Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Cinta dan Sampah oleh David Albahari

Posted on Ming, 12 Apr 2015

KETIKA Magda berkata kepadaku bahwa hubungan kami telah berakhir, aku tidak berpikir tentang sampah. Dia berkata begitu dengan tiba-tiba, amat lancar, saat kami makan malam dan seharusnya merayakan ulang tahun kebersamaan kami yang kelima sejak awal berpacaran.

Aku baru saja berdiri, mengangkat gelas, dan menyatakan hendak bersulang, saat dia memotong, “Turunkan gelas dan tutup mulutmu—aku punya hal penting yang mau kukatakan kepadamu.”

Suaranya sekonyong-konyong jadi terdengar dingin sehingga aku merasa kupingku membeku. Aku duduk, menaruh gelas, dan menatap Magda. Tak bisa kuterka apa yang bakal dikatakannya. Seulas senyum masih saja bermain di bibirku. Magda menggeser letak botol anggur, bubuk garam, asbak, vas bunga—pokoknya segala yang terletak di antara kami—lalu berkata, “Kurasa sebaiknya kamu berhenti cengengesan.”

Suaranya begitu dingin sehingga aku tahu aku tak punya pilihan lain. Dengan jemariku kuusap bibirku yang membeku dan terus menatapnya. “Ini tak akan lama,” ucapnya lalu melanjutkan berbicara selama lebih dari dua puluh menit.

Dia mengatakan hal-hal yang biasa diucapkan orang dalam situasi semacam itu: bahwa kami pernah berbahagia bersama, sungguh luar biasa kami pernah punya kesempatan untuk lebih saling mengenal, ada saat-saat yang akan dia kenang selamanya, betapa memalukan kami sampai harus berpisah, tapi hidup ini punya aturan-aturan tertentu yang harus dipenuhi.

“Pendeknya,” dia bilang, “ini akhir hubungan kita dan kini aku harus pergi.” Dia kembali memindahkan asbak sehingga berada di antara kami, mematikan rokoknya di asbak, dan beranjak pergi.

Pramusaji menghampiri meja setelahnya dan bertanya kepadaku apakah aku mau memesan sesuatu untuk hidangan penutup. “Kenapa tidak,” ujarku dan memesan crepes isi cokelat. Pramusaji itu mengangguk, mengosongkan asbak lalu menaruhnya di dekatku. Tak ada orang lain sama sekali di seberang meja. Saat itulah, tepatnya, gagasan tentang sampah melintas di benakku.

Itu semua bermula kala aku meminta pakaian dalam yang dia pakai pada malam ketika kami bercinta untuk kali pertama. Sebenarnya, malam itu dia tidak mengenakan pakaian dalam. Sebab, saat melakukan percumbuan awal, kami melepas seluruh pakaian kami. Setelahnya, saat dia hendak berpakaian, kuraih celana dalam dan kutangnya seraya berkata, “Tinggalkan ini di sini.” Magda memprotes, beralasan dia tak sanggup berjalan di tengah kota tanpa pakaian dalam. Namun, akhirnya dia menyerah. “Mau kamu apakan pakaian dalam itu?” Kukatakan kepadanya hal pertama yang melintas di benakku, “Ini awal mula museum cinta kita.”

Demikianlah kisahnya bagaimana aku menjadi kurator museum cinta kami dan terus memantau hubungan Magda dan diriku. Setiap potongan kertas, tisu, tiket bioskop, kartupos, label pakaian, stoking robek, kantong teh celup kamomil bekas, pena yang sudah habis tintanya, bekas bungkus pasta gigi, resep kue cokelat yang buruk fotokopiannya, baju renang yang dia pakai saat kami berlibur di Yunani, guntingan foto-foto, selimut dari pesawat, kaleng-kaleng kosong—kubawa semuanya ke apartemenku dan kusimpan di dalam kotak-kotak penyimpanan serta album foto.

Aku membingkai dan menata semua itu di atas rak-rak. Aku bahkan punya herbarium tempat mengawetkan bunga-bunga dan dedaunan dari tumbuhan miliknya dan dari buket yang dia terima dalam berbagai peristiwa. Di sebuah kotak, aku bahkan memelihara rayap-rayap yang harus kutangkap dengan amat susah-payah. Kusimpan mereka karena dia memiliki fobia terhadap binatang-binatang itu. Dalam berbagai buku dan fail, kusimpan catatan dan rekam data yang amat rinci tentang semua benda itu: selain deskripsi tentang setiap benda, kucatat juga di mana dan bagaimana hingga benda-benda itu menjadi bagian museum kami, serta di mana tepatnya letak benda-benda tersebut di apartemenku.

Hal terakhir itu sungguh amat penting karena selama lima tahun kami berkencan—yang berarti selama itu pula museum ini berdiri dan beroperasi—apartemenku telah menjadi gudang beragam kantong, kotak, fail, lemari penyimpanan data, dan rak, atau—seperti yang sering kukatakan kepada Magda—“labirin cinta kita yang menakjubkan”.

Kini aku berdiri di dalam labirin itu—dan rupanya Magda telah lama menemukan jalan ke luar dari situ—dan menatap heran saat ternyata semua benda itu kini telah kehilangan kilaunya. Segala yang hingga kemarin merupakan pengingat dan rekaman cinta kami, kini telah menjadi sekadar beban kenangan, limbah tak berguna, sampah. Dan jika sebelumnya hatiku akan terenyuh setiap kali teringat pada, katakanlah, sehelai kertas yang digunakan Magda untuk menyeka keningnya, kini yang ada hanyalah bau busuk yang meruap dari sebuah kantong yang dipenuhi tisu-tisu bekas dia pakai. Kusadari, cinta ternyata tak hanya buta, tapi juga tuli, menumpulkan penciuman, serta menghambat indra perasa dan peraba.

Apartemenku terletak di lantai lima sebuah gedung yang tak dilengkapi lift. Saat aku membuangi apa yang hingga belum lama ini menjadi koleksi museum cintaku, otot-ototku terasa ngilu akibat kerja keras. Kukutuk cinta dan Magda dan takdir yang telah mempertemukan kami serta sebab yang telah memisahkan kami. Diriku sendiri, secara alamiah, tak kusebut di dalamnya. Sebab, setahuku, ini bukanlah kesalahanku. Memang benar, seiring bertambah dahsyatnya koleksi museum cinta kami, aku lebih berkembang menjadi seorang kurator ketimbang seorang kekasih. Tapi aku melakukan semua itu justru demi cinta, bukan untuk merongrong cinta kami. Seandainya Magda bersedia mendengarkan aku, segalanya pasti akan jauh berbeda. Tapi kini semua sudah terlambat.

Aku berdiri di sisi tong sampah besar, membuka kotak terakhir dan membuang sisa koleksi museum: baju dalam Magda yang talinya sudah putus; kotak kentang McDonald’s berminyak (dengan kata “Budapest” tertulis di sudut); bebat lutut Magda yang kotor (dua pasang); satu dus besar kondom (belum dipakai; yang sudah dipakai, karena Magda bersikeras menolak, tak kusimpan); piyama yang dikenakan Magda ketika kali pertama dia mengatakan bahwa dia mencintaiku; hasil tes dokter yang memastikan dia hamil (tapi ternyata tidak); hasil tes dokter yang memastikan dia tidak hamil (tapi ternyata hamil); secarik kertas yang ditulisi Magda: kamu dan aku? (dan aku tak tahu kata-kata apa yang mendahului pertanyaan itu); dan banyak lagi barang yang satu demi satu, tanpa pandang bulu, kulemparkan ke dalam tong sampah besar untuk menjalani proses transformasi tragis dari koleksi museum yang bernilai menjadi remah sampah kota yang tak bermakna.

Aku takjub sendiri pada betapa cepatnya saat cinta lenyap bersamaan dengan hati yang berbalik seperti kaos kaki, meski aku yakin ini bukan salahku. Sampah itu berguna, terutama jika didaur ulang. Namun, cinta yang tak berbalas sungguh hanyalah dedak yang bisa membelenggu hati. Tak lebih. Sampah masih lebih baik.(*)

 

David Albahari adalah penulis kelahiran Serbia, 1948. Pada 1994 ia hijrah ke Calgary, Kanada. Cerita di atas dialihbahasakan oleh Anton Kurnia dari terjemahan bahasa Inggris Ellen Elias-Bursac.

sumber : Koran Tempo, 12 April 2015.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme