Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Suara 14 oleh Taufik Ikram Jamil

Posted on Ming, 23 Agu 2015

SAYA kira, Anda pun menerima pesan pendek pada telepon genggam itu, yang mengatakan bagaimana warga di sebuah negara merasa diserang oleh suara. Ya, tak sekedar diganggu suara, tapi diserang suara. Dengan demikian, ada upaya besar-besaran yang dilakukan pihak tertentu untuk mencapai tujuan khusus tanpa memedulikan dampak buruknya yang melibatkan semua warga; tak sipil, tak militer, tak besar, tak kecil, semua terlibat.

Kalau memanglah betul perkiraan saya, baiklah kita baca sekali lagi pesan itu, kemudian kita diskusikan bersama-sama. Mana tahu, kita dapat membantu warga di negara tersebut dalam menghadapi persoalan ini. Terlebih lagi, bukankah kita dapat mempelajari kejadian itu, sehingga dapat berjaga-jaga agar peristiwa serupa tidak menimpa warga negara kita pula. Terus-terang, saya khawatir serangan suara itu bisa saja menjalar ke tempat kita, bagaikan perang dunia. Mana tahu….

Ya, sudahlah, usah kita berandai-andai terlalu jauh. Mari kita baca pesan itu sekali lagi. Pelan-pelan, usah buru-buru. Saya usulkan agar kita membacanya dari awal, dari siapa asal pesan itu. Pengirim pertamanya mungkin menggunakan nama samaran, hanya menyebutkan dirinya dengan satu suku kata saja, Au. Alamatnya jelas terbaca, kota dan negara asal pesan tersebut terpampang serta-merta. Waktu yang meliputi pukul alias jam, tanggal, bulan, dan tahun, juga serupa. Jelas dan terlacak, tiada sedikit pun mengelak.

Au. Ya, kita sebut saja Au. Ia mengawali pesan itu dengan menulis, “Tuan-tuan dan Puan-puan. Tabik hamba kepada pemilik alam, menulis pesan dalam diam. Bukan khayalan, bukan pula igauan. Bukan pula hendak mengada-ada, menebar berita dengan berdusta. Yang pendek tidak secekak, yang panjang tidak diperpanjang. Sudah menjadi suratan, demikian akhir dalam ingatan, kerajaan kami sedang rawan. Suara menyerang seluruh warga, azabnya, aduh mak, tiada terkira.” Begitu, bukan?

Barangkali, untuk tidak membingungkan penerima pesan, Au menjelaskan suara yang dimaksudkannya. Ya, suara. Kalau ditulis, demikian kata Au, suara itu berbunyi “siung….” Simbol bunyi dengan titik-titik di belakangnya tersebut jelas menyarankan bahwa bunyi “ng” terdengar sangat panjang. Bunyi dengung, begitulah kira-kira. Seberapa bunyi dengung itu, tidak pula disebutkan, tetapi jelas dapat dirasakan bahwa itu akan lebih panjang daripada jika bunyi “siung” ditulis tanpa titik-titik di belakangnya.

Tidak disebutkan berapa kali suara tersebut menyambar telinga tiga warga negara tersebut dalam suatu momen. Tetapi keberadaannya berkali-kali dalam sehari, waktunya di antara hari yang satu dengan hari yang lainnya berbeda-beda. Seorang warga, misalnya, pada hari Selasa, disambar suara tersebut pada pukul-pukul 07.00, 10.30, 14.00, 17.00, 21.00, 00.02, dan seterusnya. Tetapi tidak demikian pula hari Rabu, Kamis, dan berikutnya. Senantiasa berbeda-beda jam, itulah kesimpulan yang tepat untuk menggambarkan waktu terjadinya serangan suara tersebut.

AGAKNYA, serangan suara ini lebih gawat dari serangan senjata api dalam semua bentuk, dalam suatu perang yang berkobar. Pasalnya, tidak ada tanda-tanda akan adanya serangan suara. Betapa pun cepatnya, serangan bom akan ditandai oleh suara bergemuruh atau sejenis dengannya, sebelum benda tersebut meledak. Tidak sama halnya dengan serangan suara ini, yang datang tiba-tiba saja tanpa dapat diduga sama sekali meskipun kejadian sudah berlangsung berhari-hari.

Au menulis, sebagaimana lazimnya sesuatu yang baru, suara “siung…” itu semula dirasakan sebagai peristiwa pribadi. Dia sendiri saja, misalnya, semula menganggap biasa-biasa saja. Apalagi suaranya tidak begitu kuat memang. Tetapi setelah berkali-kali mendengar suara itu, Au mulai berpikir, ada apa dengan telinganya. Dikorek-koreknya si telinga dengan jari, bahkan dilihat oleh isteri maupun anaknya, tak ada yang salah dengan alat pendengaran itu.

Pun pada awalnya tidaklah begitu mengganggu. Tetapi bayangkan saja kalau makin lama makin sering suara tersebut menyembar telinga. Kadang-kadang serangan suara itu datang ketika ia sedang makan, misalnya; bagaimana pun acara santap tersebut pasti terhenti sejenak. Ketika ia tidur, menyetir, bekerja, atau apa saja, suara tersebut menyembar begitu saja tanpa aba-aba dan tanpa memedulikan apa kesibukannya.

Atas saran keluarga, Au memeriksakan diri ke seorang dokter spesialis telinga. Tanpa ia duga, antrean orang dengan keluhan serupa memang tak tanggung-tanggung. Mereka juga mengalami apa yang dialami Au. Hasil pemeriksaan itu mulai mengecutkan hati, yakni bahwa tidak ada masalah dengan telinga Au dan warga lainnya itu. Dokter spesialis telinga itu sendiri pun terheran-heran dan mengatakan bahwa ia sendiri belum pernah menjumpai kasus semacam ini. Dengan amat sungguh-sungguh, ia berjanji akan mempelajari kasus yang mereka hadapi.

Tambah mengherankan karena dua hari setelah hari itu, isteri Au juga mengalami serangan suara. Perempuan itu terpelanting dari tempat tidur ketika pertama kali diserang suara itu, padahal ia sedang berlayar dalam mimpi yang indah. Waktu itu pukul 03.13 dinihari, isteri Au mulai mendengar “suara…” tersebut. Ia berharap hanya terjadi sekali atau mungkin dua-tiga kali, ternyata semakin hari semakin banyak suara itu menyerang telinganya.

Begitulah, boleh dikatakan setiap jam, ada saja warga yang mulai diserang suara. Menjadi puncaknya karena dokter-dokter spesialis telinga di negara ini juga mengalami hal serupa. Kejadian tersebut disebut sebagai tragedi nasional, setelah presiden, menteri-menteri, pokoknya semua pejabat sampai ke rakyat biasa, diserang suara itu. Diserang oleh sesuatu yang serupa dengan tempo dan volume yang sama pula.

“Masih untung aduhai untung, anak-anak tak dihitung. Suara tak menyerang pada mereka yang belum berusia 17, entah karena ditimang dengan rasa memelas. Jadilah mereka sebagai batas, kepada mereka dapatlah kami beralas. Menumpang senang pada yang disayang, berharap bakti pada yang berhati. Umpama malam dengan siang, silih berganti datang berdatang. Begitulah kami wahai makhluk insani,” tulis Au.

MUNGKIN seperti Anda, berbagai pertanyaan begitu banyak menggumpal di benak saya. Paling besar di antaranya adalah, mengapa peristiwa tersebut terjadi. Tidak mungkin ini semua turun begitu saja dari langit, sebab senantiasa ada sebab-akibat dari suatu peristiwa. Banyak terjadi, sebab-akibat tersebut malahan kait-berkait, jalin-menjalin; kadang-kadang, karena begitu rapatnya jalinan tersebut, sampai kita tidak bisa lagi membedakan mana ujung dan mana pangkal dari sebuah peristiwa. Setiap yang bernama jalinan menjadi sebab sekaligus akibat, begitu pula sebaliknya.

Lalu mengapa pula, orang-orang berusia di bawah 17 tahun tidak atau belum terserang suara? Berarti ada batas antara manusia yang tergolong anak-anak dan remaja dan seterusnya. Tentu muncul lagi pertanyaan sehubungan dengan hal ini, yaitu mengapa batasan tersebut tercipta? Pertanyaan ini makin melebar, manakala kita sadar bahwa suara yang menyerang itu tahu benar sasarannya dan bagaimana pula mereka mengetahuinya?

Amati pula gaya bahasa yang digunakan Au dalam menulis pesan-pesan pendeknya. Saya rasakan, kalimat-kalimat yang digunakannya tidak biasa dalam jejaring sosial melalui dunia maya yang begitu marak saat ini. Au seperti beriya-iya benar mengungkapkan sesuatu dengan pilihan bunyi yang tampak tertata dengan sengaja. Bukan suatu kebetulan. Ya, untuk apa Au melakukan hal ini? Apakah ia hanya ingin orang senang membacanya, pada yang dikabarkannya adalah suatu kenestapaan? Apalagi gaya bahasa yang digunakannya tidak lazim, yang tentu saja menjadi hambatan komunikasi tersendiri pula.

Cuma, hal terpenting dari semua pernyataan di atas adalah sebagaimana yang ditulis Au, “Tolonglah kami Tuan-tuan dan Puan-puan, sebelum semuanya menjadi makin tak karuan, membujur berlawanan, melintang bertentangan, segala yang tampak serba ancaman, semua yang terdengar menjadi makian. Berat diringankan, runsing diasingkan; umpama kusut hendaklah dilurutkan, laksana bengkok jangan dibelokkan. Jasa Tuan-tuan dan Puan-puan, pasti tak akan kami lupakan, tak akan tergeser dari ingatan.”

Meskipun demikian, mencari penyebab terjadinya peristiwa ini bukan sesuatu yang kecil. Bagaimana pula sebarang tindakan dapat diambil kalau penyebabnya tidak diketahui. Bisa saja serangan tersebut terjadi setelah suara diperlakukan semena-mena, misalnya, setelah dinista atau diperjualkan, seperti yang selalu kita dengar. Jangan katakan tidak mungkin, sebab sekurang-kurangnya begitu banyak hal yang tak dapat dicerna oleh akal pikiran.

Terlepas dari hal itu, sungguh tak alang kepalang bergetarnya hati saya ketika membaca kalimat Au berikutnya, “Mengapa Tuan-tuan dan Puan-puan masih diam tiada berpaham, membiarkan kami dalam kesengsaraan. Adakah perangai kami yang senantiasa hitam, sehingga semua penjuru menaruh dendam. Seumpama kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau. Umpama layang-layang putus benang, terombang-ambing tinggi mengawang. Laksana air di padang pasir, sekejap hilang tiada mengalir. Mengapa diam, aduhai diam?”

“Ya, mengapa?” tanya saya pada diri sendiri. Anda juga, bukan? Buktinya, mendiskusikan hal ini saja Anda seperti tak berkenan. Pesan pendek yang saya tebarkan untuk hal ini, sampai sekarang belum dihiraukan. Wahai….(*)

 

Taufik Ikram Jamil menetap di Pekanbaru, Riau.

sumber : Koran Tempo, 23 Agustus 2015.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme