Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Lamaran

Posted on Ming, 20 Jun 2021

“BUJANG Garogaro, apa kamu betul yakin pada Lasi Manih?” tanya Upik Palun menghadang Bujang Garogaro yang hendak membelah sungai dengan biduk pagi itu.

“Yakin dan tidak, juga benar dan tidaknya, itu bukan urusanmu. Lebih baik kamu jangan halangi aku!” Hendak berderai air mata Upik Palun mendengar Bujang Garogaro, tetapi cepat ia sadar kalau itu tak berarti apa-apa.

“Kita lihat saja,” ucap Upik Palun memaksa tetap tampak tegar, “semoga kamu tidak keliru dengan apa yang sudah kamu lihat. Bukan sekali-dua kali kejadian bujang dusun salah pandang dan berakhir seperti kepala babi! Aku rasa kamu juga akan berakhir seperti itu,” lanjut Upik Palun.

“Justru selama ini aku salah pandang menjadi peliharaanmu,” datar suara Bujang Garogaro, “menghabiskan waktuku untuk tunduk pada apa yang kamu suguhkan, tidaklah lain suguhan sakitmu. Kamu sakit, Upik Palun!” lanjutnya.

“Berani-beraninya kamu katakan aku sakit.” Gigi Upik Palun mulai bergemeretak, matanya membesar.

“Ingat saat kamu meminta aku mencuri buah di dalam hutan sembari tanganmu mengelus gunduk perutmu? Aku langsung berangkat tanpa berpikir ulang mengenai hukum adat! Di tengah rasa takut melangkah, aku jadi tahu bahwa upik di luar sana membuang kotoran mereka di bawah pohon kapuk, bukan di wajah bujang seperti yang kamu lakukan padaku!”

“Jangan kelewatan bicara, Bujang Garogaro!” sentak Upik Palun.

“Kamu yang jangan kelewatan! Apalagi atas nama ritual dan penyakitmu!”

“Bujang laknat!” Upik Palun tak dapat menahan marah, dua butir api meletus dalam hitam matanya menjadi bara. “Tarik ucapanmu. Jangan sampai Bahelo mengutukmu!”

Diam dan tak hirau pada Upik Palun, Bujang Garogaro menginjakkan kaki ke atas biduk.

“Bujang Garogaro! Baiknya urung niatmu, atau kamu akan lebih menyesal!”

Melihat Bujang Garogaro tidak peduli, Upik Palun meloncat ke biduk–hendak memeluk sekaligus menahannya–Bujang Garogaro terkejut atas gerakan itu langsung melepas pukulan ke perut Upik Palun. Upik Palun terduduk lalu dicampakkan ke darat. Bujang Garogaro mulai mendayung laju biduk, hilang di balik kabut embun pagi itu. Ia terbayang akan kebodohannya yang selalu tunduk dan percaya pada apa-apa yang dikatakan Upik Palun.

***

Seekor anjing tengah keracunan sebab berganti-ganti membersihkan pantat manusia. Mata anjing itu hijau kates mengkal dengan garis lingkar memutih di tengahnya, perutnya membesar seperti jantung pisang yang berkerut dan mengeras. Dari kejauhan, tubuh anjing itu menguarkan bau tak sedap bagai setumpuk bangkai berliang tahi basah. Tak ada satu orang yang mau berdekat-dekat pada anjing itu, semua meludah dari jarak bertombak-tombak dan tak luput ada juga yang muntah sebab bau terbawa angin berembus.

Hanya Palun yang melihat sesuatu pada sosok anjing malang itu, bagai buah nangka yang manis berselimut kulit runcing bebercak hitam, ia tergerak untuk membawa anjing itu pulang, menyelamatkannya dari kesengsaraan. Walau orang yang melihatnya melemparkan kutukan-kutukan pahit, ia tak peduli.

Malam petang Palun hilir mudik mengadu tangis pada bahelo di Bukit Penggiling, ia sungguh-sungguh ingin punya pasangan serta keturunan. Kesungguhannya siap menanggung apa pun akibat atas permintaannya–tentu setelah berkali-kali menangis dan berjampi-jampi dengan sajen yang diserahkan pada bahelo–akhirnya mendatangkan langit mendung yang menggulung warna ungu, hujan keperak-perakan berjatuhan setelahnya.

Palun tersenyum dan langsung menduga, itu sebuah pertanda. Ia berlari ke tengah hujan, menampungnya dalam tempurung. Tanpa banyak mantra yang mengudara ketika ia minumkan pada anjing keracunan itu, bagai sepucuk api ditiup topan, anjing itu dapat berdiri dan duduk bersila. Mata Palun terbelalak tak menyangka. Lama-lama sang anjing dapat berjalan seperti manusia, bulu-bulu di tubuhnya rontok dan meninggalkan kulit bagai manusia pula, pada moncongnya yang berlendir, pelan-pelan ditelan waktu mengering dan tumbuh pula kumis macam jantan perkasa. Saat ia berbicara, kata-kata pertama yang didengar Palun anjing itu bertanya siapa namanya. Palun menjawab, namamu Garogaro.

***

Ketika seorang bujang jatuh hati pada upik, ia perlu datang ke Moyang Dukun dengan membawa kepala babi sebagai antaran melamar. Sebelum dapat diadakan pesta pernikahan mereka, upik harus tidur di rumah gantung–yang melayang dua kaki dari muka sungai–selama tiga hari. Tidak diberi makan dan minum tujuannya untuk membersihkan jiwa dan raga dari segala nafsu. Selanjutnya bisa dilihat, bila upik selamat dalam tiga hari, artinya leluhur telah memberi restu. Upik akan turun dengan muka berseri-seri tanpa sedikit lelah atau segaris pucat.

Tapi, bila upik tak selamat dalam tiga hari di rumah gantung, berarti bujang si pelamar bukanlah jodoh sesungguhnya, dan upik dipercaya telah tertulis berjodoh dengan roh leluhur yang telah mati. Tak jarang hal ini terjadi. Untuk menghukum bujang yang telah salah dalam memandang seorang upik yang bukan garis takdirnya, bujang akan dijerat bernasib sama seperti antaran kepala babi saat melamar.

Waktu itu sore mulai gelap, Bujang Garogaro yang berjalan di sekitar hutan tak sengaja melihat seorang upik milik paras rupawan dengan tahi lalat di atas bibir sedang buang kotoran di bawah pohon kapuk. Terasa tubuhnya bergetar-getar. Upik yang tertangkap mata Bujang Garogaro itu pun terkejut, tetapi hanya bisa diam. Tak bisa ia lari ke salah satu arah karena kakinya seperti terpacak dalam tanah.

Belum sempat sepatah kata keluar dari salah satu mulut mereka, suara teriak dari kejauhan terdengar jelas memanggil upik itu dengan nama Lasi Manih. Setelah kira-kira lima langkah Upik Lasi Manih bergerak ke arah suara, Bujang Garogaro menyebut namanya, berharap Lasi Manih sekadar menoleh, beruntungnya Bujang Garogaro mendapat tambah berupa senyuman paling teduh serta sorot binar yang mengena hatinya.

Bujang Garogaro tak segera pulang mengantar buah permintaan Upik Palun, ia malah pergi menjerat babi, diikatnya kuat-kuat satu kaki yang terjebak hingga nyaring babi itu menguik. Dilihatnya di sekitar ada batu besar. Bujang Garogaro menghantam kepala babi itu hingga remuk dan nyaris tak berbentuk. Dengan bambu kuning yang telah dipatahkan dari rimbun tempat tumbuhnya, Bujang Garogaro meruncing pucuk bambu lalu digunakan untuk memutus kepala babi dari badannya. Dan kepala itu jadi antaran hendak melamar Lasi Manih.

“Apa yang telah kamu pikirkan, Bujang Garogaro?” tanya Upik Palun saat diberi tahu keinginan besar yang mendadak tumbuh dalam diri bujang peliharaannya itu.

“Aku rasa, aku telah jatuh cinta padanya.”

“Lantas kamu anggap apa aku ini?”

Upik Palun kecewa. Bujang Garogaro tidak menjawab, hanya menundukkan kepalanya. Palun mengambil parang dan melangkah keluar, pergi meninggalkan Bujang Garogaro dalam gelap malam itu. Bujang Garogaro terbayang sesuatu yang buruk akan terjadi, ia pandang keluar, tetapi tak tahu ke mana Upik Palun telah pergi. Ia menenangkan diri dengan berdoa agar hari cepat berganti dan ia segera bisa berangkat mengantar kepala babi pada Moyang Dukun.

***

Para bujang dan upik yang melihat Bujang Garogaro menenteng kepala babi menanyakan mana wali yang bersamanya. Bujang Garogaro menjawab, satu-satunya orang yang ia kenal telah melarikan diri semalam dan ia tidak kembali. Para bujang dan upik sedikit menampakkan sikap tidak suka padanya, tetapi dengan berat hati, mereka mengizinkan juga Bujang Garogaro masuk, menemui Moyang Dukun.

“Nak Garogaro jatuh cinta pada Nak Lasi Manih? Kenapa? Apa karena melihatnya sedang buang kotoran?”

“Betul aku jatuh cinta pada Lasi Manih, Moyang Dukun. Tapi tidak betul kalau jatuh cintaku karena melihatnya membuang kotoran.”

“Ini tidak wajar. Karena para bujang lain bisa saja menuduh Nak Garogaro sudah mengintip Nak Lasi Manih. Dan seperti Nak Garogaro tahu bahwa hal itu…”

“Betul, Moyang Dukun. Tetapi sungguh, aku tidak berniat mengintip!”

“Lalu, apa bisa dijelaskan, kenapa waktu itu Nak Garogaro ada saat Nak Lasi Manih sedang buang kotoran?”

“Begini, Moyang Dukun,” ditariknya napas dalam-dalam kemudian diceritakannya tentang apa yang dirasakannya dalam tubuh, seperti ada yang bergerak meninju, tetapi tak terasa sakit, justru hanya bekas dentuman yang berulang membuatnya bergetar-getar, ia tak dapat memindahkan barang selayang arah mata memandang dari wajah Lasi Manih saat itu. Bahkan ia bersumpah atas nama tanah dan sungai untuk segala yang diceritakannya.

“Kalau memang seperti itu, tak ada yang bisa aku lakukan selain meminta Nak Garogaro menaikkan kepala babi ke pohon saat pertama melihat Nak Lasi Manih,” ucap tegas Moyang Dukun lalu menutup pembicaraan dengan harapan tidak ada kesalahan dalam memandang seorang jodoh.

***

Hari di mana seharusnya pernikahan berjalan lancar justru menjadi kisah lain. Di rumah gantung, para upik, bujang, juga Moyang Dukun tampak tak siap berpesta.

“Perlukah kita mengejar Garogaro untuk mempertanggungjawabkan ini, Moyang Dukun?” tanya seorang bujang membuat suasana semakin terdesak panas api. Sebelum ada jawaban, dari luar rumah gantung, dalam pandang kabut Moyang Dukun, sambil berkomat-kamit ia geram melihat Bujang Garogaro tampak tengah mendayung biduk di atas sungai, seolah tak tahu apa yang telah terjadi atau justru benar-benar ingin menantang.

“Punya nyali api anak itu!” ucap salah seorang bujang yang terkejut melihat kemunculan Bujang Garogaro.

Sebelum Bujang Garogaro sampai ke darat, dari atas rumah gantung, Moyang Dukun melempar sepenggal kepala, tepat ke atas biduk. “Kamu harus bayar semua ini!”

“Kepalamu harus dipenggal!” teriak bujang lain penuh amarah.

Bujang Garogaro terdiam. Matanya tertuju pada kepala yang telah ada di atas biduknya. Ia tak percaya dan berulang-ulang memperhatikan wajah milik potongan kepala itu. Dalam kabut embun tebal pagi itu, seolah nyawanya telah pergi ketika memastikan itu kepala Lasi Manih, orang yang akan dinikahinya. Matanya berdecak bara tertuju pada rumah gantung. Tangannya mengurat-urat tegang. Ia ciptakan neraka dalam dada lalu meloncat ke darat. Berbekal kekuatan api membara, Bujang Garogaro bersiap menyerang orang-orang di rumah gantung. “Aku bersumpah, kalianlah yang harus membayar perbuatan ini!” teriaknya sambil berlari penuh amarah yang terbakar. Begitu hendak memanjat rumah gantung, bau busuk kotoran Upik Palun menguar sangat dekat di hidung Bujang Garogaro. Segera langkahnya terhenti, matanya menoleh ke sekitar. (M-2)

Beri Hanna lahir di Bangko. Bergiat di Kamar Kata Karanganyar dan Tilik Sarira. Bukunya akan terbit Menukam Tambo, memenangi sayembara Kelompok Renjana, 2021.

sumber : Media Indonesia, Min, 20 Jun 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme