dewi, dan akan menikah. Ivan Dua adalah Ivan Satu yang belum menjadi pengangguran, seorang receptionist sebuah boutique hotel di Padang.

Mereka bertemu di ruang tamu sehari sebelum Ivan Dua resmi diberhentikan dari tempatnya bekerja namun sudah mengajukan pengunduran diri dan delapan bulan berlalu setelah Ivan Satu menelepon Rona Dewi dan mengabarkan bahwa ia kini pengangguran dan kekasihnya itu mengajukan putus padanya. Ivan Satu, saat itu, sedang mengaduk kopinya yang tanpa gula sambil menukar-nukar saluran TV dengan serampangan berharap mendapat hiburan yang lebih menarik dengan cara menonton acara TV yang berbeda bergantian, dengan durasi masing-masing kurang dari satu detik.

Dan baginya, itu memang lebih menarik daripada menonton satu acara tertentu dengan durasi satu jam atau lebih. Ia tertawa. Namun, ada satu hal yang belum dipelajari Ivan Satu perihal mengganti saluran TV sambil mengaduk kopi. Ia belum belajar bagaimana agar tangan kanannya yang memegang remote control dan tangan kirinya yang memegang sendok bisa bekerja kompak dalam waktu bersamaan sehingga ketika ia tertawa oleh hasil kerja tangan kanan, tangan kiri menjadi iri. Tangan kirinya mendadak ngambek, mengaduk kopi tanpa gula itu lebih cepat dari sebelum dan membuat kopinya tertumpah sesendok demi sesendok.

Ivan Satu menyadari tangan kirinya ngambek setelah salah satu tumpahan kopinya jatuh tepat di punggung kakinya. “Anjing,” umpatnya. Ketika Ivan Satu bersorak “anjing!” itulah Ivan Dua baru saja menyelesaikan ritual paginya di dalam kamar mandi. Ia menyorongkan kakinya satu per satu ke dalam lubang celana. Kaki kanan lebih dahulu, menyusul kemudian kaki kiri. Menaikkan ritsleting, mengaitkan kancing, memasang ikat pinggang. Kemudian ia mencelupkan tangan kanannya ke air di ember, mengusapkannya ke rambut, dan bergegas ke ruang tamu.

Ivan Satu berlari ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, beginilah yang dilakukan Ivan Satu: ia memasukkan kakinya satu per satu ke dalam ember yang penuh berisi air yang baru saja ditimba Ivan Dua dan disaringnya untuk keperluan mandinya. Kaki kanan lebih dulu, menyusul kemudian kaki kirinya. Kakinya terasa dingin dan tiba-tiba membuat perutnya mulas. Ia keluar dari ember, melonggarkan ikat pinggang, melepaskan kaitan kancing celana, menurunkan ritsleting, dan jongkok menghadapi lubang kakus dan dengan satu desakan yang bertenaga melepaskan enam puluh persen sampah yang tertimbun di perutnya ketika di ruang tamu.

Pada saat yang sama Ivan Dua mengaduk kopinya setelah menuangkan sebungkus krimer yang ia dapatkan dari restoran hotel tempatnya bekerja, mengaduknya dengan sebuah gerakan lembut yang mengingatkan kita pada serial TV di mana seorang pendekar sedang mengajari kekasihnya bagaimana mengayunkan pedang, kemudian mengangkat kopi campur krimer itu ke hadapan mulutnya, membuat mulutnya ingin mengembus-embus kopi itu, dan terciumlah aroma pagi yang menyegarkan di hidungnya.

Saat itu, ia merasa betapa pagi seperti ini sudah lama sekali tidak ia jumpai. Pagi yang tidak berlalu dengan tergesa. Tidak seperti hari-hari sebelumnya. Ia mesti menyeduh kopinya setengah gelas dengan air panas dan mencampurkan setengah gelas air dingin agar kopi itu bisa langsung ia minum dan ia bisa menyulut rokok sambil memanaskan mesin motor dan tak lama kemudian berangkat kerja sambil merokok di atas motor yang melaju terburu-buru. Semua itu terjadi karena ia mesti tiba di konter depan sebelum Front Office Manager-nya yang gemar mengeluarkan tomat busuk, air got, telur basi, dan terkadang kecoa raksasa dari mulutnya ketika ada saja bawahannya yang datang terlambat. Ivan Dua sudah bosan dengan semua ketergesaan itu, ia merasa waktu berjalan lebih cepat dan membuat dirinya menjadi lebih tua daripada usianya. Ivan Dua meraih remote TV, memencet tombol power, kemudian mencari siaran TV yang paling ia suka: iklan.

Ia menyukai iklan karena menurutnya iklan adalah siaran TV yang paling jelas tujuannya, yaitu sebagaimana mestinya, untuk promosi. Sementara siaran yang lain, tidak jelas apa tujuannya. Ada sebuah iklan lewat, dan tanpa alasan yang jelas, ia tertawa, sehingga gelas kopi yang sedang berada tepat di depan mulutnya goyang dan menumpahkan kopi campur krimer yang masih panas itu ke mukanya. “Anjing,” umpatnya. Berlari ke kamar mandi.

Ivan Satu saat itu sudah selesai memindahkan semua sampah yang ada dalam perutnya ke dalam lubang kakus, dan sedang berada di dalam kamar untuk berganti celana. Celananya basah karena ketika cebok ia tidak cukup cermat untuk hanya membasuh bokongnya saja tapi juga turut menyiram celananya. Namun ia tidak kesal karena itu. Ia tertawa saja. Sudah lama ia tidak sesumringah ini sejak putus dengan Rona Dewi. Memang, masih belum hilang dari ingatannya, bagaimana ketika ia sedang butuh dukungan moril karena memutuskan berhenti bekerja, kekasihnya yang sudah ia pacari lima tahun dan berencana menjadi istrinya itu, dengan intonasi yang datar dan profesional, mengatakan bahwa lebih baik hubungan mereka berakhir saja karena menurut Rona Dewi keputusan Ivan Satu untuk berhenti bekerja itu bisa membuyarkan semua persiapan pernikahan yang sudah ia susun. Karena jelas, tegas Rona Dewi lagi, semua itu butuh biaya. Daripada mesti memaksakan diri meminjam kesana-kemari, lebih baik pernikahan dibatalkan saja.

Sederhana. Tentu saja sederhana, kenang Ivan Satu, namun sederhana itu yang rumit. Sungguh butuh waktu bagi Ivan Satu untuk bisa meredam sakit hatinya, mencabuti bibit dendam dalam dadanya yang mulai tumbuh satu-satu, dan mencari pengalihan. Namun sekarang, ia tak perlu khawatir lagi karena waktu yang ia butuhkan untuk melupakan kebencian pada Rona Dewi, ternyata tidak lama, ia sudah bisa lega.

Ivan Satu kembali ke ruang tamu, Ivan Dua pun begitu. Mereka bertemu.

“Siapa kau?” tanya Ivan Satu.

“Siapa kau?” tanya Ivan Dua.

“Aku Ivan,” jawab mereka berbarengan.

BAGAIMANA? Ya, memang, dua contoh kisah alternatif yang kuceritakan padamu belum cukup rapi, namun sesuai kebutuhanmu, kau bisa menggunakannya, mengembangkannya, atau menghapusnya sama sekali. Tapi ingat, apa pun kisah yang kau ceritakan nantinya, kau sudah sepakat dengan syarat-syarat yang kuajukan. Dan tambahan: bagaimana pun kau memulai kisahmu, jangan pernah mengubah akhir kisahnya. Karena bagaimana pun kau memulainya, akhir dari setiap kisah sudah ada yang menentukan.(*)

Gang Patai, 2014

 

Karta Kusumah tinggal di Padang. Giat di Komunitas Seni Nan Tumpah.

sumber : Koran Tempo, 1 Februari 2015.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme