Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Tanah Negara oleh Karisma Fahmi Y

Posted on Ming, 18 Sep 2022

ORANG-ORANG mengerumuni tubuh Marimin di sekitar rel. Pagi tadi, ia konon menerjang kereta jurusan Jakarta yang tengah melintas. Suara ambulans dan mobil patroli polisi menghalau warga yang menonton, berdesakan di pembatas tali kuning di sepanjang rel. Beberapa wartawan sibuk meliput, memotret, dan bertanya kepada sejumlah petugas, yang sebagian besar lebih memilih diam atau menggeleng.

“Semalam Bapak tidak pulang dari kantor. Pagi tadi saya membuatkan teh untuknya,” kata Pak Rus, petugas kebersihan. Sebentar saja kabar kematian Marimin sudah tersiar dengan judul Kepala Stasiun Mati Bunuh Diri di Rel.

Tim forensik menyisir tempat itu sebelum kereta pukul sembilan melintas. Muin menatap semuanya dari jauh. Ia tak menyangka lelaki tua itu akan senekat itu.

“Kita akan membuat jalur wisata. Sawah, sungai, dan kebun-kebun di sepanjang jalur itu akan menjadi pengantar yang bagus,” kalimat Marimin kembali mengiang di telinganya.

Di akhir masa jabatannya lelaki tua itu bersemangat membangun jalan wisata ke gunung, satu-satunya jalur kereta ke Kota L yang penuh dengan tempat wisata alam.

“Kapan rencana itu dimulai, Pak?”

“Kapan? Ya sekarang! Kamu pikir akan dimulai lebaran gajah?”

Muin tergagap. Ia sudah hafal mati sikap Marimin. Ia tak mengira Pak Tua itu akan sedemikian ambisius. Enam bulan lagi Marimin pensiun, dan proyek itu terlihat tergesa.

“Kebun di sepanjang rel itu harus dirapikan. Sawah dan sungai itu menjadi fokus kita. Bersihkan kebun di sepanjang jalur rel supaya sawah dan sungai itu tampak sebagai wisata alam. Bukit-bukit di belakang sawah itu harus tampak sebagai jalan utama. Orang kota tak pernah melihat sawah. Itu akan menjadi pemandangan bagus bagi mereka.”

“Tapi orang-orang desa itu menanaminya, Pak. Mereka merawat….”

“Itu bukan tanah mereka. Bersihkan! Kalau dibiarkan, mereka bisa membuat rumah dan beranak pinak seperti yang sudah-sudah!”

Muin tahu, tak ada gunanya menyampaikan pendapat. Lelaki tua itu pantang mendengarkan saran orang lain.

“Kita mengirim berapa petugas lapangan untuk itu, Pak?”

“Kita punya sepuluh orang. Atau sebelas?”

“Sembilan, Pak! Pak Rohman sudah sakit-sakitan, tak mungkin ditugasi untuk pekerjaan seperti ini. Jadi, masih ada dela….”

“Ini hanya pekerjaan menebang pohon. Masukkan dia ke tim! Orang tua butuh udara segar supaya jantungnya tetap sehat. Besok pagi harus sudah dimulai. Mulai dari yang paling dekat. Minggu depan saya akan inspeksi sepanjang jalur itu. Semua harus sudah bersih,” Marimin menutup rapat kecil itu. Seperti yang sudah-sudah, rapat itu hanya berisi instruksi dan perintah.

Suara sirene meraung-raung meninggalkan stasiun. Muin mengikuti dengan tatapan mata yang susah digambarkan. Seperti apa pun, lelaki tua itu pernah menjadi atasannya. Ia juga berjasa mengajari banyak hal selama ia bekerja di sana.

*

Video itu tersebar cepat seperti penyakit. Tangan cekatan Muin dan kawan-kawannya saat menebasi pohon-pohon pisang itu beredar ke seluruh penjuru dunia maya tanpa ampun. Suara perempuan tua yang memohon-mohon sambil menangis itu seolah menjadi sumber yang menuai banyak hujatan.

Muin tahu, seminggu tak akan cukup untuk menyusur dan membersihkan jalan sepanjang rel seperti keinginan Marimin tua. Ia dan timnya harus memburu waktu agar pekerjaan itu bisa segera selesai.

“Pak, apa tak ada surat terkait pembersihan itu?”

“Surat apa?”

“Surat pemberitahuan kepada warga yang menggunakan tanah itu sebagai….”

“Apa kamu pernah minta izin saat kamu mengecat tembok rumahmu?”

“Tidak, Pak.”

“Nah, untuk apa kita minta izin membersihkan tanah kita sendiri? Ini kasus tak seperti yang membangun rumah-rumah liar di bantaran yang butuh surat dan pemberitahuan. Sudahlah, itu hanya pohon pisang. Pangkas semua pohon di sepanjang rel!” Marimin menyudahi. Ia menyalakan rokoknya. “Waktumu tak banyak. Sana, cepat berangkat! Sore nanti aku menunggu laporanmu.”

Video itu telah dibagikan ratusan kali. Komentar dan hujatan terus mengalir seperti air hujan. Muin membaca satu per satu komentar. Ia tak tahu apa yang akan disemburkan Marimin tua kepadanya kali ini.

*

Semi mengambili lonjoran daun pisang yang berserakan, melipat lembar demi lembar seperti yang selama ini dilakukannya. Ia dan seluruh warga desa yang lain menanam pisang di sepanjang tanah itu. Ia menjadi saksi, tanah di bawah rel itu bukan milik siapa-siapa. Mereka menanaminya dengan pisang, jambu, mangga, atau sekadar terong dan cabai yang bisa mereka gunakan sebagai penyulut asap dapur. Tak jarang Semi dan yang lain memetik daun-daun pisang dan menyetornya kepada tukang satai di pasar. Namun, pagi itu orang-orang berseragam datang dan merusak semuanya. Mereka datang ketika Semi memadamkan api pawonan. Ia memasak seperti biasa, ontong jantung pisang dengan santan bumbu pedas dan tempe bacem. Ontong jantung pisang dipetiknya dari tanah di seberang rumah kemarin sore, saat ia memangkas daun-daun pohon pisang yang sudah tua. Cabai besar-kecil ia petik subuh tadi. Ia menanami tanah di bawah rel itu dengan aneka tanaman yang mendukung kendil kecilnya supaya tidak oleng. Pisang, cabai, terong, ubi, yang bisa dipetiknya untuk masak sehari-hari.

Suara gaduh tebasan pokok-pokok batang pisang semakin keras. Ia bergegas keluar. Suara Darsi, tetangga sebelah rumah, memohon-mohon. Orang-orang itu memotong sembarangan pokok-pokok pisang yang tertanam rapi di tanah seberang rumah.

“Ampun, Mas! Yang itu jangan dipotong! Itu pisang emas, saya beli bibitnya di pasar. Mahal, Mas! Ampun, Mas!” suara perempuan tua itu amat memelas.

“Ini tanah negara, Mak. Bukan warisan mbahmu! Kalau mau menanam, di kebunmu sendiri,” hardik seorang petugas sambil terus mengayunkan parang ke batang-batang pisang. Ia terus menebas hingga semua pohon tumbang.

Peristiwa itu terjadi tak lebih dari sepuluh menit. Petugas menebas batang-batang pisang itu hingga roboh dan meninggalkannya begitu saja. Seperti yang lain, Semi segera mengambil pisau di dapur. Ia mengambili daun-daun pisang yang masih muda, memutas, dan melipatnya.

Suara parang petugas pagi tadi masih mengiang di telinganya. Orang-orang itu berlagak seperti orang besar pemilik tanah. Padahal, tak pernah sekali pun mereka merawatnya. Ia teringat Pak Bayan, kepala stasiun lama yang mencanangkan untuk menanami tanah di bawah rel itu. Ia membagikan tunas pisang raja agar mereka menanami tanah di bawah rel yang dekat dengan rumah mereka. Pisang pohon yang ringkas. Cukup sekali menanam bibit, ia akan tumbuh dan beranak pinak sendiri. Ia dan yang lain menurut. Seiring dengan waktu, mereka lalu menambahkan bibit cabai, terong, dan jambu. Tak sekali-dua para petugas kereta meminta jambu atau mangga saat berbuah. Mereka memakannya di atas rel, selepas bekerja mengecek rel atau menambahkan kerikil di bantaran. Mereka, orang-orang itu, harusnya merasa beruntung, orang-orang desa masih mau menanami dan merawat tanah itu. Semi tak tahu, setan apa yang merasuki orang-orang itu hingga mereka merobohkan semua pohon pisang dan meninggalkannya begitu saja.

Semi memutuskan tak ambil pusing dengan ulah orang-orang itu. Ia akan menunggu orang-orang itu membersihkan sisa-sisa penebangan walau ia tidak yakin mereka akan menyingkirkan batang-batang pisang yang bertumpukan. Di musim hujan seperti ini, sangat mungkin nyamuk atau ular tinggal di sana. Tanah ini milik negara, kata mereka. Dalam hati Semi tertawa. Kalau nyamuk dan ular bersarang di sana, apakah negara juga akan mengurusinya? Kalau ada yang sakit karena nyamuk, apakah mereka juga akan bertanggung jawab?  Memikirkan hal itu Semi terkekeh. Orang-orang itu berlagak seolah mereka ialah perwakilan negara, padahal mereka sama-sama orang kecil seperti dirinya.

Semi menumpuk daun-daun yang harus diantar ke tukang satai. Banyak daun yang masih muda, tak bisa digunakan untuk membuat lontong. Ia menghela napas panjang.

*

Muin masuk ke ruangan saat aku menatap layar gawaiku. Aku memutar video itu puluhan, mungkin juga ratusan kali. Muin menundukkan kepala. Dalam pandanganku, ia seperti aku dulu, saat memasuki stasiun ini kali pertama. Aku masih remaja tanggung yang hanya mengandalkan semangat dan tenaga. Belum bisa membuat keputusan.

Wajahnya tampak diliputi perasaan bersalah. Tapi tidak. Lelaki muda itu hanya menjalankan instruksiku dan sama sepertiku dulu, ia menjalankan tugas dengan baik. Bibirnya mengatup rapat seolah kegelisahan begitu mampat di dalamnya. Aku hanya bisa memejamkan mata dan menghela napas panjang. Aku tahu, semua adalah salahku. Kutatap Muin dengan pasrah.

“Pak, saya….”

Kukibaskan tangan, menghentikan suaranya. Aku tahu, sebagai lelaki tua, aku tak pernah mau menggubrisnya. Tapi sungguh kali ini aku benar-benar tak ingin mendengar permintaan maafnya.

“Sudah. Semua sudah terjadi….” kataku pelan. Kutawarkan rokok, ia menggeleng. “Suratnya akan segera tiba. Mungkin hari ini, atau besok.”

“Surat?”

“Besok aku sudah tidak di sini lagi.”

Ia mematung. Matanya mulai berkaca-kaca. Kukibaskan tangan lagi, menyuruhnya keluar. Ia menutup pintu pelan. Masih kulihat punggungnya lesu terbungkuk.

Ia tidak perlu tahu, saat itu aku merasa dunia runtuh di pundakku. Sama sepertiku, ia mencintai stasiun ini, mencintai pekerjaannya. Dengan usianya, ia bisa saja melamar pekerjaan lain, atau bahkan bekerja di stasiun yang lebih besar. Tapi tidak, ia memilih bekerja di stasiun kecil ini. Stasiun yang hanya menjalankan satu keberangkatan, jalur ke Kota L. Selebihnya adalah jalur perlintasan. Aku ingin mewujudkan cita-citanya, membesarkan stasiun ini sebelum aku pensiun. Dengan tenaga dan semangatnya, aku merasa bisa melakukan itu. Tapi semua ini terjadi. Mungkin stasiun kecil ini akan ditutup. Aku mengandaskan impian semua orang di sini.

Sunyi di ruangan itu membuat jam dinding berdetak lebih keras. Ternyata sudah pagi. Pak Rus mengetuk pintu, mengantar teh. Sepertiku, ia juga menunggu masa pensiun. Bedanya, ia punya anak istri yang bisa diajaknya menghabiskan masa pensiun. Aku tidak. Anak istriku meninggal karena kecelakaan. Aku sudah tak punya siapa-siapa, tak punya apa-apa saat pensiun nanti. Stasiun ini adalah satu-satunya yang kumiliki, dan kemungkinan aku juga akan kehilangannya. Tapi tidak. Aku sudah punya rencana lain dengan kereta pukul tujuh. Aku harus segera bersiap.

Rumah Ladam, Maret 2022

 

Karisma Fahmi Y, lahir di Kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Esai, cerpen, dan puisi-puisinya pernah dimuat di berbagai media massa. Buku kumpulan cerpennya, Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian, diterbitkan penerbit Basabasi dan satu cerpennya ada dalam buku Antologi Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2016.

sumber : Media Indonesia, 18 Sep 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme