Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kucing Buku oleh Yudhi Herwibowo

Posted on Ming, 22 Feb 2015

1

TIBA-TIBA ada kucing di rak bukuku.

Aneh sekali. Ia seperti tiba-tiba saja ada di sana, duduk di salah satu kolom di baris keenam, di mana kumpulan cerpen penulis-penulis lokal berada. Dengan santainya, ia menjilati tangannya di dekat buku Kucing Kyoko.

Bagaimana kucing ini masuk ke kamar ini? Aku bertanya sekilas. Rumahku selalu tertutup. Jendela pun begitu. Memang banyak kucing liar di luar sana. Tapi tak pernah ada yang mendekat ke rumah. Aku bukan orang yang bersahabat dengan binatang, dan mereka tahu itu. Sehingga setiap melihatku, mereka langsung berlari menjauh.

Kucing ini seperti datang begitu saja. Bukan kucing kecil, tapi bukan pula kucing dewasa. Bulunya putih, dengan beberapa bagian berwarna krem. Saat merasa diperhatikan, ia mulai mengeong ke arahku. Awalnya aku ingin mendiami saja. Saat ini, aku sedang begitu bersemangatnya melanjutkan novelku. Gairahku menulis sedang bagus-bagusnya, dan jari-jariku sedang benar-benar jatuh cinta dengan keyboard di laptopku. Mungkin karena ceritanya sudah sampai di bagian yang sudah kutunggu-tunggu: Asandra, karakter utama di novelku itu, mulai merencanakan membunuh suaminya.

Ini bagian yang rumit. Di halaman-halaman sebelumnya sudah kulukiskan betapa sempurnanya Asandra. Ia cantik, memiliki karier yang baik, dan sangat berbahagia. Tapi keinginan membunuh suaminya tak pernah hilang, walau ia sudah menepisnya selama bertahun-tahun. Ini seperti keinginan untuk kentut. Kau bisa menahannya beberapa saat, tapi beberapa saat kemudian, keinginan itu akan muncul lagi!

Yang jadi masalah, Asandra tak punya alasan mengapa ia harus membunuh suaminya. Suaminya tampan, kariernya juga baik, dan juga sangat berbahagia. Ini hanya semacam keinginan membunuh saja, titik. Benar-benar tanpa alasan. Toh, kadang, satu kejadian terjadi tak harus karena hukum sebab-akibat. Saat semua orang mencoba berpikir di luar kotak; membunuh tanpa alasan, satu pikiran yang paling menarik.

Sudah kupikirkan, Asandra akan memanfaatkan kebiasaan suaminya yang selalu berdiri di balkon selepas mandi. Ia akan meletakkan air sabun di lantai tepat di depan balkon. Lalu ia akan menggergaji pagar balkon hampir setengahnya. Hingga, hanya dengan satu sentuhan saja, pagar itu akan patah.

Tapi sialnya, saat jari-jariku akan memulai, aku mendadak merasa ragu.

Meooong….

Kucing itu kembali mengeong. Aku langsung menyumpahinya. Seketika saja, ia menghancurkan konsentrasi yang sudah kubangun sejak tadi.

Aku kembali melirik ke arah rak. Kucing itu seperti memintaku menurunkannya dari rak. Maka dengan setengah hati, aku bangkit dan mengangkatnya. Anehnya, saat kuangkat ia langsung diam. Bahkan saat kuletakkan di lantai, ia langsung mengusel-usel kepalanya di kakiku dengan manja.

Sebenarnya aku ingin mengeluarkannya. Tapi entah kenapa, aku malah membiarkannya saja. Ia seperti mengucapkan terima kasih, sambil memainkan kuku-kukunya di celanaku. Menimbulkan rasa geli dan sedikit sakit.

Aku segera mengusirnya. Ia memilih duduk diam di ujung ruangan. Kembali keinginan untuk mengeluarkannya muncul. Tapi—lagi-lagi—aku mengurungkan niatku, saat melihatnya merungkel di atas kain keset yang ada di situ. Dengan asyiknya ia menjilati tubuhnya dengan lidahnya yang kasar dan berwarna merah jambu.

Aku kembali melanjutkan pikiranku pada layar laptopku. Sampai di mana tadi? Saat Asandra mulai membunuh suaminya? Ah, kenapa aku tiba-tiba merasa cara terpeleset air sabun itu tak cukup menarik? Padahal cara ini sudah kupikirkan sejak lama. Kini, aku malah merasa cara itu tak sesuai dengan karakter Asandra yang cerdas.

Hal ini membuatku terdiam dan mulai memikirkan cara lainnya yang lebih elegan. Sekilas kembali kubaca beberapa paragraf yang sudah kutulis sebelumnya. Misalnya…

Detik-detik berlalu bagai menyeret dirinya. Ada lelah yang dirasa, atau sekadar keengganan merayap. Asandra mulai memakai lipstik merah kesukaannya. Dari kaca riasnya yang besar dapat dilihatnya suaminya duduk terdiam di sofa kesukaannya. Ia tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk diam. Asandra berpikir, saat seorang ada dalam satu ruangan yang sama tapi tak mencoba melakukan apa-apa, itu merupakan tanda paling baik untuk meninggalkan dunia ini.

Di tengah suasana seperti itu, aku mendengar suara kertas robek. Aku menoleh. Kulihat kucing itu sedang menggigit buku yang ada di dekatnya. Dengan cakar dan giginya, ia berhasil merobek beberapa lembar halaman. Aku sebenarnya hendak menghardiknya. Namun saat melihat buku apa yang ada di tangan kucing itu, aku mengurungkan niat. Itu buku milik seorang penulis yang menjengkelkan, sombong dan merasa dirinya bagian dari kaum selebriti. Jadi rasakan saja, kucing pun ternyata tak suka dengan bukumu!

Aku kembali menoleh ke arah laptop. Berpikir lagi tentang Asandra. Sekilas aku mulai memikirkan hadirnya tokoh lain, seorang pelacur yang kelak akan diajaknya untuk bekerja sama. Asandra akan membiarkan pelacur itu menggoda suaminya. Lalu diam-diam, ia akan memberi suaminya sebuah obat pacu jantung sebelum ia beraksi.

Tapi, ide itu pun terasa berlebihan. Aku pun hanya bisa menghela napas, sambil berpaling ke belakang. Kucing itu ternyata sudah tak ada.

HARI berikutnya aku melihat kucing itu lagi. Ia berbaring di baris atas. Entah kebetulan atau tidak, ia berada di mana buku 101 Cara Membunuh Kucing kuletakkan.

Sambil menurunkan kucing itu, aku mengambil buku itu. Siapa tahu aku mendapat ide yang menarik dari sini. Aku segera membalik-balik halamannya. Tapi ternyata buku ini hanya ditulis dengan standar. Beberapa cara membunuh kucing yang ada, di antaranya; dengan memakai perangkap besi, lalu memakai lem kucing, lalu meracunnya dengan racun kucing…. Eit, tunggu-tunggu! Apa ada racun kucing? Aneh sekali. Cara-cara ini sepertinya lebih pas sebagai 101 Cara Membunuh Tikus.

Aku langsung melempar buku itu. Heran, bagaimana bisa buku jelek seperti itu ada di rak bukuku yang bagus? Pasti aku membelinya saat obral Rp 5.000 atau Rp 10.000. Aku tentu tak akan mau membelinya dengan harga normal. Membeli buku saat obral kadang memang sedikit melumpuhkan nalar. Buku dengan standar di bawah pun kadang dibeli karena gelap mata.

Aku mencoba berpikir lagi tentang Asandra. Semalam aku mendapatkan ide bagaimana kalau ia membunuh dengan lipstiknya? Saat akan bercinta, ia akan meminta suaminya untuk berperan sebagai seorang perempuan (sekarang, orang punya fantasi seks yang aneh-aneh, bukan?). Ia akan mengoleskan racun pada lipstiknya. Mungkin sianida. Jadi saat suaminya mengoleskan listik itu di bibirnya dan mulai mengecap-ngecap dengan lidahnya… dan ia akan selesai.

Kupikir ide ini menarik. Unik.

Aku tersenyum, dan baru menyadari kucing itu sudah tak ada di tempatnya.

KEESOKAN harinya, sebelum menulis, aku keluar rumah untuk belanja bulanan. Sepulang dari situ, aku sedikit tergoda saat melewati sebuah pet shop. Aku teringat dengan kucing yang muncul di rakku itu, yang diam-diam mulai kupanggil Kucing Buku. Aku yakin, ia pasti akan datang lagi. Jadi, agar ia tak terus mengeong, aku mungkin sebaiknya memberinya makanan untuknya.

Maka aku pun masuk ke dalam toko itu, dan keluar dengan membawa satu bungkus plastik makanan kucing.

Benar seperti dugaanku, aku kembali menemukan kucing itu di rak bukuku. Kali ini ada di baris paling bawah, sedang tertidur pulas.

Karena belum menyalakan laptop, aku berpikir untuk menindaklanjuti pertanyaan-pertanyaanku yang beberapa hari ini terus kupikirkan. Misalnya, dari mana kucing ini masuk? Maka aku pun mulai mengecek jendela, lubang udara, bahkan langit-langit setiap ruangan. Tapi semuanya tertutup rapat.

Aku hanya bisa menggaruk kepalaku. Kuambil piring dan mulai menuangkan makanan itu di dekatnya. Anehnya, ia seperti tak berminat, dan meneruskan tidurnya. Aku pun hanya mengangkat bahu, dan mulai kunyalakan laptopku.

Apa sekarang aku harus melanjutkan ide racun di lipstik itu? Kenapa hari ini rasanya ide itu terasa berlebihan? Aah, sepertinya aku terlalu membuang waktu di bagian ini. Padahal membunuh suaminya, bukanlah inti novel ini. Cerita utamanya adalah setelah Asandra sukses melakukannya. Ia akan bertemu dengan seorang perempuan yang kelak menjadi sahabatnya. Ternyata sahabatnya itu pun pernah melakukan pembunuhan yang nyaris sama sepertinya. Pembunuhan tanpa alasan. Maka keduanya kemudian memutuskan membuat sebuah klub rahasia yang berisi orang-orang yang membunuh tanpa alasan.

Itu cerita sebenarnya novel ini.

“Kenapa kau tak memakai cara yang biasanya dilakukan oleh kucing?”

Sebuah suara tiba-tiba terdengar. Tentu saja ini mengagetkanku. Tak ada siapa-siapa di rumah ini. Hanya kucing yang sedang tertidur di rak buku. Maka, dengan gerakan perlahan, aku berpaling, memandang kucing itu dengan tatapan tak percaya.

“Kau… bi…bicara?” suaraku seperti tersengal.

“Ya, aku bicara. Bicara padamu,” kucing itu menjawab. Benar-benar menjawab. Gerakan mulutnya pas sekali dengan suara yang kudengar. “Kau tahu, aku bukan kucing sembarangan. Aku bukan kucing yang muncul dari tong sampah. Aku muncul dalam rak bukumu.”

Aku hanya bisa menelan ludah.

“Kuamati, akhir-akhir ini kau terlalu lama berkutat di depan laptopmu, tanpa menghasilkan apa-apa?”

“Itu karena aku… memikirkan sesuatu.”

“Kau harus membaca buku-buku di depanmu ini, agar ide bisa terus mengalir.”

“Aku… membacanya.”

“Huh, kau hanya membelinya. Itu pun kau beli saat obral. Benar-benar penulis yang payah.”

Aku menelan ludah. Sebenarnya jengkel juga mendengar ucapannya, tapi aku tak bisa membantahnya. Yang diucapkannya memang benar adanya.

“Kau mau tahu cara terbaik bagi Asandra membunuh suaminya?” tanya kucing itu kemudian.

Aku mengangguk ragu.

“Seperti yang kukatakan tadi, pakailah cara yang biasa dilakukan kucing.”

 

2

LAKI-LAKI memang sialan!

Sekarang, ia sulit sekali dihubungi. Ia tak pernah mengangkat ponselnya. Bahkan saat didatangi rumahnya, ia tak pernah ada. Atau… mungkin ia ada, tapi tak berkenan menemuiku.

Padahal aku sendiri malas bertemu dengannya. Aku hanya perlu satu tanda tangan darinya. Setelah itu, selesailah urusanku dengannya.

Ya, itu syarat terakhir urusan perceraianku dengannya.

Aku berharap semoga beban berat ini segera hilang. Menatap masa depan yang baik. Melupakan masa lalu yang buruk. Walau, aku tentu tak mau menyesal dengan apa yang sudah kulakukan selama ini. Kupikir ini bagian dari jalan hidupku. Lagian, siapa yang bisa menebak jalan hidup? Saat aku mengenalnya, ia laki-laki yang sangat sempurna. Tulisannya selalu membuat hatiku luruh padanya. Kekagumanku benar-benar tak berbatas untuknya.

Tapi sekarang inilah pesanku: jangan pernah menikah dengan seorang penulis. Mereka hanya punya imajinasi. Tak punya apa-apa lagi selain itu. Kau mungkin bisa terpesona dengan tulisan-tulisannya, tapi hanya akan sebatas itu saja.

Seperti yang kualami ini. Hanya beberapa bulan sejak menikah, aku sudah merasa ada yang salah dengannya. Ia terlalu sering menyendiri di kamarnya. Diam, tanpa melakukan apa-apa. Merokok sampai seluruh kamar dipenuhi asap. Saat itulah aku tahu, apa yang ditulis seorang penulis tak selalu sama dengan apa yang ada padanya.

Semakin hari, aku bahkan semakin takut dengannya. Cerita-cerita yang ditulisnya selalu bertema pembunuhan. Terutama pembunuhan dalam sebuah keluarga. Lama-lama aku merasa, ia seperti terobsesi untuk membunuh pasangannya. Hanya saja, ia terlalu pengecut untuk mengambil posisi sebagai pembunuhnya. Ia akan selalu mengambil posisi sebagai korban, sang istri yang akan dibunuh.

Kupikir, inilah alasan terbesarku meminta cerai darinya. Orang-orang bilang aku terlalu terburu-buru. Tapi mereka tak tahu. Mereka juga tak melihat saat ia benar-benar membunuh seekor kucing liar dengan racun, hanya gara-gara kucing itu merobek-robek salah satu bukunya.

Hari ini aku berniat menyelesaikan semua urusan dengannya. Kekasih baruku sudah menunjukkan kesungguhannya, dan aku tak mau menyisakan segala sesuatu yang mengganjal di hubungan ini.

Tapi tetap saja aku tak berhasil menghubunginya. Maka kuputuskan untuk ke rumahnya. Kukendarai mobilku dengan cepat. Sialnya, di tengah perjalanan, seekor kucing tiba-tiba melintas ke tengah jalan. Aku kaget, dan segera membanting setir ke kiri.

Namun di sana, sebuah pohon besar sudah menyambutku.

 

3

AKU seperti bangun dari mimpiku.

Sewaktu para polisi datang dan membawaku pergi, aku masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Tapi kucing itu sebenarnya sudah mengatakannya langsung padaku: ia sudah melaksanakan kematian yang paling baik bagi sang suami.

Aku benar-benar tak memahami maksudnya. Toh, aku sebenarnya tak terlalu menyetujui idenya. Kupikir itu terlalu standar. Kejadian sehari-hari tak terlalu cocok untuk dijadikan kisah fiksi. Harus ada yang didramatisasi.

Tapi kini, para polisi ini datang dengan tuduhan aku telah membunuh bekas istriku. Ini tentu saja gila. Aku sudah tak lagi berhubungan dengannya. Perempuan cantik yang banyak menuntut itu, sudah kuanggap pergi dari hidupku.

Tapi aku tentu tak bisa berbuat apa-apa. Saat mereka membawaku ke dalam mobil polisi, sempat kudengar suara-suara bagai dengungan di sekitarku.

“Kasihan dia, penulis yang gagal.”

“Sejak dicerai istrinya, ia benar-benar tertekan.”

Aku tak menghiraukan dengungan-dengungan itu. Toh, pada akhirnya, aku benar-benar masuk ke dalam penjara. Padahal mereka tak pernah menemukan bukti apa-apa yang menunjukkan akulah pembunuh bekas istriku. Hanya karena aku tak mau bicara saja selama pengadilan, mereka memutuskan aku bersalah.

Aku merasa hidupku telah hancur. Untungnya, di ujung penjara ini, ada sebuah perpustakaan yang hanya bisa didatangi menjelang sore. Perpustakaan sepi yang sangat berdebu.

Ini sedikit menghiburku. Diam-diam, aku suka berada di sana. Walau buku-bukunya tak sebagus yang ada di rak bukuku dulu, aku senang menghabiskan waktu duduk di salah satu kursi. Aku merasa begitu tenang.

Nanti saat suara sirene terdengar, tanda setiap penghuni penjara untuk memasuki ruangannya, aku baru akan beranjak dari sana. Biasanya, sambil menutup pintu, aku akan melirik ke rak buku itu, untuk melihat kucing itu di sana.(*)

 

Yudhi Herwibowo giat di buletin sastra Pawon, Solo.

sumber : Koran Tempo, 22 Februari 2015.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme