Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Waktu untuk Bapak

Posted on Ming, 02 Jan 2022

“SULIT sekali. Bikin pusing!”
Bapak mengeluh saat membantuku mengerjakan PR (pekerjaan rumah) matematika. Ia lalu ke dapur. Tak lama berselang, Bapak sudah kembali ke ruang tamu dengan secangkir kopi.
Ia menyeruput kopinya sedikit demi sedikit sembari bermain solitaire di telepon seluler pintarnya.
Begitulah kebiasaan Bapak kalau sedang pusing menghadapi rumus dan angka-angka. Sebagian menjadi lebih rumit dan berbelit-belit manakala diracik menjadi soal-soal berwujud cerita.
Kopi hitam tanpa gula dan game solitaire adalah obatnya. Setelah pusingnya hilang, ia akan kembali membantuku mengerjakan tugas.
Sebenarnya, pelajaran matematika yang menyebabkan Bapak pusing itu adalah tugasku. Aku yang sekolah, dan seharusnya aku pula yang pusing.
Tapi, aku sendiri tidak semuanya paham.
Bu Guru, kalau menerangkan lewat Zoom, kurang begitu jelas. Lagi pula, aku jarang mengikuti pelajaran daring seperti itu. Boros kuota internet! Bisa habis 400 megabytes sekali pertemuan.
Lebih baik kupakai untuk bermain Mobile Legends, atau menonton video-video shorts di Youtube. Sama-sama boros kuota, tapi tidak bikin pusing.
Yang mengeluh pusing karena sulitnya pelajaran sekolah, tentu saja bukan hanya Bapak. Orangtua teman-teman sekolahku pun demikian. Kecuali, mereka yang berprofesi sebagai guru. Atau, yang mampu mengikutkan anak-anaknya les atau bimbingan belajar.
Bapak hanyalah seorang petani penggarap, alias buruh tani. Ia tidak mempunyai lahan sendiri. Kadang ia diminta pemilik lahan untuk mencangkul. Lain waktu, ia membantu pemilik traktor untuk mengolah lahan sebelum masa tanam.
Pernah juga, beberapa kali, Bapak diminta mengerjakan sekaligus mengurus lahan milik tetangga. Penghasilan yang didapat dari pekerjaan seperti itu tentu saja tidak seberapa.
Nah, daripada uang dipakai untuk mengikutkan aku ke tempat les, lebih baik digunakan untuk membeli beras dan kebutuhan lain yang lebih penting. Untuk beli kuota internet, contohnya. (Bukankah hari ini, kuota internet juga sudah termasuk kebutuhan pokok?)
Dalam hal ini, Bapak punya prinsip: lebih baik ‘pusing’ daripada harus kehilangan uang. Maka dengan telaten, ia akan mencari rumus-rumus melalui Google dan Youtube agar bisa membantuku mengerjakan PR matematika.
Apabila kuota internet sedang menipis, ia akan membolak-balik halaman demi halaman buku paket yang dipinjamkan oleh sekolah.
Untungnya, Bapak tidak terlalu gaptek dengan hal-hal seperti itu. Meski hanya buruh tani, ia punya ijazah SMA.
“Tapi dulu Bapak termasuk bodoh. Nilai matematika paling tinggi enam,” katanya.
Ia pun mengakui, pelajaran yang kudapat saat ini jauh lebih rumit ketimbang zamannya sekolah dulu. “Pelajaran SMP kok sulitnya seperti SMA,” katanya lagi.
Anehnya, setiap kali PR matematika dikerjakan oleh Bapak, nilai yang aku dapat selalu melewati passing grade, atau batas nilai minimal yang ditentukan oleh Bu Guru. Bahkan aku pernah memperoleh nilai sembilan untuk tugas barisan aritmatika dan geometri.
Padahal, Bapak sendiri yang bilang kalau pelajaranku lebih sulit dibanding yang ia terima dulu.
Barangkali dulu Bapak kurang sungguh-sungguh saja, batinku.
Sempat terpikir olehku, mungkin aku saat ini sama saja dengan Bapak dulu saat sekolah: malas belajar. Namun, aku punya pembelaan. Aku kurang memahami matematika, karena memang sangat jarang diajar langsung oleh Bu Guru.
Selama kelas tujuh, aku dan teman-teman hanya 15 kali masuk sekolah. Itu pun, hanya diberi dua mata pelajaran tiap pertemuan. Masuk jam setengah delapan pagi, dan pukul 10 sudah pulang. Penyebabnya, apa lagi kalau bukan pandemi.
Seharusnya, kami masuk sekolah kira-kira 290 hari dalam setahun, setelah dikurangi macam-macam hari libur.
Sekarang aku duduk di kelas delapan, sejak tujuh bulan lalu. Sampai minggu ini, aku dan teman-teman baru masuk sekolah sebanyak 27 kali.
Sama seperti saat kelas tujuh, di tiap pertemuan, kami juga hanya menerima dua mata pelajaran dari ibu dan bapak guru. Jam masuk dan pulangnya pun sama.
Sejujurnya, kami senang karena lebih banyak libur. Aku sendiri, misalnya, punya lebih banyak waktu untuk bermain Mobile Legends, atau menonton video di kanal-kanal Youtube yang aku subscribe.
Aku juga lebih punya banyak waktu untuk bermain futsal dan skipping, olahraga-olahraga kegemaranku.
Masalahnya adalah ketika tiba waktunya penilaian tengah dan akhir semester. Terutama, ketika materi ujiannya adalah matematika. Bayangkan, kami harus mengerjakan sejumlah soal dengan batasan waktu, dan materinya sama sekali belum pernah kami pelajari mendalam.
Memang, bukan hanya aku yang tertinggal dalam pelajaran sekolah. Teman-teman di kelasku banyak yang senasib denganku: tidak paham pelajaran, tapi juga tidak ikut bimbingan karena masalah biaya.
Suatu saat, ayah pernah menghiburku. Katanya, yang tertinggal dalam pelajaran bukan hanya aku dan teman-teman lain di Indonesia. Murid-murid sekolah di berbagai negara juga bernasib sama.
Bahkan, tanpa adanya pandemi pun, anak-anak korban perang di Suriah, Palestina, dan daerah-daerah konflik lainnya telah lebih dulu, bertahun-tahun, belasan tahun, kehilangan haknya mendapatkan pendidikan yang layak.

BAPAK berpisah dengan Ibu saat aku kelas lima SD. Aku tidak mengerti alasan mereka berpisah. Selama aku hidup bersama mereka, rasanya semua baik-baik saja.
Ibu sudah mengatakan kepadaku bahwa ia akan pulang ke rumah nenek, kira-kira sebulan sebelumnya. Ibu berasal dari sebuah pulau di luar Jawa.
Tetapi, ketika kutanya akan berapa lama Ibu berada di sana, ia hanya menjawab, “Mungkin agak lama.”
Aku dan Bapak mengantar Ibu di Bandara Yogyakarta. Bapak memeluk Ibu dan mencium keningnya sesaat sebelum Ibu memasuki area check-in bandara.
Sejak saat itulah, hampir semua keperluanku diurus oleh Bapak. Mulai dari memasak, mencuci baju, sampai membantuku mengerjakan PR.
Suatu hari, aku tak sengaja membaca pesan Ibu kepada Bapak di Whatsapp. Kata Ibu dalam pesan itu, “Lekas menikah lagi. Tapi perempuannya yang sayang dengan anak kita.”
Sudah hampir tiga tahun mereka berpisah. Sampai sekarang, Bapak belum juga menikah lagi. Entahlah kalau Ibu.
Aku kasihan kepada Bapak. Ia harus mengambil alih pekerjaan-pekerjaan yang dulu selalu dibereskan Ibu.
Setelah bangun tidur dan salat Subuh, Bapak menanak nasi serta menyiapkan sayur dan lauk. Setelah itu, ia menyapu ruangan-ruangan rumah. Kalau ada pakaian kotor, ia mencucinya. Aku hanya mendapat jatah mencuci pakaianku sendiri dan membersihkan kamarku.
Jika giliranku masuk sekolah, ia juga yang menyeterika seragamku.
Setelah semua pekerjaan di rumah selesai, Bapak berangkat ke sawah. Menjelang tengah hari, ia pulang untuk beristirahat, dan kembali lagi ke sawah sore hari.
Malam harinya, semua tugas-tugas belajarku pasti ia periksa. Termasuk, membantuku mengerjakan PR. Bukan sekadar membantu, ia justru lebih sering mengerjakan tugas-tugas sekolahku.
Aku merasa, pandemi telah mengajarkan kepada kami, anak-anak sekolah, betapa berharganya kehadiran seorang guru.
Aku, dan banyak temanku, tak mampu menangkap materi pelajaran hanya dengan membaca buku pelajaran. Jangankan hanya dengan membaca buku pelajaran, mendengarkan penjelasan guru melalui Zoom pun, kami tetap sulit memahami.
Berbeda halnya dengan pembelajaran tatap muka di dalam kelas. Dengan satu atau dua kali pertemuan saja, aku akan langsung paham rumus-rumus matematika, sesulit apa pun itu.
Di dalam kelas, ibu dan bapak guru bisa membuat rumus dan angka-angka yang rumit menjadi lebih sederhana.
Kalaupun ada di antara kami yang tidak juga paham, atau hampir menyerah, guru tahu benar cara menyemangati anak-anak didiknya supaya tidak mudah berputus asa.
Aku ingin agar pandemi ini segera benar-benar berakhir. Jangan ada lagi pembatasan ini dan itu. Tidak ada lagi sekolah daring. Dengan begitu pula, waktu, energi, dan pikiran Bapak akan lebih banyak ia pergunakan untuk bekerja. Bukan tersita karena harus menggantikan tugas guru memberikan pelajaran sekolah. (M-2)

Muhammad Ihsan adalah siswa Kelas 8F SMPN 7 Kota Magelang, Jawa Tengah. Cerpennya Waktu untuk Bapak merupakan pemenang ke-2 Sayembara Cerpen Media Indonesia 2021 untuk kategori pelajar.

sumber : Media Indonesia, Min, 02 Jan 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme