Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ignoramus

Posted on Ming, 13 Nov 2022

STEPHEN berdiri di atas bukit, memandang ke kaki langit jauh berwarna abu-abu. Dia telah lupa kapan terakhir kali berdiri tegak semacam ini. Penyakit saraf motorik telah lama mendudukkannya di kursi roda. Sekarang, dia berpikir apakah ada korelasi kesembuhan penyakit dengan perlintasan waktu?

“Itu hanya soal kecil,” kata angin dengan bisikan lembut dan tertawa lirih.

“Tentu saja,” Stephen menyahut, “Selalu ada jawaban dari sains.”

Matahari bersinar garang, kemerahan, membias pada mega-mega. Udara beraroma asam, kental dengan gas amonia dan karbon dioksida. Stephen sungguh tahu bahwa secara normal seharusnya dia tidak bisa bertahan dalam lingkungan semacam ini. Dia tidak bisa memperkirakan secara logis apa yang membuat dirinya bertahan, tetapi dia tidak mau berspekulasi dengan mistikisme. Dia meyakini bahwa dirinya hanya belum tahu dan tidak ada misteri pada alam yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah.

“Itu masih soal kecil,” bisik angin lagi. Stephen mendengus kesal.

Di lembah, kubah kota dari logam memantulkan panas dan silau. Stephen ingat seorang profesor teknik pernah membuat rancangan ini. Waktu itu dipresentasikan sebagai perlindungan kota dari bencana perang. Kubah kota digunakan sebagai bunker yang berada di permukaan tanah. Sekarang, rancangan itu digunakan sebagai perlindungan dari ancaman panas matahari yang terlalu dan pencemaran udara yang masif.

Tidak ada pohon yang tampak. Tidak ada burung. Bumi yang terhampar adalah bumi yang sekarat melebihi apa yang pernah dia prediksikan dan ungkapkan kepada khalayak. Dalam sebuah simposium, Stephen berkata bahwa bumi akan sekarat dalam sepuluh ribu tahun lagi.

“Lebih cepat dari itu,” kata angin ketika mengajak Stephen kemari.

“Tanggal berapa sekarang?” tanya Stephen.

“15 November 3016,” jawab angin.

“Seribu tahun,” seru Stephen, masygul. “Bumi sekarat lebih cepat dari yang aku kira.”

“Begitulah manusia,” sahut angin.

***

Ketika Stephen menyampaikan prediksi ilmiahnya bahwa bumi akan hancur dalam sepuluh ribu tahun, apa yang dipikirkan manusia?

Bagi manusia, sepuluh ribu tahun adalah waktu yang sangat lama. Tidak satupun yang berpikir akan tetap hidup sampai sepuluh ribu tahun. Tidak ada yang merasa bertanggung jawab untuk menjaga kesehatan bumi agar bertahan sampai sepuluh ribu tahun nanti. Berapa keturunankah sepuluh ribu tahun itu?

Maka eksploitasi alam terus berlangsung dan semakin masif. Tidak ada ketakutan akan sekaratnya bumi karena manusia telah merasa sanggup mengatur alam. Atas nama industri dan kapitalisasi hutan-hutan dibabat, pabrik-pabrik dibangun, limbah-limbah digelontorkan, perut bumi ditambang.

Dari atas bukit yang tandus di tahun 3016 ini, Stephen tahu bahwa manusia pada akhirnya akan dikalahkan ketamakannya sendiri, jauh lebih cepat dari yang telah dia prediksi dengan segenap kecermatan hitungan analitis.

“Demi masa …,” angin berbisik, “Bukankah telah jelas terhampar segenap tanda?”

***

Stephen telah lama memimpikan perjalanan waktu ke hari terakhir bumi. Dia telah lama memikirkan bagaimana cara melintasi waktu dan pergi ke masa depan, tetapi segala teori yang ada selalu membentur ketidakmungkinan.

Lalu, angin itu menelusup ke pembaringannya, memberinya janji sebuah perjalanan ke masa depan tanpa segala peralatan mekanis dan penjelasan fisika. Stephen melihat kalender sebelum pergi: 15 November 2016.

Angin membawa Stephen menyisir waktu, melintasi tepian relung masa, membawanya berada pada hari terakhir sebelum bumi hancur—demikian yang angin katakan ketika mengajaknya pergi.

Bagaimana sesungguhnya cara angin membawanya, Stephen tidak memahami, tetapi dia selalu yakin ada penjelasan ilmiah untuk segala fenomena alam semesta.

Stephen tidak tahu apakah dia akan bisa kembali ke masanya untuk mengabarkan apa yang sungguh terjadi seribu tahun di depan ataukah tidak. Secara teori, kita bisa pergi ke masa depan, tetapi tidak bisa kembali ke masa lalu karena waktu hanya mengalir ke depan.

“Apa yang akan kau lakukan jika bisa kembali?” tanya angin.

“Meralat prediksiku bahwa bumi akan hancur lebih cepat.”

“Untuk apa?”

“Agar manusia mencari planet lain segera.”

Angin tertawa. “Demi masa …,” bisiknya, “kiamat akan tiba.”

***

“Apakah kau ingin ke lembah?” tanya angin. Stephen mengangguk. Angin menggulungnya dan mereka berembus bersama.

Di bawah kubah-kubah logam itu Stephen menyaksikan manusia-manusia bionik yang hidup bersama mekanik. Mereka tampak serupa dan wajah-wajah mereka beku, monoton, muram.

Angin memberitahunya bahwa Proyek Gilgamesh yang didanai industri kosmetik dan kesehatan semenjak revolusi sains telah menemukan serum anti-penuaan sel tubuh dan rekayasa genetika yang menjadikan manusia sebagai mahluk amortal—bukan imortal—sehingga secara alami tidak ada penuaan dan kematian.

“Tidakkah itu menjadi sia-sia?” tanya Stephen.

“Kau benar,” sahut angin.

“Alam mempunyai siklus yang berguna dengan kematian dan kelahiran.”

“Manusia sungguh merugi.”

Manusia tidak lagi dilahirkan melainkan diproduksi di dalam pabrik kloning dengan aturan jumlah populasi tetap. Artinya, produksi hanya dilakukan jika ada manusia yang mati—oleh kecelakaan ataupun oleh bunuh diri.

“Apakah mereka telah tahu kiamat akan tiba?” Stephen bertanya kepada angin.

“Sudah.”

“Mereka tidak tampak panik.”

“Bukankah hidup mereka hanyalah kesia-siaan?” bisik angin dengan tertawa mengolok.

Angin membawa Stephen ke sebuah rumah di mana sepasang suami istri sedang bercengkerama.

“Kiamat berapa lama lagi?” tanya sang istri.

“Dua puluh satu jam tiga puluh tiga menit dari sekarang; hitungan mundur kiamat bisa kau lihat di laman pemerintah.”

“Aku sedang tak ingin mengakses.”

“Apakah kau ingin mengalaminya?”

“Mengalami kiamat?”

“Ya.”

“Sejujurnya aku ingin merasakan seperti apa. Sepanjang hidupku semua baik-baik saja dan itu membosankan.”

“Tubuh kita tidak bisa merasakan sakit dan menderita,” sahut sang suami. “Sakit dan menderita hanya ada dalam dongeng tentang moyang kita, tetapi kita tidak mempunyai persamaannya sekarang.”

“Persamaan kita hanya seperti mobil yang digerus dan dilebur menjadi logam—tidak merasakan apa-apa.”

“Jadi, percuma saja kita menyaksikan kiamat. Sama seperti percumanya kita menyaksikan peleburan mobil tua kita.”

“Kau benar. Aku juga sudah bosan hidup. Selama dua ratus satu tahun ini, hidupku begitu-begitu saja.”

Demikianlah, sepasang suami istri itu tampaknya sudah tidak tahu apa lagi yang ingin dilakukan.

“Sebaiknya aku matikan sistem tubuhku,” kata sang istri.

“Aku juga akan mematikan sistem tubuhku jika kau mematikannya,” ujar sang suami.

“Ya, mari kita matikan bersama. Meskipun sinyal kematian kita diterima pemerintah, pabrik mungkin tak perlu memproduksi manusia pengganti hanya untuk hidup selama dua puluh satu jam.”

“Sedangkan kita hidup lama juga tak punya makna.”

Mereka tertawa sumbang, lalu mematikan sistem tubuh masing-masing.

Dalam hitungan mundur sepuluh, sistem akan dimatikan.

Sepuluh.

Sembilan.

Delapan.

“Apakah kau baik-baik saja?”

“Ya.”

“Aku agak … sedih, atau apapun semacam itu.”

Empat.

“Aku mencintaimu.”

“Hei, bisakah kita batalkan ini?”

“Tidak ada opsi batal.”

Sistem mati.

***

“Hidup adalah sia-sia, bukan?” angin mengerling.

“Aku tak tahu.”

Sebagai ilmuwan, Stephen tak pernah berkata tidak tahu. Dia selalu merasa telah tahu dan belum tahu. Dia selalu yakin ketidaktahuan hanya soal waktu untuk diketahui. Sekarang, dia benar-benar tidak tahu.

“Mereka adalah anak keturunanmu,” kata angin pada Stephen sebelum mengajaknya pergi.

Stephen tidak merasa bersedih. Dia tahu bahwa alam menghancurkan apa yang harus hancur dalam hukum-hukumnya.

Lalu, angin membawa Stephen ke tempat lain. Di tempat lain ini Stephen melihat orang-orang yang serupa tetapi wajah-wajah mereka penuh gairah. Mereka seolah dilingkupi cahaya.

“Apakah mereka tidak mengetahui hidup akan berakhir sia-sia?” tanya Stephen.

“Mereka menunggu kiamat dengan gembira.”

“Mereka penderita skizofrenia?”

“Mereka orang-orang yang beriman kepada Tuhan.”

“Mistikisme?”

Angin menggeleng-gelengkan kepala. “Kau tahu bagaimana waktu berjalan?”

“Waktu berjalan secara singular.”

“Bagaimana waktu berakhir?”

“Waktu tak pernah berakhir.”

“Jika demikian, bukankah setelah kematian ada kebangkitan?”

“Sains belum membuktikan.”

“Demi masa,” angin berkata, “Bukankah kau telah melihat keagungan Tuhan?”

“Aku telah menyaksikan kebenaran hukum alam,” sahut Stephen.

“Tuhan yang menciptakan alam dengan segenap hukumnya.”

“Tidak ada Tuhan; alam tercipta oleh ledakan besar dan akan hancur sebagai ledakan.”

Angin menggeleng-gelengkan kepala.

“Sungguh, manusia merugi …,” bisik angin.

“… kecuali …,” imbuh suara yang Agung.

Angin mengangguk takzim. “… kecuali yang beriman.”

Bumi berhenti.

Rotasi berubah.

Alam sengkarut.

Meledak.

***

Dentuman menggema di kepala Stephen, membangunkan tidurnya. Dentuman itu ialah alarm dari asisten robotiknya. Stephen membuka mata.

“16 November 2016; kau ada agenda berbicara di Oxford University Union,” kata asistennya.

“Aku barusan bermimpi buruk,” sahut Stephen.

“Apa?”

“Aku mendengar suara Tuhan.”

Asisten Stephen yang sejatinya merupakan program kecerdasan artifisial itu tertawa. “Kau terlalu memikirkan partikel tuhan*1?”

“Tidak juga, tetapi ….”

“Kau harus melupakan mimpi buruk itu dan kita akan berangkat dua puluh menit dari sekarang.”

“Kau seperti ibuku saja ….”

“Aku tidak mengenal ibumu.”

Mereka tertawa bersama.

“Hei, aku bahkan bertemu keturunan terakhirku,” seru Stephen lagi.

“Seharusnya itu mimpi yang menyenangkan.”

“Mereka serupa mobil tua yang siap diremuk dan dilebur menjadi bubur logam.”

Dua puluh menit kemudian, di Oxford Union, Stephen memprediksi kiamat seribu tahun lagi. Bumi akan sekarat lebih cepat.

“Bumi akan meledak,” katanya.

Sejak itu, bayangan kiamat selalu menghantuinya meski pikiran Stephen yang telah dikendalikan kecerdasan artifisial tidak pernah dapat percaya adanya Tuhan. (M-2)

sumber : Media Indonesia, 13 Nov 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme