Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Yang Sepia, Pernah Sepia

Posted on Ming, 18 Jul 2021

“AKU sudah bilang berkali-kali, Mak!” teriakku pada Mak yang memegang jarum serta gulungan benang di tangan kanan dan sebuah celana dalam kusam-dan-bolong-dengan karet pinggang yang melar di tangan kirinya. “Beli, Mak! Beli! Apa susahnya beli sempak hari ini!”

Dan selalu, Mak menatapku.

Sejak kecil aku tak pernah kuat beradu tatapan dengan perempuan 60 tahun yang memilih sendiri sejak Bapak meninggalkannya pada 1980 ketika usianya bahkan belum genap 40. Dan sampai hari ini aku sungguh tak mengerti keputusan Kak Romli, Kak Jamal, dan Kak Jaiz, ikut Bapak. Memang Bapak yang seorang pengusaha panglong kayu mengiming-imingi kami hidup dan pendidikan yang layak, terlebih kalau ia terpilih jadi kades tahun berikutnya. Tapi, aku yang waktu itu duduk di kelas dua SMP lebih percaya pada Mak.

“Yakin tidak ikut ketiga kakakmu, Mir?”

Aku ingin bilang kalau aku tidak mau jadi anak durhaka, tapi aku tahu itu percuma. Bapak menerima keputusanku, sebagaimana Ibu menerima keputusan ketiga kakakku. “Kita tetap keluarga,” kata Bapak. Apakah sudah diajari atau inisiatif sendiri, ketiga kakakku juga mengatakan hal yang sama. “Kalau aku ikut kalian,” suaraku bergetar, “Siapa yang jaga Mak?” lalu aku menangis.

Sejak itu, selain tiap pagi kami menyadap karet di kebun yang tak seberapa luasnya, Mak juga rajin memvermak apa saja dengan jarum dan benang di tangan, tak terkecuali celana dalam. “Nggak usah malu pakai sempakmu yang itu, Mir. Enggak ada yang liat bolongnya. Karetnya sudah Mak lipat dan jahit mati, enggak akan melar apalagi putus!” Selalu begitu bila ia menangkap basah aku memandangi tumpukan sempak yang kusam dan bolong di sana-sini di lemari tanpa pintu di kamarku.

Setamat SMP aku mengadu nasib ke luar Binjai, sedangkan ketiga kakakku dipercayai Bapak untuk mengurus panglong kayunya yang tersebar di beberapa simpang di Muarakelingi, kecamatan yang membawahi dusun tempat kami tinggal.

Sebulan sekali aku dan Mak rajin berkirim surat lewat mobil jenis L-300 jurusan Binjai yang tiba di terminal atas sebelum Zuhur dan putar balik pukul dua siang. Dari Markum atau anak sopir itu, aku tahu kalau Mak selalu memintaku pulang, paling tidak tiap Lebaran. Kalau tidak Idul Fitri, ya Lebaran haji. Tapi, aku yang sebelum 1995 pontang-panting menjadi anak kapak perkebunan karet di Kikim, Komering, Lebong, bahkan sampai Martapura, dan Liwa, sudah bertekad hanya akan pulang kalau membawa uang cukup banyak buat Mak dan itu tampaknya baru terwujud tiap lima tahun. Syukurnya, Markum atau putranya tidak keberatan mengirimkan kembali surat Mak ke tempat kerjaku yang sering berpindah-pindah (tentu saja karena tiap menitipkan surat balasan, selalu kuselipkan uang rokok di dalam amplop).

Alhamdulillah, sejak jadi sopir sebuah keluarga kaya di Lubuklinggau tiga tahun belakangan, aku bisa mengirimi Mak uang tiap bulan. Jadi, meskipun 1997-1999 perekonomian lumpuh dan orang-orang dusun banyak yang menganggur, aku tidak khawatir dengan kabar bahwa Mak tidak lagi menyadap karena harga karet terjun bebas.

Perbaikilah rumah panggung kita atau belilah baju baru kalau Mak mau atau bukalah warung kalau Mak butuh kesibukan, tulisku akhir tahun lalu. Hari Raya Kurban tahun depan aku balik, Mak, soalnya majikanku butuh sopir buat wira-wiri pas Idul Fitri.

Sejak itu Mak jarang membalas suratku. Tapi, aku tidak perlu kecewa sebab, dari Markum pula, aku tahu kalau Mak sehat wal afiat. “Bahkan, ketiga kakakmu yang sudah jatuh miskin itu sekarang sudah sering kulihat main ke rumah panggung makmu, Mir,” beritahunya awal \ 2000 itu. Tentu saja perasaanku berdenyar-denyar sehingga aku merasa perlu menunjukkan sikapku.

Terserah Mak mau bagaimana sama mereka. Aku cuma mau bilang, “Ke mana mereka selama ini ketika Mak hidup susah? Memangnya kenapa mereka baik sama Mak sekarang? Apa sejak enggak jadi kades lagi, penyakit gila kawinnya Bapak belum juga sembuh? Kata Markum, istri barunya, entah yang keberapa itu, menyingkirkan mereka dari panglong-panglong Bapak, ya?”

Lagi, Mak tak membalas suratku.

Hingga … Lebaran haji 2000 itu tiba. Majikanku bahkan menyuruhku pulang sepekan sebelum Idul Adha. “Kamu tidak pernah izin. Sekali ini, jangan sebentar-sebentar,” kata mereka seraya memberiku amplop yang cukup tebal. “Buat Mak dan bagi-bagi angpao sama ponakan-ponakanmu.” Ah, mereka memang baik.

Kerinduan dan kegeraman menemaniku sepanjang perjalanan. Aku rindu Mak, rumah panggung kami yang mungkin atap atau dapur atau kamarnya sudah Mak perbaiki, juga pindang baung yang Mak masak di atas api kayu bakar yang menguar aroma asap yang khas; aku juga ingin tahu kenapa Mak begitu mudahnya menerima ketiga anak durhaka itu. Aku penasaran, bagaimana mereka memperdayai Mak?!

Setelah berpelukan erat di muka jenjang dengan berlinang air mata, Mak menanyakan apakah aku ingin bertemu kakak-kakakku yang tinggal di dusun seberang. Tentu saja aku menggeleng. “Sore ini aku ingin makan pindang baung, Mak,” kataku sambil menggantung kemeja di tanduk rusa di dinding ruang tengah. Aku masuk kamar, mengempaskan tubuh di dipan yang, meskipun hampir lima tahun tidak kutiduri, tetap nyaman karena rajin Mak bersihkan. O, aroma kayu rumah panggung dan kapuk tua rumah ini, sungguh kurindu-serindunya, hingga … tanpa sadar aku terlelap hingga azan Asar membuatku terjaga.

Seusai mengimami Mak salat, aku langsung ke meja makan. Mak beberapa kali tersenyum lebar melihat aku menambah nasi dan pindang berkali-kali. “Aku baru mengontrak rumah yang layak di Linggau. Mak ikut Amir abis Lebaran ini, ya?” kataku seraya mencuci tanganku di kobokan

Mak menghela napas, lalu bangkit, berjalan ke kamarnya.

Aku mengikutinya seraya mengulangi pertanyaanku hingga tiga kali dengan intonasi yang makin meninggi. Dan… ketika Mak duduk di depan mesin jahit, pandanganku bertabrakan dengan tumpukan celana dalam bolong dan lusuh di tepi dipan. “Mak,” kataku geram, “apa uang kirimanku tidak cukup buat beli sempak? Atau… jangan-jangan uang itu Mak bagi ke anak-anak durhaka itu? Amir tahu kalau sekarang mereka dapat karmanya. Hidup mereka susah sehingga mulai merapat lagi ke Mak!” Aku benar-benar emosi hingga aku menangis sendiri karena ketakutan mendapati amarah membakar semuanya.

“Kau tahu, bukan, kalau ini sudah kebiasaan Mak?” suara Mak memarau. “Buat apa beli sempak baru, kalau tidak pula kelihatan oleh orang-orang pas kita pakai. Kalau masih bisa dijahit karetnya, sempak yang bolong pun masih nyaman.”

Oh, mata Mak sudah menjadi dua kelereng api. Aku menyesal telah memuntahkan segalanya barusan.

“Dan kamu benar, Mir!” Mak berjalan menuju lemarinya dan mengeluarkan dua celengan ayam dan menumpasnya di hadapanku. Tanah liat kering dan recehan yang jumlahnya tak seberapa beramburan di lantai kayu. “Buat apa menabung uang yang kaukirimkan karena harta tak dibawa mati? Sekarang kau lihat!” ia menunjuk lantai kayu yang kini diseraki uang receh dan pecahan tanah liat. “Mak pun tak menabung pemberianmu. Mak juga tidak memperbaiki apa pun karena rumah pusaka ini masih kokoh. Empat tahun ini, keluarga kakak-kakakmu ambruk. Mereka jadi anak kapak dengan upah yang tak bisa diandalkan. Mana bisa Mak makan enak atau beli sempak baru atau bahkan menabung ketika anak-cucu Mak makan saja susah!”

“Aku kirim uang buat Mak, bukan buat …”

“Itu sudah jadi uangku, Nak!” rahang Mak mengeras. “Apa tak berhak Mak mempergunakannya untuk membantu saudara-saudaramu? Mereka anak-anakku. Mak harap itu bisa mencairkan ketegangan di antara kalian. Kakak-kakakmu sudah bersujud di kaki Mak dan mereka sangat ingin minta maaf kepadamu.”

“Mereka sudah lama tak kuanggap …”

“Tapi, bagi Mak,” air mata Mak meleleh, “sekali anak, tetap anak ….” Pipi Mak basah oleh air asin. “Mak tidak akan bisa membuang kakak-kakakmu, Mir. Baik dari dalam pikiran, perasaan, doa, dan rezekiku …”

Aku terenyak. Aku berjalan pelan, mendekati Mak. Perempuan paling baik sedunia itu balas memelukku. Aku meminta maaf, meski sakit hatiku kepada ketiga kakakku bagai lubang paku di semen dinding yang masih muda: retak, pecah, dan beremah-remah.

“Mak, ikutlah aku ke Linggau,” lagi, bisikku di punggungnya.

Mak menggeleng di dadaku, “Masa lalu kalian adalah warna yang memudar dan bolong-bolongnya kehidupan, Mir.”

Pelukanku makin erat. Ikutlah denganku, Mak.

“Mak tak boleh kalah. Mak tak ingin jadi karet yang putus. Mak ingin terus punya nyawa, hingga kalian berkumpul lagi. Sebagai anak-anak Mak seperti dulu,” katanya seraya merenggangkan pelukan.

Toa masjid dusun menyiarkan rekaman kaset mengaji menjelang Magrib. Celana dalam yang kusam dan bolong-bolong di atas dipan Mak itu kupandangi lekat-lekat. Gulungan benang jatuh dari mesin jahit, menggelinding di lantai kayu yang mengilap, terus menggelinding, menggelinding, dan menggelinding … bagai menuntunku menyongsong belantara … tanpa tepi, yang sepi, yang sepia.

“Lebaran ini,” suara Mak memarau, “maafkanlah mereka, Nak.”(*)

sumber : Media Indonesia, Min, 18 Jul 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme