Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Bulu Kucing dalam Stoples

Posted on Ming, 30 Okt 2022

Telah Hilang! KIBO: Kucing Ras Berbulu Putih Panjang.

DI bawah tulisan itu, namanya, Kanune, tertera sedikit lebih tebal dengan nomor telepon. Malam itu, satu jam sesudah tengah malam berdentang, kusaksikan poster itu sedikit terkelupas dan tertiup angin malam. Di pagar toko kelontong yang sudah tutup sejak pukul sepuluh. Dua belas nomor kurapal perlahan.

Kukirimkan pesan, “Sepertinya aku tahu di mana kucingmu, Kanune. Aku tetangga apartemenmu.”

Ingin kusampaikan padanya bahwa menipu petugas apartemen itu perbuatan keliru. Melanggar perjanjian dan bisa kena denda. Perempuan itu diam-diam memelihara kucing. Kutahu sebab beberapa kali kudengar dia mengobrol bersama hewan berbulu berkaki empat. Kibo, dia memanggilnya demikian.

Aku bisa saja melaporkannya ke bagian kenyamanan dan kerumahtanggaan tower apartemen. Tapi entahlah, aku lebih ingin diam saja. Biarlah dia tertangkap basah, tanpa aku yang melapor. Diam-diam kubayangkan dia diserbu penghuni lain yang protes bau busuk tahi kucing yang kerap dia bungkus dalam plastik bekas makanan cepat saji.

Perempuan itu dengan sengaja mewartakan perihal kucingnya yang hilang tidak di papan pengumuman tower apartemen. Melainkan di pagar toko kelontong tak jauh dari tower. Tentu alasannya agar tidak ada yang mengetahuinya. Namun, selain aku, tukang sampah rupanya juga telah menaruh curiga bahwa ada yang memelihara kucing.

Bagaimana mungkin ada bau tahi kucing di tower yang memang dikhususkan untuk mereka yang pet-free dengan beragam alasan. Angin malam semakin kencang.
Bunyi-bunyi deru kendaraan telah reda. Cahaya neon memberi kenyamanan yang ganjil. Besok aku sif siang, sebaiknya aku menyambangi kamar apartemen Kanune sebelum berangkat kerja.

“Terima kasih. Kalau kamu tahu di mana kucing itu, kabari ya! Aku kepikiran terus.” Kanune menjawab pesanku ketika aku bersiap untuk mandi.
*
Tower apartemen ini adalah pengecualian. Bukankah selalu ada yang demikian di tengah segala hal yang bebas. Tower ini khusus disediakan kepada mereka yang tidak ingin hidupnya direpotkan oleh hewan peliharaan, terkhusus mamalia berkaki empat, reptil, dan burung-burungan. Ikan masih bisa dimaklumi, sebab tidak akan menimbulkan polusi.

Penghuni tower ini ialah mereka yang alergi terhadap bulu, fobia terhadap reptil, dan yang lebih ingin mendengar deru mesin cuci dan penyedot debu daripada
siul-nyanyian burung dalam sangkar. Termasuk aku.

Entah bagaimana Kanune berhasil menyelundupkan kucing yang sekarang hilang itu. Apakah dia dengan sengaja memasukkannya ke dalam ransel, sebelum melenggang
ke apartemen? Atau mungkin membius lebih dahulu kucing itu agar ketika dijinjing tak menimbulkan suara. Aku tidak begitu terang. Hanya saja, Kanune telah
memantik perkara di tower apartemen yang kuyakini sudah sempurna ini.

Di rumah sakit tempatku bekerja, rengekan manusia ibarat sepoi angin. Hampir setiap menit aku mendengarnya: orang menjerit sebab lukanya akan dijahit, perempuan
ketakutan melihat darah di siku anaknya yang terjatuh dari sepeda, atau orang-orang tua yang seolah tak yakin kami merawatnya dengan baik, sedikitsedikit
mengamuk dan merasa kami kasar ketika membenarkan posisi infus.

Rumah sakit ialah tempat paling riuh, paling sesak dengan erangan sakit, paling tidak mengenal jeda. Sayangnya, aku tidak boleh protes. Harus kuterima dengan
lapang dada. Telan saja, pekerjaan perawat memang demikian, kalau kata salah satu kawanku. Setiap kali muncul jeritan pasien, kurasakan gelak di dadaku lebih
kencang. Andai tidak melanggar kode etik, sudah kuganti cairan infus dengan racun tikus atau atau kujahit rapat celah mulut pasien itu.

Aku merasa mendapatkan ketenangan yang selama ini kucari saat berada di tower apartemen ini. Bebas gonggongan anjing, meong kucing, atau teriakan anak perempuan yang ketakutan melihat piton kuning sehabis dimandikan. Kepalaku yang penuh oleh erangan, teriakan, kegaduhan, omelan, protes, bahkan jerit tangis
keluarga yang ditinggal mati, seketika kosong luruh ketika memasuki apartemen. Ruangan kotak berwarna putih tulang, dengan sofa cokelat di depan rak buku. Hening yang kusuka. Ketika suatu pagi aku mendengar Kanune memanggilmanggil kucingnya, aku tergeragap.

“Kibooo! Jangan! Jangan! Itu tas baruku, jangan, ya! Kukumu bisa mencakarnya!” Kemudian kudengar suara meong nyaring. Sudah tahu pet-free, dia malah bermain api. Hari yang kurencanakan tenang dan menyenangkan, dirusak oleh meong Kibo milik Kanune. Sambil kukeringkan rambut dengan handuk, kubayangkan besok aku akan berbuat apa. Mungkin aku akan mengetuk pintunya dan pura-pura turut berduka.

Kehilangan, apa pun itu, tetaplah sesuatu yang absah untuk diratapi. Atau sekalian kubawakan seloyang kue cokelat agar dia sedikit terhibur? Untuk bersedih tetap
membutuhkan energi, bukan?
*
Pukul sepuluh pagi, aku sudah duduk di sofa ruang tengah apartemen Kanune. “Maaf, tempatku berantakan. Aku jarang kedatangan tamu,” Kanune menyodorkan teh oolong dalam mug putih dan cawan kembang-kembang berisi bika ambon yang serat-seratnya begitu sempurna. Aku tersenyum sopan. Pandanganku mengitari ruangan milik Kanune. Sehelai kain tenun membentang pada dinding di belakang televisi.

Caping beragam ukuran menghiasi dinding lain. Bunga lili imitasi dengan daun-daun bersaput debu. Pot kaktus di meja makan dan majalah-majalah
berserak di kolongnya. Kulkas penuh manik-manik magnit. Stoples-stoples bening di atas nakas.

Kanune tidak muda seperti yang kuduga. Justru mengaku telah berusia lima puluh dua, pensiun dini dari pekerjaannya sebagai pemeriksa aksara di majalah perempuan
beberapa tahun silam. Rambutnya pendek, memperlihatkan leher dan lekuk daun telinganya yang sedikit lebih besar. Beberapa kali aku memikirkan mirip apa daun
telinga Kanune, hingga kutemukan padanan yang pas: jari bayi yang baru lahir. Kurang lebih sedemikianlah besar daun telinga Kanune.

“Bagaimana Kibo bisa hilang?” aku basa-basi. “Entahlah, sepertinya dia menyelonong keluar ketika tukang galon tidak rapat menutup pintu. Kemudian menghilang
entah ke mana.” “Kamu pasti tahu perihal aturan tower ini.”

“Tentu. Oleh sebab itu, aku tidak berani membawa Kibo jalan-jalan. Bahkan kalau kamu sedikit jeli, pengharum ruangan di sini jumlahnya lebih banyak dari
biasanya.”

Kanune meneguk tehnya. “Aku tinggal sendirian. Sudah telat menikah, jadi melajang hingga sekarang.” “Aku pun tinggal sendirian, jadi tahu rasanya kehilangan,” aku
berbohong. Ada satu yang mencuri perhatianku sejak duduk di sofa Kanune. Aneka stoples kaca yang disusun rapi di nakas dekat guci China warna biru. Stoples-stoples
itu penuh benang warna putih, ataukah kapas? Mirip kapas pembersih luka, atau perban yang kupakai buat membebat bekas jahitan.
“Itu stoples apa?”
“Oh, itu bulu-bulu Kibo. Kamu tahu kan, bulu kucing itu rawan rontok. Aku tidak ingin membuang bulu-bulu itu sembarangan. Jadi kusimpan buat jaga-jaga. Ternyata
semenjak Kibo hilang, bulu-bulu kucing itu membuatku sedikit tenang. Aku tidak bisa dipisahkan dengan Kibo….”

“Bagaimana? Apa kamu….,” ingin kusambung dengan memakan bulu kucing. “Setiap malam, sebelum tidur kuambil sejumput bulu Kibo dari stoples. Kuciumi, kuletakkan di bawah bantal. Tidurku tenang, seolah Kibo mendengkur di dekatku.”

Aku tak merespons. Tehku sudah dingin, dan aku tak tertarik lagi. Membayangkan tangan Kanune bekas bulu kucing menyentuh mug, menyentuh bubuk teh,
menyenggol pisau dan cawan bika ambon. Gegas kukatakan bahwa pernah kulihat satpam tua di lantai dasar membawa kucing dan ditaruh di posnya. Dan cepat-cepat
aku pamit. Aku enggan berlamalama di rumah Kanune. Siapa bisa memastikan kalau sela-sela sofanya bebas dari bulu Kibo.
*
Pisau dapur menyala tertimpa cahaya lampu. Kudengar Kanune menyenandungkan lagu yang tidak begitu jelas. Bulu-bulu Kibo dalam stoples sepertinya memang
berhasil membuatnya sedikit lebih tenang. Sudah seyogianya demikian, dan tak perlulah lagi dia mencari-cari Kibo. Meski menurut Kanune ia tidak bisa
dipisahkan dari Kibo, dia harus sadar bahwa kucing itu tidak akan kembali. Bahkan, tak mungkin dia menemukan potongan tubuh kucing itu.

Pisau kembali berkilat. Kuingat Kanune. Bentuk wajahnya. Lehernya. Kupingnya. Kubayangkan pisau itu mencium setiap inci kulitnya. Pisau sama yang beberapa hari lalu
berlumuran darah Kibo. Mungkin sebaiknya kucukur terlebih dahulu rambut Kanune, kumasukkan ke dalam stoples bulu Kibo agar mereka saling menemukan.
Atau, siapa tahu ada yang kelak mencarinya, akan terobati dengan menghidu sisa aroma Kanune. Pisau berkilat makin cemerlang. Tapi, siapa yang hendak mencari?
Kanune bilang dia hidup sendiri. (M-2)

sumber : Media Indonesia, 30 Okt 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme