Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Copet yang Dituduh Hendak Membunuh Presiden oleh Dewanto Amin Sadono

Posted on Ming, 17 Nov 2024

Bapaknya telah lama bertabah-tabah demi Gendon dan dua kakaknya bisa sekolah walaupun tak ada yang sampai kuliah. Harapan diterima di perguruan tinggi negeri pun, anak-anaknya tak ada yang bisa memenuhi. Demi laju bahtera ekonomi rumah tangga tidak karam, bapaknya harus pandai berhemat. Bapaknya tidak ikut-ikutan kredit motor seperti teman-temannya. Sepeda ontel yang ada dalangan-nya adalah tunggangan yang setia membawanya pulang pergi dari dan ke tempat mengajar sepuluh kilometer jauhnya. Setiap tanggal muda setengah karung beras yang penguk bin apek serta dipenuhi kutu nangkring di boncengan.

Gendon dan dua kakaknya sering diboncengkan sang bapak keliling kota. Kakak beradik yang seperti anak kembar itu duduk berimpitan di boncengan bagaikan sepasang kampret dan berkali-kali mendapat peringatan.

”Hati-hati! Jangan guyonan! Kakinya jangan sampai kecepit ruji!”

Gendon duduk di dalangan sepeda, di antara setang dan perut bapaknya. Posisi duduk Gendon menyamping seperti perempuan dan jangan ditanya bagaimana perasaan pantatnya waktu melewati jalan berlubang-lubang, sementara besi bundar seukuran lengan itu menendang-nendang gumpalan dagingnya yang tak seberapa tebal.

Ibunya tak kurang tabah demi Gendon dan dua saudaranya bisa terus makan dan punya pakaian. Bersuami guru yang sudah melewati dua orde dengan kualitas gaji yang kurang lebih sama telah membuat perempuan berumur 60 tahun itu pandai mengelola ekonomi dengan cara yang efektif melebihi kelihaian menteri keuangan.

Kalau sang menteri bisa utang ke negara sana, pinjam duit ke negeri sini, memajaki barang itu, memalaki pendapatan ini, ibu yang penyabar itu tak bisa melakukannya. Ia cuma bisa memangkas ukuran tahu dan tempe, memotong gundukan nasi, mengurangi kerimbunan sayur kangkung, dan menyuruh anak-anaknya segera mencari kerja begitu lulus SMA.

Sakit hati yang tak terobati itu dialami Gendon ketika bapaknya kecopetan sepulang dari mengambil uang pensiunan di kantor pos. Bika ambon yang sedianya hendak diiris tipis-tipis lalu dibagikan kepada tiga anaknya tidak jadi dibeli. Begitu juga rokok kretek klangenan merek Sukun yang serpihan baranya pernah membuat kasur bapaknya hampir terbakar. Bapaknya pulang ke rumah hanya membawa uang yang tak seberapa dan masih bisa tertawa-tawa, memperlihatkan gigi ompongnya.

”Untung uangnya sudah Bapak ambil selembar! Coba kalau Bapak tadi tidak naik becak. Uangnya pasti diambil copet semua!”

Gendon berkeyakinan ketabahan ada batasnya dan ia tidak bisa setabah orang tuanya. Walaupun bapaknya sudah mengikhlaskan uang pensiunannya, bahkan mendoakan uang yang sedianya untuk makan sebulan, membayar listrik, dan biaya sekolah anak-anaknya itu bisa memberi manfaat bagi si pencopet, tidak demikian halnya dengan Gendon. Ia tahu, di balik tawa yang sumbang itu tersimpan kepedihan.

Esoknya, sambil memasang wajah geram Gendon mendatangi para pencopet yang biasa beroperasi di Pasar Senen, Terminal Kampung Rambutan, Terminal Pasar Rebo, serta tempat-tempat lain. Gendon ingin balas dendam.

”Temui Ali Moestopo! Ilmu mencopetnya sudah setingkat dewa!” kata mereka yang ditemuinya.

Ali Moestopo adalah raja copet yang telah pensiun lalu beralih profesi menjadi penjual gorengan. Tinggalnya di Bekasi. Pada masa lalu Ali Moestopo dikenal sebagai penguasa Pasar Senen. Pada Peristiwa Malari 1974 yang membuat Pasar Senen terbakar hebat, 11 orang tewas, Hariman Siregar dan beberapa mahasiswa ditangkap, dan seorang jenderal dicopot dari jabatannya, Ali Moestopo disebut-sebut terlibat di dalamnya. Tugasnya mencari massa, para preman dari seluruh penjuru Jakarta dan sekitarnya, lalu menyuruh mereka membaur di antara mahasiswa yang sedang demo menentang kedatangan PM Jepang, Tanaka, lalu membakar proyek Senen yang bernilai ratusan miliar rupiah itu.

Gendon mendapat alamat Ali Moestopo dari pencopet yang pernah berguru kepadanya, tapi tidak lulus. Meskipun usianya sudah menginjak 70 tahun, Ali Moestopo masih terlihat sangar. Codet yang dalam menghiasi pipi kanannya. Kabarnya bekas terjangan pisau Mitro, preman Terminal Senen yang juga ingin menguasai Pasar Senen. Itu sebelum Ali Moestopo menikam perut Mitro dan membuatnya hilang dari peredaran.

Gendon ditemui Ali Moestopo di amben bambu di teras rumah. Ali Moestopo hanya bersarung dan berkaus oblong. Setelah berbasa-basi, Gendon mengutarakan maksud sambil menjaga sikap sesopan mungkin. Selama Gendon bicara, Ali Moestopo tampak mengangguk-angguk. Wajahnya terlihat sangat serius. Kedua bibirnya mengatup. Dahinya berkerut. Sorot matanya terlihat seperti calon mertua yang sedang menyeleksi calon menantunya dan segera mengajukan pertanyaan ketika Gendon selesai bicara.

”Kamu sanggup belajar dengan caraku? Bakal kuat? Sudah ada lima orang yang ingin jadi muridku. Tapi hanya satu yang mampu bertahan sehari.”

Gendon menjawab tanpa ragu. ”Saya akan mencoba!”

Tanpa ampun, berdarah-darah, dan lebih sadis bila dibandingkan dengan pelatihan anggota pasukan khusus adalah cara Ali Moestopo mendidik agar Gendon bisa menjadi copet yang baik dan benar. Setiap malam, setelah warung tutup, dan tiang listrik dipukul 12 kali, Ali Moestopo memaksa Gendon mencelup-celupkan jari tengah dan telunjuk ke dalam panci hingga ratusan kali. Isinya pasir yang sudah dipanaskan selama berjam-jam hingga hampir membara walaupun belum sampai mendidih sebab sudah pasti susah sekali, juga butuh waktu yang sangat lama.

Pendadaran penuh pengorbanan, tetesan keringat, dan jerit kesakitan itu dianggap cukup oleh Ali Moestopo setelah jari tengah dan telunjuk Gendon menghitam, mati rasa, dan tulangnya mungkin sudah gosong. Latihan model Shaolin tersebut membuat dua jari itu bisa bergerak secepat kilat, sekuat baja, dan selengket magnet.

Gendon lalu menjelajah dari terminal ke terminal, stasiun ke stasiun, dan dari pasar ke pasar. Wilayah kerjanya bukan hanya Jakarta, tapi melebar ke Karawang, Bekasi, Bogor, Depok, dan Serang. Wajah dan kulitnya yang putih bersih memudahkan Gendon menjalankan aksinya sebab orang-orang mengiranya mahasiswa atau karyawan perusahaan asuransi jiwa sehingga tak berkeberatan ketika Gendon berdiri di dekat mereka.

Terbukti Gendon sangat ahli dalam bidangnya. Ketika pencopet lain harus memepet-mepet tubuh calon korbannya saat hendak mengambil dompet, Gendon tak perlu melakukannya. Sebagai gambaran, ia sanggup mencopet dompet yang sedang dipegang pemiliknya tanpa si pemilik menyadari.

Seperti Robin Hood yang suka membagi-bagikan hasil rampokannya, Gendon pun demikian halnya. Para pelacur memuja, tukang becak menghormati, pengasong, dan para pengamen menganggap Gendon sebagai saudara dan bersedia menjadi antek saat Gendon sedang menjalankan aksinya.

Entah mendapat info dari mana, setelah bertahun-tahun pada akhirnya bapak dan ibunya tahu profesi yang dijalani Gendon; bukan sales dompet kulit seperti yang dikatakannya. Sebagai ungkapan kemarahan dan kekecewaan, bapak-ibunya mengembalikan semua barang yang pernah mereka terima dari Gendon: televisi, kulkas, gelang, kalung, perabotan rumah. Lalu sambil menangis bapaknya menceritakan kenangan buruknya saat kecopetan.

”Tahukah kamu? Waktu itu agar kalian tetap bisa makan, ada ongkos ke sekolah, mengantongi uang saku, ibumu terpaksa menjual kalungnya!” Bapaknya mengelap air mata. ”Bagaimana perasaanmu jika orang yang kamu copet itu ternyata keadaan ekonominya sama seperti orang tuamu!”

Gendon benar-benar terpukul. Ucapan itu tak ubahnya uppercut yang menghantam rahangnya dan membuatnya sempoyongan; hampir roboh.

”Iya, Pak!” Gendon menunduk. ”Saya akan berhenti mencopet!”

Pelaksanaan eksekusi hukuman mati dua jam lagi. Penjaga telah memberi Gendon kesempatan mengajukan permintaan terakhir. Mula-mula Gendon ingin bertemu istri, kedua anak, serta bapak dan ibunya. Namun, dengan pertimbangan tak suka melihat air mata, Gendon membatalkan keinginannya. Sebagai ganti ia minta kopi hitam tanpa gula dan Sukun kretek; rokok yang sering ia curi dari kantong bapaknya waktu ia masih remaja.

Sambil mencecap kopi dan memandangi gumpalan asap yang berpendar-pendar ditimpa remang cahaya, Gendon mengilas balik bagian terakhir dari perjalanan hidupnya. Betapa orang tua ternyata Tuhan yang kelihatan. Pantang dilanggar perintahnya. Bisa celaka!

Mestinya Gendon menepati janjinya dan tidak tergoda dompet yang menyembul dari saku celana jins laki-laki bertubuh kekar itu. Namun, beralasan ingin menjadikannya sebagai dompet terakhir, Gendon melanggar janjinya. Minuman bersoda itu tidak jadi dibelinya. Sambil berjalan keluar dari supermarket, dompet itu dicopetnya. Dari situlah celakanya bermula.

Seperti biasa, setelah mencopet, di tempat yang sepi Gendon segera memeriksa hasil copetannya. Dompet kulit bermerek luar negeri itu berisi uang yang cukup banyak. Ada surat-surat berharga, termasuk ATM. Namun, yang membuat Gendon gemetar adalah selembar kertas yang dilipat rapi dan diselipkan di lipatan STNK mobil. Sepertinya sengaja disembunyikan di situ.

Mula-mula Gendon berniat mengabaikan tulisan pada lembaran kertas itu. Bisa jadi itu hanya main-main. Namun, setelah membaca nama dan profesi pemilik dompet yang tertera di KTP, Gendon segera meralat pikirannya. Sepertinya si pemilik dompet tidak suka guyonan. Apalagi, sudah pasti si pemilik dompet ke mana-mana boleh membawa senjata api dan sudah pasti pula dengan mudah bisa menggunakannya.

Gendon merinding; tak bisa membayangkan kekacauan yang bakal timbul jika rencana itu sampai terlaksana. Ia harus segera bertindak. Apalagi, seperti yang tertulis dalam lembaran kertas, rencana keji itu akan dilakukan pada tanggal ini, hari ini, dan berarti kurang setengah jam lagi.

Gegas, Gendon memanggil tukang ojek dan menyuruhnya memacu sepeda motor. Walau tak paham kedaruratan macam mana yang sedang dihadapi penumpangnya, si tukang ojek segera berkelok-kelok di antara mobil yang merayap dan sesekali melewati trotoar. Setelah 20 menit, mereka tiba di tujuan. Saking semangatnya, belum juga motor berhenti sempurna, Gendon segera melompat, lalu berlari secepatnya. Ia berniat menemui langsung orang yang sedang dalam bahaya itu.

Namun, baru juga lima meter menyeberang pintu gerbang, dua penjaga langsung menyergap Gendon. Ia dijatuhkan ke aspal, kedua tangannya ditelikung di belakang punggung, lalu digelandang ke dalam pos jaga. Di dalam ruangan seukuran kandang monyet itu Gendon diperiksa dua penjaga bertubuh segede gorila. Lembaran kertas di kantong baju Gendon dirampas. Selanjutnya, Gendon diinterogasi sambil dipukul, ditendang, dan ditampar.

”Siapa yang menyuruhmu?”

”Tidak ada yang menyuruh. Saya…”

Duk! Ketupat bengkulu itu menghantam pelipis Gendon.

”Siapa saja gerombolanmu?”

”Gerombolan apa?”

Plak! Tamparan yang keras mendera mulut Gendon, membuat dua giginya goyang. Gubrak! Disusul tendangan sepatu lars yang menghantam tulang kering.

”Dasar teroris! Kamu kira semudah itu membunuh presiden?”

”Siapa yang akan…”

Pruk! Gendon tak sempat menyelesaikan ucapannya. Gagang pistol itu sudah lebih dulu menghantam tengkuknya. (*)

—

DEWANTO AMIN SADONO : Guru dan pengarang; tinggal di Kajen, Pekalongan

sumber : JAWAPOS, Minggu, 17 November 2024

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme