Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pernikahan Pengarang

Posted on Ming, 24 Jul 2022

TAMU-TAMU mulai berdatangan, calon istriku masih belum sampai di gedung resepsi. Jadwal acara yang kami tuliskan di undangan pernikahan adalah 09.00-13.00. Sekarang sudah pukul 09.05. Kampret, dia memang sering bikin hal sejak dulu. Tapi, tak jarang juga dia memberi kejutan. Mengesalkan, tapi kadang membahagiakan. Tapi…
ini pernikahan! Kuharap kejutan itu benar-benar membahagiakan. Kalau tidak, memang sungguh kampret dia!

mengambil ponsel, meneleponnya. Yang menjawab operator. Aneh, operatornya pria. “Telepon yang Anda tuju sedang… apa coba?” Sedang… apa coba? Lalu, yang
bicara pria! Yang benar saja! Bukannya biasanya “sedang berada di luar jangkauan” dan operatornya wanita? Apa-apaan ini!?

Di antara para tamu, tidak ada yang menyadari kegelisahanku selama beberapa menit sampai aku melihat dua pasang mata mengamatiku. “Hei, Bung!” Yang menyerukannya berseragam polisi.

Polisi? Ini pasti kawan calon istriku. Aku punya teman polisi, tapi sudah lama tak menjalin hubungan akrab. Di samping polisi itu ada wanita yang selalu tersenyum. Dari gelagat keduanya, mereka tampak akrab satu sama lain.

“Jangan khawatir, Bung,” kata wanita itu. “Teman kami, Gozali, sudah kami minta untuk mencaritahu keberadaan calon istrimu.”

Gozali… aku pernah dengar nama itu. Belum kutanggapi, mereka sudah bergabung dengan tamutamu lain, mengobrolkan kisahkisah yang terdengar seru. Samarsamar
terdengar sebuah kata yang diucapkan mereka berkali-kali: “misteri”. Aku pun segera tahu—mereka berdua adalah S. Mara Gd dan Kapten Polisi Kosasih! *

Mereka begitu asyik berbicara sampai-sampai aku lupa ada tiga orang yang mendekatiku: pria tua, nenek tua, dan pria muda. Si nenek tua menepuk pundakku,
berkata sambil terkekeh-kekeh,

“Hei! Kau perlu santai, Nak. Kalau nanti kau mendapati calon istrimu berselingkuh, atau tidak jadi menikah denganmu, belajarlah ilmu kanuragan.” “Kanuragan? Semacam silat?”
“Betul, Nak,” kata si pria tua. “Sabar dan marah. Diam dan bertindak. Cara halus dan kasar. Kita harus selalu seimbang menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Mata dua, hidung satu, telinga dua, mulut satu—semuanya seimbang.” Pria tua yang satu ini tampak lebih bijak.

Aku baru menyadari bahwa pria muda yang belum bicara berambut gondrong ketika mendekatiku. Kupandang dari samping, rambutnya disisir ke belakang, dikuncir. Sebelum menepuk pundakku, dia menatap dua teman yang bersamanya. Dua orang itu mengangguk, si nenek tua yang suka terkekeh-kekeh wajahnya berubah jadi serius. “Berikanlah,” katanya dengan takzim, sambil bersedekap dan mengangguk pelan.

Pria muda itu mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya di bagian dalam. Aku terpana memandangnya, kakiku seperti tak kuat berdiri. Itu kapak terkenal, di matanya ada tulisan  212. “Jadi, kalian ini… Bastian Tito, Sinto Gendeng, dan Wiro Sableng?” kataku dengan suara bergetar. Tanganku ikut bergetar menyambut kapak itu. **
Ketiganya mengangguk, tersenyum, saling berpandangan. “Jaga baik-baik kapak itu, Bung,” kata Wiro Sableng.

“Kukira kalian selalu berpakaian silat ke mana-mana,” kataku sambil memerhatikan penampilan mereka yang mengenakan jas dan celana panjang seperti tamu-tamu lain.
“Di dalam resepsi pernikahan, berbaju pendekar akan terlalu mencolok, Nak,” kata nenek tua yang suka terkekeh-kekeh alias Sinto Gendeng.

Tamu-tamu semakin ramai. Aku mengamati keadaan sekelilingku sambil berjalan mengelilingi gedung resepsi. Oh… orang-orang yang tadi kutemui, sungguh tak
terduga hadir dalam acara ini.

Seingatku, tak pernah kuundang mereka; ia juga tak pernah menceritakan akan mengundang mereka. “Hei!” tegur seorang pria dari kejauhan. Seketika aku menoleh, menatap wajah pria yang jaraknya sekitar sepuluh meter dariku. Aku pun mendekatinya sambil menengok jam. Sudah pukul 09.30. “Iya, ada apa?”
“Kau bawa kapak ke mana-mana! Apa ada masalah, Bung?” Aku baru sadar masih memegang kapak yang diberikan Wiro Sableng. “Oh, maaf. Saya lupa menyimpannya,”
kataku sambil memasukkannya ke dalam saku jas bagian dalam. Saku jasku ternyata agak kecil, tidak sebesar milik Wiro Sableng, mata kapak itu kelihatan sebagian saat
jas kukancingkan. Kapak itu pun kuletakkan di bawah punggungku, kuselipkan di celana.

“Apa tadi ada ribut-ribut di sini?” tanya pria itu, suaranya terdengar menyelidik.

“Tidak, ini kapak pemberian, Bung. Dari seseorang,” kataku sambil menoleh ke belakang, mencari-cari Wiro Sableng. “Hei!” terdengar suara lain. Sesosok pria yang tampak alim, berkacamata, berjalan mendekati kami dari belakang pria yang menegurku. “Ada apa, Ajo Kawir?” katanya saat berada di depanku, di samping pria itu.
“Saya tadi lihat dia bawabawa kapak. Saya kira, dia mau berkelahi atau semacamnya, Mas,” jawab Ajo Kawir.

“Oh… mungkin saja, Bung, kapakmu mengingatkan dia akan masa lalunya,” kata pria itu sambil tersenyum kepadaku. “Dia dulu sangat suka berkelahi.” “Sekarang sudah jarang, sejak bisa ngaceng!” kata Ajo Kawir setengah berbisik, lalu mengedipkan mata kepada pria di sampingnya.

“Ayo kita ke sana!” kata pria berkacamata, merangkul Ajo Kawir, mendekati suatu kerumunan. Ajo Kawir menoleh ke belakang, berhenti melangkah, menatapku. “Kulihat
ada amarah di wajahmu, Bung.

Kalau ada yang meresahkanmu, bertindaklah jantan! Jangan memendam dendam! Seperti rindu, dendam harus dibayar tuntas, Bung!”

Aku lantas menyadari, dua orang itu Eka Kurniawan dan Ajo Kawir.
Seketika aku teringat calon istriku yang cantik—apakah dia terluka? Aku makin khawatir, sekarang sudah hampir jam sepuluh. Aku mendekati pintu keluar,
menunggu kedatangannya.

Kalau ada yang memanggilku atau menyapaku, sumpah mati akan kuabaikan. Sampai di pintu, aku melihat dua pria gondrong yang masing-masing dibonceng tukang
pos. Yang satu rambutnya banyak yang putih; lainnya lebih muda, berambut hitam, dan bertato.

Setelah turun, mereka seperti berlomba masuk ke dalam gedung resepsi. “Aku sudah mengirimi Alina sepotong senja! Nggak akan kurelakan dia jadi milik pria lain!”
kata pria yang lebih tua.

“Dia sudah kukirimi sepotong bibir! Dia milikku!” sahut pria satunya.

“Ah, bibir yang kaukirimkan itu bibir Tukang Kibul. Itu pun bukan khusus untuknya. Itu awalnya kaukirim untuk Maneka! Biarlah tukang pos terbaik di dunia
yang menjadi saksi kita, siapa di antara kita berdua yang lebih pantas mendapatkan Alina!” kata pria yang lebih tua sambil masuk ke dalam, diikuti yang lebih
muda. “Yang paling pantas untuk Alina ya… Sukab! Bagaimana sih?” kata pria yang lebih muda dan bertato.

Saat mereka berdebat, mobil pengantin tampak di kejauhan. Namun, menyaksikan apa yang baru saja terjadi, aku bingung. Dua pria itu menyebut-nyebut Alina,
sementara nama calon istriku Anggita.

Pintu mobil dibuka. Saat kaki calon istriku terjulur keluar, menyentuh aspal, aku degdegan. Ah, akhirnya momen terindah dalam hidupku ada di depan mata! Ia keluar, menutup pintu. Ia melangkah masuk, tapi mengabaikanku, melintas di depanku tanpa menoleh, diikuti sederet orang yang berjalan di belakangnya dalam dua
barisan. Lagu yang indah berkumandang, bergema di dinding dan langitlangit gedung resepsi yang tampaknya makin luas dan megah.

Sepasang merpati masuk ke dalam gedung, diikuti banyak burung gereja. Di pelaminan, sekitar dua puluh meter dari tempatku berdiri, seorang pria sudah
menunggu. Akukah itu?

Kelihatannya mirip aku, tapi aku tidak yakin. Seluruh hadirin bersuka cita, bersorak, ada juga para remaja putri yang bilang, “Cieee… cieee.” Aku membisu di
dekat pintu. Kucari kursi untuk duduk karena lelah berdiri. Aku pingsan kelelahan pada hari pernikahanku.

Saat terbangun, aku merasa badanku dibungkus dalam sebuah kardus besar. Aku tidak bisa bergerak. Terdengar suara “brettt” beberapa kali setelah tak ada lagi
guncangan. Aku menyadari itu suara isolasi yang ditarik atau dilepas. Aku bernapas lega ketika kardus yang membungkusku mulai terbuka. Kulihat tukang pos
berseragam oranye melepaskan semua isolasi yang ditempelkan di kardus yang membungkusku.

Aku bertanya, “Siapa yang mengirimku kemari?” “Seno Gumira Ajidarma dan Agus Noor.” **** Oh… aku baru teringat nama dua pengarang gondrong
yang datang belakangan itu! “Mereka berdua ke mana?” “Kembali ke Negeri Senja, diantar dua tukang pos lain,” katanya sambil membantuku
keluar dari kardus. “Mereka salah masuk gedung resepsi tadi.

Alina masih sendiri, tapi entah di mana. Memang sempat tersiar kabar, Alina akan menikah. Tapi… kuyakin itu kabar burung.” “Aku sendiri… sekarang ada di
mana?”
Tukang pos itu tersenyum. “Lihatlah sekelilingmu.”
***
AKU berada di warung kopi yang tiap hari kukunjungi. Dari kejauhan kulihat wajah Anggita, menghampiriku. Tumben dia kemari, menyusulku. Melihatnya,
hatiku diliputi kelegaan yang besar. Betapa beruntung aku mendapatkannya. Sering mandi, sering gembira, dan banyak membaca adalah tiga hal yang
perlu dilakukan pria jomlo yang tidak ganteng agar ditaksir wanita—itulah nasihat kawanku yang dulu kulakukan ketika mulai mengenalnya.
“Sudah selesai ngarangnya, Mas? Jangan lupa, sebentar lagi kita mesti mengambil jasmu.” Kuhabiskan kopiku, mematikan laptopku, menuju kasir, membayar.
Kunyalakan mesin sepeda motorku; Anggita duduk di belakangku, memeluk erat pinggangku. Aku tahu, dia sangat menantikan resepsi pernikahan kami besok.

Aku yang masih terbius kopi, bertanya kepada Anggita saat warung kopi sudah makin jauh kami tinggalkan, “Eh, ada kapak nggak di punggungku, kuselipkan
di celanaku?” “Apa?” katanya setengah berteriak. “Kapak?” (M-2) Pontianak, 2021-2022

sumber : Media Indonesia, 24 Jul 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme