Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Keburu Emak Mati

Posted on Ming, 28 Mei 2023

EMAK terbaring di dipan berkasur busa yang diletakkan di ruang tamu. Dipan ditempatkan di ruang tamu supaya anak-anak, cucu-cucu, keluarga, kerabat, dan tetangga leluasa menjenguk emak. Terlihat orang-orang bersama-sama atau bergantian menengok dan mendoakan emak.

Tubuh kurus emak kaku nyaris tak bergerak. Napasnya belaka yang menunjukkan emak masih hidup. Napasnya itu pun terdengar berat serupa orang mendengkur. Namun, suaranya kini teredam kegaduhan perdebatan anak-anaknya.

“Emak enggak perlu dibawa ke rumah sakit,” kata si sulung.

“Kenapa? Kalian khawatir biayanya? Bukankah emak punya BPJS?” kata si tengah.

“Kalau pakai BPJS, emak kalian diperlama pelayanannya, bahkan ditelantarkan,” sela si bibi, adik emak. “Tetangga bibi, karena pakai BPJS, dibiarkan berlama-lama di IGD. Setelah pakai duit pribadi langsung dipindah dari IGD ke ICU,” si bibi melanjutkan.

Si bibi sebelumnya terlihat berulang kali membisikkan syahadat ke telinga emak. Bisikan itu semacam tuntunan supaya orang yang sedang sekarat turut mengucapkan syahadat. Kaum muslim meyakini orang yang melafalkan syahadat menjelang mati bakal masuk surga. Beberapa kerabat bergantian membisikkan syahadat ke telinga emak.

Si tengah kesal dengan tingkah orang-orang yang membisikkan syahadat ke telinga emak. Dia ingin sekali melarang orang-orang itu membisikkan syahadat ke kuping emak. “Kayak emak sudah mau mati saja,” katanya dalam hati, tapi si tengah tak kuasa mengekspresikan kekesalannya. Dia khawatir kualat melarang orang bersyahadat.

“Jangan langsung percaya omongan tetangga bibi itu. Pelayanan BPJS bagus kok! Banyak yang terbantu BPJS!” sergah si tengah. “Kalau pun tak bisa pakai BPJS, biar aku menangggung semua biayanya,” lanjutnya. Si tengah memang punya posisi bagus di tempat kerjanya dengan penghasilan lebih dari cukup.

Seperti tak menghiraukan omongan si tengah, si bibi kembali menghampiri emak. Bibirnya tampak komat-kamit, mungkin sedang kembali mendoakan emak.

Si bungsu nimbrung. “Lagi pula, nanti kalau emak dirawat di rumah sakit, siapa yang menjaganya?”

Mereka tercenung. Si tengah ingat betul sewaktu emak sempat dirawat di rumah sakit lima tahun silam, ia dan saudara-saudaranya kerap berselisih paham ihwal pergiliran menjaga emak. Dia saat itu sedang merintis karier puncak di kantornya. Dirinya khawatir bila meninggalkan pekerjaan satu hari saja untuk menjaga emak, ikhtiarnya mencapai posisi puncak bisa bubar jalan.

Si bungsu berdalih bila dia tidak berjualan satu hari, hilang sudah pendapatan keluarnya di hari itu. Sementara itu, si sulung beralasan, dia trauma dengan rumah sakit tempat emak dirawat. Soalnya, di situlah anak bungsunya yang masih bayi meninggal.

Ujung-ujungnya, mereka pun berpatungan untuk membayar orang yang bisa menjaga dan menunggui emak selama di rumah sakit.

Mereka bukannya tidak sadar ada ironi di situ. Emak acap merelakan diri menjaga anak, cucu, atau menantunya, yang dirawat di rumah sakit. Ingat betul ia, sewaktu anak bungsu si sulung yang baru lahir dirawat di NICU satu rumah sakit selama tiga pekan karena prematur dan menderita radang paru akut bawaan, selama itu pula emak menungguinya. Tidur di ruang tunggu dengan kasur lipat lawasnya.

Emak tahu si sulung harus bekerja. Emak paham istri si sulung harus mengurus rumah serta merawat dua balita lainnya. Ketika sang cucu akhirnya meninggal dunia, menantunya, istri si sulung, terpukul hingga jatuh sakit dan harus dirawat pula di rumah sakit. Emak pula yang ikut repot. Ia bolak-balik antara rumah sakit dan rumah si sulung. Di rumah sakit, emak menjaga sang menantu. Di rumah si sulung, emak membantu menyiapkan keperluan sekolah dan makan dua cucunya yang lain.

Si bungsu pernah juga dirawat sepekan di rumah sakit karena kecelakaan. emak tentu ikut menjaganya. Bergantian dengan istri si Bungsu yang mesti menggantikan suaminya berjualan

Emak juga rajin menjaga, atau minimal menengok, kerabat atau tetangga yang dirawat di rumah sakit. Sampai-sampai si bibi melontarkan keheranannya kepada emak tentang perkara tersebut. “Waktu luangku banyak,” jawab emak. Memang, semenjak ditinggal mati suaminya, praktis tidak ada yang diurus emak. Sejurus kemudian, emak berkata lirih, “Ya mudah-mudahan bila aku sakit dan sampai dirawat di rumah sakit kelak, ada yang mau menungguiku, terutama anak-anak.”

Jadi, si sulung, si tengah, dan si bungsu, tahu emak kecewa dan sedih karena bukan anak-anaknya sendiri yang menjaganya ketika dia dirawat di rumah sakit. Namun, mereka merasa ada urusan lebih penting ketimbang urusan menunggui emak di rumah sakit.

“Sudahlah, kita bisa bayar orang untuk jaga emak selama di rumah sakit. Saya yang bayar,” ujar si tengah memecah keheningan. “Yang penting, kita cepat bawa emak ke rumah sakit. Keburu emak mati!”

Si tengah terkenang sekali dengan kata-kata ‘keburu emak mati.’ Tujuh tahun silam, si tengah, istrinya, dan emak mendaftar naik haji lewat biro perjalanan haji. Meski terbilang haji plus atau khusus, bukan haji reguler, mereka harus menunggu enam tahun untuk berangkat haji.

Dua tahun setelah mereka mendaftar, emak menghubunginya, menanyakan kapan mereka berangkat haji. Si tengah menjawab mereka berangkat haji empat tahun lagi. Lalu, keluarlah dari mulut emak kata-kata ‘keburu emak mati.’ Usia emak waktu itu 78 tahun.

Si tengah esoknya mendatangi biro perjalanan haji, memohon emak, dia, dan istrinya bisa segera berangkat haji. Kalau tidak, keburu emak mati, kata si sulung kepada manajer biro perjalanan haji tersebut. Serupa mantra, ungkapan ‘keburu emak mati’ rupanya mujarab, membuat manajer biro perjalanan haji terharu dan memasukkan mereka dalam daftar calon jemaah haji yang berangkat musim haji tahun itu juga.

Akan tetapi, si tengah kelabakan. Dia harus mencari uang untuk melunasi biaya haji mereka. Atas saran rekannya di kantor, si tengah menghadap bos besar. Dia memohon mendapat pinjaman uang Rp100 juta untuk melunasi biaya haji diri, istri, dan emaknya.

Kepada bos besar, si tengah berujar, kalau tidak mendapat pinjaman sehingga mereka batal berhaji tahun ini, keburu matilah emak sebelum sempat ke Tanah Suci. “Aku ingin bila aku mati nanti, ada tulisan hajjah di depan namaku di batu nisan,” kata emak kepada anak-anaknya suatu kali.

Bos besar serupa manajer biro perjalanan haji, juga terharu. Pinjaman si tengah langsung diasese olehnya. Lagi-lagi terbukti betapa bertuahnya ungkapan ‘keburu emak mati’.

Si tengah ketika itu juga sedang menempuh pendidikan doktoral. Namun, sudah lebih dari lima tahun, studinya belum rampung juga. Emak dua tahun setelah naik haji bertanya kepada si tengah kapan jadi doktor. Ucapan ‘keburu emak mati’ dari mulut emak mampir lagi ke telinga si tengah. Emak ingin menyaksikan anaknya mendapat gelar doktor sebelum dirinya masuk ke liang kubur.

Si tengah tancap gas merampungkan kuliah doktoralnya. Si tengah ingin emak menghadiri sidang doktoralnya, sebagaimana emak menghadiri wisuda sarjana lalu masternya. Emak akhirnya bisa menghadiri sidang doktoral si tengah. Lengkaplah kehadiran emak di semua jenjang studi anaknya nomor dua itu. Kata-kata ‘keburu emak mati’ kembali menunjukkan kesaktiannya.

Si tengah tersadar dari kenangannya tentang tuah ‘keburu emak mati’. “Ayolah, kalau kita tidak segera membawa emak ke rumah sakit, kita seperti membiarkan emak mati,” kata si tengah. Dia masih berupaya memengaruhi saudara-saudaranya.

“Membawa emak ke rumah sakit, cuma mengulur waktu kematian emak. Toh emak sudah mendapat bonus umur panjang, sampai 85 tahun,” jawab si sulung.

“Lagi pula, tidak ada jaminan juga emak sembuh kalau dirawat. Tetangga kita mati juga akhirnya sehabis dirawat di rumah sakit dua pekan,” timpal si bungsu.

“Apakah kita akan membiarkan emak mati di rumah? Apa kata para tetangga?” tanya si tengah. Ya, tetangga pasti mencibir, anaknya punya kedudukan bagus di kantor, tetapi membiarkan emaknya mati di rumah, pikir si tengah. “Kita harus berikhtiar. Bawa emak ke rumah sakit! Kalau enggak, keburu emak mati” desak si tengah lagi.

Si tengah yakin ungkapan ‘keburu emak mati’ bakal mengulang tuahnya serupa dalam perkara naik haji dan ujian doktoralnya. Si tengah yakin ungkapan ‘keburu emak mati’ bukan cuma bakal meluluhkan saudara-saudaranya untuk bersepaham membawa emak ke rumah sakit, melainkan juga menaklukkan Tuhan untuk tak buru-buru mencabut kehidupan emak.

Benar saja, kali ini luluh juga hati si sulung dan si bungsu demi mendengar ujaran ‘keburu emak mati.’ Ketiganya bersepakat membawa segera emak ke rumah sakit petang itu juga.

Tiba-tiba, si bibi menyeruak dari kumpulan orang yang mengerumuni emak. “Innalillahi wa innailaihi rojiun,” ucap si bibi sesenggukan berurai air mata.

Kali ini emak betul-betul keburu mati!

Depok, Maret 2023 (M-2)

sumber : Media Indonesia, 28 Mei 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme