Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Lelaki yang Berlari Kesetanan Tengah Malam oleh Puspa Seruni

Posted on Ming, 26 Jan 2025

Mat Kasim seorang buruh pengupas daun tebu yang dikenal tidak banyak bicara. Dia lebih banyak tersenyum dan sesekali tertawa tanpa alasan yang jelas. Dia seolah memiliki dunia sendiri yang terpisah dari orang-orang di sekitarnya. Meski tingkahnya sedikit aneh, dia tidak pernah menangis, apalagi berwajah mendung.

MATANYA selalu bersinar, tetapi orang-orang sepakat menjulukinya ”Lelaki Berotak Dua Ons” untuk mengolok Mat Kasim yang dianggap tidak pernah tumbuh dewasa seperti manusia pada umumnya.

Usia Mat Kasim sudah mencapai 45 tahun. Dia memiliki seorang kakak lelaki bernama Joyo Lelono. Mereka terlahir kembar, tetapi tidak identik. Meski berasal dari indung telur yang sama, keduanya memiliki wajah dan perawakan yang berbeda. Mat Kasim bertubuh pendek dan gempal dengan wajah yang masih terlihat seperti anak-anak, sedangkan Joyo Lelono memiliki tubuh kurus dan tinggi dengan wajah yang terlihat selalu menyiratkan kemarahan. Selain perawakan yang berbeda, keduanya memiliki karakter yang berbeda. Mat Kasim dengan tingkah lakunya yang cenderung aneh dengan senyum dan tawanya yang berlebihan, Joyo Lelono dengan keberanian dan kenekatannya. Rosida, ibunya, sempat berpikir jangan-jangan keduanya berasal dari sperma yang berbeda.

Satu bulan sebelum diketahui hamil, seorang pekerja proyek jalan di kampungnya sempat masuk ke dalam rumah dan menggodanya. Waktu itu, suaminya yang bekerja sebagai kernet truk sedang ada pekerjaan ke luar kota selama tiga minggu. Sebagai perempuan berusia 20-an, hasrat Rosida masih menggelora. Pekerja proyek yang sudah berhari-hari di lapangan juga memiliki kegelisahan yang sama. Maka ketika ada kesempatan, keduanya pun saling menumpahkan keinginan.

Beberapa hari setelah serangan kilat di dapur itu, sang suami pulang. Rosida berusaha bersikap biasa, seolah-olah tidak seorang pun yang membobol celah kangkang miliknya. Suaminya menggumulinya dengan penuh cinta, menumpahkan semua kerinduannya. Satu bulan berikutnya, Rosida mual-mual dan bidan desa menyatakan dirinya berbadan dua. Sembilan bulan berikutnya, bayi kembar itu meluncur keluar dari celah kedua pahanya.

Tumbuh dari keluarga miskin tanpa seorang bapak yang meninggal akibat kecelakaan di jalan raya, Joyo Lelono dan Mat Kasim tak mengenyam pendidikan. Mereka lebih suka bermain di sawah, sungai, dan jalan raya. Mat Kasim kecil sering kali diikat pada batang kelapa dan dikencingi oleh teman-temannya, sedangkan Joyo Lelono selalu hadir sebagai pembelanya. Dia akan menghajar anak-anak yang berani mengerjai adiknya hingga mereka meratap-ratap memohon ampun.

Saat ibunya meninggal, Joyo Lelono menjadi satu-satunya keluarga yang dimiliki Mat Kasim. Kedua remaja itu bagai langit dan bumi. Mat Kasim memilih bekerja di ladang sebagai buruh kupas daun tebu, sedangkan Joyo Lelono merambah karier sebagai biang onar dan pencurian. Keberanian dan kenekatan Joyo Lelono membuatnya bergabung dengan begundal kampung hingga didapuk menjadi ketua komplotan. Kariernya sebagai tukang bikin onar akhirnya tak hanya tersiar di kampung kelahirannya, tetapi juga ke seluruh penjuru kota.

Joyo Lelono sudah dikenal sebagai ”penguasa daerah”. Hal itu membuat seorang pejabat pemerintah tertarik dan menjadikannya tangan kanan untuk membereskan ”urusan-urusan lapangan”. Dia dipercaya melakukan pengawasan proyek dan membersihkan hal yang akan menghambat jalannya proyek milik bosnya. Lambat laut, Joyo Lelono diberi kepercayaan sebagai pelaksana proyek, mulai dari proyek perbaikan jalan, jembatan, pembangunan gedung, hingga pengadaan berbagai barang pemerintahan.

Dari seorang begundal kampung, Joyo Lelono menjelma seorang pebisnis ulung. Asetnya menggurita. Dia menguasai 45 persen area persawahan di kampungnya, mengungguli kepemilikan H. Nasrudin dan Pak Kades yang sudah menjabat dua periode pemilihan kepala desa.

Melihat peningkatan taraf hidup Joyo Lelono, diam-diam Pak Kades dan H. Nasrudin gusar. Sebagai keluarga yang kaya selama tujuh turunan, keduanya tidak terima ada begundal kampung yang menjelma menjadi saingan mereka. Meski desas-desus bahwa Joyo Lelono hanya boneka yang dipinjam oleh penguasa untuk menyimpan asetnya, hati Pak Kades dan H. Nasrudin tetap membara setiap melihat Joyo Lelono menggunakan kacamata hitam dan lewat di depan rumah mereka mengendarai mobil keluaran Eropa.

”Tengil sekali gayanya. Sudah seperti orang kaya beneran.”

Pak Kades bersungut-sungut saat dalam sebuah acara desa, Joyo Lelono datang dengan mobil hitamnya yang mengkilat dengan diiringi dua orang pengawal dan satu sekretarisnya yang jelita.

Meski sudah berusia 40 tahun, Joyo Lelono memilih membujang. Dia sangat menikmati kebebasannya tanpa mau terikat pada satu perempuan. Dia juga tidak mau fokusnya dalam bekerja terganggu oleh kehadiran seorang anak. Joyo Lelono berpikir keluarga akan menjadi titik lemahnya dan dia tidak menginginkan itu.

Sejak akrab dengan penguasa dan memiliki banyak bisnis, hampir tak pernah terdengar kabar bahwa Joyo Lelono memasuki rumah-rumah pelacuran sebagaimana kebiasaannya sejak muda. Entah bagaimana caranya memenuhi kebutuhan biologisnya setelah itu. Saat usia dua puluhan, dia pernah jatuh hati pada seorang gadis bernama Maya. Maya adalah penyanyi organ tunggal yang memiliki suara emas. Tak seperti penyanyi-penyanyi kampung lain, Maya selalu berpenampilan sopan tanpa goyangan seronok yang membangkitkan berahi.

Maya berjuang dari satu hajatan ke hajatan lain semata-mata untuk memenuhi kebutuhan biaya sekolahnya. Tentu saja Maya menolak cinta Joyo Lelono, begundal kampung yang tidak pernah mengenyam pendidikan tetapi bernasib mujur menjadi tangan kanan pejabat daerah.

Kisah itu tidak berlangsung lama. Setelah lulus SMA, Maya melanjutkan kuliah di Jogja dan Joyo Lelono pun melanjutkan hidupnya yang semakin hari semakin dekat dengan lingkaran kekuasaan. Dengan aset yang dimilikinya, tentu bukan hal sulit baginya menemukan pengganti Maya. Namun, dia selalu menolak dengan dalih ingin fokus bekerja. Bahkan dikabarkan, pejabat yang jadi bosnya pernah menyarankan Joyo Lelono menikahi seorang gadis yang menjadi pemenang dalam pemilihan putri daerah. Joyo Lelono bergeming. Entah apa yang ada dalam batok kepalanya.

Sejak menolak tawaran untuk menikahi putri daerah yang dikabarkan berwajah mirip artis Korea itu, tidak ada lagi yang berani menyarankan Joyo Lelono menikah. Lelaki itu seakan telah menjadi sufi yang menjauhi urusan nafsu badani. Dia bekerja mati-matian mengembangkan usahanya. Dan tentu saja terus menjadi orang kepercayaan penguasa. Joyo Lelono digadang-gadang mampu menaklukkan penguasa daerah yang nyaris setiap lima tahun berganti. Siapa pun pemimpinnya, Joyo Lelono-lah yang dipercaya menangani proyek-proyek besar di kotanya. Bahkan makin lama, kondisi seakan berbalik. Bukan Joyo Lelono yang menjadi kaki tangan penguasa, tetapi dialah yang menjadi dalang di balik naiknya seorang penguasa baru.

Hal tersebut menyebabkan banyak politisi atau calon politisi yang sowan ke rumahnya. Tak ketinggalan Pak Kades dan H. Nasrudin yang rela menurunkan harga dirinya demi bisa mencarikan kursi untuk anak-anak mereka. Dari wayang, Joyo Lelono berganti rupa menjadi dalang. Sebagai seorang dalang, Joyo Lelono teramat pandai memainkan karakter-karakter miliknya.

Meski demikian, sebagai lelaki yang tak memiliki keluarga, tentu saja kejayaan yang dia rintis serupa bangunan megah yang berdiri di tengah hutan lebat yang sewaktu-waktu –jika Joyo Lelono sudah tidak ada– hanya akan menyisakan sebuah bangunan angker yang menakutkan. Maka, berbondong-bondong orang mendekat, menjilat, dan bersumpah setia kepadanya dengan harapan akan mendapat tongkat estafet darinya. Joyo Lelono, yang sedari awal memang tak menaruh banyak kepercayaan kepada orang di sekitarnya, bisa membaca itu. Dia tidak mau teperdaya.

Sebagai kerabat satu-satunya, Mat Kasim menjadi tumpuan Joyo Lelono. Lelaki yang dianggap tak pernah tumbuh dewasa itu dianggap pilihan paling tepat untuk melanjutkan tongkat estafet miliknya. Dunia tidak butuh orang pandai, dunia butuh orang jujur seperti Mat Kasim, gumam Joyo Lelono meyakinkan dirinya.

Suatu hari Mat Kasim berlari kesetanan dari rumahnya melewati kebun tebu dan ditemukan pingsan di halaman rumah penduduk. Mendengar kabar berita itu, Joyo Lelono bergegas mendatanginya. Dia menemukan saudara kembarnya berwajah pucat dengan bibir gemetar.

”Ada seorang perempuan mendatangiku. Dia menarik-narik pakaianku. Seram sekali. Aku takut.”

Mat Kasim mengadu kepada Joyo Lelono yang hanya tersenyum mendengar ceritanya. Dalam hati dia bergumam, Mat Kasim memang orang yang tepat untuk mewarisi semuanya jika aku mati nanti. Umur mereka mungkin sama, tetapi tentu Joyo Lelono tahu tidak ada seorang pun yang membenci dan berniat menghabisi adiknya. Berbeda dengannya yang selalu dihantui bahaya.

Dia mengetahui apa penyebab Mat Kasim berlari kesetanan hingga pingsan. Maya, perempuan yang menolak Joyo Lelono, mendatanginya malam itu. Perempuan yang sudah menyandang gelar sarjana itu berniat merayu Mat Kasim agar lelaki itu mau tidur dengannya demi memenuhi sebuah syarat.

Perkaranya sepele, perempuan yang sudah melamar pekerjaan ke mana-mana sejak lulus kuliah dan tidak juga berhasil itu terobsesi menjadi anggota dewan legislatif mewakili dapilnya. Tentu saja dia membutuhkan bantuan Joyo Lelono untuk mewujudkan impiannya itu. Akan tetapi, sakit hati karena pernah dihina sebagai lelaki tak berpendidikan yang tak sederajat dengannya membuat Joyo Lelono memberikan syarat kepada Maya untuk bercinta dengan Mat Kasim sebagai mahar atas dukungannya. Demi mendapat gelar Dewan Yang Terhormat, Maya rela menekan harga diri dan kehormatannya untuk bercumbu dengan lelaki berwajah kanak-kanak itu. Namun, rupanya Mat Kasim menolak dan dia lari ketakutan hingga ditemukan pingsan di permukiman warga.

Bagi Joyo Lelono, tidak ada yang lebih menyenangkan selain melihat orang-orang rakus menjilati pantatnya, seseorang yang tanpa kekayaan yang kerap dipandang sebelah mata dan direndahkan. (*)

—

JEMBRANA, 3 Januari 2024

—

PUSPA SERUNI : Penulis berdomisili di Bali. Buku terbarunya Sukma Sunarmi menjadi finalis Hadiah Sastra Rasa Ke-3

sumber : JAWAPOS, Minggu, 26 Januari 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme