Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Peri Ayu Lembah Wilis oleh Bre Redana

Posted on Ming, 25 Mar 2018

”Bangun,” kata Peri Ayu.

Ia perhatikan lelaki itu di tempat tidur. Tidurnya selalu begitu. Tampak nyenyak justru di pagi hari. Tangan bersedekap di dada. Kaki lurus. Seperti posisi orang mati. Dia tak memperdengarkan suara apa pun seperti misalnya mendengkur. Diam, lurus, napas teratur.

”Bangun, saatnya kamu kembali padaku,” Peri Ayu mengulang kata-kata.

Perlahan Lawrence Pasa membuka mata. Begitu mata terbuka, ia tergeragap kaget. Dia, benarkah ini dia, Lawrence terkejut luar biasa. Ia datang, dia tak memercayai apa yang tengah dilihatnya.

”Ya, ini aku,” Peri Ayu tersenyum.

Ketika dalam hitungannya persis 35 tahun tak ada kejadian apa-apa, Lawrence mengira perjanjiannya dengan Peri Ayu dulu memang sebenarnya tak bakal menuai akibat apa-apa. Mengikat perjanjian dengan peri hanya omong kosong. Ia sempat merasa lega. Ternyata tak ada konsekuensi atau implikasi apa pun.

Dugaannya keliru. Kini, tiba-tiba, 35 tahun lebih empat bulan dan dua hari, dia muncul di kamar di pinggir ranjangnya pada pagi hari. Lawrence Pasa sulit percaya pada apa yang tengah dialaminya. Mudah-mudahan ini cuma mimpi. Ia mengucak-ngucak mata. Tidak, ini bukan mimpi. Ini nyata.

Semua manusia yang melakukan perjanjian dengan peri banyak yang salah kira. Dulu Lawrence meminta waktu 35 tahun untuk lepas darinya. Dalam hitungannya, kalau usia dia saat

itu ditambah 35 tahun berarti ia sudah tua, atau bisa saja sudah mati. Dengan demikian, ia tak perlu pusing dengan urusan membayar utang janji. Menurut pendapatnya, 35 tahun juga bukan waktu yang pendek. Siapa tahu peri lupa pada saatnya tiba nanti.

Yang tidak diketahui banyak manusia adalah perbedaan pengertian mengenai waktu antara dunia manusia dan dunia peri. Pada dunia manusia waktu bersifat linear, ada awal ada akhir. Di antara kedua titik itu terdapat kronologi.

Pada dunia peri, sebagai zat yang sifatnya immortal, dengan tidak adanya kematian atau akhir, dengan sendirinya awal juga tidak ada. Jelas sangat sulit manusia memahami ini. Karena tak ada awal tak ada akhir, waktu ya berhenti di situ saja. Yang dalam dunia manusia seperti pada kasus Lawrence Pasa adalah 35 tahun, pada Peri Ayu Lembah Wilis itu hanyalah satu kerjapan mata.

Makanya dulu Peri Ayu mengiyakan saja ketika Lawrence meminta waktu 35 tahun berpisah darinya, tak ingin diganggu, ingin kembali sebagai manusia, menginjak bumi, tak melayang-layang dalam kehidupan bersama peri. Ia memberikan waktu bukan karena kebaikan hati, melainkan memang itu tak ada arti apa-apa baginya. Dalam sekejap, lelaki ini akan berada lagi di pangkuannya.

Perjumpaan mereka dulu terjadi di Lembah Wilis. Pada Lembah Wilis terdapat air terjun cantik, di bawahnya telaga berair bening, sebelum air mengalir ke bawah mengarungi lembah menjadi sungai dan anak-anak sungai dengan air berkilatan menjadi sungai mutiara. Sebagai peri kahyangan, Peri Ayu bersama beberapa makhluk sejenisnya turun untuk mandi di telaga.

Cerita ini niscaya sudah didengar banyak orang. Ketika para peri di telaga, mengendap-endap perjaka tukang intip perempuan mandi. Dia adalah Lawrence Pasa, yang waktu itu bernama Lor Ing Pasar.

Ia perhatikan peri paling cantik dan ia sembunyikan pakaiannya. Si peri cantik tak bisa lagi pulang ke kahyangan. Dia ditinggal teman-teman sejenisnya.

Dengan senyum-senyum, Lor Ing Pasar muncul. Ia menawarkan pakaian ganti dengan syarat sang peri bersedia jadi istrinya. Apa boleh buat. Sang peri tidak punya banyak pilihan. Apalagi, pemuda ini meski kelihatan kurang ajar, tampaknya lumayan baik hati. Agak bego, sang peri membatin.

Lor Ing Pasar tak bisa memercayai apa yang dialaminya. Seorang peri, dalam penampakan perempuan paling cantik tanpa ada tandingannya sejagat raya, bersedia menjadi kekasihnya. Yang dulu hanya berwujud imajinasi, kini menjadi hal yang nyata. Dia, dengan perempuan ini: Peri Ayu Lembah Wilis.

Persetubuhan tak terhindarkan. Begitu persetubuhan terjadi, sekonyong-konyong Lor Ing Pasar merasa terjadi perubahan pada dirinya. Ia tidak lagi menginjak bumi.

Pertama-tama, ia tak memercayai keajaiban itu. Dia perhatikan dan rasa-rasakan tubuhnya. Benar, telapak kakinya ternyata mengambang beberapa sentimeter di atas permukaan tanah.

Hah, dia kaget. Mungkin memang begitu rasanya orang sehabis bersetubuh. Dia saja yang selama ini kurang informasi, kurang tanya sana-sini kepada orang yang telah berpengalaman. Ia perhatikan dan rasa-rasakan lagi tubuhnya. Ini aneh. Ia benar- benar mengambang.

Dia pandang Peri Ayu di sebelahnya. Peri Ayu tersenyum. Tenggelam Lor Ing Pasar dalam senyum dan tatapan Peri Ayu. Ia tak peduli lagi dirinya menginjak tanah atau tidak. Asmara bersama sang peri membuat dia lupa segala-galanya, termasuk terhadap hukum gravitasi alam semesta.

Problemnya, dikarenakan pengertian waktu seperti diuraikan tadi, lama-lama bosan juga Lor Ing Pasar dengan situasi yang dijalaninya. Meski peri itu cantiknya tak terkira, menang rupo menang dedeg orang Jawa bilang (menang di wajah menang di sosok), Lor Ing Pasar tak bisa mengabaikan apalagi menyingkirkan rasa bosannya.

Peri Ayu bukannya tak menangkap gejala tersebut. Ia paham sepaham-pahamnya. Pengertian waktu bagi manusia berbeda dengan makhluk sepertinya. Waktu bisa bermakna ujian kesetiaan bagi manusia, tetapi tidak bagi makhluk seperti dirinya. Seperti disebut tadi, yang 35 tahun bagi manusia adalah sekerjapan mata bagi peri.

”Aku ingin menginjak bumiku lagi,” kata Lor Ing Pasar.

”Silakan,” jawab Peri.

”Bukan berarti aku tak cinta lagi padamu,” Lor Ing Pasar mencoba menempatkan diri sebagai manusia bermartabat.

”Aku tahu.”

Dia terharu mendapati pengertian Peri Ayu.

”Aku adalah makhluk bumi. Biarkan aku menginjak bumiku, mengolah bumiku, bergaul dengan sesama manusia yang bergembira mengolah tanah, merayakan kerja, berada di tengah mereka. Aku akan tetap bersamamu, kembali padamu. Aku hanya meminta waktu 35 tahun,” kata Lor Ing Pasar mengucapkan janjinya sendiri tanpa ada yang meminta.

Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap. Seketika dengan terucapnya janji, jleg: kaki dia kembali menapak bumi. Peri Ayu hilang dari hadapannya. Lor Ing Pasar celingukan.

Di mana dia, tanyanya dalam hati. Semudah itu aku bisa kembali pada diriku, pikirnya. Kalau tahu sebegini mudah, kenapa tak kulakukan dulu-dulu, tanpa perlu menanggung keresahan didera perasaan bosan… ia berkata dalam hati.

”Busyet dah…,” kata Lor Ing Pasar senyum-senyum, merasa seperti baru bangun dari tidur panjang.

Lor Ing Pasar bukan hanya lega, tapi gembira luar biasa. Dia berlari menuruni lembah. Di punggungnya serasa tumbuh sayap. Cakrawala membentang. Langit warna lembayung, kadang agak kemerahan, kesana dia menuju.

Akan aku jelajahi desa demi desa, kota demi kota, samudra demi samudra, benua demi benua. Dunia terasa baru. Untuk menyesuaikan dunia baru yang ditemukannya kembali, ia ganti namanya jadi Lawrence Pasa.

Di balik langit warna lembayung, ia menemukan lapisan-lapisan langit yang lain, termasuk bintang-bintang, namanya semua perempuan. Lama-lama, ia pun lupa akan Peri Ayu.

”Sudah 35 tahun bahkan lebih empat bulan dua hari,” kata Peri Ayu yang duduk di pinggir ranjang. Suaranya datar tanpa emosi. Emosi hanya dimiliki manusia, bukan milik dunia peri. ”Masih ingat, kan, dengan janji yang dulu…,” lanjut Peri Ayu. Tahi lalat di atas bibir.

”Ke mana saja kamu?” Lawrence Pasa mengeluarkan suara untuk memecahkan sunyinya sendiri.

”Aku selalu di sini, melihat dan mengetahui apa pun yang kamu perbuat,” jawab Peri Ayu.

Dia yang tidak ditaklukkan waktu, pikir Lawrence. Belum paham juga dia, bahwa ada pengertian waktu yang berbeda antara dunia manusia dan dunia peri. Bagi Lawrence, kedatangan Peri Ayu pagi ini adalah pemenuhan janji kesetiaan. Tak ada yang berubah pada Peri Ayu. Selalu ayu, seayu-ayunya, melampaui metafora dan hiperbola.

Bangkit hasrat bercinta Lawrence Pasa. Peri Ayu melayaninya. Pagi yang indah.

Seusai itu, ketika turun dari tempat tidur, dia mendapati telapak kakinya tak bisa ia selusupkan sandal jepit merek Havaianas yang baru saja ia beli kemarin. Sadarlah dia pada apa yang pernah dialaminya: ia menjadi manusia yang tak menginjak bumi, mengambang beberapa sentimeter di atas permukaan tanah.

Dia pernah mendengar cerita dari dunia pewayangan mengenai ksatria Pandawa bernama Yudhistira yang keretanya tidak menginjak tanah, mengambang beberapa sentimeter di atas tanah. Itu karena Yudhistira tak pernah berbohong. Tatkala kata bohong ia ucapkan, konon roda kereta seketika mengentak bumi. Dukk.

Ingat cerita itu, Lawrence mendapat ide. Siapa tahu dengan berkata bohong, aku bisa menginjak bumi. Dia mencobanya.

”Aku bukan Lawrence Pasa. Aku Lawrence Tjandra,” kata Lawrence.

”Apa?” Peri Ayu menyahut.

”Aku bukan Lawrence Pasa,” Lawrence mengulangi kata-katanya, siapa tahu berhasil.

Ternyata gagal. Kakinya tetap saja tidak menjejak bumi seperti kereta Yudhistira. Ia tetap mengambang di atas permukaan tanah.

Peri Ayu tersenyum.

”Bohong atau tidak bohong tidak akan mengubah keadaanmu,” ucap Peri Ayu. ”Sekarang ini hanya semata-mata waktumu membayar janji padaku.”

Sadarlah Lawrence Pasa, bahwa ia tak akan sanggup lagi menginjak bumi. Sekarang dan kelihatannya selamanya. Ia pasrah.

Bre Redana : wartawan senior kelahiran Salatiga. Akhir tahun lalu meluncurkan novel Koran Kami, With Lucy In The Sky, bulan April 2018 mendatang ia akan meluncurkan buku terbarunya, Karmacinta: Biografi Sanjoto Senyatanya. Tahun 1990-1991 Bre mengikuti kuliah kajian media di Darlington College of Technology, Inggris.

_______________________________

Yudi Yudoyoko : perupa kelahiran Jakarta dan lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Jurusan Seni Lukis Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1989. Pernah jadi editor fashion Majalah Mode dan Jakarta-Jakarta. Yudi juga ilustrator majalah S/N New World Poetics, Texas, Amerika Serikat. Sejak 2003 menetap di Montevideo, Uruguay.

sumber : harian Kompas edisi 25 Maret 2018 di halaman 18 dengan judul “Peri Ayu Lembah Wilis”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme