Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Monolog Bisma oleh Kurnia JR

Posted on Ming, 01 Jul 2018

Setiap kali kami bersua, yang kutangkap pada parasnya hanya kesedihan, duka berlapis-lapis, mengental, mengeras, seakan-akan tidak pernah ada musim panas yang melelehkan gumpalan kristal gelap di dalam jiwanya.

Pada suatu malam kami duduk di pinggir lapangan tenis yang sunyi di blok rumahku. Lampu-lampu merkuri memercikkan suasana menenteramkan. Malam seperti disekap halimun yang turun dari gunung. Aku termangu mendengarkan Bisma bermonolog. Hal yang biasa terjadi jika kami sedang berdua. Secara otomatis, aku selalu menjadi pendengar yang baik

”Meski kamu sudah sering mendengarkan aku, isi hatiku, pikiranku, sampai saat ini aku ragu apakah kamu memahami aku dengan sebenar-benarnya. Ah, bukan itu. Tidak persis begitu maksudku. Aku hanya ingin bilang orang tidak akan pernah memahami orang lain, kecuali hanya secuil.”

Apa bedanya? Hatiku menyanggah diam-diam. Kamu hanya bermain parafrase.

Aku yakin aku pernah mendengar ocehan itu, setidak-tidaknya yang seperti itu. Dari banyak kalimatnya. Sebagian besar pernah kudengar. Hanya segelintir yang benar-benar baru. Itu pun kadang kala hanya merupakan parafrase dari yang pernah diungkapkan.

”Dari yang secuil itu, kukira, hanya tentang kematian.”

Aku tidak kaget. Dia benar. Yang kerap terngiang di telingaku dari ocehannya selama ini adalah kerinduan akan kematian atau, lebih tepatnya, tuntutan akan kematian, terutama pada saat depresinya memuncak. Lebih dari sekali kudapati dia terkapar di lantai kamar kosnya dengan botol minuman keras terguling. Dia mengaku mengoplos minuman itu supaya bisa membantu menyetop detak jantungnya, tetapi tidak pernah berhasil. Aku sendiri belum berhasil melepaskan dia dari obsesi yang menakutkan terhadap kematian. Kadang-kadang aku ngeri bertemu dengan dia, tetapi demi persahabatan kami yang lama, aku bertahan.

Aku memandang bulan. Aku tetap menengadah sampai dia menghabiskan tiga atau empat kalimat lagi yang melintasi ruang pendengaranku bagaikan gugusan bintang berbondong-bondong membentuk galaksi, bergerak samar dari pangkal ke ujung garis koordinat tanpa terdeteksi jiwa penasaran manusia.

”Ah, sudah malam.”

”Hampir pagi,” aku mengoreksi tanpa selera.

Buat aku tiada bekas apa pun dari percakapan itu, seperti yang sudah-sudah. Tidak juga ada rasa iba yang baru kepada Bisma yang selalu meletupkan perasaan yang kelam dari lembah jiwa yang rapuh dan sunyi. Oh, Bisma, kadang kala kuanggap kau adikku sebab kamu lebih muda dua pekan. Aku bukan tak merasa ada saat-saat kamu menatap aku seperti lelaki yang memendam rasa khusus tanpa keberanian mengungkapkan. Ya, rasa cinta, atau minimal, rasa sayang  Aku hanya tak ingin mendengar ungkapan itu terlontar dari bibirmu.

Di pinggir lapangan tenis itu, sebelum kami berdiri, dia melontarkan satu pertanyaan aneh, ”Kamu sedang mencintai seseorang saat ini?”

Apa-apaan ini? Bukankah dia tahu aku tidak pernah bisa—atau belum bisa—mencintai siapa pun? Dia tahu persis aku tak mudah tergetar oleh ketampanan pria. ”Apa yang bisa membuat kamu jatuh cinta?” pernah dia bertanya begitu.

”Mencintai seseorang bukan soal sederhana, Bisma.”

”Ah, jawab saja pertanyaanku.”

”Ya, itu jawabanku.”

Dia merajuk. Aku mencoba tersenyum, tetapi dia buang muka, lalu bersikap seolah-olah dia sedang menikmati bulan sementara aku memunguti butiran pantulan sinarnya di lapangan itu.

Sepekan kemudian kulihat dia di bawah matahari pagi, berjalan penuh semangat di trotoar melewati gedung perkantoran serba-kaca. Aku takjub. Ingin kukejar, tetapi dia sudah melesat jauh. Kenapa lelaki selalu bergegas kala berjalan? Apa yang mereka kejar? Untuk memanggil dia, suaraku tentu terkalahkan oleh deru kendaraan yang tak pernah putus. Jadi, kubiarkan punggungnya lenyap di kejauhan.

Ketika tiba di kantor aku masih merasa takjub. Masih kupikirkan gaya berjalannya yang riang dengan dagu terangkat. Bahunya tertarik ke belakang sehingga sikap tubuhnya tegak seakan-akan Bisma yang kukenal telah bertransformasi menjadi manusia baru dengan roh baru. Aku melihat Bisma yang baru. Atau, itu bukan Bisma, hanya seseorang yang mirip dia?

Pada akhir pekan, malam yang basah karena hujan tak kunjung reda, kami duduk di sudut sebuah kafe sambil memandang jalanan yang macet melalui jendela. Hal baru dia perlihatkan. Dia keluarkan sebatang rokok putih dari bungkus yang baru disobek. Aku diam saja, tidak bertanya dan pura-pura tak terkejut.

Setelah embusan kedua yang dilakukan dengan gaya dramatis perokok yang sok canggih dia berujar, ”Aku tahu kamu kepingin tanya kenapa aku merokok.”

Menanggapi celotehnya yang konyol, aku bersikap acuh tak acuh dengan meneguk vodka—itu minuman lelaki, kata dia, entah apa maksudnya.

Lalu dia diam. Aku juga tak mengatakan apa-apa. Kemudian, tanpa kuminta dia menjelaskan kenapa dia merokok. ”Kubaca imbauan pemerintah yang melarang merokok dan pembatasan peredaran rokok dan iklan tentang bahaya rokok. Hal itu mendorong aku merokok. Sederhana sekali. Ini salah satu jalan pendek memeluk kematian. Bodoh sekali aku tidak menyadari hal ini, padahal peringatan tentang bahaya rokok sudah lama sekali disebarluaskan orang.” Dia tersenyum seolah-olah sedang mengejek diri sendiri.

Tiba-tiba, dia mengulangi pertanyaan lama: ”Kamu sedang mencintai seseorang saat ini?”

”Tidak. Kenapa?”

Dia terdiam. Aku menangkap sesuatu dalam diamnya: dia sedang menata kata-kata. Tak lama kemudian dia menghela napas. Itu ciri khasnya apabila dia hendak menyatakan sesuatu yang agak panjang.

”Aku ingin merasakan bagaimana mencintai seseorang, tapi aku belum pernah bertemu orang yang benar-benar kucintai. Entah bagaimana rasanya mencintai seseorang. Pernah aku ingin mencintai kamu. Kamu satu-satunya sahabat terdekat. Kamu penuh pengertian. Sangat baik buat aku. Juga sangat menarik. Kamu selalu ada. Aku ingin mencintai kamu, sebagai kekasih, tapi aku takut kamu sudah mencintai seseorang, lalu waktumu tidak seluas dulu lagi, bahkan aku harus menyingkir, memberi ruang bagi kekasihmu.”

Dia terdiam. Cukup lama. Kurasa tak ada yang perlu kutanggapi. Cukup monolog malam itu.

”Tunggu.”

”Hm?”

”Aku belum selesai.”

”Oke.”

”Aku ingin mencintai kamu.”

”Yeah, kuharap keinginanmu bisa terkabul, kapan-kapan.” Aku merasa tersinggung, namun perasaan itu kupendam dalam-dalam.

”Kita tahu, kita tak bisa menunggu. Waktu secara membabi buta menggilas kita tanpa jeda.”

”Kalau begitu, cintai aku sekarang juga, dengan ketulusanmu.”

”Cinta platonis—apakah bisa romantis?”

Aku angkat bahu.

Hening. Malam seperti berbisik, entah apa yang dikatakan. Bisma tampak tenang, namun hati kecilku mendeteksi kegelisahan menggeliat di dalam dirinya. Masa persahabatan kami yang panjang memberi keyakinan di hatiku bahwa aku dapat memahami 90 persen perasaan yang dia sembunyikan. Keyakinan itulah yang membuat aku enteng saja memutuskan untuk pulang setelah merasa bahwa dia tidak ingin mengatakan apa-apa lagi.

”Aku pulang, Bisma.”

Dia mengangguk lemah, nyaris acuh tak acuh. Tak perlu ditanggapi lagi.

Itulah momen terakhir kami bersama. Esoknya aku menerima kabar dia masuk rumah sakit, kemudian, saat aku bergegas hendak menjenguk, kuterima kabar lagi bahwa dia telah tiada. Kedua orangtuanya hanya menangis. Dokter menegaskan dia overdosis pil penenang.

Ibunya meminta aku sering datang untuk makan malam. Aku merasa keberatan, tetapi belum menemukan cara untuk menolak permintaan itu.

Kurnia JR : lahir di Tangerang, Banten, bekerja di bidang penerbitan dan buku, telah menerbitkan cerpen dalam antologi, kritik novel, kritik puisi, sketsa, dan novel, di antaranya Kereta Berangkat Senja; Inspirasi? Nonsense! Novel-novel Iwan Simatupang; Puisi untuk Reformasi, Grafiti di Tembok Istana; novel tentang Cina Benteng dengan nama samaran, dan lain-lain.

I Wayan Naya Swantha : lahir di Tabanan, 20 Januari 1972. Menempuh pendidikan Seni Rupa dan Desain Universitas Udayana (1991-1997). Salah satu eksponen dari kelompok perupa Galang Kangin Bali.

sumber : harian Kompas edisi 01 Juli 2018 di halaman 16 dengan judul “Monolog Bisma”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme