Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Dongeng Enceng

Posted on Ming, 12 Sep 2021

TERKEJUT. Seperti mendengar harimau mengaum di tengah kota. Saat menunggu kereta KRD di Stasiun Bandung, Enceng berbisik: “Sepertinya, jadi menjambret.”

Tangan bergetar di dalam saku jaket. Beberapa lembar uang yang jumlahnya hanya seratus dua puluh lima ribu rupiah terasa kasarnya. Hasil kerja serabutan selama dua minggu. Penghasilan yang menyedihkan.

Awalnya memang asal pergi. Setidaknya membuat harapan bagi yang di rumah. Setelah menunggu jadi laden (asisten) tukang tembok tidak ada yang mengajak, buruh tani sudah kelewat musim. Hasilnya hanya ini, seratus dua puluh lima ribu rupiah dalam dua minggu.

Enceng sepertinya frustrasi dengan penghasilan seperti ini. Sudah terbayang, penghasilan sebesar itu tidak akan cukup buat yang di rumah. Untuk sehari-hari saja pastinya cepat habis. Apalagi bila dipakai membayar ke warung atau tetangga. Siapa tahu tidak akan terbeli beras.

Tapi tidak saya layani omongan ngelantur-nya. Saya lalu terbenam dengan pikiran, mending beli beras di jalan atau dibawa uangnya buat yang di rumah? Dibawa uangnya, tentu bisa membuat yang di rumah lebih gembira, uang terlihat lebih besar. Tapi sialnya, bila begitu datang disusul oleh tetangga yang mengira saya membawa uang banyak. Mereka pasti menagih utang.

Tetangga juga keadaannya tidak jauh berbeda dengan saya. Tinggal di perkampungan, tapi sebenarnya bukan orang kampung. Kami hanya tinggal di perumahan bangkrut yang dibuat developer di kampung. Katanya awalnya buat perumahan karyawan pabrik stik, tapi sebelum selesai dibangun, pabriknya sudah bangkrut.

Jadinya harga rumah di perumahan bangkrut itu sangat murah. Hampir semua rumah harganya di bawah lima puluh juta rupiah. Malah ada yang harganya dua puluh juta rupiah. Masih adakah harga rumah sebesar itu pada 2020?

Bila tidak tinggal di Perumahan Cisangsara Indah, tentunya saya tidak akan percaya. Tapi meski murah untuk ukuran umum, saya sendiri sering kesusahan hanya untuk membayar sewa kontrak yang hanya lima ratus ribu rupiah setahun. Ya, karena pekerjaan yang tidak jelas ini, penghasilan pun tidak jelas.

Karenanya, sangat bisa dimengerti bila Enceng frustrasi. Dia sendiri sama saja dengan saya, dengan tetangga kebanyakan. Saya sendiri tidak terhitung berapa kali putus asa. Tapi akhirnya hanya menggali singkong atau ubi di kebun orang kampung. Tidak sampai berpikir menjambret atau membegal.

Itu sebabnya orang kampung, terutama pegawai desa, terasa tidak begitu suka dengan penduduk Cisangsara Indah. Ada jejak menggali ubi atau singkong, ayam hilang, sampah dibuang sembarangan, tuduhannya selalu ke orang Cisangsara Indah. Bila tidak terpaksa, orang-orang kaya di kampung tidak mempekerjakan orang Cisangsara Indah untuk menggarap kebun mereka.

Seperti dianaktirikan. Bila ada keperluan ke desa seperti meminta surat keterangan tinggal untuk membantu anak sakit di rumah sakit, sudah biasa dipersulit. Malah akhirnya tidak dikasih. Tidak tercatat di database kependudukan, itu alasannya. Belum pernah memberi surat pindah ke RT, RW, dan desa.

Saya, sama saja dengan Enceng, kesulitan mengurus surat pindah karena rumah di Cisangsara Indah itu kontrakan. Bila besok atau lusa diminta oleh pemiliknya, tentu saja harus segera pindah dari rumah ini. Selama ini kontrak rumah saja diurus oleh tetangga yang lebih dulu tinggal di sini, bukan benar-benar ke pemilik rumah. Ah, tapi mungkin itu hanya permainan pegawai desa saja karena kepada yang ngasih uang, suratnya langsung dibuatkan meski nomor KK ditembak.

Orang Cisangsara Indah hanya diaku sebagi warga bila pemilu, apakah pemilihan kepala desa, legislatif, atau bupati sampai presiden. Atau bila orang kampung mau memperbaiki jalan dengan biaya dana desa. Warga dikumpulkan di balai RW, diajak musyawarah karena harus seperti itu katanya negara demokrasi, lalu diumumkan pembangunan jalan, siapa yang mau ikut bekerja harus daftar. Pasti dibayar, katanya, karena ini menggunakan dana desa.

Saya, Enceng, dan warga lainnya yang kerjanya serabutan tentu saja langsung mengacungkan tangan untuk ikut bekerja. Sepuluh hari memperbaiki jalan itu selesai. Setelah semuanya beres, semua ngantre dibayar yang besarnya tiga puluh ribu rupiah sehari. Guru Nata besoknya memprotes.

“Proyek seratus juta rupiah hanya sampai enam puluh atau tujuh puluh juta rupiah, terserah Bapak-Ibu yang mau mempertanggungjawabkannya dunia akhirat,” kata Guru Nata kepada Pegawai Desa. “Tapi masyarakat yang bekerja hanya dibayar tiga puluh ribu rupiah sehari, itu keterlaluan! Kata Presiden di televisi, dana desa itu buat menyejahterakan masyarakat desa!”

Saya, seperti kebanyakan warga lainnya, tidak mengerti apa-apa. Hanya setelah ‘seperti berantem’ di balai RW itu, saya dan tetangga lainnya yang bekerja perbaikan jalan itu dikasih lagi uang selembar seratus ribu rupiah. Tapi hasil lainnya, orang Cisangsara Indah semakin tidak disukai Pegawai Desa.

Itu juga yang menyebabkan kerja serabutan semakin menyengsarakan saya dan tetangga lainnya. Semakin sering ada petani lapor ke desa kebunnya rusak dicuri orang. Harus diakui, saya juga sering melakukan itu. Bila terpaksa. Bila sudah gelap mata. Bila tidak tahan melihat dua anak kurus dan emaknya yang menangis. Tapi tidak sampai pikiran saya pada kata menjambret atau membegal.

“Bagaimana, semalam saja lagi, kita jangan pulang sekarang. Kita menjambret dulu,” bisik Enceng. Saya menatap wajahnya yang seperti tidak berdarah. Jantung semakin terasa degupnya.

“Bila ada yang keluar dari bank, yakinkan dia membawa uang jutaan. Tugas kamu hanya mengamati!” bisiknya lagi. Tapi suaranya membuat sakit telinga saya.

“Saya mau pulang! Pulang!” teriak saya lalu segera naik ke KRD.

Sampai di rumah, betul saja istri saya kebingungan membagi-bagi uang. Sementara saya semakin terhantui oleh kata-kata Enceng. Pernah saya mendengar anak-anak geng mabuk-mabukan lalu membegal sampai melukai korbannya, tapi bisikan Enceng tidak bisa disamakan dengan itu. Bisikan Enceng memendam sakit dan perih yang sudah menyayat bertahun-tahun.

“Kenapa sejak datang lesu begitu?” kata istri saya. “Tidak apa hasilnya hanya segini. Sudah biasa membagi-bagi yang sedikit. Yang penting, Akang tetap semangat. Itu yang membuat Nyai juga kuat.”

“Bukan soal kita, bukan memikirkan kita, tapi si Enceng.”

“Si Enceng? Orang mana?”

“Teman kerja Akang, dua tahun yang lalu datangnya ke perumahan ini. Rumahnya di gang terakhir, empat gang dari rumah kita.”

“Yang mana, ya? Sepertinya nama panggilan, ya?”

Tidak berlanjut perbincangan itu karena ada tetangga yang ngajak istri ke balai RW. Katanya ada calon kepala desa yang mau bertemu warga sambil membagi-bagi sembako.

Hanya dua hari saya di rumah. Setelah ke sana-kemari mendatangi kenalan tapi tidak ada pekerjaan, saya berangkat lagi ke kota. Hanya berdua dengan Enceng. Setelah dua hari menawarkan diri untuk membersihkan halaman rumah orang tidak ada yang mau, setelah nangkring di pasar tidak ada yang menyuruh mengangkut barang apa pun, bisikan Enceng yang membuat sakit telinga itu ada lagi.

“Ikuti saja caranya menjambret bagaimana saya,” kata Enceng.

Dengan pikiran tidak menentu saya mengikutinya. Setelah beberapa jenak mengamati halaman bank, saya menunjuk seorang wanita gemuk keluar dari bank sambil memasukkan amplop cokelat ke tasnya. Waktu wanita itu membuka mobil, Enceng mendorongnya sambil merebut tas. Lalu Enceng berlari. Cara menjambret yang teledor, gumam saya. Lalu saya pun ikut berlari.

Wanita gemuk itu berteriak. Tidak begitu lama, orang-orang mengepung, Enceng dijatuhkan dan dipiting satpam. Saya juga. Buk-buk-buk, orang-orang memukuli dan menendangi. Sakitnya hanya sebentar karena kemudian saya tidak ingat apa-apa. Sadar-sadar sudah di sel Polres. Sakit dan perih sekujur tubuh. Di hadapan, istri saya menangis, begitu memilukan.

“Maafkan, Nyai. Si Enceng yang frustrasi, yang menjambret.”

Istri saya semakin mengisak, isak yang sakit hati.

“Si Enceng yang….”

“Kang, tidak ada yang namanya Enceng di perumahan kita! Akang berangkat kerja sendiri. Si Enceng itu hanya ada di pikiran Akang!”

Luka semakin terasa sakit dan perih. Tapi luka yang di sini, di dalam hati, lebih berdarah-bernanah. (M-2)

Kang, Akang = panggilan kepada kakak laki-laki, suami, atau lelaki yang lebih tua.

Nyai = panggilan kepada wanita yang lebih muda.

Yus R Ismail menulis cerpen, novel, dan puisi dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Lima karyanya dimuat dalam antologi cerita pendek In the Small Hours of the Night, terjemahan CW Watson (Lontar, 2019). Sekarang tinggal di kampung Rancakalong, Sumedang, Jawa Barat, menanam bunga hias dan menulis.

sumber : Media Indonesia, Min, 12 Sep 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme