Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Jantung Hati oleh Danarto

Posted on Rab, 11 Apr 2018

Jantung Hati

HARI ini saya mati. Jenazah saya dikebumikan beramai-ramai oleh teman-teman. Istri dan anak-anak saya menangis di tepi gundukan kuburan saya. Mereka lupa berdoa karena sedihnya. Ibunya mendekap ketiga anak saya yang masih kecil-kecil, persis induk ayam melindungi anak-anaknya. Banyak teman-teman yang menangis juga. Mereka seperti tak percaya bahwa hari ini tubuh saya yang masih segar dimasukkan ke liang lahat. Mereka sangat kehilangan saya karena kepergian yang tiba-tiba dalam usia muda. Saya kena serangan jantung.

SIANG itu saya memburu teroris yang habis meledakkan bom di sebuah mal. Kobaran api menghanguskan sebagian dinding dan langit- langit toko parfum yang mengakibatkan sejumlah korban bergeletakkan di antara bongkahan tembok dan pecahan kaca. Menurut para sopir yang beristirahat di lapangan parkir, terlihat seorang pria berjaket yang lari kencang keluar dari mal sebelum bom meledak. Saya yang ke kantor setiap hari melewati mal itu, kebetulan menyaksikan semburan asap dan api, buru-buru mengejar teroris yang menurut saksi mata lari ke arah timur. Rupanya jantung saya tidak kuat lagi menanggung beban cara kerja yang penuh ketegangan yang setiap hari dipacu, putuslah perangkat itu yang menyebabkan saya duduk terkulai di belakang setir tak bangun-bangun lagi.

Ketika saya baru menyadari telah berada di alam lain, tubuh saya dan sejumlah yang lain berupa entah, bersayap, lentur, melenting- lenting, dan bersinar, melayang, mengalun, ke mana-mana. Lalu muncul sekuntum malaikat berada di depan saya. Kami lalu mengerumuni malaikat itu yang mematung tak bicara. Tubuh malaikat itu dipenuhi mata yang bukan main banyaknya, boleh jadi tak terhitung jumlahnya. Ribuan. Saya kira milyaran. Agaknya saya bisa membaca malaikat itu, rasanya ia inilah sekuntum yang mencabut nyawa saya: Malaikat Izrail. Pernah dua kali ia datang sebelumnya, tetapi tulang dan darah saya menolaknya yang mengatakan bahwa saya belum siap dijemputnya. Setiap satu mata Izrail mengedip, satu nyawa tercabut dari tubuh manusia. Saya lalu membayangkan bagaimana ia ketika bekerja di medan perang.

Saya masih ingat, saya pernah berterus terang kepada pacar saya, yang kemudian jadi ibu anak-anak saya itu bahwa saya punya cita-cita jadi malaikat. Mendengar omongan saya itu, dia tergelak-gelak. Dia tentu menganggap saya main-main.

“Memangnya kamu orang suci, kok ingin jadi malaikat!” kata dia waktu itu sambil menyeruput jus tomatnya.

“Lho, memangnya ada syarat kesucian untuk jadi malaikat?” kata saya.

“Lalu apa syaratnya kalau bukan kesucian?”

“Kalau begitu tidak ada manusia yang bisa jadi malaikat, dong.”

“Emang.”

Keyakinannya dan ketegasannya ketika omong itulah yang semakin memikat saya untuk masuk ke dalam pelukannya.

***

MENURUT analisis para pakar politik, bom yang meledak di mana- mana adalah untuk mengacau pemerintahan baru. Jika politik tidak stabil, ekonomi pasti goyah pula. Rakyat yang miris terhadap teror tentu tidak bisa hidup tenang, apalagi rezeki sudah sangat susah dicari. Sekitar 40 juta jiwa penganggur mau makan apa jika lowongan kerja sudah tertutup sama sekali. Mereka akan gentayangan di kota- kota besar karena hanya di sana apa saja bisa menghasilkan uang. Bom yang meledak yang dipadu dengan gelandangan dianggap suatu komposisi yang cukup efektif untuk menggoyang kedudukan yang telah mapan.

Mati bukanlah cita-cita saya. Siapa yang mau mati? Mati adalah ketakutan itu sendiri. Kebanyakan manusia tidak ingin mati, saya yakin itu. Rata-rata manusia ingin hidup abadi. Kematian adalah jalan menuju pengadilan. Siapa mau diadili? Seorang yang hidup lurus selama tinggal di dunia, juga tidak senang diadili, saya yakin itu. Jadi, setiap manusia selama hidup di dunia harus mempersiapkan diri baik- baik dalam menuju akhirat. Mengapa Tuhan menggunakan istilah pengadilan? O, alangkah sengsaranya manusia jika di akhirat kelak diadili. Siapa yang bisa lolos dari pengadilan? Lebih-lebih lagi untuk bisa naik ke surga, orang harus dicuci dulu di neraka karena tidak ada manusia yang terbebas dari dosa. O, alangkah sengsaranya manusia.

“Kamu harus mati dulu, baru bisa jadi malaikat,” kata pacar saya waktu itu sambil menyeruput jus tomatnya.

“Jangan begitu,” kata saya. “Maksud saya, menjadi malaikat ketika masih hidup begini, itulah cita-cita saya.”

“Kamu ini bagaimana. Kamu kan kasatmata dan malaikat tidak kasatmata. Kamu harus tidak kelihatan lebih dulu untuk bisa menjadi malaikat yang tidak kelihatan.”

“Kalau begitu tidak ada manusia yang sanggup jadi malaikat, dong.”

“Emang.”

Keyakinannya dan ketegasannya ketika omong itulah yang semakin memikat saya untuk masuk ke dalam pelukannya.

***

TIBA-tiba Izrail lenyap lalu digantikan oleh sekuntum malaikat lain yang berbeda. Tubuh malaikat yang muncul tiba-tiba itu berubah- ubah bentuknya, menjadi mawar, lalu melati, kemudian kenanga, dan matahari, lalu berubah lagi menjadi bunga anggrek putih dengan sejumlah noktah berwarna violet, hijau, dan oranye. Kembang-kembang itu dalam ukuran lebih besar dari manusia. Kadang mekar besar sekali memenuhi angkasa.

Tak juga memberi tanda lewat gerakan badan atau tangan supaya saya begini atau begitu, malaikat itu bergulir lurus. Tak juga menoleh ke arah saya seperti tak kenal atau tak mau tahu, malaikat itu melaju di atas permukaan sehingga saya cukup terbirit-birit mengikutinya. Alam sekeliling tampak berkabut, hening, dan sejuk. Kabut itu cukup tebal, cukup menutupi jalan di depan sehingga keberadaan malaikat itu menjadi penentu arah jalan saya. Setiap ia bergerak ke depan, kabut itu menyibak. Menggumpal ke kiri-ke kanan menjadi dinding terowongan. Memanjang. Ia seperti menuntun saya, tetapi juga menakutkan saya. Kediamannya itulah yang menyebabkan rasa waswas itu. Bagaimana kalau ia tiba-tiba lenyap ditelan kabut.

Ternyata kematian itu membahagiakan. Sungguh di luar dugaan. Kematian itu tak berbatas, luas bagai cakrawala. Mengapa harus ditangisi. Jelas ini salah tafsir. Terhadap kematian, sungguh seharusnya tidak diucapkan: ikut berduka-cita sedalam-dalamnya. Yang diucapkan mestinya: ikut bersuka ria semeriah-meriahnya. Karena, ya itu tadi, kematian itu membahagiakan. Dalam kematian, bernapas lebih lega. Beban berat di hati terpunggah. Penderitaan hidup lenyap. Kematian telah memindahkan kesadaran ke alam lain. Kesedihan adalah penderitaan. Kematian bukan kesedihan. Bagi manusia, kematian adalah jantung hati. Pujaan. Pasangan kelahiran. Hasrat utama kehidupan.

Dunia tinggal kenangan di alam mimpi. Keluarga saya, keluarga yang ada di alam impian. Seluruh pahit-getir hidup yang saya alami ternyata berada di sebuah dunia yang tidak ada. Adam dan keturunannya adalah maya, ciptaan yang tidak ada, tak ada tempat yang begitu buruk seperti dunia bahkan ketika Tuhan setelah menciptanya, Tuhan melengos dari padanya. Saya selalu mengulang-ulang hikmah dari kiai saya.

***

SERANGAN jantung adalah transportasi yang paling kena untuk transformasi.

Setiap orang butuh kendaraan. Hanya kapan kendaraan itu ditumpangi, sungguh masalah waktu. Kendaraan hidup, kendaraan mati, hanyalah pemisahan soal jenis. Orang sehat dianggap sakit karena sepanjang hidupnya hanya soal kesehatan yang dipikirkannya. Orang sakit dianggap sehat karena orang itu tak peduli akan penyakit. Menganggap kesehatan suatu persoalan maupun bukan, memang penting, sepanjang orang menganggapnya penting atau tak penting. Sehat sama saja dengan sakit. Sakit sama saja dengan sehat. Lebih baik orang kadang-kadang sehat, kadang-kadang sakit, baru di sini orang tahu persoalan dunia, apa memang begitu? Saya mati karena penyakit yang tidak saya dan dokter ketahui. Mengapa bisa demikian, di dunia ini segalanya bisa lolos.

Alangkah berjasanya penyakit yang telah menolong saya melakukan perjalanan ke alam yang jauh lebih baik dari alam sebelumnya, apa memang begitu? Alam roh, alam rahim, alam dunia, alam kubur, alam akhirat, adalah lima alam yang sering diulang-ulang disebutkan oleh khotbah banyak kiai di dalam pengajian yang wajib ditempuh oleh manusia dalam perjalanan hidupnya. Jika demikian, saat ini saya sedang menempuh alam kubur. Ketika saya menghadapi kenyataan di alam kubur ini, saya mendapati realitas yang berbeda, bahkan bertentangan dari tafsir yang dikhotbahkan para kiai.

Akan tetapi, masalahnya adalah “pengalaman” dibanding “berita”, tentu seperti malam dengan siang perbedaannya. Yang satu sudah mengalami alam kubur, sedang yang lain baru dalam taraf teori, tentu seperti bumi dengan langit perbedaannya. Apa memang begitu?

Seperti dalam hal berpakaian, misalnya. Setiap orang berpakaian, kan. Kapan pakaian itu dilepas, hanya soal waktu. Berfungsi sebagai pakaian, tubuh memiliki ukuran yang pas hanya untuk masing-masingnya. Tak bisa tubuh yang satu, dipakai oleh orang lain. Begitu juga sebaliknya. Jika terjadi yang demikian, muncul distorsi. Seperti kerasukan. Orang yang kerasukan tak mampu lagi memegang dirinya sendiri. Tak mampu mengenali pakaiannya lagi. Ke mana-mana, kita memakai pakaian itu sehingga menjadi identitas. Tak tahunya malah menjadi beban. Selama hidup kita hanya disibukkan oleh pakaian itu. Mengapa orang mau berpikir keras perkara pakaian, mengapa orang mau berpikir tidak keras perkara pakaian, tinggal menentukan pilihan, padahal tidak ada yang menyuruh untuk melakukan pilihan. Pakaian adalah kekeliruan, tak tahu-menahu, gelap tanpa pegangan, bebas dari pengertian mode dan body-building, yang elok, yang semampai, yang gembrot, bahkan Napoleon Bonaparte bertubuh pendek.

Orang senang karena punya penampilan. Sempat disiarkan televisi, tukang sapu jalanan memakai seragam yang apik, potongan maupun warnanya. Jika tidak suka berpenampilan, dianggap tak punya selera, padahal orang punya penampilan yang berbeda-beda, tergantung kebutuhan dan rasa kesadaran. Pakaian memang didudukkan paling depan, lebih dari jati diri, karena kesalahan sejak dari awal, penilaian bermula dari sini. Saya cukup peduli soal pakaian, siap dengan makanan suplemen dan banyak vitamin, tetapi saya mati karena pakaian saya memberontak terhadap saya.

Dalam beribadah, kita telanjang, begitu khotbah Kiai Muhammad Nurullah, dari sebuah kelompok pengajian, saya ikut sebagai jamaahnya. Pakaian tak ada gunanya. Tak ada rahasia yang bisa disembunyikan. Sering dalam beribadah, kita mematut-matut diri seolah kita masih berpakaian. Banyak yang berharap bisa mati ketika sedang beribadah-sesuci-sucinya keadaan jiwa-sehingga siapa pun tak perlu pakaian lagi. Tetapi, siapa yang cukup kuat dengan mengesampingkan pakaian? Ah, pakaian, saya berharap, saya hanyalah manusia.

Lorong kabut itu bertambah panjang. Malaikat yang membimbing saya masih tetap berada di depan saya. Karena saya takut sekali kalau dibawa ke neraka, saya menyapanya. Tapi ia tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan mengubah-ubah bentuk tubuhnya: dari sekuntum mawar ke sekuntum anggrek ke sekuntum melati ke sekuntum teratai. Aduh, indah sekali. Dengan jawaban itu, saya jadi ge-er: Saya tak bakal dibawa ke neraka. Saya tahu, saya banyak dosa, tapi siapa mau dicemplungkan ke neraka?

***

KABUT rasanya makin tebal. Saya dan malaikat itu berenang dalam kabut. Terdengar suara musik yang lamat-lamat. Suara suling terdengar mengalun jauh. Disusul gesekan biola yang serempak bagai kaki-kaki yang diciumi busa laut di tepi pantai. Saya ingat waktu main kejar- kejaran di pantai Karang Bolong bersama istri dan anak-anak sambil menatap Gunung Krakatau yang terus-menerus mengepulkan asap hitam bagai seorang yang berendam sambil mengepulkan asap rokok.

Tiba-tiba dari gumpalan kabut di depan muncul istri saya dengan anak-anak. Begitu melihat saya, keempatnya berlari ke arah saya.

“Ayah! Ayah!” teriak anak-anak menghambur ke dada saya.

Kami berlima berpelukan erat. Sesaat. Mendadak saya sadar. Mereka saya lepaskan perlahan. Mereka saya tatap satu persatu. Kenapa istri dan anak-anak menyusul saya secara bersamaan, kalau bukan oleh kekuatan yang sanggup memberangkatkan mereka sekaligus?

Tangerang, 12 Oktober 2000

Tentang Danarto:

Adalah penulis dan perupa. Sehari-hari menulis dan melukis. Lahir di Sragen dari Siti Aminah, seorang pedagang eceran di pasar kabupaten, dengan Djakio Hardjosoewarno, seorang buruh pabrik gula Modjo, Danarto adalah anak keempat dari lima bersaudara. Selama kuliah di ASRI Yogyakarta, dia aktif dalam Sanggar Bambu pimpinan pelukis Sunarto Pr, dan ikut mendirikan Sanggar Bambu Jakarta. Tahun 1979-1985 bekerja di majalah Zaman, tahun 1976 mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika Serikat. Danarto mencuat dalam jagat sastra Indonesia berkat kumpulan cerpennya, Godlob (1975) dan Adam Mak’rifat (1982). Budayawan yang dikenal peduli sesama, berpikiran terbuka, dan menjadi guru yang gemar berbagi ilmu ini berpulang akibat kecelakaan, Selasa (10/4/2018), sekitar pukul 13.30 di Jalan Ir H Juanda, Jakarta Selatan. Danarto dilarikan ke RS Fatmawati karena mengalami luka berat di bagian kepala. Setelah bertahan beberapa jam, ia mengembuskan napas terakhir pukul 20.54.

sumber : kompas.id, 11 Apr 2018

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme