“AKU sudah bilang berkali-kali, Mak!” teriakku pada Mak yang memegang jarum serta gulungan benang di tangan kanan dan sebuah celana dalam kusam-dan-bolong-dengan karet pinggang yang melar di tangan kirinya. “Beli, Mak! Beli! Apa susahnya beli sempak hari ini!”
Dan selalu, Mak menatapku.
Sejak kecil aku tak pernah kuat beradu tatapan dengan perempuan 60 tahun yang memilih sendiri sejak Bapak meninggalkannya pada 1980 ketika usianya bahkan belum genap 40. Dan sampai hari ini aku sungguh tak mengerti keputusan Kak Romli, Kak Jamal, dan Kak Jaiz, ikut Bapak. Memang Bapak yang seorang pengusaha panglong kayu mengiming-imingi kami hidup dan pendidikan yang layak, terlebih kalau ia terpilih jadi kades tahun berikutnya. Tapi, aku yang waktu itu duduk di kelas dua SMP lebih percaya pada Mak.
“Yakin tidak ikut ketiga kakakmu, Mir?”
Aku ingin bilang kalau aku tidak mau jadi anak durhaka, tapi aku tahu itu percuma. Bapak menerima keputusanku, sebagaimana Ibu menerima keputusan ketiga kakakku. “Kita tetap keluarga,” kata Bapak. Apakah sudah diajari atau inisiatif sendiri, ketiga kakakku juga mengatakan hal yang sama. “Kalau aku ikut kalian,” suaraku bergetar, “Siapa yang jaga Mak?” lalu aku menangis.
Sejak itu, selain tiap pagi kami menyadap karet di kebun yang tak seberapa luasnya, Mak juga rajin memvermak apa saja dengan jarum dan benang di tangan, tak terkecuali celana dalam. “Nggak usah malu pakai sempakmu yang itu, Mir. Enggak ada yang liat bolongnya. Karetnya sudah Mak lipat dan jahit mati, enggak akan melar apalagi putus!” Selalu begitu bila ia menangkap basah aku memandangi tumpukan sempak yang kusam dan bolong di sana-sini di lemari tanpa pintu di kamarku.
Setamat SMP aku mengadu nasib ke luar Binjai, sedangkan ketiga kakakku dipercayai Bapak untuk mengurus panglong kayunya yang tersebar di beberapa simpang di Muarakelingi, kecamatan yang membawahi dusun tempat kami tinggal.
Sebulan sekali aku dan Mak rajin berkirim surat lewat mobil jenis L-300 jurusan Binjai yang tiba di terminal atas sebelum Zuhur dan putar balik pukul dua siang. Dari Markum atau anak sopir itu, aku tahu kalau Mak selalu memintaku pulang, paling tidak tiap Lebaran. Kalau tidak Idul Fitri, ya Lebaran haji. Tapi, aku yang sebelum 1995 pontang-panting menjadi anak kapak perkebunan karet di Kikim, Komering, Lebong, bahkan sampai Martapura, dan Liwa, sudah bertekad hanya akan pulang kalau membawa uang cukup banyak buat Mak dan itu tampaknya baru terwujud tiap lima tahun. Syukurnya, Markum atau putranya tidak keberatan mengirimkan kembali surat Mak ke tempat kerjaku yang sering berpindah-pindah (tentu saja karena tiap menitipkan surat balasan, selalu kuselipkan uang rokok di dalam amplop).
Alhamdulillah, sejak jadi sopir sebuah keluarga kaya di Lubuklinggau tiga tahun belakangan, aku bisa mengirimi Mak uang tiap bulan. Jadi, meskipun 1997-1999 perekonomian lumpuh dan orang-orang dusun banyak yang menganggur, aku tidak khawatir dengan kabar bahwa Mak tidak lagi menyadap karena harga karet terjun bebas.
Perbaikilah rumah panggung kita atau belilah baju baru kalau Mak mau atau bukalah warung kalau Mak butuh kesibukan, tulisku akhir tahun lalu. Hari Raya Kurban tahun depan aku balik, Mak, soalnya majikanku butuh sopir buat wira-wiri pas Idul Fitri.
Sejak itu Mak jarang membalas suratku. Tapi, aku tidak perlu kecewa sebab, dari Markum pula, aku tahu kalau Mak sehat wal afiat. “Bahkan, ketiga kakakmu yang sudah jatuh miskin itu sekarang sudah sering kulihat main ke rumah panggung makmu, Mir,” beritahunya awal \ 2000 itu. Tentu saja perasaanku berdenyar-denyar sehingga aku merasa perlu menunjukkan sikapku.
Terserah Mak mau bagaimana sama mereka. Aku cuma mau bilang, “Ke mana mereka selama ini ketika Mak hidup susah? Memangnya kenapa mereka baik sama Mak sekarang? Apa sejak enggak jadi kades lagi, penyakit gila kawinnya Bapak belum juga sembuh? Kata Markum, istri barunya, entah yang keberapa itu, menyingkirkan mereka dari panglong-panglong Bapak, ya?”
Lagi, Mak tak membalas suratku.
Hingga … Lebaran haji 2000 itu tiba. Majikanku bahkan menyuruhku pulang sepekan sebelum Idul Adha. “Kamu tidak pernah izin. Sekali ini, jangan sebentar-sebentar,” kata mereka seraya memberiku amplop yang cukup tebal. “Buat Mak dan bagi-bagi angpao sama ponakan-ponakanmu.” Ah, mereka memang baik.
Kerinduan dan kegeraman menemaniku sepanjang perjalanan. Aku rindu Mak, rumah panggung kami yang mungkin atap atau dapur atau kamarnya sudah Mak perbaiki, juga pindang baung yang Mak masak di atas api kayu bakar yang menguar aroma asap yang khas; aku juga ingin tahu kenapa Mak begitu mudahnya menerima ketiga anak durhaka itu. Aku penasaran, bagaimana mereka memperdayai Mak?!
Setelah berpelukan erat di muka jenjang dengan berlinang air mata, Mak menanyakan apakah aku ingin bertemu kakak-kakakku yang tinggal di dusun seberang. Tentu saja aku menggeleng. “Sore ini aku ingin makan pindang baung, Mak,” kataku sambil menggantung kemeja di tanduk rusa di dinding ruang tengah. Aku masuk kamar, mengempaskan tubuh di dipan yang, meskipun hampir lima tahun tidak kutiduri, tetap nyaman karena rajin Mak bersihkan. O, aroma kayu rumah panggung dan kapuk tua rumah ini, sungguh kurindu-serindunya, hingga … tanpa sadar aku terlelap hingga azan Asar membuatku terjaga.
Seusai mengimami Mak salat, aku langsung ke meja makan. Mak beberapa kali tersenyum lebar melihat aku menambah nasi dan pindang berkali-kali. “Aku baru mengontrak rumah yang layak di Linggau. Mak ikut Amir abis Lebaran ini, ya?” kataku seraya mencuci tanganku di kobokan
Mak menghela napas, lalu bangkit, berjalan ke kamarnya.
Aku mengikutinya seraya mengulangi pertanyaanku hingga tiga kali dengan intonasi yang makin meninggi. Dan… ketika Mak duduk di depan mesin jahit, pandanganku bertabrakan dengan tumpukan celana dalam bolong dan lusuh di tepi dipan. “Mak,” kataku geram, “apa uang kirimanku tidak cukup buat beli sempak? Atau… jangan-jangan uang itu Mak bagi ke anak-anak durhaka itu? Amir tahu kalau sekarang mereka dapat karmanya. Hidup mereka susah sehingga mulai merapat lagi ke Mak!” Aku benar-benar emosi hingga aku menangis sendiri karena ketakutan mendapati amarah membakar semuanya.
“Kau tahu, bukan, kalau ini sudah kebiasaan Mak?” suara Mak memarau. “Buat apa beli sempak baru, kalau tidak pula kelihatan oleh orang-orang pas kita pakai. Kalau masih bisa dijahit karetnya, sempak yang bolong pun masih nyaman.”
Oh, mata Mak sudah menjadi dua kelereng api. Aku menyesal telah memuntahkan segalanya barusan.
“Dan kamu benar, Mir!” Mak berjalan menuju lemarinya dan mengeluarkan dua celengan ayam dan menumpasnya di hadapanku. Tanah liat kering dan recehan yang jumlahnya tak seberapa beramburan di lantai kayu. “Buat apa menabung uang yang kaukirimkan karena harta tak dibawa mati? Sekarang kau lihat!” ia menunjuk lantai kayu yang kini diseraki uang receh dan pecahan tanah liat. “Mak pun tak menabung pemberianmu. Mak juga tidak memperbaiki apa pun karena rumah pusaka ini masih kokoh. Empat tahun ini, keluarga kakak-kakakmu ambruk. Mereka jadi anak kapak dengan upah yang tak bisa diandalkan. Mana bisa Mak makan enak atau beli sempak baru atau bahkan menabung ketika anak-cucu Mak makan saja susah!”
“Aku kirim uang buat Mak, bukan buat …”
“Itu sudah jadi uangku, Nak!” rahang Mak mengeras. “Apa tak berhak Mak mempergunakannya untuk membantu saudara-saudaramu? Mereka anak-anakku. Mak harap itu bisa mencairkan ketegangan di antara kalian. Kakak-kakakmu sudah bersujud di kaki Mak dan mereka sangat ingin minta maaf kepadamu.”
“Mereka sudah lama tak kuanggap …”
“Tapi, bagi Mak,” air mata Mak meleleh, “sekali anak, tetap anak ….” Pipi Mak basah oleh air asin. “Mak tidak akan bisa membuang kakak-kakakmu, Mir. Baik dari dalam pikiran, perasaan, doa, dan rezekiku …”
Aku terenyak. Aku berjalan pelan, mendekati Mak. Perempuan paling baik sedunia itu balas memelukku. Aku meminta maaf, meski sakit hatiku kepada ketiga kakakku bagai lubang paku di semen dinding yang masih muda: retak, pecah, dan beremah-remah.
“Mak, ikutlah aku ke Linggau,” lagi, bisikku di punggungnya.
Mak menggeleng di dadaku, “Masa lalu kalian adalah warna yang memudar dan bolong-bolongnya kehidupan, Mir.”
Pelukanku makin erat. Ikutlah denganku, Mak.
“Mak tak boleh kalah. Mak tak ingin jadi karet yang putus. Mak ingin terus punya nyawa, hingga kalian berkumpul lagi. Sebagai anak-anak Mak seperti dulu,” katanya seraya merenggangkan pelukan.
Toa masjid dusun menyiarkan rekaman kaset mengaji menjelang Magrib. Celana dalam yang kusam dan bolong-bolong di atas dipan Mak itu kupandangi lekat-lekat. Gulungan benang jatuh dari mesin jahit, menggelinding di lantai kayu yang mengilap, terus menggelinding, menggelinding, dan menggelinding … bagai menuntunku menyongsong belantara … tanpa tepi, yang sepi, yang sepia.
“Lebaran ini,” suara Mak memarau, “maafkanlah mereka, Nak.”(*)
sumber : Media Indonesia, Min, 18 Jul 2021.