Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Hari Eksekusi oleh Deddy Arsya

Posted on Ming, 22 Mar 2015

DUA orang prajurit membawa saya ke sebuah tiang panjang di tengah lapangan luas di dalam loji. Tangan dan kaki saya diikat rantai besi yang saling terhubung dengan gelang-gelang dari baja. Kepala saya sebentar lagi akan ditutup kain hitam.

Tidak seorang pun dari pengikut saya yang terlibat dalam kerusuhan diperlakukan seperti ini. Rata-rata mereka mati ditembak atau digantung di mana-mana secara hina sesuai keadaan dalam perang. Sementara kematian saya akan dihormati dengan sebuah upacara: kata sambutan dari pejabat kompeni yang dihadiri dengan khidmat oleh beberapa penghulu dari daratan yang jauh-jauh datang ke muara untuk menyaksikan saya mati.

Saya masih bisa membayangkan bagaimana kami membakar beberapa bangunan dalam loji. Api menyala dan nyalanya semakin berkobar ditiup angin kencang dari arah pantai. Setelah peristiwa itu, kami kemudian diburu selama berminggu-minggu; pasukan tambahan didatangkan dari ibu kota residensi.

Dan kini, saya masih bisa menyaksikan hasil keberanian kami itu: bangunan-bangunan yang kami bakar itu tinggal puing-puing, sebagian lain nyaris hanya menyisakan tanda hitam pada tanah.

Saya tidak pernah menyesal jika akhirnya kami kalah. Saya juga tidak pernah menyesal jika akhirnya saya akan ditembak. Saya hanya menyayangkan tidak bisa menyaksikan bunga api yang keluar dari moncong senjata-senjata pengeksekusi yang kelak akan membunuh saya itu karena mata saya harus ditutup kain hitam.

Di sisi lain, sesungguhnya saya juga masih berharap mati tidak dengan cara seperti yang akan terjadi sebentar lagi. Seandainya saya bisa menawarkan cara saya mati kepada mereka, saya lebih memilih mati dengan kepala dan badan terpisah.

Detik-detik saat kain hitam disorongkan ke kepala saya adalah saat-saat saya menyadari kalau saya betul-betul akan ditembak, tidak dipancung seperti saya inginkan. Pada detik-detik itu pula saya menyadari, ternyata saya tidak sedang sendirian di tanah lapang itu.

Dua orang prajurit kompeni lainnya masuk ke lapangan yang sama sambil menggotong seorang laki-laki.

Saya melihat tubuh Ayah saya yang tua dan ringkih digotong. Kedua kaki dan tangannya dirantai seperti saya. Dan sebentar lagi tubuhnya tentu juga akan berlubang-lubang dihantam peluru.

Ayah berjalan melewati saya, menuju ke tiang kayu yang barangkali juga disediakan untuknya. Sesaat Ayah melihat ke saya dan tersenyum. Saya membalas senyum tipis Ayah dan merasa kami akan baik-baik saja setelah ini. Kami akan menuju tempat yang lebih baik, dilahirkan kembali, dan menjadi orang-orang yang lebih terhormat di kemudian hari.

Tapi saya masih juga berharap bahwa saya (dan juga Ayah saya) akan mati dengan kepala terpenggal. Tidak mati ditembak. Dan yang tampak dari sisa tebasan di leher kami itu kelak adalah warna putih tulang-tulang rawan belaka, bukan lubang-lubang peluru yang menganga pada badan, yang mengucurkan darah.

ROMBONGAN pemain debus dari pantai timur datang ke dusun kami nun jauh di masa lalu. Mereka menampilkan sebuah pertunjukan yang sama sekali baru bagi dusun kami.

Dalam pertunjukan itu saya melihat salah seorang pemain terluka. Lukanya besar ternganga. Darah dari luka itu berceceran ke tanah. Namun seketika luka itu direkatkan, seolah tidak pernah ada, begitu si pemimpin rombongan mengusapnya.

Pemimpin rombongan itu mereka sebut kulafah—nama yang asing bagi kami. Sebagaimana nama permainan itu sendiri yang juga asing: debus.

Rombongan dari timur itu mementaskan pertunjukan debus pada sebuah acara panen raya jauh sebelum orang-orang kulit putih itu datang dan membakar habis dusun kami. Ketika itu kehidupan dusun masih makmur dan sentosa. Hasil panen melimpah ruah. Dan perdagangan ke timur ramai dilakukan para lelaki dusun.

Acara panen raya itu dimeriahkan acara-acara kesenian: kampung kami mengundang kelompok pemain debus, yang di kota pesisir timur begitu terkenal. Rombongan itu datang membawa tambur-tambur mereka yang besar, gong, dan rabab yang berimpit-impitan di atas kuda-kuda beban yang kepayahan.

Saya menyaksikan mereka dengan mata kanak-kanak yang takjub. Ayah saya bercerita di hari lain setelah seluruh rombongan pemain debus itu meninggalkan dusun kami, bahwa ia pernah merasakan kemeriahan kehidupan di kota-kota pesisir timur.

Itu dulu, ketika Ayah saya mengumpulkan lelaki-lelaki dusun yang kuat-kuat dan pemberani, membentuk karavan dan melakukan perdagangan ke pantai timur. Oleh sebab itulah barangkali ketika rombongan pemain debus itu datang ke dusun kami, saya masih ingat, Ayah tampak begitu cepat akrab dengan mereka, serta menyediakan rumah gadang kaum kami sebagai tempat menginap rombongan itu.

Penduduk laki-laki menyembelih seekor kerbau. Perempuan-perempuan mencari cempedak hutan dan menggulainya. Mereka menghidupkan tungku di tengah kampung dan mulai memasak untuk menjamu para tamu.

Ayah saya, kepala kampung, tentu akan mengerti: panen raya yang berlimpah, hasil hutan yang bisa dijual mahal ke pelabuhan di timur, hidup mudah dan tercukupi—semua itu adalah hasil dari kerja keras. Tetapi mereka juga percaya bahwa roh-roh peneruka terdahulu telah membuka kampung untuk mereka kini, membantu menebas hutan dan membuka belukar raya. Roh-roh itu telah turut serta membisiki mereka dengan nujum-nujum untuk membangun sejarah mereka sendiri lewat berbagai pengetahuan bercocok tanam, menatap kampung, membuat peralatan bertani dan menangkap ikan, membaca sudut bintang dan besar bulan sebagai pertanda untuk memulai musim tanam.

Untuk itulah para peneruka terdahulu itu harus dikirimi doa, dihormati dan disenangkan di alam atas sana. Itulah kenapa kepala kerbau yang telah disembelih itu ditempatkan di tempat yang tinggi, ditaburi bunga-bunga tujuh rupa yang harum, diasapi kemenyan selama acara panen raya berlangsung. Semua itu penghormatan bagi nenek-moyang kami.

Pada suatu hari di panen raya itu, saya ikut mendengarkan ayah berbicara tentang pertunjukan debus itu dengan si kulafah. Ingatan kanak-kanak saya tak bisa mencerna begitu banyak persoalan yang mereka bicarakan ketika itu. Tetapi puluhan tahun kemudian saya bisa menyimpulkan dengan ragu-ragu bahwa apa yang mereka bicarakan merupakan ajaran baru yang dibawa rombongan pemain debus itu dari pantai timur sana. Ajaran baru, agama baru.

“Karena yang merasakan sakit hanyalah roh. Karena senjata-senjata itu hanya melukai tubuh, tidak melukai roh. Roh telah menyatu dengan pemiliknya,” kata kepala rombongan itu kepada Ayah.

SAYA masih mengingat banyak hal dari masa kanak-kanak saya. Tapi kini, di usia yang sependek ini, saya telah mengalami berbagai perubahan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya dalam hidup saya.

Saya ikut dalam rombongan peneruka ketika usia saya masih kanak-kanak dan merasakan bagaimana dusun kami lahir dan berkembang; saya bertemu rombongan pemain debus yang membawa ajaran baru. Ketika dewasa, saya bersua orang-orang kulit putih di pantai barat dan ajaran yang mereka bawa, ajaran yang berbeda dengan ajaran yang diperkenalkan pemain-pemain debus dari pantai timur itu; saya begitu takjub pada kapal-kapal mereka yang besar dengan meriam yang berjejer pada lambungnya. Dan pada akhirnya saya memimpin ratusan pemuda dusun yang kuat-kuat dan pemberani untuk berperang dengan orang-orang kulit putih itu.

Saya hidup dalam kaum yang menghormati keluarga kami sebagai keturunan cenayang yang menyeberangi hutan-hutan untuk mencari hidup dalam kedamaian dan kemakmuran bagi semua orang. Kakek saya, Ayah saya, lalu kini saya: kami mewarisi kepandaian menghubungkan antara alam nyata dengan alam roh. Agama yang dibawa pemain debus itu tidak bisa melenyapkan kepercayaan nenek-moyang kami. Tapi sebentar lagi, semua itu akan berakhir di tangan tentara-tentara kulit putih. Saya merasa terhormat sekaligus sakit. Saya merasa bangga pada diri saya sendiri sekaligus terluka dan putus asa.

Saya tak pernah membayangkan akan mati bersama Ayah di hadapan bedil prajurit-prajurit itu.

Tetapi saya memang pernah bermimpi. Saya melihat tubuh saya digotong serdadu-serdadu dalam mimpi itu. Kepala saya remuk. Sekujur tubuh saya tidak dikenali. Dan tambur-tambur dimainkan. Akordeon-akordeon dimainkan. Sukacita dinyanyikan. Dan Ayah menangis di tengah-tengah suka-cita itu.

Saya mengingat lagi mimpi itu tepat ketika tubuh saya benar-benar digotong paksa prajurit-prajurit itu ke tiang eksekusi. Saya merasa mimpi saya telah menjadi nyata. Kedua tangan saya telah diikat dengan rantai. Kini, kedua kaki saya juga telah dipasung balok hitam yang berat. Hujan turun lebat dan saya tak lagi melihat matahari.

Saya digotong lewat koridor-koridor loji yang panjang. Pemimpin pasukan yang dengan gagah dan berani menyerbu loji ini tiga minggu yang lalu, kini harus mati. Saya masih mendengar deburan ombak mengempas dinding kapal, pantai, atau pangkalan pelabuhan di antara lesap angin badai. Saya masih menyaksikan diri saya tengah berteriak-teriak memekik di tengah pasukan kami. Di atas kuda, saya pasti tampak begitu gagah. Tetapi kini….

Saya masih membayangkan masa ketika Ayah membawa saya melihat rombongan pemain debus ketika umur saya masih tujuh tahun. Bayangan itu seketika lenyap ketika letusan senjata terdengar beruntun bagai bunyi tambur yang ditabuh berulang-ulang oleh seorang pemain debus. Telinga saya berdenging, seperti ada jutaan lebah terbang mengerubungi saya. Hingga letusan terdengar dari moncong senapan pengeksekusi itu, saya hanya bisa mengingat keinginan masa kanak-kanak saya: ketika saya terpesona sekaligus cemas pada kekuatan gaib para pemain debus pada pesta panen raya itu, yang mampu menghapus sepenuhnya luka-luka pada raga mereka.

Sampai detik ini, ketika saya ditembak, saya sesungguhnya masih berharap akan bisa mengeluarkan peluru-peluru itu dari tubuh saya dan menghapus nganga luka saya secara ajaib dengan sapuan telapak tangan.(*)

Padang, 2014-02-27

 

Deddy Arsya lahir di Bayang, Pantai Barat Sumatera, 15 Desember 1987. Kumpulan puisinya adalah Odong-odong Fort de Kock (2013).

sumber : Koran Tempo, 22 Maret 2015.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme