Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Wong Agung

Posted on Ming, 30 Mei 2021

AULA tempat mengaji mulai sepi. Lampu utama juga sudah padam. Namun, Amir masih duduk sambil bergumam dan memegang kepala. Sebagai mahasiswa eksak di sebuah perguruan tinggi negeri, Amir belum bisa menerima cerita Gus Riqza. Tidak masuk akal. Dia tak percaya ada orang yang bisa mencomot rembulan; bisa menjadikan air sebagai bahan bakar sepeda motor; dan bisa berjalan di atas air.

“Ada-ada saja Gus Riqza, mustahil,” gumam Amir sambil membetulkan letak kacamata minusnya yang makin tebal.

Gus Riqza merupakan putra seorang kiai yang masyhur di daerahnya. Setiap bakda tarawih, Gus Riqza mengadakan ngaji pasanan untuk jemaah Majlis Ngudoroso yang dia asuh. Kebanyakan mereka para pekerja pabrik dan sebagian lagi masih berstatus mahasiswa, seperti Amir. Ramadan ini, Gus Riqza membacakan kitab Akhlaq al-Muslim Alaqotuhu bi al-Mujtma’ karya Syaikh Wahbah az-Zuhaily.

Saat sampai bab amal kebaikan, Gus Riqza mencontohkan beragam amal kebaikan dan bisa menjadi sedekah, “Berdiam diri di rumah saat pandemi seperti sekarang, juga sedekah,” ujarnya. Di sela-sela ngaji, Gus Riqza berkisah tentang wong agung yang memiliki kekuatan besar, tapi selalu menahan diri untuk tidak menggunakannya. “Beliau kalau mau, bisa nyedani mereka yang mengejek. Sampai beliau emosi dan ngucap sesuatu, maka terjadi. Besok kamu mati, ya besok mati! Tapi beliau sebisa mungkin ngeker, menahan diri tidak melakukannya. Menahan tidak melakukan sesuatu yang padahal kita bisa melakukannya, itu sangat berat,” ujarnya dengan sorot mata yang tajam saat menceritakannya.

Malam itu rembulannya utuh, langitnya cerah bertabur bintang. Sinarnya menuntun Amir melihat sekeliling aula. Matanya menyapu semua sudut. Sorotnya berhenti sejenak pada jam dinding yang jarum pendeknya belum menunjuk angka 12. Pandangannya kembali mengedar dan menubruk tiga orang yang masih meriung di aula. Dibantu cahaya purnama, samar-samar dia bisa mengenalinya: Zaki, Badawi, dan Ulum. Lamat-lamat dia mendengar apa yang mereka obrolkan.

“Saya malah pernah dengar kalau beliau bisa berlipat ganda.” Itu kata-kata Ulum yang bisa Amir dengar. Lainnya tak tertangkap. Mungkin karena hanya Ulum yang suaranya kencang saat ngobrol. “Pasti bahas cerita Gus Riqza,” gumam Amir lalu mendekati mereka.

“Jadi kalian percaya?” pertanyaan itu seketika meluncur dari mulut Amir. Tanpa basa-basi, dia langsung duduk meriung, tepat di samping Zaki.

“Maksudmu, sosok yang diceritakan Gus Riqza?” Zaki menanggapi. “Iya,” jawab Amir. Spontan mereka langsung menjawab dengan jawaban yang sama, tapi volumenya berbeda. “Jelasssssssss!!!” suara Ulum terdengar paling nyaring karena volumenya tinggi dan panjang.

Zaki yang teman kuliah Amir satu jurusan, tahu arah pertanyaan Amir. Dia menepuk pundak Amir dengan peci hitamnya yang sudah lusuh. “Heh, kamu kok gak percaya kalau beliau wong agung, kekasih Gusti Allah? Beliau itu wali.”

“Jauh sebelum Gus Dur jadi presiden, beliau pernah bilang kalau Suharto akan lengser, dan Gus Dur jadi presiden,” kata Badawi. “Ini yang cerita Pak Wakid. Dan benar, Suharto lengser, dan Gus Dur juga jadi presiden,” imbuhnya. “Betul, istilahnya sabdo dadi,” timpal Zaki.

“Kang Busthomy, seniorku di sekolah pernah cerita. Dia pernah salat Jumat satu baris dengan beliau. Tapi beliau juga salat Jumat di masjid daerah lain. Jadi beliau bisa ada di banyak tempat,” Ulum ikut bercerita.

“Secara logika, tak masuk akal. Apa iya, air bisa jadi bahan bakar. Coba motormu isi air. Berani?” tantang Amir. “Dan kalau rembulan dicomot begitu saja, itu berdampak pada peredaran bumi dan matahari, pastinya alam semesta goncang. Ini jelas tidak masuk akal,” sangkal Amir lagi.

“Mir, beliau itu wali, wong agung yang suci. Jangankan cuma air jadi bahan bakar motor. Mengeluarkan air susu dari tembok, beliau juga bisa dan mudah,” kata Zaki.

“Ah, semua yang kalian ceritakan hanya katanya. Kalian tak menyaksikannya langsung. Ini zaman serbadigital, bro! Hati-hati, banyak kabar bohong dan pencitraan,” balas Amir berbarengan suara lonceng jam dari tembok aula.

“Sudah pukul 12 malam, saya pulang dulu. Mau ke Pantai Bandengan sama Kang Dono,” kata Zaki pamit pulang. “Eh sebentar, itu ada Kang Busthomy, santri ndalem. Tanya saja langsung. Dia pernah melihat sendiri keramat beliau,” susulnya sambil menunjuk seseorang yang mendekati mereka.

“Kalian kok belum pulang, sudah jam tumpuk loh,” tanya Kang Busthomy. “Iya ini Kang, lagi bahas sosok agung yang diceritakan Gus Riqza,” jawab Zaki. “Dan Amir tidak percaya, Kang,” imbuh Badawi.

“Sudah ya, saya pulang dulu. Assalamualaikum…” kata Zaki. “Waalaikumsalam…” semuanya menjawab.

Kang Busthomy mendekati Amir dan memegang pundaknya. “Kamu kenapa kok sampai tidak percaya?” tanya Kang Busthomy. “Lalu kalian di sini membicarakan beliau, dikiranya beliau tidak tahu? Jangan salah, beliau itu wali,” imbuhnya sembari melihat satu persatu wajah mereka.

Semua diam, hening. Untung malam purnama yang cerah itu, masih ada suara jangkrik yang mampu memecah keheningan. Badawi seketika ingat sesuatu. “Kang, apa saat beliau mengambil rembulan, juga pas purnama seperti sekarang?”

Kang Busthomy tak menjawab, dia menaruh jari telunjuk ke bibir karena lamat-lamat terdengar suara yang memanggil namanya. “Kalian dengar?” Tanyanya. Suaranya tak asing dan makin terdengar seru. Arahnya dari rumah yang tak jauh dengan aula. Gus Riqza. Benar, itu suara Gus Riqza. “Thom… Thomy, sini Thom.”

“Nah itu, Gus Riqza memanggil,” kata Kang Busthomy dan bergegas menuju rumah Gus Riqza.

***

Kang Busthomy kembali ke aula. “Kalian sudah ngopi?” tanyanya. “Belum, Kang!” Ulum cepat menjawab. “Kebetulan, Gus Riqza menawarkan kopi. Nanti bisa sekalian bertanya tentang sosok wong agung yang barusan kalian obrolkan,” kata Kang Busthomy sambil melirik Amir dan mengajak mereka masuk ke rumah Gus Riqza.

Gus Riqza duduk bersila di ruang tamu, bersarung batik hijau; kaus oblong putih; dan peci yang tingginya sekitar 11 sentimeter berwarna hijau mirip samber lilin. Di depannya ada meja setinggi 50 sentimeter dengan panjang 3 meter yang di atasnya berjejer kitab-kitab klasik, salah satunya kitab karya Syaikh Wahbah.

Gus Riqza memberi isyarat tak perlu salaman. Semua langsung duduk dan jaga jarak. “Tunggu sebentar,” kata Gus Riqza lalu masuk ke dalam. Kang Busthomy ikut masuk. Biasanya, dia yang menyajikan hidangan untuk tamu. Badawi dan Ulum saling lirik, “Dapat kopi gratis,” kata Ulum pelan.

Kang Busthomy kembali ke ruang tamu, tapi tak membawa apa-apa. “Loh kok kosongan?” Badawi menyindir karena Kang Busthomy keluar tanpa nampan. “Sstt…. Malam ini istimewa, Gus Riqza sendiri yang meracik kopi,” kata Kang Busthomy tak kalah pelan sambil menaruh jari telunjuk di bibrinya.

Tak lama Gus Riqza keluar membawa nampan berisi lima cangkir kopi dan tiga piring kancang rebus. “Ini kopinya, saya racik sendiri,” Gus Riqza mempersilakan lalu meminta Kang Busthomy membeli makan sahur di warung langganan. “Nanti sahur bareng,” katanya.

***

Masa kecil beliau tak beda jauh dengan anak sebayanya. Bisa jadi malah lebih menonjol karena superaktif dan perangainya terlihat berbeda dari anak-anak pada umumnya. Misalnya, soal kegemaran, sejak kecil beliau lebih senang bermain dengan makhluk yang bernyawa. “Saat anak-anak sebayanya bermain layang-layang, beliau lebih memilih bermain ayam dan burung dara.”

“Berarti beliau tidak pernah bermain layang-layang, Gus?” tanya Ulum, tak sabar.

Gus Riqza tak langsung menjawab dan melanjutkan cerita. “Beliau sangat patuh dengan orangtuanya, terlebih kepada ibu. Suatu hari ketika beliau sedang bermain layang-layang, beliau mendengar ibunya memanggil. Langsung saja layangan dilepas dan berlari menemui ibunya,” kata Gus Riqza sambil melihat Ulum.

Banyak kisah tentang sosok wong agung yang Gus Riqza wedar, dari kebersamaannya dengan masyarakat sampai para pejabat tinggi negara. Biasanya, mereka datang minta barokah doa. “Siapa pun beliau doakan, tak peduli kaya atau miskin, pejabat atau rakyat,” ujar Gus Riqza. “Dan hampir semua calon presiden di Indonesia, pernah bertemu dengan beliau,” imbuhnya.

Semua yang Gus Riqza ceritakan sering berakhir dengan pertanyaannya Ulum. Namun, kalau dicermati, pertanyaannya serupa sindiran untuk Amir. “Itu apa motornya tidak rusak dimasukin air, apa benar bisa mengeluarkan air susu dari tembok? Itu nyata, Gus? Bukan trik sulap atau hanya untuk popularitas?” tanya Ulum sambil melirik Amir.

“Gusti Allah memilih beliau menjadi wali. Apa yang dikatakan, bisa terwujud. Doanya makbul. Namanya karamah,” jawab Gus Riqza seraya menunjukkan sejumlah kitab di atas meja sebagai rujukan.

“Uangnya berlimpah, tapi beliau tak butuh duniawi, apalagi popularitas, itu semua remeh. Beliau bukan dukun apalagi tukang sulap. Tapi waliyullah. Ingat, wong agung!” kata Gus Riqza, tegas dan dengan sorot mata yang tajam.

Amir terdiam mendengar ucapan Gus Riqza yang terakhir itu. Kepalanya langsung menunduk saat tahu sorotan Gus Riqza mengenai matanya. Kata-kata itu mengingatkannya pada pelajaran semasa sekolah tentang karamah yang memang tidak masuk akal, tetapi nyata. Seperti mukjizat para nabi. Sejenak Amir melamun dan terbesit keinginan menjadi seorang wali.

“Banyak karamahnya beliau, tak hanya mengetahui isi hati seseorang, beliau juga bisa menjadi banyak. Tak sedikit orang yang menjumpai beliau salat dan tawaf di Mekah, padahal orang-orang juga menyaksikan beliau ada di Indonesia,” kata Gus Riqza.

Suatu hari, Kang Busthomy salat Jumat di desanya. Dia yakin satu baris dengan beliau karena setelah salat bersalaman. Namun, di masjid desa lain, Kang Dono, juga mengaku satu baris dengan beliau saat salat Jumat. “Mereka sampai eyel-eyelan. Tanya saja ke orangnya nanti,” kata Gus Riqza.

“Wali majdzub begitu orang-orang menyebut beliau. Madjzubnya temporal dan bisa dimintai doa. Gusti Allah memilih dan memberi beliau keistimewaan tanpa harus bersusah payah tirakat mencapai makamnya. Berbeda dengan salik yang harus melakoni tirakat,” jawab Gus Riqza. “Kalian bisa jadi wali,” imbuhnya sambil melihat Amir.

“Dalam setiap masa, hanya ada 7 orang pilihan yang menempati makam kewalian seperti beliau. Kalian tahu apa makam kewalian beliau?” tanya Gus Riqza. Semua terdiam menunggu jawaban.

“Assalamualikum…” Busthomy masuk ruang tamu membawa bungkusan. “Nah, Busthomy sudah datang, waktunya sahur,” kata Gus Riqza lalu berdiri masuk ke rumah.

***

Tepat di hari kedua Idul Firti, Badawi dan Amir janjian silaturahim ke rumah Gus Riqza. “Ajak Ulum dan Zaki sekalian,” kata Amir. “Betul, saya hubungi Ulum. Kamu hubungi Zaki,” jawab Badawi. “Eh, saya tak punya nomornya Zaki,” jawab Amir. “Sama, saya juga,” timpal Badawi lalu tertawa.

Sore hari, Amir, Badawi, dan Ulum sudah berkumpul di aula. Ketika hendak menuju rumah Gus Riqza, sebuah mobil masuk parkiran samping aula. “Nah, itu Zaki, kebetulan, ajak sekalian,” usul Ulum dan mereka menunggu. Tak sendirian, ternyata Zaki datang bersama Kang Dono. “Mau sowan Gus Riqza, kan? Bareng-bareng saja,” kata Zaki lalu mereka berjalan menuju rumah Gus Riqza.

“Nyesel kamu Zak, kemarin pulang duluan. Tidak bisa ikut sahur bareng Gus Riqza. Kita dapat banyak cerita tentang sosok wong agung yang penuh karamah. Akhirnya saya tahu kalau nama lengkap beliau ternyata sama dengan Sunan Kudus dan ternyata silsilah keduanya masih sambung,” kata Amir. “Iya Zak, ketinggalan banyak cerita kamu,” timpal Badawi.

“Maksudnya?” tanya Zaki, bingung. “Jadi kemarin waktu kamu pulang, Kang Busthomy mengajak kita ke rumah Gus Riqza. Kita dapat banyak hal: cerita, kopi, dan sahur gratis,” Ulum menjelaskan seraya menggunakan jarinya untuk menghitung.

“Ealah… Saya pas ke Pantai Bandengan sama Kang Dono, di sana bertemu Gus Riqza. Kami juga sahur bareng dan ngobrol banyak hal sampai subuh. Kalian jangan ngarang cerita,” kata Zaki. “Betul, kalian jangan ngarang! Kami ke sini hari ini, juga atas permintaan Gus Riqza,” imbuh Kang Dono.

“Tidak bisa, Kang Dono. Kita banyak saksi kalau Gus Riqza bersama kita waktu itu. Kang Dono sudah tua, tidak boleh bohong loh…” Ulum ngeyel. “Kamu kok ngeyel toh, Lum! Tanya sendiri sama Gus Riqza kalau tidak percaya,” balas Kang Dono, emosi karena dianggap bohong.

Tak terasa mereka sudah sampai depan rumah Gus Riqza. Di samping teras rumah, Gus Riqza yang sedang memberi makan burung perkutut, senyum-senyum sendiri mendengar tamunya yang eyel-eyelan.

sumber : Media Indonesia, Min, 30 Mei 2021

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme