Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Bayang-bayang Kematian

Posted on Ming, 07 Nov 2021

TAGATA mendapati seraut wajah itu di antara kerumunan pasar. Wajah yang belum pernah dia temui di alam nyata, tetapi tak asing lagi. Wajah dengan rahang kukuh, bibir tipis tanpa kumis, dan tulang pipi sedikit menonjol itu selalu dia ingat. Apalagi sorot matanya. Iya, sorot mata yang mengingatkan dia pada sebuah perjanjian. Meskipun lehernya berbalut syal dan hampir seluruh rambutnya tertutup topi pandora, Tagata yakin tak salah mengenalinya.

Pria pemilik wajah itu melempar senyum dari radius sepelepasan anak panah dan Tagata makin yakin dia orang yang sama. Buru-buru Tagata membereskan meja, mengemasi uang receh di balik kain penutup meja, lalu berbisik kepada pembantunya, Amang, untuk segera turut berkemas. Namun, rupanya pria pemilik wajah sudah terlampau dekat untuk dia hindari dan bahkan kini berdiri tepat di depan meja dagangan Tagata.

“Hari masih terlampau siang untuk beberes. Adakah yang mendesakmu untuk segera pergi dari pasar ini?” sapa pria itu sembari menghias wajahnya dengan seulas senyum.

Ah, Tagata mengenali suara khas ini. Suara sedikit bariton dengan aksen sangau yang selalu mengingatkannya kepada tokoh-tokoh penuh dendam dalam film laga. Tagata terpaku karena bingung harus merespons seperti apa atas pertanyaan pria yang begitu dikenalnya, tetapi tak ia ketahui namanya itu.

Tagata masih mematung dengan tatapan seperti pria lajang yang sedang menggaruk selangkangan dan kepergok gadis idamannya.

“Halah, santai saja. Kau ingat aku, ya?”

“Iya, iya,” jawab Tagata gugup.

“Apa kabarmu hari ini?”

“Aku baik-baik saja.” Tagata mulai bisa menguasai diri.

“Syukurlah.”

“Kenapa kamu datang sekarang? Apakah sudah waktunya? Setahuku masih lama. Bahkan lama sekali.”

“Sudah aku bilang, santai saja. Perjanjian kita aman.”

“Kamu sering menemuiku, tetapi aku tak pernah tahu namamu.”

“Ha… ha… ha… Berapa banyak wajah yang kau simpan dalam ingatan, kau ingat dengan baik, tapi kau lupa namanya? Banyak sekali. Untuk apa aku memberi nama diriku untukmu jika kelak kau akan melupakannya.”

“Kalau begitu, aku memanggilmu apa?”

“Biasanya, orang yang memanggilku hanyalah mereka yang putus asa dengan segala kekalutan di dunia. Apakah kau sehancur itu kelak?”

“Aku tak pernah tahu masa depanku. Tapi, aku perlu tahu namamu untuk memudahkan menuliskan cerita hidupku.”

“Aku, sih, yakin kau masih punya cukup waktu untuk menulis banyak cerita. Tapi aku tak yakin kau akan mengingat namaku meskipun berulang aku sebutkan.”

“Kamu terlalu berbelit untuk urusan sesepele menyebutkan nama.”

“Ha… ha… ha… Aku senang kau makin berani berdiskusi, tak seperti pada pertemuan-pertemuan kita sebelumnya: kau selalu gemetaran. Aku Ingerul Mortii. Panggil saja aku Inger.”

Pria itu membalikkan badan, mengangkat telapak tangan kanan sejajar kepala sebagai tanda perpisahan. Tatapannya berserobok dengan Amang yang sibuk hilir mudik mengemasi dagangan Tagata.

***

Amang masih belum paham betul alasan majikannya meminta dia berkemas dan membawa seluruh tabungannya. Dia hanya tahu hendak pergi jauh, sejauh mungkin dari tempatnya tinggal sekarang.

“Kita akan menyeberangi lautan jauh ke selatan.”

“Ke mana, persisnya, Tuan?”

“Ke Nauru.”

“Di mana itu?”

“Negara kecil yang indah dan damai, di dekat Australia. Kamu tidak akan menyesal meskipun seandainya harus mati di sana.”

“Mengapa Tuan menyebut-nyebut kematian? Bukankah kita hendak bersenang-senang?”

“Benar. Kamu benar. Maafkan aku. Kita akan bersenang-senang.”

Sepanjang perjalanan menuju Nauru, Tagata berkisah tentang mimpi-mimpinya. Hampir sepekan sekali dia bermimpi bertemu Inger. Mimpinya bisa berubah tempat dan waktu. Kadang Tagata bermimpi tengah berada di tengah gurun pasir didera kehausan yang amat sangat, lalu Inger datang entah dari mana dengan membawa setangkup air. Seketika Tagata merasa hidup kembali.

Di lain mimpi, Tagata berada di tengah laut terombang-ambing gelombang samudra berselimut kabut yang seolah siap menelannya. Tagata yang hanya berpedoman pada sebatang pohon pisang merasa hidupnya tak lama lagi. Lalu, dari balik kabut samudra yang misterius itu muncul sampan dengan seorang pria yang sekuat tenaga mendayungnya. Dialah Inger. Inger kemudian menarik tangan Tagata dan membawanya ke tepi pantai bermandi sinar matahari dan berderet beragam pohon berbuah tak jauh dari sana.

“Setiap bermimpi bertemu Inger, bisa dibilang selalu berakhir indah.”

“Lalu kenapa kita harus menghindarinya?” tanya Amang heran.

“Dalam setiap mimpi itu, Inger selalu berpesan bahwa tugas dia adalah mengawal dan mencabut nyawaku. Tapi, dia tidak pernah memberi tahu kapan dan di mana tugas itu akan dia tunaikan.”

Amang bergidik.

“Dia juga pernah berpesan bahwa jika suatu hari aku melihatnya di dunia ini, berarti akan ada nyawa yang hilang,” lanjut Tagata.

Amang menelan ludah dan wajahnya seketika masygul. Dia membetulkan tempat duduk lalu pandangannya menerawang membayangkan banyak hal ngeri.

***

Di Nauru, Tagata dan Amang mudah sekali menemukan tempat dan hidup layak. Dengan modal hasil bekerja di negerinya dulu, sangat cukup untuk membuka usaha baru di Nauru. Kelihaian mereka berdagang menjadi keterampilan langka di sana karena warga Nauru terbiasa hidup enak dengan penghasilan memadai dari tambang. Tagata dan Amang bahagia bisa ikut menikmati kehidupan yang nyaman dan aman itu. Mereka bahkan berhasil membeli kedai kecil di pusat perbelanjaan.

Apalagi alam Nauru sungguh elok. Jauh lebih elok dari negerinya yang gersang dan kerap terjadi bentrok. Tagata dan Amang merasa lari dari neraka dan menemukan surga. Berbulan-bulan mereka menikmati hidup tenang dan mapan. Namun, hidup tak pernah selamanya baik-baik saja, selalu ada hal-hal yang membuat khawatir dan akhirnya merusak ketenangan.

Pagi baru datang membawa angin semilir dan sinar lembut dari timur. Amang baru saja membuka kedai ketika desir angin membelai wajahnya. Matanya memicing disapa sinar matahari. Beberapa menit kemudian Tagata datang membawa dua bungkus roti untuk sarapan. Sembari menunggu pelanggan, mereka menikmati pagi dengan roti dan secangkir kopi.

Menjelang suapan terakhir, Tagata mematung. Sisa roti yang dia pegang membeku di depan mulut. Matanya memandang lurus ke arah matahari terbit. Di kejauhan sana, terlihat siluet seorang pria berjalan mendekat. Tagata tahu, itu Inger.

“Ada urusan apa kamu ke sini?” todong Tagata begitu Inger masuk kedainya.

“Urusanku banyak. Salah satunya memastikan kau baik-baik saja,” balas Inger sembari menarik kursi dan duduk tanpa menunggu dipersilakan.

“Apa ini berarti waktuku sudah dekat?”

“Bukan hakku untuk memberi tahu.”

“Paling tidak, tolong kasih tahu aku jika memang ini belum waktuku.”

“Maaf, kawan. Bukan begitu cara kerjanya.”

***

Meskipun nada bicara Inger amat santun dan lembut, tetap saja itu mengguncang ketenangan Tagata. Kehadiran Inger selalu merujuk kepada ingatan tentang kematian. Itulah yang mendorong dia mengajak Amang pindah jauh ke timur meninggalkan Nauru. Amang sempat menolak lantaran sudah terlalu nyaman di Nauru.

“Tuan, kenapa kita harus lari lagi? Lagi pula, apakah kita memang bisa lari dari kematian?”

“Selama kita menjauh dari Inger, selama itu pula kita selamat,” jawab Tagata sekenanya karena tak menduga mendapat pertanyaan itu dari Amang.

“Jangan-jangan dia juga akan mengikuti kita di tempat baru nanti.”

“Aku sudah mencari tahu dan menemukan tempat yang ramai. Semoga Inger kesulitan menemukan kita.”

“Baiklah, saya ikut saja. Saya malah senang bisa keliling tempat-tempat indah.”

Setelah menempuh sebulan perjalanan dengan kapal laut, sampailah mereka di sebuah kota di lereng gunung di Tiongkok. Kota ini amat ramai baik siang maupun malam. Penduduk kota seolah tak pernah libur. Tagata sengaja memilih kota ini dengan maksud mengecoh Inger agar dia kesulitan menemukannya di tengah jutaan orang.

Tiga bulan, lima bulan, tujuh bulan, sembilan bulan setengah, hidup mereka baik-baik saja. Mereka membuka kedai makan dengan menu khas bebek panggang. Di sebelah kedai mereka, berdiri kedai buah. Kali ini musim durian, tapi bukan sembarang durian. Durian langka yang hanya ada di pegunungan situ.

Amang tergoda oleh aroma harumnya. Ia menunjuk durian seukuran kepala bocah. Pemilik kedai membantu membukanya dan segera menguar aroma wangi begitu terlihat buah kuning tembaga.

Amang segera mencolek buah lembek itu dan meletakkannya di ujung lidah. Tanpa sadar matanya terpejam mencecap sensasi rasa yang baru kali ini dia temukan. Seperti tapai, tapi jauh lebih manis, lebih gurih, dan lebih lembut. Amang mencolek lagi dan sekali-kali membiarkan buah itu diam beberapa saat di tengah lidahnya yang dia kurung dalam mulut mengatup. Hidungnya menangkap aroma wangi tiada tara. Seketika itu Amang menyimpulkan inilah buah paling nikmat yang pernah dia rasakan.

“Menikmati durian itu paling top dengan mengambil serta bersama bijinya lalu mencomotnya per lahan,” si penjual durian memberi saran.

“Begitukah?”

“Coba saja. Bila memungkinkan, bisa sekalian mengulum bijinya sampai bersih.”

Amang mencoba kedua cara itu. Benar belaka. Durian berlemak itu begitu nikmat memenuhi mulut. Lalu dia mengulum biji durian itu, tapi pemilik kedai rupanya lupa bahwa untuk mengulum biji durian butuh keahlian tertentu. Bila tidak, bisa berakhir celaka seperti Amang saat ini, matanya melotot dan kesulitan bernapas. Tampaknya dia tersedak biji durian.

Pemilik kedai segara bangkit dan memeluk Amang dari belakang lalu menyentakkan dekapannya dengan tujuan menghasilkan dorongan dari rongga perut agar biji itu segera keluar dari kerongkongan. Gagal.

Amang memegangi lehernya dengan wajah memerah, lalu membiru dan mata kian melotot. Tagata yang ikut panik melihat itu segera membantunya dengan segala cara, termasuk cara-cara yang tidak pernah dia ketahui. Dia masukkan jemarinya ke dalam kerongkongan Amang mencoba menarik biji durian yang terlihat sebagian itu. Sial. Biji itu justru melesak masuk.

Pemilik kedai durian tak memperhitungkan jika ukuran biji durian itu terlampau besar untuk rongga kerongkongan Amang. Dia lupa untuk memberi tahu agar Amang mencoba buah yang kecil atau sedang saja. Terlambat sudah.

“Biarkan saja. Sia-sia kalian menolongnya.” Tiba-tiba terdengar suara yang sangat akrab di telinga Tagata.

Entah sejak kapan Inger berdiri sembari menyandarkan bahu kirinya ke pintu kedai dan kaki kanannya menyilang bertumpu pada kaki kiri sambil bersedekap. Senyumnya tengil seperti penjudi yang baru saja menang taruhan.

“Jangan berdiri saja di situ. Bantu dia!” hardik Tagata.

“Tak ada gunanya,” kata Inger sembari melangkah pelan.

Amang meregang nyawa lalu lemas tanpa tanda-tanda kehidupan. Tagata masih kebingungan menyaksikan peristiwa yang singkat itu. Sebaliknya, Inger tetap tersenyum cerah. “Satu tugasku sudah selesai.”

“Apa maksudmu?”

“Sesuai perjanjian, ia memang harus mati di sini, saat menyantap buah paling nikmat di dunia.”

“Jadi, yang selama ini kamu incar bukan aku?”

“Siapa bilang aku mengincar kau?”

sumber : Media Indonesia, Min, 07 Nov 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme