Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Istana Gotik oleh Iksaka Banu

Posted on Ming, 15 Mar 2015

DERIT rem disusul empat bantingan pintu oto. Pasti Babah Sun dan teman-teman. Terlambat. Syaraf tubuh bagian bawahku mulai enggan mematuhi perintah otak. Rasa dingin menjalar ke seluruh tubuh. Aku akan mati. Mereka akan menemukan tubuhku berkubang darah. Menyusul si durjana.

Sekuat tenaga kuangkat leher. Ah, tak tersisa gerumbul otot yang sepakat dengan kehendak ini. Syukurlah kedua bola mataku berputar ke depan. Pemandangannya sama sejak sore tadi. Empat pria terkapar tanpa jiwa, mengelilingi sosok besar di kursi berukir. Si durjana, yang terkulai dengan mulut sobek sampai ke telinga. Oh, mulut lebar itu. Cocok menjadi rumah kata-kata manis yang sering ia tebar. Kata-kata yang telah membuat Miranda hanyut menjadi gadis bodoh.

Miranda. Nona Miranda. Kutengok tubuh seputih lilin di pangkuanku. Miranda. Kembang Istana Gotik. Kesayangan Babah Sun. Kesayangan semua orang.

“Kamu ikut ke mana Nona pergi,” aku ingat Babah Sun menepuk pundakku sebelum menoleh kepada perempuan di depan kami. “Orang ini pensiunan KNIL. Jago kelahi. Ia kini centengmu, gantinya si Joni.”

Gadis itu mengulurkan tangan. “Aku Miranda,” ia menyapa dengan warna suara yang sulit kutemukan dalam ungkapan. Nyaring? Bersih? Yang jelas, dia tidak kaget melihat wajahku.

“Willem,” sahutku.

“Boleh saya panggil Bang Willie? Oh, angkernya. Bolehkah beri saya wajah yang lebih ramah?”

Kubuang pandangan ke samping. Tak guna menjelaskan betapa “wajah angker” itu sesungguhnya sebagian daging kening yang gagal kembali ke tempatnya setelah tersapu kelewang seorang laskar Bali saat terjadi Puputan Badung.

Nona Miranda. Istana Gotik. Ya, semua bermula tiga tahun lalu, setelah Babah Sun kuselamatkan dari keroyokan para sinyo mabuk di sekitar Kalibesar. Mendengar aku butuh pekerjaan, Babah membawaku ke Istana Gotik menjadi karyawannya.

Semula aku tak tahu, tempat apa itu. Tapi setelah melihat gadis-gadis molek dan beberapa kamar dengan ranjang beraroma cendana, segalanya menjadi jelas. Ini rumah bordil kelas atas. Bukan rumah suhian seperti di Macao Po, Gang Mangga, Gang Hauber, atau Paal Merah. Disebut Istana Gotik, menurut Pak Wage, supir Babah Sun, lantaran bangunannya menggunakan langgam hias Gotik. Entahlah. Bagiku rumah ini mirip katedral di Waterlooplein yang dulu selalu kulewati dalam perjalanan menuju barak.

Meski unik, orang akan mengira rumah ini hanya satu dari banyak rumah mewah di wilayah itu. Jarang ada oto berlama-lama di pelataran. Saudagar Tionghoa, atau tuan-tuan Belanda datang mengambil teman kencan, lantas pergi. Seringkali bahkan hanya sopir yang menjemput.

“Nona Miranda primadonanya,” tutur Pak Wage di awal masa kerjaku. “Bisa ngomong Londo. Banyak yang kepincut. Tapi Nona sangat hati-hati. Kadang menolak yang sudah dipilihkan Babah.”

BULAN-BULAN awal, aku belajar membiasakan diri melihat hal-hal di luar takaran otakku. Misalnya, ternyata banyak pria terhormat rela menghamburkan uang bersama wanita yang bukan istri mereka. Dan rumah-rumah mewah di atas bukit ternyata juga bukan dongeng. Sering kuantar Nona Miranda ke tempat-tempat semacam itu.

Aku lahir di Depok. Ibuku penjaga toko kelontong yang dipergundik ayahku, Kaas Nicholas, seorang kerani bank. Saat usiaku tujuh tahun, ayah mengusir ibu. Tadinya aku sempat diangkat menjadi anak resmi, terbukti ada tambahan “Salohcin” di belakang namaku, gubahan dari “Nicholas”. Tak pernah terungkap mengapa Ayah urung mengajakku tinggal di rumahnya.

Dan ibuku? Tak ada yang bisa memulihkannya dari kehancuran jiwa. Dijauhi kerabat. Diberi julukan pezina. Suatu sore kujumpai ia tergantung di dalam sumur. Tali timba membelit lehernya. Tak ada uang untuk mengurus pemakaman, jadi kubiarkan gereja mengambil alih. Mereka mau menyantuniku tiap bulan, asalkan aku merawat halaman gereja.

Mulailah kujalani hidup sebatang kara sebagai seorang liplap. Belanda bukan, pribumi pun tidak. Tak terhitung, berapa kali kuayunkan kepalan tangan, membela diri dari hinaan. Tapi aku bersyukur, itu semua menempaku menjadi kuat. Jiwa maupun raga.

Setelah dewasa, kupakai sebagian besar usiaku menjadi serdadu. Waktu itu, sulit membayangkan tempat lain yang lebih istimewa dari barak prajurit. Makan tiga kali sehari ditambah sedikit jaminan sosial.

Di Istana Gotik, upahku berlipat kali jumlah tunjangan pensiun. Tugasku sangat menyenangkan, berdekatan dengan Nona Miranda. Maaf, maksudku menjaga keselamatannya dari lelaki mabuk atau pelanggan yang sulit menghitung jumlah duit dikalikan banyak jam yang mereka habiskan di atas tempat tidur.

Cara kerjaku ringkas. Kuwajibkan pasangan Nona Miranda bertatap wajah denganku terlebih dahulu, setelah itu barulah aku siaga di luar kamar. Semacam peringatan agar mereka tidak macam-macam. Jarang yang tak bergidik melihat ukuran tubuh dan bekas luka di wajahku.

Para lelaki boleh terbang ke bulan. Tapi setiap setengah jam Nona Miranda harus membunyikan lonceng kecil dekat tempat tidurnya. Kalau tak ada bunyi, pintu kamar akan kuketuk. Bila tak ada jawaban, kudobrak. Begitulah hubungan kami pada awalnya. Terpaut jarak, peraturan, dan nasib.

Hingga suatu hari, seorang bintang tonil tenar melakukan kesalahan besar, mengurung Nona Miranda di sebuah penginapan. Ketika pintu kujebol, ia sedang berdiri telanjang dengan revolver di kening Nona Miranda. Tak jelas, apakah ia sedang menggelar upacara pembangkit syahwat yang aneh, atau memang ingin menyiksa Nona Miranda lantaran cintanya tak berbalas. Yang pasti, peraturan sudah dilanggar.

Kudekati pria itu. Meski pandai bermain drama, cahaya matanya bukanlah milik seorang petarung. Tak bakal ia menarik pelatuk. Kugempur lututnya dengan tendangan. Disusul tinju kananku yang terayun sepenuh tenaga. Kurasa butuh waktu lama baginya kembali ke dunia panggung. Hidungnya remuk, dua gigi depannya tanggal.

Itulah kali pertama Nona Miranda melihat kebuasanku. Jadi, bisa kumaklumi gigilan tubuhnya dalam pelukanku saat itu. Kami berkendara pulang dalam kebisuan yang menyiksa. Semula kukira hubungan kami akan rusak. Ternyata tidak.

SEBULAN kemudian, usai bertugas, Nona Miranda memintaku menepikan kendaraan di depan sebuah bangunan. Apakah ia akan menjumpai kekasihnya? Bagaimana mungkin bisa lolos dari pengawasanku? Aku harus tegas. Meski kekasih, peraturan harus tetap dipatuhi.

“Nona boleh ke mana saja, asal bilang dulu,” kutatap matanya agak lama. Baru kusadari ada sorot seteduh itu di mata seorang jalang. Dan mata itu terpicing jenaka saat pemiliknya terpingkal. “Bang,” katanya. “Abang sudah kerja keras. Boleh saya traktir Abang?” Ia membimbingku masuk. Bangunan itu ternyata sebuah rumah makan. Jauh dari suasana resmi. Dan jenis musik yang dimainkan di panggung itu. Belum pernah kudengar irama seperti itu.

Kami memesan makanan, lalu lebur dalam percakapan menakjubkan yang membuat kami merasa aman berdekatan satu sama lain pada detik-detik berikutnya. Baru kutahu kisah hidupnya: Anak seorang jurutulis perkebunan karet. Tumbuh bersama ibunya yang tawar hati. Sementara ayahnya seorang pria ringan tangan yang tak cuma sekali tertangkap basah berseketiduran dengan wanita lain. Menginjak remaja, kedua orang tuanya berpisah. Gadis itu hilang arah. Lari dari rumah. Menjual keperawanan untuk sebuah pernyataan kebebasan hidup, menjadi budak alkohol, sebelum akhirnya berkenalan dengan Babah Sun di sebuah pesta.

“Kalau Abang?” tanyanya.

Aku mengangkat bahu. “Tak ada yang enak didengar.”

“Mungkin bisa cerita di sana?” Nona Miranda melirik ke sebuah titik. Lantai dansa. Beberapa pasangan tampak berhadap-hadapan, lalu irama asing itu kembali mengalun.

“Swing jazz,” bisik Nona Miranda. “Mereka mahir bermusik, seperti Han Samethini dan John Kiliaan. Ayo, kita gabung.”

Aku menggeleng sengit.

“Ah, dengar iramanya. Abang tidak terpanggil?” gadis itu menarik-narik tanganku. Dengan enggan, kuikuti langkahnya. Sesaat kemudian, di tengah irama yang meliuk dan menyentak, dapat kurasakan betapa berwarna sesungguhnya hidup ini. Cinta, harapan, kegagalan, serta keberuntungan. Satu persatu hinggap padaku, lalu pergi. Kadang kembali, kadang lama sekali baru kembali. Dan perempuan kecil ini, betapa pandai ia berdamai dengan ombak-ombak kehidupan tadi. Sepandai gerakan tubuhnya. Berputar, mengerutkan badan atau melemparkan diri. Seolah akulah, dan bukan dia yang mahir berdansa.

Malam itu kukabarkan padanya seluruh perjalanan hidupku: Sebatang kara. Kemiskinan yang menggila. Dikhianati istri tercinta. Menjadi tentara. Dan akhirnya, belajar meniadakan nurani dengan menembak orang tua, wanita dan bayi di Bali tahun 1906. Kubisikkan semua. Tepat di muara telinganya.

Di antara irama lagu yang kian melembut, sepasang mata kecil mengikuti ceritaku dengan cermat. Satu garis lurus dengan mataku. Barangkali tubuhnya kerap disinggahi para petualang cinta. Tapi sorot matanya, alangkah perawan. Membuatku ingin melakukan sesuatu yang mulia untuknya. Terutama setelah ia ganti berbisik ke telingaku: “Malam yang indah. Aku ingin hidup abadi. Bang Willie jadi ayahku mulai sekarang, ya? Jangan panggil Nona lagi.”

Aku mengangguk. Memang keterlaluan bila memimpikan hadirnya sebuah petualangan ragawi dari persahabatan ini. Siapakah aku ini? Berperan sebagai ayah, cukuplah menjadi alasan untuk selalu berada di dekatnya, menyerap gelora besar menjalani hidup yang terpancar deras dari kedua bola matanya.

Dengan binar mata yang sama pula suatu malam ia menghampiriku. “Dia melamarku, Ayah,” katanya seraya menunjukkan sehelai surat.

Seperti yang kukatakan, tak ada pria di sekitar Nona Miranda yang tak kuketahui. Justru karena itulah aku merasa remuk. Kutatap sekali lagi nama pengirim surat itu. Andreas Maurits Dorsten. Pengusaha besar. Tokoh penting di Volksraad. Rajin menyerukan kesetaraan derajat. Anak-anak muda, bahkan pribumi, mencintainya.

AWAL tahun lalu, ada surat ke Istana Gotik. Minta Nona Miranda datang ke sebuah villa di Buitenzorg. Bersama surat itu terlampir sehelai cek. Tiga kali jumlah yang seharusnya kami kutip sebagai imbalan gadis itu selama tiga hari. Mungkinkah ini jebakan? Bukankah orang-orang Volksraad rajin bicara moral dan sanksi hukum? Tapi Babah minta kami segera berkemas. Bahkan ia turut mendampingi Nona Miranda.

Di tempat tujuan, seorang pria tua tinggi besar menyambut kami. Tuan Dorsten. Ia mengangguk kepada Nona Miranda, lalu bicara kepada Babah Sun.

“Tamu-tamuku, para pemodal dari Inggris ini keras kepala. Kehadiran wanita akan menciptakan suasana perundingan yang santai. Seorang kenalan telah mengantarkan beberapa lady ke sini. Tapi saya sendiri hanya ingin Nona Miranda yang menemani saya. Seperti prajurit wanita Sultan Agung, yang piawai sebagai juru runding.”

Aku buta sejarah, tetapi paham sorot mata setan tua yang sedang dilumat birahi. Itulah sebabnya aku merasa jijik mendengar kalimatnya. Dalam bisnis kami, pembenaran tindakan tak diperlukan. Juga dalih, atau hal-hal munafik lainnya. Asal sanggup memenuhi imbalan yang kami tetapkan, ia boleh memiliki wanita yang ia inginkan. Kerahasiaan dirinya pun terjaga. Kami memiliki daftar panjang manusia-manusia celaka macam Tuan Dorsten ini. Selain rasa muak dan geli, sebetulnya kami tak begitu peduli dengan keberadaan mereka di dunia ini.

Keesokan harinya, rapat usai sekitar pukul tujuh malam. Ada yang tak tahu diri, langsung masuk kamar bersama para lady. Banyak pula yang ingin menghabiskan malam di Hotel Bellevue, tak jauh dari tempat pertemuan. Salah satunya adalah Tuan Dorsten. Tampil sangat perlente malam itu, ia membukakan pintu oto untuk Nona Miranda. Setelah menyusul masuk, ia melambai kepadaku dan Babah Sun.

“Saya mau berdua saja. Tak ada centeng,” katanya. Aku membuka mulut, siap menolak. Tapi injakan Kaki Babah Sun membuatku diam. Ya, demi masa depan, Babah perlu koneksi kakap seperti Tuan Dorsten. Lagipula, benarkah pemandangan di depanku ini? Nona Miranda menyandarkan kepalanya ke bahu Tuan Dorsten. Dan senyum itu, belum pernah kulihat senyum semacam itu di bibirnya. Tampaknya gadisku menyukai bedebah itu. Bedebah? Ah, suara hari pria tua yang sedang terbakar cemburukah ini?

Api cemburu itu berkobar kembali keesokan harinya, saat Nona Muda bercerita penuh semangat tentang malam yang ia lewati bersama pujaannya.

“Kami bicara tentang puisi dan seni panggung sampai tengah malam di meja makan, dengan tubuh tertutup pakaian. Ia pria sopan. Ia mendukung orang-orang pergerakan. Katanya, sudah masanya negeri ini diberi kepercayaan untuk mandiri, dan ia akan ikut memperjuangkan bersama partainya.”

Aku orang bodoh. Sulit membayangkan seorang pria Belanda, kaya-raya, penggemar wanita seperti Dorsten bicara soal perjuangan kaum pribumi. Ibarat langit dan bumi. Tapi itulah yang dikisahkan Nona Miranda sebelum menikah dan pindah ke istana Tuan Dorsten di Menteng. Sejak itu tak ada lagi kabarnya. Kebetulan aku juga semakin sibuk. Babah Sun mengangkatku menjadi centeng pribadinya. Luka hati perlahan tawar terbebat waktu.

HAMPIR terhapus bayangan Nona Miranda dari benak, seandainya pada suatu pagi kami tak bertukar pandang di sebuah bengkel oto. Ia duduk di kursi belakang Buick hitam yang beranjak pergi usai mengisi bahan bakar. Saat menyadari tatapanku, dengan gugup ia menutup muka. Hanya sekilas, tapi tak mungkin aku salah lihat. Pada pipi kiri, melebar sampai keliling mata, rona lebam tertera jelas.

Beberapa hari kemudian, datang seorang bocah bisu ke Istana Gotik menyodorkan gulungan kertas kecil kepadaku, lalu pergi. Tiga kali ia datang dengan kertas-kertas semacam itu. Dan setiap membaca isinya, bara api di dalam hatiku semakin besar.

Rupanya Nona Miranda bukan lagi ratu di rumah itu. Suaminya berbagi asmara dengan wanita lain, seorang Jerman. Sering tak kembali ke rumah. Kalaupun pulang, selalu membawa cindera mata berupa umpatan, pukulan, dan tendangan. Akhir tahun kemarin, janin dalam kandungan Nona Miranda gugur. Tak ada penyesalan dari Dorsten. Bahkan si durjana itu kini kerap mengumpankan istrinya untuk pelicin bisnis.

Sore tadi, surat keempat datang. Kali ini pendek, tak berisi pengaduan seperti sebelumnya: “Ayah, aku ingin pulang.”

Surat itu diikatkan pada sebuah lonceng kecil. Benda yang akrab di Istana Gotik pada masa lalu. Benda yang kebisuannya menjadi penanda bahwa Nona Miranda berada dalam bahaya besar. Tanpa pikir panjang, aku bersiap.

KUBUKA lemari senjata. Sepasang Browning M1930 berikut empat klip magasinnya berpindah ke saku celanaku. Kukaitkan pula di dada, sabuk kulit berisi enam bilah pisau lempar. Di muka garasi, sambil memacu oto, kuserukan tujuan kepergianku kepada tiga centeng lain, agar disampaikan kepada Babah Sun.

Hari mulai gelap saat rumah Menteng muncul di depan mata. Kubenamkan kaki pada pedal gas. Oto melonjak seperti kerbau gila. Menggempur pagar kayu hingga luluh-lantak. Lima centeng berlompatan. Senapan mereka menyalak bergantian. Tapi tak ada peluru yang mencapai tubuhku. Dasar amatir. Kubanting kemudi. Oto berputar setengah lingkaran sebelum berhenti. Sebelum keluar dari Oto, kutarik pelatuk Browning di tangan kiri dan kanan, mengantar kepergian kelima orang itu ke neraka.

Di beranda, seorang pendekar menyambutku dengan sabetan parang. Bahu kiriku terasa kejang. Apa boleh buat, dari jarak sangat dekat kuledakkan kepalanya. Agak terhuyung, kuganti klip magasin, lalu masuk rumah. Di ruang tengah yang gelap, kakiku tertumbuk sesuatu. Si bocah bisu pengantar surat. Perutnya berlubang.

Mendadak ruangan menjadi terang-benderang. Aku melihat kursi berukir, tempat bertengger si durjana. Di depannya, Nona Miranda bersimpuh di lantai. Sepucuk Mauser menempel di punggungnya. Di sekeliling kursi, empat orang centeng menjulurkan pistol.

“Engkau tangguh, Bung. Tapi pelacurmu mengemis hidup di sini,” tawa si durjana serupa iblis. “Jadi, buang senjatamu dan dengarkan. Aku akan menawarkan pekerjaan untukmu.”

Pekerjaan? Kulirik Nona Miranda. Kutangkap sebuah gelengan kecil, nyaris tak terlihat. Jantungku berdebar. Ini soal hidup dan mati. Nona Miranda harus hidup, aku boleh mati. Celah kesempatan hanya berbilang detik.

Kuangkat kedua tanganku sambil melompat. Laras Browning kembarku menyentak-nyentak. Selongsong timah berdenting-denting memukul lantai. Dua centeng terdorong ke belakang dengan isi kepala berhamburan. Satu peluru lari menembus lengan si durjana, membuat senapannya terlempar. Sayang, dua centeng lainnya sempat menarik pelatuk. Aku terlempar ke dinding. Kurasakan cabikan besar pada pinggang kanan dan paha. Senjata-senjataku terlepas.

Salah seorang centeng berlari memburu, tapi terlambat menyadari bahwa ia berdiri terlalu dekat denganku. Ia harus mundur dan meluruskan tangan agar bisa membidik. Saat itulah kuraih pisau dari sabuk. Kubiarkan terbang memangsa dadanya.

Temannya meletupkan pistolnya beberapa kali. Aku tahu, igaku tersambar, tapi sungguh bukan saat yang tepat untuk menghayati rasa sakit. Kuayunkan kepalan tangan. Centeng itu menjerit. Lengan kanannya terputar ke belakang karena bonggol bahunya lepas. Lalu, bacokan pisau pada leher mengakhiri deritanya.

Tiba-tiba terdengar letusan keras. Sesungguhnya aku sudah punya firasat, tapi tak pernah membayangkan bahwa hal itu akan terjadi. Nona Miranda. Gadisku yang gagah berani. Rubuh bersimbang darah, menjadi perisai penahan peluru yang dilepaskan si durjana untukku. Anjing!

Dengan satu terkaman, kutarik senapan si durjana. Kudorong belati ke dadanya, lalu kuraih mulutnya. Kupaksa ia menganga, sampai terdengar bunyi sobekan daging dan gelinjang kematian. Setelah itu kuburu tubuh Nona Miranda.

Sambil bersandar di tembok, kupeluk erat ia di pangkuanku. Ia ingin pulang. Ingin bahagia. Bahagiakah ia sekarang di sana? Sebentar lagi tentu aku akan tahu. Belum pernah aku begitu menginginkan kematian. Tapi itu nanti. Kini, sambil menunggu saat itu datang, aku membayangkan lantai dansa. Swing jazz. Musik mengalun, kami berpelukan. Saling bercakap tentang kehidupan abadi.(*)

Jatiwaringin, Februari 2015

 

Ikaska Banu bekerja lepas di lapangan periklanan. Kumpulan cerita pendeknya adalah Semua untuk Hindia (2014).

sumber : Koran Tempo, 15 Maret 2015.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme