Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pohon-Pohon Ibu oleh Teguh Affandi

Posted on Ming, 18 Jun 2023

JIKALAU Ibu mengajariku untuk berkasih sayang sesama manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan; Bapak sebaliknya: kebencian. Napasnya adalah jerit knalpot truk, lengket kepul timbal, amarah kerap pekat di atas kepala. Gerombolan awan jamur mirip ledakan nuklir itu pula yang membuatnya kabur, menyisakanku dan Ibu menghadapi kemandirian yang dipaksakan.

Dia mencakung di muka pagar, ketika mendung gelap menggelayuti ranting mangga kueni. Wajahnya tak jauh berubah. Selonjor kumis yang dulu sangat kubenci sebab lebih mirip lintah kini memutih mirip sekubus jadah. Mungkin juga lintah albino. Tas jinjing di tangan kanan, tangan kiri menjentikkan bara rokok.

Tidak adakah tempat lain untuk dia sambangi, batinku. Kubuat langkah kaki sebiasa mungkin. Meski aku tahu, duka sedang tidak baik-baik saja. Siapa yang berbahagia ketika Ibu baru saja diliputi tanah, penyakit tidak bisa kusogok dengan segala tawaran.

“Aku terpaksa di luar. Nggak enak masuk, masih banyak saudara ibumu,” kata Bapak. Bila batang hidungnya terlihat, alih-alih salam atau pelukan, mereka akan lemparkan sabit ke wajah Bapak.

“Mereka, kan, ipar-ipar Bapak juga,” jawabku sambil membasuh kaki dan tangan di keran depan pagar. Duka-duka dari perkuburan harus dilarungkan sebelum masuk rumah. Bila ada tanah, bunga, daun-daun, sesajen yang turut terbawa, kedukaan akan terus membayangi keluarga sripahan. Meski jiwaku remuk, meski mukaku redam oleh kematian Ibu, tidak akan kubawa sisa-sisa lara dari perkuburan. Biarlah itu semua tersimpan dalam kenangan.

“Kenapa Bapak pulang?”

“Aku masih boleh berduka, kan? Aku tetap orang penting di hidup ibumu… dan kamu.”

“Aku ragu Tuhan menerima doa Bapak. Pohon mangga saja akan susah berbuah kalau pokoknya dilukai paku. Apalagi ini….”

Aku menaiki undakan menuju beranda, meninggalkan Bapak di depan pagar. Langit berkedip oleh kilat ibarat kamera yang diklik. Sore menggelap. Angin tak henti menggoyangkan dahan-dahan di pekarangan. Handuk bekas Ibu, jarik-jariknya, bergoyang-goyang di tali jemuran.

***

“Tubuh perempuan adalah sebatang pohon.”

“Mengapa bisa begitu, Ibu?” tanyaku.

“Pohon dan perempuan selalu indah. Tajuknya adalah kesejukan. Batangnya tegak, penuh ketabahan. Bunga dan buah yang tumbuh dari pohon bersemi dari keikhlasan dan kasih sayang. Kamu suka duduk di bangku di bawah pohon ketapang itu, kan?”

“Kalau perempuan dan semua ibu adalah pohon, Ibu pohon apa?”

Ibu tertawa sebentar. Kusaksikan gingsul di barisan gigi atas. Kisut kulitnya yang mirip kayu jati itu semakin dalam tercetak di wajahnya.

“Ibu memilih pohon randu.” 

“Kukira Ibu akan memilih pohon ketapang atau mangga?”

“Pohon randu panjang usianya. Pokoknya tidak terkalahkan oleh angin, petir, atau badai. Ibu ingin menemanimu sampai tua menggerogoti. Meski tidak lagi bisa memberi buah…”

Ibu tetaplah pohon dengan buah paling berkat, ranting penuh maaf, dan akar-akar kasih. Kepada Ibu Tuhan meletakkan surga. Kepada Ibu Tuhan menghapus duka-duka bocah.

Segelas teh sore itu semakin pahit. Selepas Bapak pergi entah ke mana, Ibu mudah sakit. Gerisik angin pancaroba saja sudah membuatnya rontok, pilek bisa bercokol sebulan lamanya, atau sakit kepala terus menempel pada badannya. Batuk membuat Ibu terjaga sepanjang malam, badannya wangi minyak urut bukan parfum mahal. Tidak mengherankan sebab Ibu menjadi pekerja yang gila-gilaan. Ibu tak malu menjadi penebas padi, membawa truk terbuka dari sawah-sawah pada musim panen, beradu mulut dengan tengkulak kabupaten yang ingin mencurangi harga beli padi pada musim panen.

Benar kata orang: Bapak mengambil peran sebagai benalu di pohon randu Ibu. Bapak hanya mengandalkan penghasilannya dari truk batu yang membawa pesanan dari satu kota ke kota lain. Ketika prahara muncul, Bapak memilih pergi dengan lebih dulu merontokkan semua daun di pohon randu Ibu. Tangan Bapak merampas semua bunga dan bakal buah dengan parang dari dapur. Bapak melukai pangkal batang randu Ibu. Ibu kuyup air mata tanpa suara. Aku yang masih muda nanar tak kuasa berbuat apa-apa. Bapak minggat, kata tetanggaku. Bapakmu kepincut janda, kata yang lain. Bapakmu ketemu pohon anggur, makanya pohon randunya ditinggalkan.

Ibarat pokok yang bersih dari benalu, perlahan Ibu justru semakin makmur-subur. Lima tahun, sepuluh tahun, Ibu menjadi perempuan yang disegani di kampung ini. Rumah kami menjadi lebih tinggi daripada rumah-rumah lain. Lantai dua tempat kamarku dan kamar Ibu. Lantai bawah menjelma gudang hasil panen yang belum sempat diambil oleh pedagang, sepojok ruang tamu yang penuh barang, juga garasi kecil untuk dua truk yang kini disopiri oleh dua pemuda desa, dan sebuah ruangan yang bisa digunakan siapa saja perewang ketika letih menerjang.

Betul, kan…?! Ibumu ibarat pohon yang lepas dari benalu, kata seorang tetangga. Kini keluargamu bebas, dan semakin kaya. 

Namun, setelahnya, Ibu meringkih. Kulitnya makin dekik oleh keriput. Rambutnya memutih, mirip kapas randu. Yang kata Ibu pohon randu adalah pohon dengan ketangguhan paling kuat, kini semakin sakit-sakitan. Setiap kali aku berniat menggantikan semua pekerjaan Ibu: biar aku yang membawa bak terbuka ke sawah-sawah, mengurusi keluar-masuk barang, dan menemani sopir-sopir ke kota ketika setor. Ibu menolak.

“Kamu kuliah yang benar, jadi pegawai yang benar,” Ibu menyela. “Pekerjaan kasar ini enggak cocok. Cukup Ibu saja.” Ibu batuk dua kali.

“Kuliah di swasta saja. Biar enggak jauh dari Ibu,” jawabku.

“Kamu lihat sawah-sawah di sekitar ini? Semakin hari semakin sedikit hasil panennya. Ibu tidak tahu, Ibu enggak pinter. Tapi sawah sepertinya mulai membalas keangkuhan manusia. Dulu bengkok lurah bisa menghasilkan 1,5 ton setiap panen, sekarang 6-7 kuintal sudah top. Lihat hutan di sekeliling kampung, dulu rimbun, sekarang terang habis kayunya. Kamu pasti paham, kamu anak sekolahan. Tidak seperti Ibu. Musim hujan makin tidak keruan, kemarau pun lebih panjang. Sekali hujan, banjir. Jadi, biarlah Ibu yang hidup dengan kerja kasar dan berpeluh keringat. Kamu sekolah, selesaikan kuliah, dan jadilah pegawai.”

Aku mengangguk. Kubaluri kaki Ibu dengan balsam. Panas, tetapi lebih panas sudut mataku oleh air mata. Ketika aku selesai kuliah dan hendak pindah ke Jakarta sebab kantor pertamaku ada di sana, Ibu jatuh sakit. Ada benjolan sebesar bola kasti di perut Ibu. Bolak-balik ke rumah sakit, ke pengobatan alternatif. Namun, pohon Ibu semakin layu. Di awal musim penghujan, tubuh Ibu dimakamkan di bawah pohon randu. Pohon kesukaan Ibu.

***

Pengajian malam itu terburu-buru sebab hujan lebat tak sedikit pun mereda. Lebat selebat-lebatnya, seolah kantong-kantong hujan di langit dibuka begitu saja, selebar-lebarnya. Bapak tak ada yang menyapa. Ya, akhirnya kupersilakan dia untuk mandi dan berganti pakaian yang rapi. Anggap saja tamu, batinku. Semua tamu harus diperlakukan dengan baik, bukan?

Aku yang bertugas menyapa para santri yang malam itu kuyup sebab hujan. Bapak duduk bersila di pojok ruangan, dan sesekali memberi senyuman. Kutahu semua sedang dilanda kikuk. Lantai satu rumah dibersihkan, disulap sebagai tempat pengajian. Selama kurang lebih tujuh hari ke depan, pengajian akan diselenggarakan.

Tepat azan Isya dari musala, doa ditutup. Masing-masing membawa sebungkus makanan dalam plastik sesak doa. Berkat malam itu berisi nasi uduk, ayam ingkung, dan beberapa perlengkapan lainnya.

Dan mendadak peeeeeet! Mati lampu. Hujan semakin lebat. Beberapa saudara pamit pulang. Aku dan Bapak menuju lantai atas dengan penerangan lilin. Dan entah mengapa aku hanya ingin duduk di depan televisi yang mati. Aku tak ingin Bapak masuk ke kamar Ibu, apalagi ke kamarku. Kugelar tikar palembang dan kupastikan dia tidak beranjak ke mana-mana. Lagi-lagi hujan semakin lebat, semakin lebat, dan semakin lebat.

Malam itu kami tidak banyak bicara sebab suara hujan turun di atas genting tak terkira lebatnya. Petir pun tak segan mengagetkan.

“Apa boleh Bapak tinggal di sini? Begini-begini aku adalah bapakmu,” katanya.

“Tidak.” Lantas petir.

Tidur kami malam itu sama-sama tidak nyenyak. Aku menelentangkan badan di sofa depan televisi. Bapak rebah dengan gelisah di tikar palembang. Hujan tak berhenti semalaman. Kutahu, kepulangannya adalah kepulangan penuh kalah. Bisa jadi dia telah diusir istri mudanya. Kematian Ibu menjadi dalihnya untuk kembali.

Menjelang Subuh, sirene dari balai desa dan kentungan bertalu mengagetkan. Beduk pun ditabuh semakin kencang.

“Banjir! Banjii……ir!”

Hujan semakin menggila. Aku dan Bapak beranjak ke beranda. Kulihat air keruh sudah menggenang, mungkin satu atau satu setengah meter. Dalam pikiranku berkelebat padi-padi yang tergulung air, sawah-sawah yang kalah, wajah petani yang semakin susah, sapi, kambing, ayam, kerbau ternak yang bangun pagi penuh gelisah, juga, kuburan Ibu dengan sedompol anakan randu. Aku meraung sekencang-kencangnya, tetapi pagi masih gelap dan hujan tak sedikit pun susut. (M-2)

Catatan:

Sripahan: berduka. Perewang: pembantu atau orang sekitar yang dipekerjakan. Bengkok: tanah desa yang dimiliki dan diolah pejabat desa sebagai pengganti gaji, mulai lurah hingga carik, bayan, modin, dll–semakin ke rendah jabatan, semakin kecil luasan bengkok.

Teguh Affandi bekerja sehari-hari sebagai editor di salah satu penerbit di Jakarta. Cerpennya yang berjudul Bulu Kucing dalam Stoples (Media Indonesia, 30 Oktober 2022) menjadi pemenang Scarlet Pen Award 2023, kategori cerita pendek. Menulis cerpen, esai, dan timbangan buku di beberapa media massa. Ia juga pernah menjadi pemenang sayembara menulis cerpen majalah Femina, Green Pen Perhutani, dan Pena Emas Program Pemberdayaan SDM Strategis Nurul Fikri. Buku kumpulan cerpen perdananya baru saja terbit pada Mei 2022, Arum Manis (Gramedia Pustaka Utama).

sumber : Media Indonesia, 18 Jun 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme